Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2016

Bola Merah di Sudut Kamar



Judul di atas adalah judul cerpen yang saya buat untuk mengikuti lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh Faber Castell di tahun 2015. Waktu itu adalah kali kedua saya mengikuti lomba menulis cerpen oleh penyelenggara yang sama. Di tahun sebelumnya saya tidak lolos, masuk finalis pun tidak. Namun, kali ini berbeda. Walau semua proses berlanjut hingga awal tahun 2016 namun ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Saya berhasil meraih juara III kategori umum (kategori B) dengan judul cerpen di atas. Gembira sekaligus terharu, karena ini adalah kedua kalinya saya memenangkan lomba menulis cerpen. Lomba pertama yang saya menangkan adalah untuk cerpen berjudul “Nggak Beli Lotre Pa?” yang juga dapat dibaca pada blog ini.

Yang menarik adalah proses penjurian dimana banyak orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang penulisan artikel, cerpen, dan media berkomentar memberikan penilaiannya. Saya cukup bangga menyimak komentar yang bisa saya dapatkan di laman web tulisen.com yang saya lampirkan gambarnya di bawah ini. Untuk link-nya dapat diklik di sini (mudah-mudahan link-nya masih aktif ya...).

Saya kutip komentarnya sebagai berikut:

Demikianlah, saya belum menemukan topik yang sesungguhnya cukup ‘nendang’ dalam lomba cerpen misteri ini. Dan ada yang menarik pada penjurian tahap dua. Saya dan Mbak Nina Moran Go Girl, nampaknya berselisih pendapat mengenai satu cerpen pada kategori B yang berjudul “Bola Merah di Sudut Kamar” saya memberikan nilai hampir sempurna, sementara Mbak Nina memberikan nilai separuh dari nilai yang saya berikan. Ini menarik! Karena menurut saya, walaupun cerpen yang menceritakan tentang orang yang sudah meninggal ini merupakan topik yang mainstream tetapi teknik bercerita yang sangat menarik dan ending yang mengejutkan! Teknik bercerita yang menarik itu karena Rachmat Willy Sitompul menggunakan dua sudut pandang sekaligus dalam satu cerpen, tanpa terasa memaksakan diri, mengalir dan menghasilkan ending yang mengejutkan. Semula saya mengira, tokoh yang meninggal adalah suaminya, tetapi ternyata justru istri dan anak perempuannya yang diceritakan pertama kali lah yang sudah meninggal. Awesome!

Sumber: tulisen.com

Wah senangnya manakala tulisan kita diberi komentar! Jikalau komentar itu seandainya bernada miring pun sebenarnya oke-oke saja. Itu akan membangun kita untuk menjadi lebih baik ke depannya. Apalagi jika komentar yang bernada positif tentunya harus semakin membuat kita bersemangat untuk karya-karya selanjutnya.

Tanpa berpanjang-panjang lagi. Silahkan disimak cerpen berjudul “Bola Merah di Sudut Kamar” berikut ini, mungkin dalam narasi ada perbedaan redaksional dengan yang di dalam buku kumpulan cerpen pemenang yang akan diterbitkan oleh Faber Castell karena tuntutan jumlah halaman, namun inti ceritanya sama, selamat membaca!

Bola Merah di Sudut Kamar – Juara III Kategori B Lomba Cerpen Faber Castell 2015

“Selamat pagi Ayah!” suara Nisa, bocah perempuan berusia tiga tahun itu memecah kesunyian pagi. Sambil menguap, Nisa berusaha membereskan sendiri tempat tidurnya yang berada dalam kamar ukuran tiga kali lima itu.
“Geser sedikit Ayah!” suara Nisa kembali terdengar. Yang dipanggil Ayah hanya tersenyum sambil sosoknya bergerak ke arah pinggir tempat tidur, turun sejenak dan kemudian kembali duduk di atasnya ketika Nisa merapikannya.
“Mandi dulu Ayah!” suara Nisa lagi-lagi memecah sunyi. Walau masih pukul enam pagi, gadis kecil itu bergegas mandi untuk mengikuti kelas PAUD hari itu.
“Nisa?” suara seorang perempuan terdengar mengiringi bunyi ketokan di pintu kamar. Itu Astuti, ibu Nisa. Dia berumur sekitar akhir dua puluhan. Cantik, dengan wajah khas keibuan.
“Sebentar Bu, sedikit lagi!” teriak Nisa kecil dari kamar mandi.
“Oke… cepat ya, jangan sampai kita terlambat!” suara sang ibu lagi menjawab Nisa sambil tersenyum dan berbalik pergi.

Nisa sudah selesai mandi. Masih berbalut handuk, Nisa mencari baju seragam sekolahnya. Lemari dibuka. Satu per satu baju yang tergantung disibakkan. Ketika menemukan seragamnya, Nisa tersadar sesuatu.
“Ayah, jangan ngintip ya.. Nisa malu!”
Sosok yang dipanggil sang Ayah itu lagi-lagi hanya tersenyum. Dia menaruh kedua tangan menutupi matanya sambil tetap tak bersuara.
“Nisa? Sudah” suara sang ibu kembali terdengar. “Kalau sudah lekas turun, sarapannya dibawa saja ya? Kita sudah hampir terlambat nih…”
“Oke Bu… sebentar..” jawab Nisa sambil menyisir rambutnya. Nisa selalu mengikat rambutnya menyerupai ekor kuda. Lebih cepat dan mudah pengaturannya, begitu pikir Nisa. Heran, walau masih berusia tiga tahun, anak itu sudah mengerti hal-hal yang praktis.
“Daaah.. Ayah…” Nisa melambaikan tangan ke arah sudut kamar. Sosok yang dipanggil Ayah lagi-lagi hanya tersenyum dan melambaikan tangan membalas salam Nisa.
Suara mobil terdengar meraung sebentar sebelum akhirnya menghilang. Kamar itu kembali sunyi. Rumah itu kembali sunyi.

Jam pelajaran kelas PAUD tidak terlalu lama. Kelas biasanya dibubarkan sekitar pukul  setengah sepuluh pagi. Karena waktu belajar yang singkat, hampir semua orang tua menunggui anak mereka.
Seperti biasa pelajaran di kelas PAUD selalu menyenangkan. Demikian pula hari itu. Nisa sangat senang dengan pelajaran yang didapatnya. Ibu guru Rani mengajar dengan baik. Senyumnya sangat ramah. Nisa sangat senang dengan ibu guru Rani. Disalam Nisa tangan ibu gurunya itu sebelum beranjak pulang.
Suara mobil kembali terdengar memasuki pekarangan rumah itu. Ketika mobil berhenti di depan garasi, Nisa bergegas turun. Dengan lincah Nisa membuka pintu depan dan bergegas menaiki anak tangga satu demi satu menuju ke kamarnya.

“Ayah… Nisa pulang!” teriak Nisa senang. Nisa langsung melepas sepatunya dan langsung melompat ke atas tempat tidur untuk memeluk sosok yang dipanggil Ayah itu. Yang dipeluk hanya tersenyum. Sang Ayah sejenak beradu kening dengan putrinya. Keduanya bertatapan sejenak melepas rindu.
“Mana bolanya?” kata Nisa sambil melirik ke sudut kamar. Mata sang Ayah juga melirik ke sudut kamar. Di sudut kamar itu ada sebuah bola berwarna merah. Ukurannya tidak terlalu besar. Cukup ringan untuk diangkat oleh seorang anak kecil. Nisa turun dari tempat tidur dan bergegas mengambil bola itu.
“Tangkap Ayah…” Nisa berseru sambil melempar bola itu. Bola rupanya memantul ke dinding dan kembali pada Nisa.
“Nisa… ayo turun… makan siang dulu!” suara Astuti terdengar dari ruang tengah rumah itu. Wajah Nisa sedikit kecewa. Permainan bolanya terganggu karena harus makan siang. Sang Ayah hanya tersenyum seolah mengatakan agar Nisa makan siang dulu. Nisa balas tersenyum sambil memegang perutnya.
“Lapar…” kata Nisa. “Nisa makan dulu ya Ayah. Nanti kita main lagi… “ kata Nisa lagi sambil melambaikan tangannya sekilas dan langsung menuju ke pintu kamar.
Kamar itu kembali hening. Namun tak lama suara dua pasang tapak kaki menaiki satu demi satu anak tangga terdengar. 

“Ayo Bu sekali-sekali kita main sama Ayah..” suara Nisa terdengar. Sang ibu hanya tersenyum. Astuti bergerak buru-buru mengambil beberapa baju Nisa yang sudah kotor dan mengelompokkannya di sudut kamar.
“Ayolah Bu.. itu lihat Ayah sudah menunggu…” pinta Nisa lagi sambil menarik tangan ibunya.
“Nisa saja ya… Ibu masih harus menyetrika pakaian di bawah..” Astuti menjawab dengan lirih. Matanya tampak berkaca-kaca namun dia berusaha agar tak menumpahkan air mata di hadapan Nisa.
“Ah ibu… “ suara Nisa kecewa. Namun sepertinya rasa kecewa Nisa tidak lama. Nisa kembali mengambil bola merah di sudut kamar itu dan mulai memainkannya. Bola itu terpantul ke dinding dan ditangkap kembali oleh Nisa.
“Lempar Ayah…”
“Wah… bolanya lepas Ayah..”

Suara Nisa memenuhi seisi kamar itu. Astuti hanya memandang Nisa. Mengusap matanya sebentar agar tidak jadi menangis. Kemudian cepat-cepat dimasukkannya pakaian Nisa yang telah disetrika dengan rapi ke lemari pakaian.
“Nisa, ibu turun dulu ya…” suara Astuti terdengar memecah keramaian suara Nisa yang sedang bermain bola. Nisa hanya melirik sekilas ke ibunya sebagai jawaban. Nisa pun kembali bermain.
Siang itu berlalu begitu cepat. Lelah bermain bola, Nisa naik ke atas tempat tidur. Duduk di samping sang Ayah. Mereka berdua membolak-balik sebuah buku cerita hingga akhirnya Nisa lelah dan tertidur dipangkuan sang Ayah. Suasana berubah sunyi. Bola merah itu terdiam di tempatnya di sudut kamar.

***
Rangga tiba-tiba terbangun. Kesunyian itu tiba-tiba menyadarkan dirinya. Setiap kali bola merah disudut kamar itu bergerak, seketika itu juga suasana di kamar itu berubah. Ada sosok anak kecil dan kadang ada pula sosok seorang perempuan yang muncul. Tapi Rangga tak bisa berkata apapun kepada keduanya. Rangga hanya bisa berinteraksi dengan mimik wajah dan gerakan tubuh.  Tapi itu saja sudah cukup bagi Rangga. Sudah cukup untuk mengobati kerinduannya pada Nisa putrinya dan pada Astuti istrinya. Keduanya meninggal akibat kecelakaan tiga tahun yang lalu. 

Suasana kamar itu tak pernah berubah hingga kini. Bola merah itu masih tergeletak di sudut kamar dan sesekali bergerak dan mengubah sesaat suasana. Walau merasa heran, Rangga senang bisa kembali bertemu dengan Nisa dan Astuti. Tiba-tiba lamunan Rangga sejenak terputus oleh sebuah suara.

“Mas Rangga sayang.. sudah diminum obatnya?” suara itu suara Rani. Dia seorang ibu guru. Dia istri Rangga sekarang. Mobil Rani yang menabrak Astuti dan Nisa hingga tewas.

