Jumat, 27 Juni 2014

Peran Komunitas Di Daerah Sulit Untuk Meningkatkan Penemuan Kasus TB



Saat membuka file foto-foto lama, saya melihat beberapa foto ketika saya masih bergabung di salah satu program penanggulangan TB bersama salah satu NGO di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Foto itu unik menurut saya, dan ketika melihatnya, sesaat terlintas pengalaman saya dan rekan-rekan waktu itu untuk berusaha menjangkau beberapa daerah yang sangat sulit hanya untuk melakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit TB. Jalan mendaki dan perjalanan menyeberang laut dari satu pulau ke pulau lain harus ditempuh. Di satu sisi ada susahnya dan di sisi lain lebih banyak kesenangannya. Susah ketika mendaki melewati jalan yang terjal biasanya terbayar dengan sambutan ramah-tamah dari penduduk lokal yang dengan rela memberikan tumpangan untuk tempat menginap dan jamuan ala kadarnya.
Jalan mendaki harus ditempuh untuk sosialisasi bahaya TB hingga ke desa-desa (Foto: dok. pribadi)

Oh iya, sekedar untuk mengetahui apa itu TB atau Tuberculosis maka berikut ini saya sampaikan gejala-gejala umum yang sering didapat. Pada umumnya gejalanya adalah sebagai berikut:

Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih berikut gejala lain yang sering dijumpai antara lain: dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan.

Sedangkan untuk terapi TB, karena yang menjadi sumber penyebaran TB adalah penderita TB itu sendiri, maka pengontrolan efektif TB adalah dengan cara mengurangi pasien TB tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TB saat ini, yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TB jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Sedangkan untuk imunisasi masih kontroversial di beberapa negara. Indonesia adalah salah satu negara yang mewajibkan imunisasi BCG sementara di Amerika imunisasi ini bukanlah keharusan namun Amerika sangat ketat dalam melakukan deteksi penderita sehingga mereka yakin penyebaran TB di komunitasnya bukanlah masalah yang serius.

Dalam strategi terapi DOTS ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung. Deteksi atau diagnosis pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TB berikutnya. 

TB hingga sekarang masih menjadi masalah kesehatan besar termasuk untuk negara berkembangseperti Indonesia. Karena besarnya permasalahan yang diakibatkan TB, maka TB tercakup sebagai salah satu indikator keberhasilan program MDG’s. Indikator MDG’s untuk TB yang harus dicapai Indonesia yaitu menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat TB menjadi setengahnya pada tahun 2015, dibandingkan dengan kondisi tahun 1990.

Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS, hampir semua target MDG’S untuk TB di Indonesia sudah tercapai. Pencapaian target MDG’s untuk TB yaitu kejadian TB semua kasus per 100.000 penduduk yaitu 206 pada tahun 1990 menjadi 185 pada tahun 2012 (sudah tercapai); prevalensi TB semua kasus per 100.000 penduduk yaitu 443 pada tahun 1990 menjadi 297 pada tahun 2012 (belum tercapai); angka kematian TB per 100.000 penduduk yaitu 92 pada tahun 1990 menjadi 27 pada tahun 2012 (sudah tercapai); angka penemuan kasus TB (CDR) yaitu 19,7% pada tahun 2000 menjadi 83% pada tahun 2012 (sudah tercapai) dan angka keberhasilan pengobatan TB (SR) yaitu 87% pada tahun 2000 menjadi 90% pada tahun 2012 (sudah tercapai).

Walaupun sudah ada kemajuan, menurut beliau, namun beban permasalahan TB di Indonesia masih cukup besar, yaitu angka kematian sebesar 67.000 orang per tahun dan angka insidensi 460.000 per tahun.

Pada peringatan Hari TB Sedunia tahun ini, ditetapkan tema “Reach the 3 Million, find, treat and cure for all”. Sedangkan Indonesia menetapkan tema “ Temukan dan Sembuhkan Pasien TB ”, dengan tujuan untuk memberikan akses universal dalam pelayanan TB dengan melibatkan semua penyedia layanan kesehatan dalam pengendalian TB yang menerapkan strategi DOTS berkualitas, sehingga hak pasien terjamin dalam memperoleh diagnosis dan pengobatan TB yang standar. Dengan demikian pasien TB dapat terpantau kepatuhan dan ketuntasan berobatnya serta terlaporkan dalam sistem surveilans nasional pengendalian TB. 

Bagaimana cara menemukan dan menyembuhkan pasien TB itulah yang menjadi permasalahan di tempat-tempat terpencil, termasuk tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di tahun 2004 di wilayah kabupaten Alor itu. Keberadaan fasilitas kesehatan yang belum memadai waktu itu mengharuskan tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa-desa tersebut harus berjalan kaki jauh-jauh ke kota atau harus naik perahu untuk mengantarkan sediaan sputum yang telah difiksasi. Buat yang awam, sputum itu adalah dahak. Seseorang yang dicurigai menderita TB harus menjalani tiga kali pemeriksaan dahak yang dikenal dengan singkatan SPS yaitu: Sewaktu, Pagi, dan Sewaktu. Sewaktu adalah dahak dikumpulkan saat pasien datang ke petugas kesehatan, Pagi adalah keesokan paginya pasien mengeluarkan dahak pertama yang dikeluarkan hari itu dan Sewaktu yang kedua adalah dahak yang diambil bersamaan dengan pasien mengantar dahak paginya ke petugas kesehatan. Selanjutnya petugas kesehatan akan melakukan proses fiksasi dahak ke dalam slide yang kemudian akan diwarnai dan diperiksa di bawah mikroskop. Jika ditemukan kuman BTA (Bakteri Tahan Asam) pada dua dari tiga slide maka pasien yang dicurigai mengidap TB itu dikatakan positif menderita TB dan harus menjalani pengobatan.

Kembali saya teringat saat-saat melakukan sosialisasi tentang TB dulu, saya dan rekan-rekan mengadopsi cara yang mudah diingat oleh komunitas, yaitu dengan menggunakan gerakan tangan. Harusnya saya videokan biar bisa ditiru ya? Tapi saya akan coba menggambarkannya secara naratif sebagai berikut:

Gejala umum TB adalah batuk, terus menerus, berdahak selama 3 minggu atau lebih. Nah, inilah pesan utama yang kita inginkan disampaikan oleh anggota komunitas ke anggota komunitas yang lain. Caranya? Pertama, siapkan tangan kanan atau tangan kiri juga boleh. Biasanya kami menggunakan tangan kanan, karena kesannya lebih sopan. Kedua, acungkan jempol sambil mengatakan “batuk”, kemudian angkat telunjuk menyertai jempol dan katakana “terus-menerus”, ketiga, angkat jari tengah sambil mengatakan “berdahak”. Keempat, ketiga jari yang sudah teracung tersebut di dorong ke depan sambil mengatakan “selama tiga minggu” dan terakhir, putar ketiga jari tersebut ke bawah dan ke atas sambil mengatakan “atau lebih..”
Mendemonstrasikan gerakan tangan untuk gejala umum TB: batuk, terus-menerus, berdahak, selama 3 minggu atau lebih (Foto: dok. pribadi)
 
Nah, biasanya setelah saya dan beberapa rekan menyampaikan pesan dengan iringan gerakan tangan tersebut maka komunitas diminta untuk mengikutinya. Hasilnya? Sebagian besar menganggap itu mudah diingat dan jika mereka menemukan saudara, tetangga, atau orang satu kampung yang memilki gejala tersebut, mereka akan meminta orang tersebut untuk pergi ke petugas kesehatan untuk diperiksa dan diambil dahaknya secara SPS.
Masyarakat desa mencoba mempraktekkan gerakan tangan untuk gejala umum TB yang sudah diperagakan. (Foto: dok. pribadi)
 
Setelah kami meninggalkan suatu wilayah untuk sosialisasi, biasanya kami memantau apakah ada peningkatan dalam penemuan kasus oleh komunitas yang pernah kami kunjungi. Ternyata, peran komunitas atau komunitas itu memang sangat besar. Jumlah temuan kasus serta merta meningkat walau tak bisa dipungkiri dengan langkah 3 jari itu banyak pula yang menuai hasil pemeriksaan SPS yang negatif alias tidak ditemukan kuman BTA.

Ternyata peran komunitas tidak hanya di penemuan kasus saja. Mereka juga bisa berperan dalam sosialisasi tentang penyakit TB ke komunitas di sekitarnya sampai mengawasi proses pengobatan yang sedang berlangsung dengan memberikan dukungan moral pada pasien yang sedang menjalani proses terapi.

Coba kita lihat definisi WHO tentang komunitas sebagai berikut:
A community is “a group of people who have something in common and will act together in their common interest” (WHO 2003).

Artinya, sebuah komunitas adalah "sekelompok orang yang memiliki sesuatu yang sama dan akan bertindak bersama-sama dalam kepentingan bersama mereka". Masyarakat mungkin menemukan kesatuan mereka melalui latar belakang umum, geografi, etnis, pendidikan, pengalaman, bahasa, dan dengan tema-tema sosial lainnya. Pemrograman TB berbasis masyarakat dapat memberikan kontribusi yang unik untuk program TB nasional

Sudah terlalu lama, masyarakat, rumah tangga, dan individu telah diabaikan dalam peran mereka untuk program kesehatan, meskipun mereka jelas merupakan aktor sentral dalam mengupayakan kesehatan mereka sendiri. Secara historis, upaya kesehatan telah mengutamakan fokus hanya pada sistem kesehatan formal klinik dan rumah sakit, dan pendekatan biologis. Memang ini sangat penting tetapi hal-hal tersebut tidak mewakili seluruh gambar kesehatan disuatu wilayah. Upaya kesehatan khususnya untuk penanggulangan TB berbasis masyarakatlah yang akan memberikan gambaran utuh tentang berhasil tidaknya program itu dijalankan di suatu wilayah.

Saya kembali membayangkan di daerah-daerah sulit yang pernah saya kunjungi dulu. Seandainya di desa mereka sudah ada listrik mungkin mereka bisa mengakses iklan layanan masyarakat seperti yang ada di bawah ini.




Namun, belum tentu juga sinyal relay stasiun televisi yang sampai ke tempat mereka. Artinya, penyebaran informasi dari mulut ke mulut dengan mengikutsertakan komunitas untuk mengambil peran lebih, mutlak dilakukan. Dengan peran komunitas yang lebih berperan dalam penemuan kasus, pengontrolan terapi, dan penyebaran informasi niscaya TB tidak akan menjadi masalah lagi buat negara kita ke depannya. Semoga!

Bacaan: