Jumat, 20 November 2015

Nggak Beli Lotre Pa? #KeputusanCerdas



“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti hari kemarin dan seperti hari kemarin lagi dan seperti hari yang kemarin-kemarin lagi. Sebenarnya Joko bingung kenapa pertanyaan itu terus menerus diajukan Juariah padanya. Joko bosan. Tapi tak juga Joko meminta penjelasan dari Juariah. Joko hanya memandang. Memilih tak menjawab ketika Juariah terus mengajukan pertanyaan yang sama hari demi hari.
Juariah hanya melengos. Dilemparnya sapu rumah itu. Juariah masuk ke kamar. Menangis ala kadarnya. Setiap hari kejadiannya selalu begitu. Dan Joko hanya diam. Diam dan diam saja. Awalnya ketika mereka menikah dulu semua tampak baik-baik saja. Keduanya menikmati hari-hari kebersamaan mereka. Hingga suatu hari Juariah mulai minta ini dan itu. Joko mulai pusing. Dia hanya seorang supir. Supir kantor sebuah yayasan nirlaba. Berapalah gajinya sebulan. Tak cukup untuk memenuhi permintaan aneh-aneh Juariah.
Awal ceritanya sama seperti cerita anak muda pada umumnya. Joko memang tak terlalu tampan. Waktu itu Joko sedang tertarik dengan Juminten. Tapi karena sesuatu hal, Juariah memilih untuk berkompetisi dengan Juminten. Kompetisi ala perempuan muda. Kompetisi untuk mendapatkan Joko, seorang supir yayasan. Juminten awalnya bingung kenapa Juariah ikut-ikutan mencintai Joko. Padahal Juariah jauh lebih cantik dari dirinya. Juariah langganannya banyak sementara Juminten langganannya terbatas. Juariah bisa melayani banyak bapak-bapak. Dari mulai bapak rumah tangga hingga satpam-satpam di kompleks perumahan. Dari mulai pekerja bangunan yang tua hingga yang muda. Dari ibu-ibu rumah tangga hingga mbok-mbok pedagang keliling yang menjual sayur dan dagangan lain. Lalu Juminten? Langganannya terbatas. Hanya ibu-ibu saja. Itupun yang sudah kenal. Juariah dan Juminten adalah pedagang jamu keliling.
Suatu kali Joko dan Juminten sedang duduk bersama. Juminten menyeduh secangkir air hangat ke dalam cangkir berisi jamu tolak angin. Joko menyambut cangkir itu dengan wajah gembira. Dipandangnya wajah Juminten yang pas-pasan. Tapi Joko senang wajah itu. Hatinya tenang saat melihat Juminten. Apalagi Juminten selalu menyediakan jamu gratis baginya. Berkali-kali Joko ingin membayar, berkali-kali pula Juminten menolak.
“Jum, kenapa sih aku ndak boleh bayar jamumu?” saat itu Joko bertanya. Juminten hanya diam dan tersenyum. Senyum itu senyum paling indah dan tulus menurut Joko. Walau senyum itu menampakkan gigi Juminten yang tak rata. Dengan kombinasi bibir tebal pula.
Tiba-tiba Juariah datang. Tak pakai ba-bi-bu. Tak pakai sapaan pendahuluan. Langsung nimbrung dan ikut bercengkerama. Juminten yang rendah diri memilih untuk undur. Membiarkan Joko dan Juariah saling bertutur. Mulai saat itu hari-hari bersama Joko mulai jarang. Jamu gratis berganti, dari jamu gratis Juminten ke jamu gratis Juariah.
Bagi Juariah, semuanya itu berawal dari mimpi. Tak ada rasa tertarik dari Juariah kepada Joko sebelumnya. Ngapain menikah sama supir? Begitu dulu ejekan Juariah pada Juminten. Tapi Juminten kekeuh. Tetap suka Joko. Tetap sayang Joko. Tetap memberikan jamu gratis buat Joko. Jamu pegel linu. Jamu beras kencur. Dan yang paling sering jamu masuk angin. Maklumlah, jam kerja Joko kadang sampai malam. Joko sering masuk angin. Kalau sudah begitu, hanya jamu dari Juminten obatnya. Joko paling anti dikerik atau dikerok dengan uang logam. Geli, katanya, ketika Juminten pernah menawarkan untuk mengerok punggung Joko.
