Tampilkan postingan dengan label Ulang Tahun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulang Tahun. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Usia 41: Becoming the Expendables


Sumber: Lionsgate

Membaca judul di atas, pasti sebagian besar orang akan bingung. The expendables? Ini penulis tau nggak ya arti kata itu? Itu kan artinya “bisa dibuang”. Contohnya, kemasan yang bisa dibuang disebut expendable packaging atau persediaan yang bisa dibuang sebagai expendable supplies. 

Ketika menulis ini sebenarnya ulang tahun saya sudah lewat. Tanggal 15 Maret. Biasanya saya selalu menulis tiap kali ulang-tahun. Supaya ada refleksi. Buat diri sendiri dan buat orang lain yang mau membaca tulisan ini. Nah, sekarang sudah tanggal 19 Maret. Kalau pengaturan waktu di blog benar, tulisan ini bisa dikenali sebagai tulisan yang dibuat tanggal 19 Maret atau bisa saja dianggap sebagai artikel yang dibuat tanggal 20 Maret. Tidak masalah sih, hanya memang harus dituliskan saja mengingat ada ide soal “the expendables” ini yang terlintas tanggal 17 Maret lalu.

Jadi ceritanya begini.. kalau sebagian besar orang sudah memasuki fase nyaman dalam karir atau pekerjaan di usia 40, maka saya justru kebalikannya. Usia 40 tampaknya menjadi titik puncak karir saya ketika berada di bagian management. Tau kan management? Tugasnya susah-susah gampang, yaitu managing people. Mengatur orang. Berdasarkan kemampuan mereka dan bagian mereka masing-masing. Kalau mengaturnya bagus, then you are a good manager. Kalau pengaturannya buruk tapi pekerjaan dan target tetap berjalan dengan baik, then you might be a good leader ha..ha..ha.. Ini hanya bercanda saja. Bukan mau mencari bedanya antara manager dan leader. 

Nah, ketika usia 41 saya justru mencoba hal baru. Hal yang justru tidak ada dalam jalur panduan karir (beberapa waktu yang lalu tim saya sempat mendiskusikan tentang panduan karir sesuai dengan arahan dari departemen orang-orang dan kebudayaan, setidaknya itu sebutan mereka sekarang. Dulu sebutannya HRD). Dari yang semula mengurusi orang, sekarang menjadi staf biasa di bagian teknis. Orang-orang di kantor menyebutnya spesialis. Kadang diplesetkan juga jadi salah satu nama penyakit kelamin yang nggak perlu disebutkan di sini :)

Idenya apa sih? Apa yang terlintas tanggal 17 Maret itu? Apa pentingnya? Nah, ketika ingin menulis tentang the expendables, sebenarnya rujukan saja bukan hanya terjemahannya saja tapi justru lebih banyak berasal dari satu kelompok para jagoan pimpinan atau binaannya Sylvester Stalone. Mudah-mudahan namanya benar. Yah, pokoknya kelompok itu lah. Yang tua-tua itu tapi jago-jago semua. Jago-jago pada jamannya dan tetap jago juga pas udah tua. Tapi jujur, usia memang nggak bisa ditutupi. Selalu ada faktor usia yang pasti mengurangi kejagoan orang-orang di tim itu. Dan kejagoan saya... hiks..

Ketika itu (tanggal 17 Maret) saya membayangkan menjadi the expendables itu seperti menjadi sebuah kertas bekas yang tinggal diremas kemudian dibuang di tempat sampah. Kalau di kantor, kertas bekas biasanya masih bisa dipakai jika salah satu sisinya masih kosong. Bisa buat mencatat sesuatu ketika nggak sempat mengambil buku catatan, atau sekedar menempel nota-nota untuk pertanggung-jawaban keuangan. Beberapa lembar kertas bekas juga kadang bisa digabung menjadi buku catatan kecil misalnya. Jadi dalam bayangan saya, itulah the expendables. Kertas yang sebenarnya bisa saja dibuang. Tapi dibuang sayang. Sayang, kalau nanti diambil orang terus dijual kiloan, orang yang mengambil itu yang untung, padahal kan ini kertas saya, saya beli dengan uang saya. Uang perusahaan saya. Kira-kira mungkin begitu pemikiran organisasi he..he..

Atau.. kalau dibuang, nanti diambil orang kemudian kertasnya diputihkan lagi dan dipakai lagi menjadi sebuah buku tulis yang bagus.. bisa saja kan? Lagi-lagi yang mengambil itu yang untung, padahal ini kertas saya.. Paham nggak maksudnya? Kalau nggak paham ya nggak apa-apa juga sih.. Tapi ini hanya perumpamaan saja. Kalau saya adalah kertas maka pemilik kertas pastilah kantor atau perusahaan yang membeli kertas. Dari pemahaman itu silahkan dikembangkan saja ya..

Ketika kertas bekas dipakai, dia menjadi berguna untuk sesaat. Mungkin untuk menulis sesuatu. Setelah informasi dalam kertas bekas dipindahkan ke buku catatan, maka peran kertas bekas selesai. Biasanya langsung diremas dan kemudian dibuang. Selesai? Yup, bisa selesai di situ kemudian diambil oleh janitor dan dibuang ke tempat sampah. Akhirnya? Mungkin dibakar di TPA (tempat pembuangan akhir).

Tapi setelah diremas, eh.. tiba-tiba ada yang memerlukan kertas itu. Lipatan atau remasannya dibuka dan kemudian kertas ditulisi lagi. Tidak hanya ditulisi namun sang kertas bekas dilipat dengan baik dan dimasukkan ke dalam saku. Rupanya informasinya penting, sang kertas bekas diperlakukan dengan baik. Orang yang menyimpan kertas itu rupanya mencatat alamat yang sangat penting. Sepanjang jalan mencari alamat kertas dibuka dan dilipat kembali. Ketika sudah bersua dengan yang dicari maka selesailah fungsi sang kertas bekas. Kertas bekas kembali diremas dan dibuang.

Nah, di sinilah serunya.. ketika kertas bekas diremas dia akan berbentuk bulatan. Saya suka menyebut kondisi ini sebagai kondisi bertahan atau fase bertahan. Siapa tahu, nanti ada yang akan menggunakan lagi. Entah untuk apa. Supaya bisa digunakan lagi, apa yang bisa dilakukan? Don’t get burnt, don’t get wet, don’t get dirty, dan segudang don’t atau jangan-jangan yang lain. Jangan inilah dan jangan itulah. Intinya, bagaimana mencegah kertas masuk dalam kondisi terburuk yang mengharuskannya mau tidak mau harus dibuang. Syukur-syukur ada yang menggunakan dan kemudian membersihkan sang kertas bekas sehingga kembali bersih dan siap digunakan lagi. Lebih baik lagi kalau ada yang mengambilnya dan kemudian mendaur-ulang dirinya.

Jadi, itulah gambaran the expendables yang saya bayangkan waktu itu. Tentulah banyak kekurangannya. Kertas bekas? Well, hanya satu ide saja. Mungkin pembaca akan menemukan banyak ide lainnya tentang the expendables ini. Yang jelas, ini fase bertahan. Follow the flow. Ikuti arusnya sambil melihat-lihat pemandangan baik yang ada di sekitar. Ambil sebanyak mungkin kesempatan yang ada. Jika perlu dan masih ada kesempatan, titi lagi karir dari posisi yang ada sekarang. Hanya perlu dua tahun. Yup, dua tahun.. 

Cepatlah selesaikan pendidikanmu Ma.. supaya kita bisa gabung lagi. Bisa sama-sama lagi… Someday.. I won’t be the expendables.. I will create ones (maybe).. not being but making… Semoga!

Jumat, 17 Maret 2017

Usia 40: Fourty years and counting!



Biasanya saya menulis artikel untuk diposting di blog tepat pada saat hari ulang tahun saya yaitu di tanggal 15 Maret. Kali ini berbeda. Bukan karena malas atau tidak sempat, tapi karena bingung harus mulai dari mana. 

Kemudian, tiba-tiba saja terpikir harus ada tulisan untuk bisa di-track di kemudian hari. Sayang sekali, kalau selama ini sudah menulis saat ulang tahun dan tiba-tiba missed di 1 tahun. Tahun yang cukup penting malah.. karena angka depannya sudah berubah dan angka di belakangnya juga. 
Bapak ini ulang tahun...

Di depan, angka empat sudah bertengger dan di belakangnya adalah angka nol. Tidak salah kalau orang bilang “Life begin at fourty”. Pendapat itu betul.. Angka 4 adalah angka yang kurang baik menurut teman-teman dari Tiongkok. Itu angka mati katanya. Tapi, coba lihat dan perhatikan baik-baik, di belakangnya ada angka nol yang artinya angka awal. Jadi kalau digabung maknanya menjadi mati dan kemudian kembali lagi dari awal. Meminjam kalimatnya orang-orang rohani yang ahli kitab suci, maknanya bisa menjadi mati dan bangkit kembali.

Tapi apa sejatinya yang harus dirubah saat usia memasuki kepala 4 selain mengganti pasta gigi? Mungkin sudah harus mulai melihat kembali kondisi kesehatan. Mungkin sudah harus melihat apa-apa yang perlu dilakukan untuk stay fit and stay sharp. Usia sudah kepala empat tapi anak masih kecil. Usianya belum ada sepersepuluh usia bapaknya 😄

Sudahlah.. tidak usah banyak-banyak yang perlu ditulis kali ini. Intinya, ya.. berubah.. harus lebih sehat. Jaga makan, jaga kebiasaan, jaga pikiran, perkataan dan perbuatan. Semakin sayang istri.. semakin sayang anak.. semakin sayang adiknya Gwen (kalau jadi 😅 )

Tiba-tiba teringat kisah rajawali tua yang harus rela menderita. Supaya cakarnya tumbuh menjadi baru. Supaya paruhnya kembali tajam dan siap menerkam mangsa. Mangsa itu bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarganya. Keluarga selalu nomor satu.. harus. Pekerjaan? Kalau bisa nomor sepuluh saja 😂

Akhirnya, terimakasih untuk istriku yang sidak (tapi diinfokan juga ke suaminya) ke Surabaya untuk menghadiri wisuda magisterku. Terimakasih untuk boruku yang rela ditinggal mamanya sebentar. Terimakasih untuk dukungan organisasi tempatku bekerja. Untuk orangtua dan saudara-saudaraku dimanapun mereka berada. Terimakasih juga untuk seluruh staf Wahana Visi Indonesia Urban Surabaya yang sudah repot-repot menyediakan kue, meluangkan waktu untuk bernyanyi sebentar, dan untuk mendengar segala keluh-kesah atasan mereka. Jadi teringat waktu di Wamena (Papua) dulu juga begitu. Tuhan itu memang baik. Dia selalu memberikan staf-staf terbaik. Semoga apa yang kita lakukan bersama adalah memang yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk anak-anak yang kita layani.

Akhirnya lagi, usia 40 bukan hal yang menakutkan (harusnya..), tapi sesuatu yang harus disyukuri. Puji Tuhan atas segala anugerahNya buatku dan keluargaku. Umur manusia itu 70 tahun dan kalau kuat 80 tahun, well then… just be brave and be bold (sama aja artinya) it’s still 40 and counting…  for 40 years more…

Amin.

Selasa, 15 Maret 2016

Usia 39: Selalu ada Waktu untuk Bersyukur!


Usia 39. Sumber gambar: homebodyholly.com


Angka 39 itu angka yang unik! Paling tidak itu yang saya temukan jika mengetikkan angka itu di mesin pencari Google. Konon angka 39 itu adalah hasil penjumlahan premis konsekutif (jangan tanya apa artinya…) yaitu 3+5+7+11+13. Pokoknya angka ini sepertinya istimewa. Ada yang bilang 39 itu adalah Perfect Totient Number dan ada pula yang bilang Stormer Number. Entah apa maksudnya. Yang saya pahami memang betul kalau tiga pangkat satu (3) ditambah 3 pangkat 2 (9) dan ditambah lagi dengan tiga pangkat 3 (27) hasilnya adalah 39.

Kita sudahi saja membahas hitung-hitungan itu. Toh saya bukan ahli matematika. Bukan pula orang yang suka dengan hitung menghitung (kecuali menghitung sisa saldo di tabungan he..3x). Tapi ternyata bukan dari hitung menghitung saja, di berbagai bidang angka 39 ini ternyata bermakna pula. Di agama, ada 39 kitab di Perjanjian Lama menurut Kristen Protestan, ada 39 pernyataan (39 articles) di gereja Anglikan. Di bidang musik, ada banyak lagu berjudul “39”, salah satu yang terkenal adalah yang dibawakan oleh Queen dalam A night at the opera. Dalam sejarah, jika seorang budak dihukum cambuk sebanyak 40 kali maka jumlah total cambukan yang dia terima adalah 39 kali (forty save one). Yang terakhir, yang paling saya sukai, ternyata 39 adalah bahasa slang dalam keseharian orang Jepang (mungkin kalau pas lagi sms atau WA kali ya..) untuk mengatakan “terima kasih” atau “thank you”. Tiga adalah “san” dan sembilan adalah “kyuu”. Sangat menarik mengetahui banyak hal tentang angka 39 ini.. 

Namun, buat saya 39 adalah pertambahan usia yang saya jalani hari ini. Hari ini 15 Maret 1977 tiga puluh sembilan tahun lalu saya dilahirkan. Banyak sudah yang dijalani. Banyak kisah haru biru. Banyak kisah senang. Banyak duka dan suka. Saya masih ingat tiga tahun lalu, saat berulang tahun juga, ada hadiah yang sangat menggembirakan, apa lagi kalau bukan si kecil berambut gondrong yang sekarang telah menjelma menjadi anak perempuan yang ceriwis. Sayang pagi tadi dia tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk papanya. Katanya papanya nakal. Hahhh… kalau kamu tahu betapa rindunya papa denganmu nak… 

Yang pasti, entah sampai berapapun usia saya nanti, saya selalu yakin akan ada banyak waktu untuk bersyukur. Bersyukur setiap saat dan setiap waktu kala kita ingat akan banyak hal yang wajib kita syukuri. Bersyukur kalau masih bisa diberikan nafas. Kesehatan yang baik untuk diri sendiri, anak dan istri. Masih punya pekerjaan. Masih punya sahabat dan teman. Masih punya orang tua dan sanak saudara. Masih punya tempat tinggal. Masih punya ini dan masih punya itu… Suatu saat bisa saja semua itu tak ada lagi. Hilang, karena Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Begitu kata Ayub. Tapi Yub, jujur saja, saya mungkin nggak sekuat dikau he..3x

Jadi, happy birthday to me… happy birthday to me… happy birthday…. Happy birthday…. Happy birthday to me.. Terimakasih Tuhan Yesus atas segalanya. YOU are the best My Lord! San Kyuu…
 

Senin, 15 Maret 2010

Usia 33?

Hari ini genaplah (atau ganjillah?) usiaku 33 tahun. Tadi malam ngga bisa tidur. Seperti ada yang menjadi beban pikiran. Pagi ini aku terduduk, berpikir, kira-kira apa-apa saja yach yang menjadi beban pikiranku. Terduduk setelah saat teduh yang mengagetkan sekaligus menyadarkanku. Kaget? Karena judulnya, “Reaching Up to Heaven”. Oh no! Tiba-tiba terlintas bahwa Tuhan Yesus saja umurnya 33 tahun. Terlintas pikiran bahwa harus hati-hati di jalan. Jangan sampai kesenggol becak trus masuk parit dan tenggelam. Lebay? He..3x masak masuk parit tenggelam. After all, itu hanya salah satu pikiran saja yang sempat melintas. Yang pasti renungan hari ini sangat menyadarkanku tentang kehidupan doaku selama ini. Tentang kerinduan yang seharusnya sebagai pengikut Kristus yaitu lepas dari kehidupan badaniah. Lepas dari segala kesakitan. Kalau aku melihat ke tubuhku mungkin kerinduan untuk lepas dari tubuh yang berat penuh lemak karena kebanyakan makan B2 dan berubah menjadi tubuh yang ringan yang bisa melayang-layang.

Tapi tunggu dulu ah... Tadi pagi istriku telepon. Dia saja masih banyak harapan kepadaku. Agar cepat punya anak, cepat jadi bapak, cepat naik pangkat (he..3x), dan berbagai cepat yang lain. Yang pasti apa harapan istriku tentu juga menjadi harapanku. Harapan kami sebagai satu keluarga. Ini baru istriku lho...belum lagi kalau buka facebook entah berapa ucapan selamat yang ada di situ.

Yang pasti aku sadar kalau usia bukan penanda kedewasaan. Aku sadar walau usiaku sudah 33 tapi seperti merasa belum dewasa. Masih merasa muda (he..3x) dan kadang berpikir seperti kanak-kanak dan berkelakuan seperti kanak-kanak. Kadang malas bangun pagi, malas mandi, dan yang paling parah adalah malas berdoa. Aduh...Thanks Lord Jesus kalau pagi ini aku sudah diingatkan lagi.

Apa kira-kira ya yang menjadi beban pikiranku? Apakah interview yang hari ini rencananya akan berlangsung? Apakah pikiran harus traktir teman-teman dimanakah? Atau mungkin pikiran-pikiran dan keluh kesah lain yang mungkin tak terucapkan sebagaimana tertulis dalam renungan hari ini di Roma 8:26? Takjub juga aku mengetahui bahwa saat kita berdoa ternyata Roh Allah turut berdoa bersama-sama dengan kita. Bahkan doanya lebih panjang. Lebih lengkap. Mendoakan segala keluh-kesah dan kebutuhan kita (hiks....air mata jatuh). Artinya, sebenarnya kita ngga perlu khawatir bahwa doa kita ngga komplit. Ada Roh Allah lho yang ikut berdoa bersama kita....:-)

Ternyata aku masih ngga bisa mengidentifikasi beban pikiranku yang membuatku ngga bisa tidur nyeyak semalaman. Tidur..terbangun..tidur lagi..dan terbangun lagi... Aku hanya bisa teringat doa istriku pagi ini yang mendoakanku. Harapan-harapannya, cita-cita kami, dan berbagai hal lain. Ya Tuhan aku percaya lewat RohMu banyak hal yang ingin kami sampaikan walaupun kami tak mengerti kebutuhan dan kerinduan kami sendiri.

Hmm...akhirnya sudah jam tujuh lewat lima pagi nih. Saatnya bikin teh dan roti bakar untuk sarapan. Terus apa esensinya (teringat seorang teman yang biasa menggunakan istilah ini..)? Esensinya adalah, berapapun usiamu sekarang tetaplah berkarya. Hidup bisa naik dan turun. Kehidupan rohani bisa naik dan turun tapi jangan lupa berdoa. Dan kalau berdoa, berdoalah dengan hati bahkan ngga perlu berkata-kata. Karena saat berdoa Roh Allah juga turut berdoa. Better to have heart without words than to have words without heart.

Amin. Selamat Ultah ya Will… (lho?). Tuhan selalu memberkatimu dan keluargamu.