Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Usia 41: Becoming the Expendables


Sumber: Lionsgate

Membaca judul di atas, pasti sebagian besar orang akan bingung. The expendables? Ini penulis tau nggak ya arti kata itu? Itu kan artinya “bisa dibuang”. Contohnya, kemasan yang bisa dibuang disebut expendable packaging atau persediaan yang bisa dibuang sebagai expendable supplies

Ketika menulis ini sebenarnya ulang tahun saya sudah lewat. Tanggal 15 Maret. Biasanya saya selalu menulis tiap kali ulang-tahun. Supaya ada refleksi. Buat diri sendiri dan buat orang lain yang mau membaca tulisan ini. Nah, sekarang sudah tanggal 19 Maret. Kalau pengaturan waktu di blog benar, tulisan ini bisa dikenali sebagai tulisan yang dibuat tanggal 19 Maret atau bisa saja dianggap sebagai artikel yang dibuat tanggal 20 Maret. Tidak masalah sih, hanya memang harus dituliskan saja mengingat ada ide soal “the expendables” ini yang terlintas tanggal 17 Maret lalu.

Jadi ceritanya begini.. kalau sebagian besar orang sudah memasuki fase nyaman dalam karir atau pekerjaan di usia 40, maka saya justru kebalikannya. Usia 40 tampaknya menjadi titik puncak karir saya ketika berada di bagian management. Tau kan management? Tugasnya susah-susah gampang, yaitu managing people. Mengatur orang. Berdasarkan kemampuan mereka dan bagian mereka masing-masing. Kalau mengaturnya bagus, then you are a good manager. Kalau pengaturannya buruk tapi pekerjaan dan target tetap berjalan dengan baik, then you might be a good leader ha..ha..ha.. Ini hanya bercanda saja. Bukan mau mencari bedanya antara manager dan leader. 

Nah, ketika usia 41 saya justru mencoba hal baru. Hal yang justru tidak ada dalam jalur panduan karir (beberapa waktu yang lalu tim saya sempat mendiskusikan tentang panduan karir sesuai dengan arahan dari departemen orang-orang dan kebudayaan, setidaknya itu sebutan mereka sekarang. Dulu sebutannya HRD). Dari yang semula mengurusi orang, sekarang menjadi staf biasa di bagian teknis. Orang-orang di kantor menyebutnya spesialis. Kadang diplesetkan juga jadi salah satu nama penyakit kelamin yang nggak perlu disebutkan di sini :)

Idenya apa sih? Apa yang terlintas tanggal 17 Maret itu? Apa pentingnya? Nah, ketika ingin menulis tentang the expendables, sebenarnya rujukan saja bukan hanya terjemahannya saja tapi justru lebih banyak berasal dari satu kelompok para jagoan pimpinan atau binaannya Sylvester Stalone. Mudah-mudahan namanya benar. Yah, pokoknya kelompok itu lah. Yang tua-tua itu tapi jago-jago semua. Jago-jago pada jamannya dan tetap jago juga pas udah tua. Tapi jujur, usia memang nggak bisa ditutupi. Selalu ada faktor usia yang pasti mengurangi kejagoan orang-orang di tim itu. Dan kejagoan saya... hiks..

Ketika itu (tanggal 17 Maret) saya membayangkan menjadi the expendables itu seperti menjadi sebuah kertas bekas yang tinggal diremas kemudian dibuang di tempat sampah. Kalau di kantor, kertas bekas biasanya masih bisa dipakai jika salah satu sisinya masih kosong. Bisa buat mencatat sesuatu ketika nggak sempat mengambil buku catatan, atau sekedar menempel nota-nota untuk pertanggung-jawaban keuangan. Beberapa lembar kertas bekas juga kadang bisa digabung menjadi buku catatan kecil misalnya. Jadi dalam bayangan saya, itulah the expendables. Kertas yang sebenarnya bisa saja dibuang. Tapi dibuang sayang. Sayang, kalau nanti diambil orang terus dijual kiloan, orang yang mengambil itu yang untung, padahal kan ini kertas saya, saya beli dengan uang saya. Uang perusahaan saya. Kira-kira mungkin begitu pemikiran organisasi he..he..

Atau.. kalau dibuang, nanti diambil orang kemudian kertasnya diputihkan lagi dan dipakai lagi menjadi sebuah buku tulis yang bagus.. bisa saja kan? Lagi-lagi yang mengambil itu yang untung, padahal ini kertas saya.. Paham nggak maksudnya? Kalau nggak paham ya nggak apa-apa juga sih.. Tapi ini hanya perumpamaan saja. Kalau saya adalah kertas maka pemilik kertas pastilah kantor atau perusahaan yang membeli kertas. Dari pemahaman itu silahkan dikembangkan saja ya..

Ketika kertas bekas dipakai, dia menjadi berguna untuk sesaat. Mungkin untuk menulis sesuatu. Setelah informasi dalam kertas bekas dipindahkan ke buku catatan, maka peran kertas bekas selesai. Biasanya langsung diremas dan kemudian dibuang. Selesai? Yup, bisa selesai di situ kemudian diambil oleh janitor dan dibuang ke tempat sampah. Akhirnya? Mungkin dibakar di TPA (tempat pembuangan akhir).

Tapi setelah diremas, eh.. tiba-tiba ada yang memerlukan kertas itu. Lipatan atau remasannya dibuka dan kemudian kertas ditulisi lagi. Tidak hanya ditulisi namun sang kertas bekas dilipat dengan baik dan dimasukkan ke dalam saku. Rupanya informasinya penting, sang kertas bekas diperlakukan dengan baik. Orang yang menyimpan kertas itu rupanya mencatat alamat yang sangat penting. Sepanjang jalan mencari alamat kertas dibuka dan dilipat kembali. Ketika sudah bersua dengan yang dicari maka selesailah fungsi sang kertas bekas. Kertas bekas kembali diremas dan dibuang.

Nah, di sinilah serunya.. ketika kertas bekas diremas dia akan berbentuk bulatan. Saya suka menyebut kondisi ini sebagai kondisi bertahan atau fase bertahan. Siapa tahu, nanti ada yang akan menggunakan lagi. Entah untuk apa. Supaya bisa digunakan lagi, apa yang bisa dilakukan? Don’t get burnt, don’t get wet, don’t get dirty, dan segudang don’t atau jangan-jangan yang lain. Jangan inilah dan jangan itulah. Intinya, bagaimana mencegah kertas masuk dalam kondisi terburuk yang mengharuskannya mau tidak mau harus dibuang. Syukur-syukur ada yang menggunakan dan kemudian membersihkan sang kertas bekas sehingga kembali bersih dan siap digunakan lagi. Lebih baik lagi kalau ada yang mengambilnya dan kemudian mendaur-ulang dirinya.

Jadi, itulah gambaran the expendables yang saya bayangkan waktu itu. Tentulah banyak kekurangannya. Kertas bekas? Well, hanya satu ide saja. Mungkin pembaca akan menemukan banyak ide lainnya tentang the expendables ini. Yang jelas, ini fase bertahan. Follow the flow. Ikuti arusnya sambil melihat-lihat pemandangan baik yang ada di sekitar. Ambil sebanyak mungkin kesempatan yang ada. Jika perlu dan masih ada kesempatan, titi lagi karir dari posisi yang ada sekarang. Hanya perlu dua tahun. Yup, dua tahun.. 

Cepatlah selesaikan pendidikanmu Ma.. supaya kita bisa gabung lagi. Bisa sama-sama lagi… Someday.. I won’t be the expendables.. I will create ones (maybe).. not being but making… Semoga!

Kamis, 30 Mei 2013

Kuliah Sehari tentang BCC bersama Oedojo Soedirham, MD, MPH, MA, PhD



Tanggal 22 Mei 2013 yang lalu bertempat di restoran Mahameru, beberapa staf Wahana Visi Indonesia Urban Surabaya berkesempatan mengikuti workshop tentang BCC (Behavior Change Communication) yang difasilitasi oleh Bapak dokter Oedojo Soedirham. Mungkin karena beliau juga adalah seorang akademisi (beliau adalah staf pengajar di Departement of Health Promotion and Behavioral Sciences, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat UNAIR), selain sebagai Ketua Forum Kota Sehat Surabaya, lebih tepat kalau saya sebut kuliah sehari ketimbang menyebutnya sebagai workshop.

Dokter Oedojo dalam kuliah sehari tentang BCC di Mahameru Restaurant Surabaya
Acara kuliah sehari itu dibuka dengan beberapa penjelasan dan doa oleh Pak Nanang (staf Wahana Visi Indonesia) dan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan singkat tentang Wahana Visi Indonesia yang disampaikan oleh Bapak Abraham Sitompul selaku Urban Manager WVI Urban Surabaya. Kemudian untuk mencairkan suasana, masing-masing peserta atau staf yang hadir saat itu memperkenalkan diri juga kepada nara sumber.

Sebelum memulai dengan materi kuliah, Pak Oedojo memberikan sedikit pengantar tentang definisi “sehat”. Ternyata kalau bicara soal “sehat” maka kita tidak lagi hanya berbicara masalah kesehatan saja melainkan banyak faktor. Sehat tidak selalu bicara soal physical wellbeing, tapi juga mencakup mental dan psychological wellbeing. Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang dimiliki oleh Indonesia sudah berbicara soal spiritual well-being. Namun lagi-lagi pada pelaksanaannya menemui banyak kendala. Kendala yang dihadapi dalam menafsirkan “sehat” dalam banyak sektor biasanya berhubungan dengan masalah anggaran.

Materi kuliah dimulai dengan pengantar tentang apa-apa saja yang mempengaruhi behavior atau perilaku manusia. Yang jelas budaya (culture), perilaku (behavior), dan komunikasi (communication) saling berkaitan satu sama lain. Budaya akan membantu mempertajam perilaku (culture helps shape behavior). Berbicara budaya sendiri juga dipengaruhi oleh isi (context) budaya itu. Ada negara-negara dengan high context culture dan ada negara-negara dengan low context culture. Seperti apa penjabarannya agak kurang jelas saya mengerti, namun kalau kita perhatikan bahwa China, Korea, dan Jepang itu berada pada high context culture sedangkan di low context culture itu ada negara Jerman, Swiss, Amerika bagian Utara maka saya rasa kita bisa mengira-ngiralah apa yang dimaksud low context dan high context tadi. Sayang, Indonesia tidak disebutkan masuk kemana. Nah, selain budaya ada banyak faktor lain yaitu sikap (attitude), nilai-nilai (values), emosi, etika, otoritas, koersi, dan genetika. Rupanya, tidak hanya itu saja. Jika ada perbedaan lingkungan maka akan ada perbedaan masalah. Perbedaan masalah akan mempengaruhi faktor-faktor yang dipaparkan tadi.

Berbicara soal Behavioral Communication berarti berbicara tentang perilaku dari hari ke hari atau waktu ke waktu sebagai bentuk dari komunikasi. Sedangkan inti dari komunikasi itu sendiri adalah bagaimana suatu pesan bisa tersampaikan. Hal-hal sederhana yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari antara lain: gaya rambut yang ekspresif, cara seseorang memperlihatkan emosi, atau bahkan jika seseorang itu memutuskan untuk mencuci piring atau tidak mencuci piring adalah suatu bentuk komunikasi perilaku. Komunikasi perilaku tentu akan berbeda dan bisa tidak dimengerti oleh orang lain. Tantangan utamanya adalah Cultural Barrier yang terdiri dari: Semantik (bahasa), konotasi kata, perbedaan tone/ nada, dan perbedaan persepsi. Nanti bisa dilihat dalam gambar terlampir bahwa beda tanda atau “sign” yang ditampilkan atau diperagakan seseorang bisa beda penafsirannya oleh orang lain di berbagai belahan dunia.