Mimpi apa? Suatu malam Juariah bermimpi. Dalam mimpinya dia tampak hidup senang. Tinggal di rumah besar. Perabotan mahal. Ada kolam renang pula. Juariah jadi nyonya besar. Ada banyak pembantu yang bisa disuruh-suruh. Ada Inem satu hingga Inem sembilan. Kesembilannya pembantu Juariah di rumah besar itu. Kemudian samar-samar mimpinya mundur ke masa sebelumnya. Masa-masa pernikahan. Juariah tampak bersanding dengan seorang lelaki. Lelaki itu adalah Joko. Tak salah lagi. Jidat jenong dan rambut tipis itu jelas milik Joko. Mereka tampak bahagia. Para tamu tampak menyalami. Sepasang pengantin tampak tersenyum menikmati salam dari tetamu kanan dan kiri.
Juariah terbangun. Apa arti mimpi itu? Apakah aku harus menikah dengan Joko? Berbagai pikiran silih berganti datang dan pergi dalam benak Juariah. Kalau mau kaya menikahlah dengan Joko. Kalau mau rumah besar, menikahlah dengan Joko. Kalau mau punya kolam renang, menikahlah dengan Joko. Pikiran itu datang silih berganti hingga akhirnya kesimpulannya hanya satu: Menikah dengan Joko! Sejak saat itu Juariah mulai rajin menggoda. Setiap bertemu Joko dia mulai sering bermain mata. Bukan hanya bermain mata. Segala cara dipakai Juariah termasuk mulai memberikan jamu gratis dengan tambahan bumbu cinta. Joko mulai tergoda. Apalagi setiap memberikan jamu Juariah mulai selalu tersenyum. Gigi putih berbaris rapi dibungkus bibir tipis manis itu mulai terasa lebih enak dilihat dari senyuman seorang Juminten. Joko mulai pindah ke lain hati. Juminten mulai tak menarik. Ada Juariah tambatan hatinya yang baru.
Kedekatan Juariah dengan Joko tak membuat Juminten sakit hati. Juminten cukup lapang dada melihat Joko akhirnya lebih memilih Juariah. Juminten sadar dirinya tak secantik Juariah. Semua yang dimiliki Juminten tampak tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Juariah. Karena itu Juminten tetap tersenyum. Bahkan saat mendengar kabar bahwa Joko dan Juariah akan segera menikah.
Joko dan Juariah akhirnya menikah. Pernikahan itu cukup ramai. Joko rupanya menghabiskan seluruh isi tabungannya untuk acara pernikahan itu. Joko hanya ingin Juariah senang. Maklumlah Juariah cantik sekali di mata Joko. Joko sering bingung kenapa Juariah memilih dirinya padahal kalau Juariah mau, bisa saja Juariah mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya. Yang lebih baik atau yang lebih ganteng. Tapi Juariah memilih dirinya, Joko, seorang supir yang hampir berusia empat puluh, berambut tipis dan berbadan kurus. Entah apa yang menarik dari diriku? Itu pertanyaan Joko setiap kali melihat diri Juariah. Setiap kali melihat wajah Juariah yang sedang tidur lelap.
Sehabis menikah Joko dan Juariah pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil. Juariah tak lagi membakul jamu. Dia memilih jadi ibu rumah tangga. Menunggu Joko pulang ke rumah saja. Dari pagi hingga sore dan kadang malam juga. Dan semua baik-baik saja. Juariah berpikir, mungkin belum saatnya jadi kaya. Mungkin perlu waktu, pikirnya.
Tiga bulan pun berlalu, kekayaan tak juga tampak. Sementara kebutuhan mulai terasa banyak. Juariah mulai kesal. Pernah diajaknya Joko bicara, setelah sebelumnya mereka bercinta. Juariah mulai bertanya apakah Joko punya warisan tanah atau rumah. Apakah Joko punya harta lain yang dirinya tak tahu. Joko bingung. Joko menjawab apa adanya. Juariah berang. Kesal bercampur marah. Lekas-lekas berpakaian. Itu adalah kali terakhir mereka bercinta.
Sampai suatu hari Juariah mendapat ide. Mungkin saja nanti mereka akan kaya lewat jalan lain. Mungkin suatu saat suaminya akan kejatuhan rejeki. Dari lotre misalnya? Atau undian apalah. Yang penting bisa membuat mereka kaya. Juariah menyampaikan ide itu ke Joko. Joko menolak. Joko antri lotre. Sejak itu Juariah mulai sering bertanya ke Joko, “Nggak beli lotre Pa?”. Kali pertama Juariah bertanya, Joko masih menjawab, “Buat apa lotre ma?”
“Biar cepat kaya Pa”, jawab Juariah singkat. Mukanya cemberut. Joko berusaha membujuk. Dibelainya saja rambut Juariah yang hitam panjang. Sudah sebulan lebih mereka tak bercinta. Joko juga lelaki normal biasa. Butuh bercinta juga. Juariah menepis tangan Joko. Masuk ke kamar. Menangis. Joko menghela napas panjang. Gagal sudah niat bercinta hari itu.
Hari ke hari pertanyaan Juariah itu-itu saja. Tentang lotre dan lotre. Joko mulai tak menjawab. Juariah menangis. Sampai suatu ketika Juariah memutuskan untuk membeli lotre sendiri. Diberitahunya ke Joko kalau dia sudah beli lotre. Pengumuman pun tiba. Nomor lotre yang dibelinya tak keluar alias tak menang. Juariah kesal. Berarti memang harus Joko yang membeli. Harus!
“Nggak beli lotre Pa?” lagi-lagi pertanyaan itu. Begitu terus pertanyaan Juariah pada Joko. Sampai suatu hari ada kabar buruk untuk Juariah. Joko mengalami kecelakaan. Waktu membawa mobil dari Jogja ke Semarang rupanya kondisi mobil sedang tidak baik. Joko kehilangan kendali. Mobil kencang berlari masuk jurang, yang dipinggirnya dibatasi kawat duri. Joko tewas di depan kemudi. Juariah jatuh terduduk mendengar kabar itu. Tak sanggup dia menangis.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Rumah itu mulai ramai. Doa untuk Joko pun dipanjatkan. Namun itu hanya keramaian sesaat. Juariah pun kembali sendiri. Tinggal satu orang tamu yang belum pergi. Namanya Pak Kresna. Dia bos di yayasan tempat Joko bekerja. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya langsung ke Juariah. Dengan sabar ditunggunya hingga agak sepi. Supaya bisa langsung bicara dengan Juariah dan supaya hanya sedikit yang mendengar.
Rupanya Joko sudah lama bekerja di yayasan tempat Pak Kresna memimpin. Sudah dua puluh tahun sejak Joko tamat SMA. Joko selalu mengikuti saran-saran Pak Kresna termasuk saran menabung untuk hari tua. Joko rupanya ikut sebuah program investasi. Program investasi dengan proteksi. Proteksinya berupa asuransi jiwa. Pak Kresna menyampaikannya ke Juariah, Juariah terkejut tak menyangka. Dia pikir Joko seperti manusia lainnya. Apa yang ada hari ini ya untuk hari ini. Besok ya tinggal besok. Ternyata Joko tidak begitu. Joko peduli akan masa depan. Nilai investasi dan asuransi jiwa Joko ternyata banyak sekali. Samar-samar Juariah ingat mimpinya. Saat jadi kaya hanya tampak dirinya dan para pembantunya. Tak ada Joko di situ. Rupanya inilah arti mimpinya. Joko pergi meninggalkan warisan baginya.
Uang empat miliar itu tidak sedikit. Juariah menangis sejadi-jadinya. Pak Kresna menunggu sampai tangisan Juariah reda. Namun sepertinya tangis Juariah tak akan berhenti saat itu. Ada satu berita lagi yang harus Pak Kresna sampaikan pada Juariah, namun Juariah sudah berlalu. Masuk ke kamar dan menangis keras sesungukan. Akhirnya Pak Kresna memilih menunda berita itu. Berita tentang seseorang yang ikut tewas bersama Joko. Seorang perempuan biasa-biasa saja dengan senyum tulus yang terbentuk dari bibir tebal dan gigi yang tak rata…
 
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Tidak ada komentar: