Rabu, 29 Juni 2016

A good team made a good leader!

Sedikit catatan dari Keplek Ilat sore itu... 



Siapa yang nggak ada hayoo...?



Saya perlu berpikir lama sebelum menuliskan judul di atas. Tadinya saya pikir tulisan ini akan berjudul “Kebersamaan itu penting!” atau “Bukan basa-basi, yang penting kebersamaan!”, tapi kemudian saya berpikir lagi, jangan-jangan hanya saya yang menganggap itu penting dan bisa saja oleh rekan yang lain hal itu nggak penting-penting amat, malah mungkin ada yang berpikir kalau itu hanya merepotkan saja. Kan sudah selesai jam kerja, ngapain sih ngumpul lagi? Mudah-mudahan itu hanya di pikiran saya saja ya…

Yang jelas sore itu suasana tampak asyik lah pokoknya. Coba bayangkan, mendekati akhir bulan dimana wujud THR belum tampak apalagi wujud mahkluk bernama gaji seakan masih jauh di seberang lautan, tim ini masih sanggup bersuka ria, saling bercerita, menikmati makanan ala kadarnya (kayaknya nggak kalo yang ini, karena makanannya buanyak bingitsss..), dan menampakkan kegembiraan seolah-olah tidak khawatir kalau THR tidak datang atau gaji terlambat masuk. Yang nggak puasa sepertinya malah makan lebih banyak dari yang puasa. Sebenarnya ini sah-sah saja, karena yang puasa tentu perutnya sudah terlatih untuk tidak menerima banyak makanan sehingga cepat kenyang (alasan… he..3x).

Namun dibalik kebersamaan adapula terselip kekhawatiran. Kekhawatiran kalau kebersamaan ini mungkin tak akan terulang di waktu-waktu yang akan datang. Mungkin bisa jadi terulang tapi dengan personil yang berbeda atau personil yang berkurang. But, what a heaven! (kebalikan dari umpatan yang biasa) ada yang bilang kesusahan sehari cukuplah untuk sehari karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Setiap orang pasti khawatir dengan masa depan, akan seperti apakah? Akan bagaimana kah? Bagaimana dengan rencana nikah? Kok nggak boleh punya anak dulu? Kejam amat sih pak UM.. tapi lebih kejam pak SO lah yang jelas-jelas melarang nikah… 

Anyway, seperti judul di atas, seorang pemimpin itu terlihat hebat karena dia memiliki staf yang hebat. Jika seorang pemimpin memiliki staf yang buruk dan dia terlihat buruk, maka ada yang salah dengan pola kepemimpinan sang pemimpin. Lebih parah lagi kalau sang pemimpin memiliki staf yang hebat namun dia terlihat buruk.. nah lo… kasian amat, kalau situasinya begitu yah.. mungkin sudah harus sadar diri, meletakkan kepemimpinan dan mau dipimpin.

Anyway lagi, maka peran staf tak beda dengan peran pemimpin. Staf harus bisa memimpin diri sendiri dari hal yang terkesan remeh-temeh mulai soal mengatur waktu hingga memenuhi target pekerjaan yang disepakati. Saat menulis artikel ini, saya sendiri sadar, bahwa sebagai staf saya tidak bisa memilih pemimpin saya. Pemimpin saya “given by” bukan “I choose to be lead by”. So, sebagai staf saya harus bisa membuat pemimpin saya terlihat baik, bagaimana caranya? Dengan bekerja optimal, sesuai target, sesuai rencana, tidak usah banyak tanya, berikan solusi lebih banyak dibanding kritik, tak perlu ngomong di belakang, just do it and let God do the rest. Pasrah? Nggak, ini namanya berserah.

Anyway lagi dan lagi, tim ini sungguh keren.. berbeda watak, beragam usia, beragam pemikiran (maksudnya ada yang mikir dan ada merasa bukan tugasnya mikir, dan itu memang betul dan bisa diterima), dan beragam-ragam hal lainnya. Tapi ketika bicara anak, kepentingan anak, yang terbaik buat anak, segalanya tentang anak, hanya satu yang ada di pikiran: kerja, kerja, kerja… 

Mudah-mudahan tim ini tetap solid… and may it keep become the best team ever! HUA!*

*HUA: Heard, Understood, Acknowleged

Selasa, 15 Maret 2016

Usia 39: Selalu ada Waktu untuk Bersyukur!


Usia 39. Sumber gambar: homebodyholly.com


Angka 39 itu angka yang unik! Paling tidak itu yang saya temukan jika mengetikkan angka itu di mesin pencari Google. Konon angka 39 itu adalah hasil penjumlahan premis konsekutif (jangan tanya apa artinya…) yaitu 3+5+7+11+13. Pokoknya angka ini sepertinya istimewa. Ada yang bilang 39 itu adalah Perfect Totient Number dan ada pula yang bilang Stormer Number. Entah apa maksudnya. Yang saya pahami memang betul kalau tiga pangkat satu (3) ditambah 3 pangkat 2 (9) dan ditambah lagi dengan tiga pangkat 3 (27) hasilnya adalah 39.

Kita sudahi saja membahas hitung-hitungan itu. Toh saya bukan ahli matematika. Bukan pula orang yang suka dengan hitung menghitung (kecuali menghitung sisa saldo di tabungan he..3x). Tapi ternyata bukan dari hitung menghitung saja, di berbagai bidang angka 39 ini ternyata bermakna pula. Di agama, ada 39 kitab di Perjanjian Lama menurut Kristen Protestan, ada 39 pernyataan (39 articles) di gereja Anglikan. Di bidang musik, ada banyak lagu berjudul “39”, salah satu yang terkenal adalah yang dibawakan oleh Queen dalam A night at the opera. Dalam sejarah, jika seorang budak dihukum cambuk sebanyak 40 kali maka jumlah total cambukan yang dia terima adalah 39 kali (forty save one). Yang terakhir, yang paling saya sukai, ternyata 39 adalah bahasa slang dalam keseharian orang Jepang (mungkin kalau pas lagi sms atau WA kali ya..) untuk mengatakan “terima kasih” atau “thank you”. Tiga adalah “san” dan sembilan adalah “kyuu”. Sangat menarik mengetahui banyak hal tentang angka 39 ini.. 

Namun, buat saya 39 adalah pertambahan usia yang saya jalani hari ini. Hari ini 15 Maret 1977 tiga puluh sembilan tahun lalu saya dilahirkan. Banyak sudah yang dijalani. Banyak kisah haru biru. Banyak kisah senang. Banyak duka dan suka. Saya masih ingat tiga tahun lalu, saat berulang tahun juga, ada hadiah yang sangat menggembirakan, apa lagi kalau bukan si kecil berambut gondrong yang sekarang telah menjelma menjadi anak perempuan yang ceriwis. Sayang pagi tadi dia tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk papanya. Katanya papanya nakal. Hahhh… kalau kamu tahu betapa rindunya papa denganmu nak… 

Yang pasti, entah sampai berapapun usia saya nanti, saya selalu yakin akan ada banyak waktu untuk bersyukur. Bersyukur setiap saat dan setiap waktu kala kita ingat akan banyak hal yang wajib kita syukuri. Bersyukur kalau masih bisa diberikan nafas. Kesehatan yang baik untuk diri sendiri, anak dan istri. Masih punya pekerjaan. Masih punya sahabat dan teman. Masih punya orang tua dan sanak saudara. Masih punya tempat tinggal. Masih punya ini dan masih punya itu… Suatu saat bisa saja semua itu tak ada lagi. Hilang, karena Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Begitu kata Ayub. Tapi Yub, jujur saja, saya mungkin nggak sekuat dikau he..3x

Jadi, happy birthday to me… happy birthday to me… happy birthday…. Happy birthday…. Happy birthday to me.. Terimakasih Tuhan Yesus atas segalanya. YOU are the best My Lord! San Kyuu…
 

Rabu, 02 Maret 2016

Kepemimpinan Yang Meresahkan



Sekedar menuliskan kembali curahan hati seorang teman...

Anda resah? Sumber gambar: jeffmcclung.com
 
Akhir-akhir ini di organisasi dimana saya bernaung dan bekerja (bekerja atau melayani ya yang lebih tepat?) muncul keresahan di berbagai tempat. Keresahan itu sebenarnya sepele saja awalnya. Berawal dari informasi yang datangnya simpang siur. Berawal dari isu (kalau tidak mau disebut gosip) yang kemudian ditimpali oleh isu lainnya. Atau mungkin diawali dengan adanya kepemimpinan yang baru? Intinya begini, ada kabar bahwa akan ada perubahan di organisasi ini. Yang sangat disayangkan adalah, ketika semua sudah bersiap dengan perubahan itu dan berkata pada dirinya sendiri, “Oh akan ada perubahan ya? Oke siap…” ternyata perubahan itu tak kunjung datang.

Rencana awal dari perubahan itu adalah penyusunan strategi organisasi. Strategi terakhir yang dipunyai sudah berakhir tahun 2015 lalu, artinya mutlak diperlukan strategi baru guna mencapai… nah, ini dia yang saya agak bingung. Karena kalau saya jawab guna mencapai hal yang sama, kok ya perlu strategi baru. Yang jelas, organisasi seperti berburu dengan waktu. Strategi pun disusun dengan melibatkan sesedikit mungkin orang. Toh, nanti setelah jadi bisa di share ke orang yang lebih banyak. Dan akhirnya memang strategi itu dishare juga dan orang-orang yang lebih banyak itu ternyata kebagian getahnya juga, yaitu bagaimana mengejawantahkan strategi yang dibuat oleh segelintir orang tadi ke wilayah mereka masing-masing yang sudah jelas berbeda konteks dan kearifan lokalnya. 

Sayangnya prosesnya terlalu lama. Proses yang tadinya jelas-jelas top down, seolah-olah mau dibuat bottom up dengan tambahan plus-plus yaitu arahan dari pusat. Maka safari dari kota ke kota pun diatur. Segelintir orang (yang itu-itu saja) berjalan dari kota ke kota. Membelanjakan sangat sedikit uang untuk biaya perjalanan. Membelanjakan sangat sedikit waktu untuk menyusun turunan strategi di tiap-tiap wilayah yang disebut zona itu. Untuk kemudian memperoleh hasil yang sangat sedikit eh.. maksud saya.. yang maksimal.

Belum selesai gelombang strategi, datang gelombang berikutnya yang bernama restrukturisasi. Sayangnya inipun tidak jelas. Semua informasi datang simpang siur dan tidak bisa dikelola dengan baik. Si peniup informasi dan si penerima informasi sepertinya sama-sama resah. Si peniup informasi seolah sedang mencoba teknik “coba-coba salah” dan si penerima informasi bertahan dengan teknik “pura-pura merasa nggak ngefek tapi was-was juga”. Teknik “coba-coba salah” itu artinya begini: kira-kira kalau saya sampaikan informasi A bagaimana ya respon pendengar? Kalau ternyata respon pendengar baik dan mereka menerima A, lanjutkan, kalau tidak tinggal ganti saja informasinya dan mengelak kalau pernah mengeluarkan informasi tersebut. Gitu saja kok repot? Enjoy dikitlah, nikmati fasilitas yang sangat sedikit ini. Eh, anak ama bini gue dah dijemput belum ya?

Restrukturisasi katanya untuk memaksimalkan kinerja staf, melakukan efisiensi di segala bidang. Tinggal gabung saja beberapa divisi, nggak usah dilihat perbedaan masing-masing divisi toh kita tetap satu keluarga besar. Yang penting strukturnya terlihat padat dan ringkas. Nggak perlu juga dipikirkan kalau nanti masing-masing divisi akan berebut mempertahankan eksistensinya dan membuat staf di level bawah kelimpungan. Biarkan saja mereka kelimpungan, siapa suruh mereka ada di bawah sana. Di bawah memang enak juga sih, pemandangannya bagus…  Eh, ngomong-ngomong gue perlu asisten baru nih… 

Hei pren, apa sih sebenarnya masalahnya? Bukankah sebuah organisasi akan berjalan baik jika ada kepemimpinan yang baik pula. Bukankah sudah ada beberapa survey yang dilakukan? Ditindaklanjuti dong.. Bukan dengan membuat rincian tindak lanjut yang asal jadi (seolah-olah sudah ditindaklanjuti namun sebenarnya yang ditampilkan adalah omong kosong yang jujur, malah memperparah kondisi) namun dengan langkah-langkah konkrit yang melibatkan para staf di segala level. Bukankah staf adalah asset terbaik organisasi?

Lalu, bagaimana dengan si pemimpin yang membuat resah tadi? Kita memang tak pernah bisa memilih siapa pemimpin kita. Yang bisa kita lakukan adalah kembali ke nilai-nilai dasar organisasi dimana kita bernaung dan dulu melayani (sekarang bekerja) sambil terus berdoa. Bukankah ada sebuah kitab bijak yang menuliskan bahwa doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya? 

Sudah… sudah… ayo kembali bekerja (dan berdoa jika anda sedang berdoa sebelum membaca artikel ini), jangan dibahas lagi isu-isu itu…

Jumat, 20 November 2015

Nggak Beli Lotre Pa? #KeputusanCerdas



“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti hari kemarin dan seperti hari kemarin lagi dan seperti hari yang kemarin-kemarin lagi. Sebenarnya Joko bingung kenapa pertanyaan itu terus menerus diajukan Juariah padanya. Joko bosan. Tapi tak juga Joko meminta penjelasan dari Juariah. Joko hanya memandang. Memilih tak menjawab ketika Juariah terus mengajukan pertanyaan yang sama hari demi hari.
Juariah hanya melengos. Dilemparnya sapu rumah itu. Juariah masuk ke kamar. Menangis ala kadarnya. Setiap hari kejadiannya selalu begitu. Dan Joko hanya diam. Diam dan diam saja. Awalnya ketika mereka menikah dulu semua tampak baik-baik saja. Keduanya menikmati hari-hari kebersamaan mereka. Hingga suatu hari Juariah mulai minta ini dan itu. Joko mulai pusing. Dia hanya seorang supir. Supir kantor sebuah yayasan nirlaba. Berapalah gajinya sebulan. Tak cukup untuk memenuhi permintaan aneh-aneh Juariah.
Awal ceritanya sama seperti cerita anak muda pada umumnya. Joko memang tak terlalu tampan. Waktu itu Joko sedang tertarik dengan Juminten. Tapi karena sesuatu hal, Juariah memilih untuk berkompetisi dengan Juminten. Kompetisi ala perempuan muda. Kompetisi untuk mendapatkan Joko, seorang supir yayasan. Juminten awalnya bingung kenapa Juariah ikut-ikutan mencintai Joko. Padahal Juariah jauh lebih cantik dari dirinya. Juariah langganannya banyak sementara Juminten langganannya terbatas. Juariah bisa melayani banyak bapak-bapak. Dari mulai bapak rumah tangga hingga satpam-satpam di kompleks perumahan. Dari mulai pekerja bangunan yang tua hingga yang muda. Dari ibu-ibu rumah tangga hingga mbok-mbok pedagang keliling yang menjual sayur dan dagangan lain. Lalu Juminten? Langganannya terbatas. Hanya ibu-ibu saja. Itupun yang sudah kenal. Juariah dan Juminten adalah pedagang jamu keliling.
Suatu kali Joko dan Juminten sedang duduk bersama. Juminten menyeduh secangkir air hangat ke dalam cangkir berisi jamu tolak angin. Joko menyambut cangkir itu dengan wajah gembira. Dipandangnya wajah Juminten yang pas-pasan. Tapi Joko senang wajah itu. Hatinya tenang saat melihat Juminten. Apalagi Juminten selalu menyediakan jamu gratis baginya. Berkali-kali Joko ingin membayar, berkali-kali pula Juminten menolak.
“Jum, kenapa sih aku ndak boleh bayar jamumu?” saat itu Joko bertanya. Juminten hanya diam dan tersenyum. Senyum itu senyum paling indah dan tulus menurut Joko. Walau senyum itu menampakkan gigi Juminten yang tak rata. Dengan kombinasi bibir tebal pula.
Tiba-tiba Juariah datang. Tak pakai ba-bi-bu. Tak pakai sapaan pendahuluan. Langsung nimbrung dan ikut bercengkerama. Juminten yang rendah diri memilih untuk undur. Membiarkan Joko dan Juariah saling bertutur. Mulai saat itu hari-hari bersama Joko mulai jarang. Jamu gratis berganti, dari jamu gratis Juminten ke jamu gratis Juariah.
Bagi Juariah, semuanya itu berawal dari mimpi. Tak ada rasa tertarik dari Juariah kepada Joko sebelumnya. Ngapain menikah sama supir? Begitu dulu ejekan Juariah pada Juminten. Tapi Juminten kekeuh. Tetap suka Joko. Tetap sayang Joko. Tetap memberikan jamu gratis buat Joko. Jamu pegel linu. Jamu beras kencur. Dan yang paling sering jamu masuk angin. Maklumlah, jam kerja Joko kadang sampai malam. Joko sering masuk angin. Kalau sudah begitu, hanya jamu dari Juminten obatnya. Joko paling anti dikerik atau dikerok dengan uang logam. Geli, katanya, ketika Juminten pernah menawarkan untuk mengerok punggung Joko.
Mimpi apa? Suatu malam Juariah bermimpi. Dalam mimpinya dia tampak hidup senang. Tinggal di rumah besar. Perabotan mahal. Ada kolam renang pula. Juariah jadi nyonya besar. Ada banyak pembantu yang bisa disuruh-suruh. Ada Inem satu hingga Inem sembilan. Kesembilannya pembantu Juariah di rumah besar itu. Kemudian samar-samar mimpinya mundur ke masa sebelumnya. Masa-masa pernikahan. Juariah tampak bersanding dengan seorang lelaki. Lelaki itu adalah Joko. Tak salah lagi. Jidat jenong dan rambut tipis itu jelas milik Joko. Mereka tampak bahagia. Para tamu tampak menyalami. Sepasang pengantin tampak tersenyum menikmati salam dari tetamu kanan dan kiri.
Juariah terbangun. Apa arti mimpi itu? Apakah aku harus menikah dengan Joko? Berbagai pikiran silih berganti datang dan pergi dalam benak Juariah. Kalau mau kaya menikahlah dengan Joko. Kalau mau rumah besar, menikahlah dengan Joko. Kalau mau punya kolam renang, menikahlah dengan Joko. Pikiran itu datang silih berganti hingga akhirnya kesimpulannya hanya satu: Menikah dengan Joko! Sejak saat itu Juariah mulai rajin menggoda. Setiap bertemu Joko dia mulai sering bermain mata. Bukan hanya bermain mata. Segala cara dipakai Juariah termasuk mulai memberikan jamu gratis dengan tambahan bumbu cinta. Joko mulai tergoda. Apalagi setiap memberikan jamu Juariah mulai selalu tersenyum. Gigi putih berbaris rapi dibungkus bibir tipis manis itu mulai terasa lebih enak dilihat dari senyuman seorang Juminten. Joko mulai pindah ke lain hati. Juminten mulai tak menarik. Ada Juariah tambatan hatinya yang baru.
Kedekatan Juariah dengan Joko tak membuat Juminten sakit hati. Juminten cukup lapang dada melihat Joko akhirnya lebih memilih Juariah. Juminten sadar dirinya tak secantik Juariah. Semua yang dimiliki Juminten tampak tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Juariah. Karena itu Juminten tetap tersenyum. Bahkan saat mendengar kabar bahwa Joko dan Juariah akan segera menikah.
Joko dan Juariah akhirnya menikah. Pernikahan itu cukup ramai. Joko rupanya menghabiskan seluruh isi tabungannya untuk acara pernikahan itu. Joko hanya ingin Juariah senang. Maklumlah Juariah cantik sekali di mata Joko. Joko sering bingung kenapa Juariah memilih dirinya padahal kalau Juariah mau, bisa saja Juariah mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya. Yang lebih baik atau yang lebih ganteng. Tapi Juariah memilih dirinya, Joko, seorang supir yang hampir berusia empat puluh, berambut tipis dan berbadan kurus. Entah apa yang menarik dari diriku? Itu pertanyaan Joko setiap kali melihat diri Juariah. Setiap kali melihat wajah Juariah yang sedang tidur lelap.
Sehabis menikah Joko dan Juariah pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil. Juariah tak lagi membakul jamu. Dia memilih jadi ibu rumah tangga. Menunggu Joko pulang ke rumah saja. Dari pagi hingga sore dan kadang malam juga. Dan semua baik-baik saja. Juariah berpikir, mungkin belum saatnya jadi kaya. Mungkin perlu waktu, pikirnya.
Tiga bulan pun berlalu, kekayaan tak juga tampak. Sementara kebutuhan mulai terasa banyak. Juariah mulai kesal. Pernah diajaknya Joko bicara, setelah sebelumnya mereka bercinta. Juariah mulai bertanya apakah Joko punya warisan tanah atau rumah. Apakah Joko punya harta lain yang dirinya tak tahu. Joko bingung. Joko menjawab apa adanya. Juariah berang. Kesal bercampur marah. Lekas-lekas berpakaian. Itu adalah kali terakhir mereka bercinta.
Sampai suatu hari Juariah mendapat ide. Mungkin saja nanti mereka akan kaya lewat jalan lain. Mungkin suatu saat suaminya akan kejatuhan rejeki. Dari lotre misalnya? Atau undian apalah. Yang penting bisa membuat mereka kaya. Juariah menyampaikan ide itu ke Joko. Joko menolak. Joko antri lotre. Sejak itu Juariah mulai sering bertanya ke Joko, “Nggak beli lotre Pa?”. Kali pertama Juariah bertanya, Joko masih menjawab, “Buat apa lotre ma?”
“Biar cepat kaya Pa”, jawab Juariah singkat. Mukanya cemberut. Joko berusaha membujuk. Dibelainya saja rambut Juariah yang hitam panjang. Sudah sebulan lebih mereka tak bercinta. Joko juga lelaki normal biasa. Butuh bercinta juga. Juariah menepis tangan Joko. Masuk ke kamar. Menangis. Joko menghela napas panjang. Gagal sudah niat bercinta hari itu.
Hari ke hari pertanyaan Juariah itu-itu saja. Tentang lotre dan lotre. Joko mulai tak menjawab. Juariah menangis. Sampai suatu ketika Juariah memutuskan untuk membeli lotre sendiri. Diberitahunya ke Joko kalau dia sudah beli lotre. Pengumuman pun tiba. Nomor lotre yang dibelinya tak keluar alias tak menang. Juariah kesal. Berarti memang harus Joko yang membeli. Harus!
“Nggak beli lotre Pa?” lagi-lagi pertanyaan itu. Begitu terus pertanyaan Juariah pada Joko. Sampai suatu hari ada kabar buruk untuk Juariah. Joko mengalami kecelakaan. Waktu membawa mobil dari Jogja ke Semarang rupanya kondisi mobil sedang tidak baik. Joko kehilangan kendali. Mobil kencang berlari masuk jurang, yang dipinggirnya dibatasi kawat duri. Joko tewas di depan kemudi. Juariah jatuh terduduk mendengar kabar itu. Tak sanggup dia menangis.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Rumah itu mulai ramai. Doa untuk Joko pun dipanjatkan. Namun itu hanya keramaian sesaat. Juariah pun kembali sendiri. Tinggal satu orang tamu yang belum pergi. Namanya Pak Kresna. Dia bos di yayasan tempat Joko bekerja. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya langsung ke Juariah. Dengan sabar ditunggunya hingga agak sepi. Supaya bisa langsung bicara dengan Juariah dan supaya hanya sedikit yang mendengar.
Rupanya Joko sudah lama bekerja di yayasan tempat Pak Kresna memimpin. Sudah dua puluh tahun sejak Joko tamat SMA. Joko selalu mengikuti saran-saran Pak Kresna termasuk saran menabung untuk hari tua. Joko rupanya ikut sebuah program investasi. Program investasi dengan proteksi. Proteksinya berupa asuransi jiwa. Pak Kresna menyampaikannya ke Juariah, Juariah terkejut tak menyangka. Dia pikir Joko seperti manusia lainnya. Apa yang ada hari ini ya untuk hari ini. Besok ya tinggal besok. Ternyata Joko tidak begitu. Joko peduli akan masa depan. Nilai investasi dan asuransi jiwa Joko ternyata banyak sekali. Samar-samar Juariah ingat mimpinya. Saat jadi kaya hanya tampak dirinya dan para pembantunya. Tak ada Joko di situ. Rupanya inilah arti mimpinya. Joko pergi meninggalkan warisan baginya.
Uang empat miliar itu tidak sedikit. Juariah menangis sejadi-jadinya. Pak Kresna menunggu sampai tangisan Juariah reda. Namun sepertinya tangis Juariah tak akan berhenti saat itu. Ada satu berita lagi yang harus Pak Kresna sampaikan pada Juariah, namun Juariah sudah berlalu. Masuk ke kamar dan menangis keras sesungukan. Akhirnya Pak Kresna memilih menunda berita itu. Berita tentang seseorang yang ikut tewas bersama Joko. Seorang perempuan biasa-biasa saja dengan senyum tulus yang terbentuk dari bibir tebal dan gigi yang tak rata…
 
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com