Di banyak negara beda tanda bisa beda penafsiran (Sumber: Materi BCC Oedojo Soedirham)
Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan komunikasi itu sendiri? Hovland (1948) merumuskan komunikasi sebagai “proses di mana seorang komunikator mentransmisikan stimuli untuk memodifikasi perilaku orang lain”. Wilbur Schramm (1954) merumuskan komunikasi adalah “menyebabkan penerima dan pengirim saling bersesuaian terhadap pesan tertentu”. Sedangkan Astrid Susanto (1977) mengemukakan bahwa komunikasi adalah “proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti”. Lalu Robins (1982) merumuskan komunikasi sebagai “perbuatan penyampaian suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang lain”. Artinya, kalau mau disimpulkan, dalam komunikasi terjadi proses penyampaian pesan, gagasan, informasi dari seseorang terhadap orang lain. Penyampaian pesan, gagasan dan informasi ini disampaikan dengan menggunakan lambang-lambang tertentu . Nah, penyampaian pesan, gagasan dan informasi dari pengirim kepada penerima dengan menggunakan lambang ini merupakan suatu proses dimana pesan, gagasan dan informasi yang disampaikan diharapkan dapat menimbulkan pengaruh dalam bentuk perubahan tingkah laku si penerima.

Lain lagi kalau berbicara tentang perilaku (behavior). Berbicara tentang perilaku tentunya akan terbagi dalam 2 (dua) bagian besar yaitu perilaku beresiko dan perilaku tidak beresiko. Maka kalau kita mengharapkan adanya perubahan perilaku, ada dua bagian besar yang akan dikerjakan yaitu bagaimana merubah apa yang “risky” behavior menjadi “safe” behavior dan yang kedua bagaimana mempertahankan perilaku yang sudah “safe” (maintain safe behavior). Dari sini kita akan tahu bahwa target utama untuk perubahan perilaku adalah orang-orang dengan “risky” behavior.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam “merubah perilaku”. Tahapan tersebut adalah: Knowledge, Approval, Intention, Practice, dan Advocacy (memotivasi orang lain untuk berubah setelah dirinya sendiri berubah). Lalu apa BCC itu sendiri?

Behavior change communication (BCC) is a process of any intervention with individuals, communities and/or societies to develop communication strategies to promote positive behaviors which are appropriate to their settings. This in turn provides a supportive environment which will enable people to initiate and sustain positive and desirable behavior outcomes. BCC should not be confused with behavior modification, a term with specific meaning in a clinical psychiatry setting. Lho kok jadi bahasa Inggris? Yah, menurut Pak Oedojo sulit untuk menafsirkannya dalam bahasa Indonesia dan karena saya setuju dengan beliau, jadi saya copy paste kan saja ya.. :-)

Yang jelas dalam penerapannya BCC itu adala proses yang kontinu. Kalau kita mengerti siapa sasaran BCC, misalnya sasarannya adalah orang dewasa yang ingin dirubah perilakunya maka metode yang akan kita gunakan adalah metode Andragogi yaitu metode pengajaran pada orang dewasa dan bukan metode Pedagogi (metode pengajaran pada anak). Metode-metode ini nanti akan kita bahas kemudian jika saya ada waktu men-searching atau mengumpulkan informasinya. Metode lain yang harus dipikirkan adalah bagaimana bentuk BCC itu sendiri apakah BCC akan disampaikan secara interpersonal atau melalui mass-media?

Oh iya, BCC sendiri sering disalah artikan dengan banyak nama misalnya: IEC, health education, health promotion, AIDS education, atau social marketing. Memang ada kesamaan dalam penamaan tersebut yaitu unsur komunikasi yang ada di dalamnya namun menurut Pak Oedojo mereka berbeda dalam sisi scoupe nya.

Jika ingin men-develop BCC maka pertimbangkanlah beberapa hal berikut ini: Kualitas dan kreatifitas yang professional, pandangan/ masukan dari health professional, memasukkan nilai-nilai (values), dan adanya partisipasi masyarakat yang diharapkan (community participation). Kalau BCC yang didevelop akan menggunakan metode interpersonal maka pastikan untuk melibatkan orang-orang yang cukup dikenal di level orang-orang yang ingin dirubah perilakunya. Untuk ini pendekatan dengan metode peer education sangat disarankan.

Selanjutnya Pak Oedojo melanjutkan dengan beberapa teori tentang perubahan perilaku. Ternyata teorinya cukup banyak juga. Ada teori tentang Health Belief Model (HBM). Teori tentang kehendak Tuhan (Perception of Divine Will). Dan ada juga teori tentang Reasoned Action (TRA) vs Theory of Planned Behavior (TPB). Sebelum teori tersebut dijelaskan, lebih dahulu dipaparkan juga tentang Barrier Analysis. Lewat Barrier Analysis kita dapat membuat target dari awal tentang perubahan perilaku apa yang kita harapkan dan bagaimana prosesnya dalam melewati hambatan atau barrier yang ada. Nih, simak dalam versi Inggrisnya: Barrier Analysis is a rapid assessment tool used in community health and other community development projects to identify behavioral determinants associated with a particular behavior so that more effective behavior change communication messages and support activities (e.g., changing social norms) can be developed.

Langkah-langkah melakukan Barrier Analysis (Sumber: Materi BCC Oedojo Soedirham)
Health Belief Model sendiri adalah teori yang cukup dikenal di Amerika untuk health-education. Lewat HBM pelaku BCC akan dibantu agar sasaran dapat: Merasakan kerentanan (perceived susceptibility), merasakan kekerasan (perceived severity), merasakan manfaat jika merubah perilaku (perceived benefits), mengisyaratkan perubahan (ada aksi atau tanda-tanda ingin berubah/ cues for action), dan akhirnya mulai merasakan efektifitas diri (perceived self-efficacy).

Sedangkan Theory of Reasoned Action dapat digunakan untuk memprediksi apakah memang perubahan perilaku yang diharapkan itu akan berhasil atau tidak. Setiap intervensi yang dilakukan, menurut TRA harus memperhatikan perubahan sikap yang dihasilkan dan pandangan subyektif yang dirasakan atas norma yang ingin dibuat. Dengan memperhatikan kedua hal ini maka perilaku positif akan terjadi jika kedua unsur yang dipertimbangkan tadi berhasil positif juga.

TRA dan TPB dalam perubahan perilaku (Sumber: Materi BCC Oedojo Soedirham)
TPB sendiri hampir mirip dengan TRA hanya mempertimbangkan penggunaan kontrol dan power (kekuatan). Dengan tambahan 2 (dua) hal ini maka perubahan perilaku akan lebih mudah diharapkan untuk berhasil.

Akhirnya, penyampaian materi selesai juga. Sesi tanya jawab pun dimulai. Ada banyak pertanyaan yang disampaikan oleh teman-teman staf. Yang jelas, kembali lagi kepada proses. Tidak ada proses yang singkat untuk perubahan perilaku. Metode yang akan digunakan harus tepat sasaran dengan mempertimbangkan penggunaan Barrier Analysis. Dan yang terpenting menunjukkan bahwa si pelaku yang ingin merubah perilaku orang lain harus juga berubah.

Acara kuliah sehari itupun selesai dan ditutup dengan makan siang bersama. Wah, boleh juga sering-sering acara seperti ini ya.. menambah ilmu sekaligus menghemat pengeluaran ... :-)

Sampai bertemu dalam share materi-materi lainnya!

Kamis, 27 September 2012

“Ayam (itik) Punya Telur, Sapi Punya Nama”


Ini telur mata sapi
Membaca judul di atas pasti sebagian besar pembaca agak bingung, sebenarnya arah artikel ini mau dibawa ke mana ya? Apakah ini artikel tentang masak-memasak atau tentang hal lain?

Nah, untuk memudahkan pembaca, sebelumnya saya ingin bertanya, “Pernahkah pembaca menikmati sepotong telur mata sapi?”. Telur mata sapi adalah telur ayam (itik) yang digoreng tanpa diaduk dahulu (kuning telurnya masih utuh) ini deskripsi yang saya dapatkan dari kamus besar bahasa Indonesia online. Kalau bicara bahasa Inggrisnya lebih seru lagi. Yang pasti bukan cow’s eye egg tapi bermacam-macam tergantung jenis yang kita mau. Secara umum bahasa Inggrisnya adalah 'fried egg' (makna harafiahnya adalah 'telur goreng'). Memang cara membuat telur mata sapi ini ada banyak ragamnya, misalnya yang digoreng pada satu sisi saja di mana kuning telurnya terletak di atas yang dinamakan 'sunny-side up'. Ada pula yang digoreng bolak balik setengah matang dinamakan 'over easy', yang sedikit lebih matang dinamakan 'over medium' dan yang matang dinamakan 'over well'. Dalam bahasa Belanda telur mata sapi disebut dengan ‘spiegelei’ (spiegel = cermin, ei = telur) (http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/12/apa-sih-bahasa-inggrisnya-telur-mata-sapi/)

Lha kok jadi belajar bahasa? Yuk, kembali ke laptop (Tukul mode: ON). Sebenarnya yang jadi masalah adalah ketika saya berulangkali mendengar judul di atas (ayam punya telur, sapi punya nama) diucapkan oleh salah satu teman saya. Kalau dipikir-pikir benar juga ya? Kenapa tidak pernah terpikir oleh saya untuk menanyakan hal tersebut pada ahlinya (ahlinya telur atau ahlinya sapi yang paling pas ya?). Kenapa tidak disebut telur mata ayam saja? Tapi nanti jadi salah juga karena ayam (itik) yang bertelur, bukan matanya. Sementara kita juga tahu kalau sapi itu beranak tidak bertelur. Sayangnya ayam tidak pernah protes kepada sapi mengenai hal ini. Tapi mungkin itu karena si sapi juga tidak tahu kalau namanya dipakai sebagai nama masakan berbahan dasar telur ayam (itik) itu. (http://kangpay.wordpress.com/2011/09/16/telor-mata-sapi/).

Tapi sebenarnya bukan masalah istilah itu benar atau tidak yang dipersoalkan oleh teman saya tadi. Yang menjadi persoalan baginya adalah ketika realita itu ditemukan dalam keseharian di lingkup kerjanya. Ada pekerjaan yang nyata-nyata teman saya tadi yang melakukan (si ayam atau si itik) namun dengan santai diklaim oleh seseorang (si sapi) sebagai pekerjaannya. Tentu saja pekerjaan yang bagus-bagus saja yang diklaim oleh orang tadi. Ketika teman saya jatuh dalam persoalan atau pekerjaan yang dilakukannya kurang baik maka itu tidak diklaim sebagai keberhasilan orang tadi. Saya agak kurang sependapat jika judul di atas dikaitkan dengan realita itu. Orang tadi jelas mengklaim pekerjaan teman saya, sementara sapi tidak jelas-jelas mengklaim pekerjaan ayam (itik) he..3x. Yang jelas dari realita di atas, terlepas dari istilah apa yang tepat digunakan, sering kita temui dalam dunia kerja kita. Kadang satu ide brilian datang dari kita tanpa kita sadari dicomot begitu saja oleh orang lain sebagai idenya dia. Kadang kita melakukan pekerjaan baik dalam satu tim, eh..salah satu anggota tim atau ketua tim dengan enteng mempublikasikan ke orang lain bahwa itu pekerjaannya.

Kalau dalam satu level yang sama atau sejajar di dunia kerja, mungkin masih dapat dibicarakan dengan baik sesama rekan kerja. Yang sulit adalah ketika atasan memerintahkan bawahan melakukan suatu pekerjaan (yang mungkin seharusnya pekerjaan si atasan) dan berhasil baik, lalu diklaim sebagai pekerjaan si atasan tanpa menyebutkan peran dari bawahannya. Kalau sudah begini, si bawahan paling-paling hanya bisa legowo. Hanya bisa ngedumel di belakang. Habis mau bagaimana? Nanti repot urusannya ke depan. Karir bisa jadi pendek. Rejeki bisa mampet. Yang pasti harus ada rasa saling menghargai di antara sesama rekan kerja maupun antara atasan dan bawahan. Pengakuan (reward) atas pekerjaan atau keberhasilan seseorang itu penting.

Kasihan juga teman saya. Tiap kali bekerja baik, atasannya yang dapat nama. Padahal ia yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan atasannya saat atasannya itu sering tidak berada di tempat. Kalau sudah begitu, ia hanya bisa ngedumel sambil menggumam, “ayam punya telur, sapi punya nama..”. Seenak-enaknya telur mata sapi, biarlah kita tetap mengingat kalau itu tetaplah telur ayam (itik).

Senin, 10 September 2012

Urusan Pekerjaan vs Urusan Pertemanan



Suatu kali saya terlibat diskusi panjang lebar dengan seorang teman dalam satu pertemuan rutin bulanan. Diskusi ini adalah diskusi masalah program atau pekerjaan. Dalam diskusi tersebut banyak pendapat teman tersebut yang saya sanggah dengan menggunakan fakta-fakta dan data-data yang ada. Saya juga mencoba memberikan beberapa solusi yang masih berhubungan dengan data dan fakta yang cukup aktual. Teman saya tersebut sepertinya tidak bisa menerima sanggahan yang saya berikan. Demikian pula dengan solusi yang saya ajukan. Pada prinsipnya dia ingin idenya diterima dan ide itulah yang diterapkan.

Diskusi pun berakhir. Karena itu adalah proyeknya teman saya tersebut maka saya tidak lagi ikut mencampuri hal-hal teknis yang berkaitan dengan hasil diskusi tadi. Intinya, dia ingin idenya yang dijalankan dan itu akhirnya diterima sebagai hasil diskusi bersama.

Keesokan harinya saya bertemu lagi dengan teman saya tersebut. Kebetulan kami sudah berteman cukup lama. Kira-kira sudah lebih dari lima tahun. Ketika bertemu, si teman itu langsung membuang muka dan saya pun tidak ditegur. Dalam kesempatan lain saya bertemu dengannya -kebetulan saat itu juga ada teman yang lain- teman saya tadi tidak mau langsung berbicara dengan saya. Dia hanya mengajak teman saya yang satunya saja berbicara. Beberapa pertanyaan atau lontaran pernyataan yang saya ajukan tidak dijawab, bahkan diabaikan sama sekali.

Apa yang sebenarnya terjadi? Usut punya usut rupanya itu adalah buntut dari alotnya diskusi yang pernah terjadi dulu. Menurut teman saya tadi (ini berdasarkan informasi dari teman yang lain), dia sedang jengkel dengan saya karena tidak mau serta merta menerima pendapatnya waktu diskusi lalu. Nah lu…

Masalah seperti ini sering kita temui dalam lingkup pekerjaan kita entah dimanapun itu. Lebih-lebih untuk saya yang bekerja di bidang sosial, sering masalah pribadi sepertinya dicampur aduk dengan masalah pekerjaan. Contoh: Jika ada rekan kerja yang tidak suka secara personal dengan saya, maka semua yang saya katakan pasti selalu salah. Baik itu dalam diskusi atau dalam kesempatan apapun. Jika saya menyampaikan suatu pernyataan pasti langsung disanggah dengan semangat. Jangan-jangan saya masih bilang, “aa…” sudah langsung disanggah. Contoh lainnya adalah kebalikannya seperti kisah teman saya tadi. Ketika diskusi sangat alot dalam lingkup pekerjaan akhirnya malah terbawa-bawa dalam lingkup pertemanan. Yang tadinya teman bisa tidak teman lagi. Yang tadinya konco dan sering ngumpul bareng bisa ngga konco lagi dan akhirnya ngga ngumpul bareng lagi.

Lalu bagaimana mengatasinya? Mau tidak mau harus diomongin. Tidak bisa didiamkan saja dan berharap suatu saat akan adem-ayem alias damai kembali. Akhirnya saya mengambil waktu untuk bicara dengan teman saya tadi. Saya jelaskan bahwa kita harus bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pertemanan. Kita boleh gontok-gontokan atau kalau perlu sampai pukul meja (kasihan juga tuh meja..) kalau bicara soal program atau pekerjaan. Tapi di luar, sebagai teman ya kita tetap sebagai teman. Masih bisa jalan sama-sama. Masih bisa tertawa-tawa sama-sama. Nonton bareng, ngumpul bareng dan lain-lain. Memang sih sulit.. tapi di sinilah perlunya EQ itu. Teman saya manggut-manggut. Kami pun bersalaman dan tersenyum-senyum sendiri.