Kamis, 23 Agustus 2018

Kenapa sulit mengemukakan suara kaum minoritas di negeri ini?

Baru-baru ini saya mengirimkan artikel untuk dimuat di salah satu kanal blog bersama bernama Seword. Ya betul, buat sebagian orang yang tahu kanal ini, inilah kanal yang secara aktif mendukung Jokowi. Saya sendiri bukan pendukung Jokowi. Saya pilih Jokowi karena memang saat itu beliau memang yang terbaik menurut saya dari pilihan yang ada. Dan jujur, beberapa tahun di bawah kepemimpinan beliau, Indonesia memang terasa perubahannya.

Lalu kenapa artikel saya ditolak oleh Seword? 

Untuk lengkapnya, saya copy-kan dulu artikel yang pernah saya kirimkan dan untuk membedakannya saya cetak miring:


Arti Saya Sebagai Minoritas Mendukung Jokowi

Betul! Saya kecewa sekali dengan pemilihan cawapres yang dilakukan oleh Jokowi. Apalagi setelah menyaksikan beberapa fakta sebelum pencalonan yang membawa-bawa nama NU sebagai organisasi yang besar dan nama salah satu tokoh nasional yang masih saya kagumi sampai sekarang yaitu Mahfud MD.

Saya termasuk kaum minoritas di negeri ini. Karena apa? Mudah saja. Karena agama yang saya anut. Kristen.

Kalau ada yang bertanya ke saya, hingga saat ini apa yang sudah dilakukan Jokowi untuk menopang kebebasan beragama khususnya untuk kaum minoritas? Jawabnya antara gampang dan susah. 

Gampang, jika berkaca pada apa yang Jokowi lakukan di Papua. Papua dengan mayoritas pemeluk agama Kristen bergerak cepat dengan pembangunan infrastruktur dan kebijakan BBM satu harga. Saya pernah di Papua. Lebih dari 6 tahun. Jadi saya tahu apa sulitnya mengarungi jalan di Papua terutama di pegunungan tengah.

Gampang, kalau melihat apa yang Jokowi yang sudah lakukan juga untuk pemilihan para menterinya. Kalau mau jujur, inilah kabinet dengan jumlah menteri non-muslim terbanyak selama ini. Mohon dikoreksi jika saya salah.

Gampang, kalau melihat Jokowi tidak pilih-pilih dalam mengunjungi daerah yang terkena bencana. Sinabung dan Asmat, lagi-lagi dua daerah dengan mayoritas non Muslim.

Lalu susahnya? Susah, kalau melihat hingga sekarang tak ada solusi untuk pendirian 2 gereja yang dipaksa untuk ditutup/ dipindahkan. Atau jangan-jangan sudah ada? Kalau saya perhatikan berita tentang ini sudah jarang menghiasi media massa. Mungkin sedang menunggu saat yang tepat untuk “digoreng” oleh kubu lawan Jokowi.

Susah, kalau melihat bahwa adanya SKB 3 menteri justru mempersulit pendirian rumah ibadah untuk menyokong kebebasan beragama itu sendiri.

Susah, kalau melihat bagaimana Jokowi justru memilih cawapres yang justru melarang mengucapkan selamat Natal.

Lalu kenapa masih memilih Jokowi? Kenapa tidak golput saja? Kalau golput terus terang kita akan rugi, memilih adalah hak sekaligus kewajiban warga negara. Jadi saya coret pilihan untuk golput. Kenapa tidak pindah ke kubu sebelah yang mungkin akan memberi harapan yang lebih baik bagi kaum minoritas? Keduanya pernah bersekolah di sekolah Kristen, asumsinya mereka mungkin akan lebih nasionalis, akan lebih toleran, akan paham seluk beluk bagaimana memperlakukan kaum minoritas dengan baik, dan lain sebagainya.

Jawabannya sederhana saja: Pertama, karena PKS mendukung kubu sebelah. Seandainya PKS tidak mendukung salah satu pasangan, mungkin situasinya akan lain. Ada apa dengan PKS? Silahkan dicari-tahu sendiri. Banyak yang sudah menuliskannya. Kedua, saya masih melihat tidak ada kejelasan platform yang akan dibawa oleh kubu sebelah. Entah mau diapakan nanti negeri ini.

Lalu apa artinya saya sebagai kaum minoritas mendukung Jokowi? Artinya, se-tidak suka saya dengan cawapres Jokowi yang sekarang, saya masih melihat lebih banyak harapan untuk negeri ini jika tetap mendukung Jokowi. 

Saya membayangkan saat mencoblos nanti saya lipat dulu kertasnya, supaya wajah di sebelah Jokowi tidak kelihatan. Coblos dan tunai sudah hak dan kewajiban saya.

Nah, itulah artikel yang saya kirimkan. Lalu apa jawaban redaksi Seword? Saya screen-shoot saja supaya tidak dianggap hoax :)

Intinya (bagian yang ditebalkan oleh redaksi), artikel yang saya kirimkan sepertinya belum "anti SARA" karena masih menyinggung agama tertentu dan dianggap tidak mengkritik dengan elegan, serta dianggap tidak didukung data yang valid. Data yang valid menurut redaksi Seword adalah yang diambil dari media mainstream seperti Detik, Kompas, Tempo, dan Tribunnews. Seriously? Are you kidding me?

Setujukah saya dengan apa yang disampaikan redaksi Seword? Terus terang tidak. Apa yang saya sampaikan menurut saya adalah fakta bahwa memang saya tidak terlalu suka dengan cawapres Jokowi. Saya tidak suka dan banyak fakta yang memperkuat ketidak-sukaan saya yang saya tuangkan dalam artikel itu. Tapi, intinya, saya tetap mendukung Jokowi karena memang Bapak satu ini memang masih layak didukung!

Penolakan penerbitan artikel saya oleh Seword malah membuat saya berasumsi macam-macam. Jangan-jangan dalam tataran redaksi Seword ada yang memang pendukung kental cawapresnya Jokowi tersebut. Malah asumsi saya makin jauh lagi. Dalam tataran redaksi Seword juga masih ada orang-orang yang termasuk dalam poin "susah" ketiga yang saya sampaikan di artikel saya itu.

Kalau memang demikian. Wah, masih panjang perjuangan negeri ini untuk menjadi negeri yang penuh dengan toleransi. Masih panjang perjuangan ini untuk menjadikan Pancasila benar-benar menjiwa dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau Rote. Masih perlu banyak Joni-Joni lainnya yang siap naik tiang bendera. Masih perlu banyak Susi Susanti. Masih perlu banyak Chris John. Masih perlu banyak orang-orang dari kaum minoritas yang tampil ke depan membawa nama bangsa. Supaya orang-orang itu tahu Indonesia tak hanya mereka tapi juga ada kaum minoritas di tubuh bangsa ini. By the way Indonesiakah mereka-mereka itu? Ah sudahlah... 

Senin, 19 Maret 2018

Usia 41: Becoming the Expendables


Sumber: Lionsgate

Membaca judul di atas, pasti sebagian besar orang akan bingung. The expendables? Ini penulis tau nggak ya arti kata itu? Itu kan artinya “bisa dibuang”. Contohnya, kemasan yang bisa dibuang disebut expendable packaging atau persediaan yang bisa dibuang sebagai expendable supplies

Ketika menulis ini sebenarnya ulang tahun saya sudah lewat. Tanggal 15 Maret. Biasanya saya selalu menulis tiap kali ulang-tahun. Supaya ada refleksi. Buat diri sendiri dan buat orang lain yang mau membaca tulisan ini. Nah, sekarang sudah tanggal 19 Maret. Kalau pengaturan waktu di blog benar, tulisan ini bisa dikenali sebagai tulisan yang dibuat tanggal 19 Maret atau bisa saja dianggap sebagai artikel yang dibuat tanggal 20 Maret. Tidak masalah sih, hanya memang harus dituliskan saja mengingat ada ide soal “the expendables” ini yang terlintas tanggal 17 Maret lalu.

Jadi ceritanya begini.. kalau sebagian besar orang sudah memasuki fase nyaman dalam karir atau pekerjaan di usia 40, maka saya justru kebalikannya. Usia 40 tampaknya menjadi titik puncak karir saya ketika berada di bagian management. Tau kan management? Tugasnya susah-susah gampang, yaitu managing people. Mengatur orang. Berdasarkan kemampuan mereka dan bagian mereka masing-masing. Kalau mengaturnya bagus, then you are a good manager. Kalau pengaturannya buruk tapi pekerjaan dan target tetap berjalan dengan baik, then you might be a good leader ha..ha..ha.. Ini hanya bercanda saja. Bukan mau mencari bedanya antara manager dan leader. 

Nah, ketika usia 41 saya justru mencoba hal baru. Hal yang justru tidak ada dalam jalur panduan karir (beberapa waktu yang lalu tim saya sempat mendiskusikan tentang panduan karir sesuai dengan arahan dari departemen orang-orang dan kebudayaan, setidaknya itu sebutan mereka sekarang. Dulu sebutannya HRD). Dari yang semula mengurusi orang, sekarang menjadi staf biasa di bagian teknis. Orang-orang di kantor menyebutnya spesialis. Kadang diplesetkan juga jadi salah satu nama penyakit kelamin yang nggak perlu disebutkan di sini :)

Idenya apa sih? Apa yang terlintas tanggal 17 Maret itu? Apa pentingnya? Nah, ketika ingin menulis tentang the expendables, sebenarnya rujukan saja bukan hanya terjemahannya saja tapi justru lebih banyak berasal dari satu kelompok para jagoan pimpinan atau binaannya Sylvester Stalone. Mudah-mudahan namanya benar. Yah, pokoknya kelompok itu lah. Yang tua-tua itu tapi jago-jago semua. Jago-jago pada jamannya dan tetap jago juga pas udah tua. Tapi jujur, usia memang nggak bisa ditutupi. Selalu ada faktor usia yang pasti mengurangi kejagoan orang-orang di tim itu. Dan kejagoan saya... hiks..

Ketika itu (tanggal 17 Maret) saya membayangkan menjadi the expendables itu seperti menjadi sebuah kertas bekas yang tinggal diremas kemudian dibuang di tempat sampah. Kalau di kantor, kertas bekas biasanya masih bisa dipakai jika salah satu sisinya masih kosong. Bisa buat mencatat sesuatu ketika nggak sempat mengambil buku catatan, atau sekedar menempel nota-nota untuk pertanggung-jawaban keuangan. Beberapa lembar kertas bekas juga kadang bisa digabung menjadi buku catatan kecil misalnya. Jadi dalam bayangan saya, itulah the expendables. Kertas yang sebenarnya bisa saja dibuang. Tapi dibuang sayang. Sayang, kalau nanti diambil orang terus dijual kiloan, orang yang mengambil itu yang untung, padahal kan ini kertas saya, saya beli dengan uang saya. Uang perusahaan saya. Kira-kira mungkin begitu pemikiran organisasi he..he..

Atau.. kalau dibuang, nanti diambil orang kemudian kertasnya diputihkan lagi dan dipakai lagi menjadi sebuah buku tulis yang bagus.. bisa saja kan? Lagi-lagi yang mengambil itu yang untung, padahal ini kertas saya.. Paham nggak maksudnya? Kalau nggak paham ya nggak apa-apa juga sih.. Tapi ini hanya perumpamaan saja. Kalau saya adalah kertas maka pemilik kertas pastilah kantor atau perusahaan yang membeli kertas. Dari pemahaman itu silahkan dikembangkan saja ya..

Ketika kertas bekas dipakai, dia menjadi berguna untuk sesaat. Mungkin untuk menulis sesuatu. Setelah informasi dalam kertas bekas dipindahkan ke buku catatan, maka peran kertas bekas selesai. Biasanya langsung diremas dan kemudian dibuang. Selesai? Yup, bisa selesai di situ kemudian diambil oleh janitor dan dibuang ke tempat sampah. Akhirnya? Mungkin dibakar di TPA (tempat pembuangan akhir).

Tapi setelah diremas, eh.. tiba-tiba ada yang memerlukan kertas itu. Lipatan atau remasannya dibuka dan kemudian kertas ditulisi lagi. Tidak hanya ditulisi namun sang kertas bekas dilipat dengan baik dan dimasukkan ke dalam saku. Rupanya informasinya penting, sang kertas bekas diperlakukan dengan baik. Orang yang menyimpan kertas itu rupanya mencatat alamat yang sangat penting. Sepanjang jalan mencari alamat kertas dibuka dan dilipat kembali. Ketika sudah bersua dengan yang dicari maka selesailah fungsi sang kertas bekas. Kertas bekas kembali diremas dan dibuang.

Nah, di sinilah serunya.. ketika kertas bekas diremas dia akan berbentuk bulatan. Saya suka menyebut kondisi ini sebagai kondisi bertahan atau fase bertahan. Siapa tahu, nanti ada yang akan menggunakan lagi. Entah untuk apa. Supaya bisa digunakan lagi, apa yang bisa dilakukan? Don’t get burnt, don’t get wet, don’t get dirty, dan segudang don’t atau jangan-jangan yang lain. Jangan inilah dan jangan itulah. Intinya, bagaimana mencegah kertas masuk dalam kondisi terburuk yang mengharuskannya mau tidak mau harus dibuang. Syukur-syukur ada yang menggunakan dan kemudian membersihkan sang kertas bekas sehingga kembali bersih dan siap digunakan lagi. Lebih baik lagi kalau ada yang mengambilnya dan kemudian mendaur-ulang dirinya.

Jadi, itulah gambaran the expendables yang saya bayangkan waktu itu. Tentulah banyak kekurangannya. Kertas bekas? Well, hanya satu ide saja. Mungkin pembaca akan menemukan banyak ide lainnya tentang the expendables ini. Yang jelas, ini fase bertahan. Follow the flow. Ikuti arusnya sambil melihat-lihat pemandangan baik yang ada di sekitar. Ambil sebanyak mungkin kesempatan yang ada. Jika perlu dan masih ada kesempatan, titi lagi karir dari posisi yang ada sekarang. Hanya perlu dua tahun. Yup, dua tahun.. 

Cepatlah selesaikan pendidikanmu Ma.. supaya kita bisa gabung lagi. Bisa sama-sama lagi… Someday.. I won’t be the expendables.. I will create ones (maybe).. not being but making… Semoga!