Jumat, 20 November 2015

Nggak Beli Lotre Pa? #KeputusanCerdas



“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti hari kemarin dan seperti hari kemarin lagi dan seperti hari yang kemarin-kemarin lagi. Sebenarnya Joko bingung kenapa pertanyaan itu terus menerus diajukan Juariah padanya. Joko bosan. Tapi tak juga Joko meminta penjelasan dari Juariah. Joko hanya memandang. Memilih tak menjawab ketika Juariah terus mengajukan pertanyaan yang sama hari demi hari.
Juariah hanya melengos. Dilemparnya sapu rumah itu. Juariah masuk ke kamar. Menangis ala kadarnya. Setiap hari kejadiannya selalu begitu. Dan Joko hanya diam. Diam dan diam saja. Awalnya ketika mereka menikah dulu semua tampak baik-baik saja. Keduanya menikmati hari-hari kebersamaan mereka. Hingga suatu hari Juariah mulai minta ini dan itu. Joko mulai pusing. Dia hanya seorang supir. Supir kantor sebuah yayasan nirlaba. Berapalah gajinya sebulan. Tak cukup untuk memenuhi permintaan aneh-aneh Juariah.
Awal ceritanya sama seperti cerita anak muda pada umumnya. Joko memang tak terlalu tampan. Waktu itu Joko sedang tertarik dengan Juminten. Tapi karena sesuatu hal, Juariah memilih untuk berkompetisi dengan Juminten. Kompetisi ala perempuan muda. Kompetisi untuk mendapatkan Joko, seorang supir yayasan. Juminten awalnya bingung kenapa Juariah ikut-ikutan mencintai Joko. Padahal Juariah jauh lebih cantik dari dirinya. Juariah langganannya banyak sementara Juminten langganannya terbatas. Juariah bisa melayani banyak bapak-bapak. Dari mulai bapak rumah tangga hingga satpam-satpam di kompleks perumahan. Dari mulai pekerja bangunan yang tua hingga yang muda. Dari ibu-ibu rumah tangga hingga mbok-mbok pedagang keliling yang menjual sayur dan dagangan lain. Lalu Juminten? Langganannya terbatas. Hanya ibu-ibu saja. Itupun yang sudah kenal. Juariah dan Juminten adalah pedagang jamu keliling.
Suatu kali Joko dan Juminten sedang duduk bersama. Juminten menyeduh secangkir air hangat ke dalam cangkir berisi jamu tolak angin. Joko menyambut cangkir itu dengan wajah gembira. Dipandangnya wajah Juminten yang pas-pasan. Tapi Joko senang wajah itu. Hatinya tenang saat melihat Juminten. Apalagi Juminten selalu menyediakan jamu gratis baginya. Berkali-kali Joko ingin membayar, berkali-kali pula Juminten menolak.
“Jum, kenapa sih aku ndak boleh bayar jamumu?” saat itu Joko bertanya. Juminten hanya diam dan tersenyum. Senyum itu senyum paling indah dan tulus menurut Joko. Walau senyum itu menampakkan gigi Juminten yang tak rata. Dengan kombinasi bibir tebal pula.
Tiba-tiba Juariah datang. Tak pakai ba-bi-bu. Tak pakai sapaan pendahuluan. Langsung nimbrung dan ikut bercengkerama. Juminten yang rendah diri memilih untuk undur. Membiarkan Joko dan Juariah saling bertutur. Mulai saat itu hari-hari bersama Joko mulai jarang. Jamu gratis berganti, dari jamu gratis Juminten ke jamu gratis Juariah.
Bagi Juariah, semuanya itu berawal dari mimpi. Tak ada rasa tertarik dari Juariah kepada Joko sebelumnya. Ngapain menikah sama supir? Begitu dulu ejekan Juariah pada Juminten. Tapi Juminten kekeuh. Tetap suka Joko. Tetap sayang Joko. Tetap memberikan jamu gratis buat Joko. Jamu pegel linu. Jamu beras kencur. Dan yang paling sering jamu masuk angin. Maklumlah, jam kerja Joko kadang sampai malam. Joko sering masuk angin. Kalau sudah begitu, hanya jamu dari Juminten obatnya. Joko paling anti dikerik atau dikerok dengan uang logam. Geli, katanya, ketika Juminten pernah menawarkan untuk mengerok punggung Joko.
Mimpi apa? Suatu malam Juariah bermimpi. Dalam mimpinya dia tampak hidup senang. Tinggal di rumah besar. Perabotan mahal. Ada kolam renang pula. Juariah jadi nyonya besar. Ada banyak pembantu yang bisa disuruh-suruh. Ada Inem satu hingga Inem sembilan. Kesembilannya pembantu Juariah di rumah besar itu. Kemudian samar-samar mimpinya mundur ke masa sebelumnya. Masa-masa pernikahan. Juariah tampak bersanding dengan seorang lelaki. Lelaki itu adalah Joko. Tak salah lagi. Jidat jenong dan rambut tipis itu jelas milik Joko. Mereka tampak bahagia. Para tamu tampak menyalami. Sepasang pengantin tampak tersenyum menikmati salam dari tetamu kanan dan kiri.
Juariah terbangun. Apa arti mimpi itu? Apakah aku harus menikah dengan Joko? Berbagai pikiran silih berganti datang dan pergi dalam benak Juariah. Kalau mau kaya menikahlah dengan Joko. Kalau mau rumah besar, menikahlah dengan Joko. Kalau mau punya kolam renang, menikahlah dengan Joko. Pikiran itu datang silih berganti hingga akhirnya kesimpulannya hanya satu: Menikah dengan Joko! Sejak saat itu Juariah mulai rajin menggoda. Setiap bertemu Joko dia mulai sering bermain mata. Bukan hanya bermain mata. Segala cara dipakai Juariah termasuk mulai memberikan jamu gratis dengan tambahan bumbu cinta. Joko mulai tergoda. Apalagi setiap memberikan jamu Juariah mulai selalu tersenyum. Gigi putih berbaris rapi dibungkus bibir tipis manis itu mulai terasa lebih enak dilihat dari senyuman seorang Juminten. Joko mulai pindah ke lain hati. Juminten mulai tak menarik. Ada Juariah tambatan hatinya yang baru.
Kedekatan Juariah dengan Joko tak membuat Juminten sakit hati. Juminten cukup lapang dada melihat Joko akhirnya lebih memilih Juariah. Juminten sadar dirinya tak secantik Juariah. Semua yang dimiliki Juminten tampak tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Juariah. Karena itu Juminten tetap tersenyum. Bahkan saat mendengar kabar bahwa Joko dan Juariah akan segera menikah.
Joko dan Juariah akhirnya menikah. Pernikahan itu cukup ramai. Joko rupanya menghabiskan seluruh isi tabungannya untuk acara pernikahan itu. Joko hanya ingin Juariah senang. Maklumlah Juariah cantik sekali di mata Joko. Joko sering bingung kenapa Juariah memilih dirinya padahal kalau Juariah mau, bisa saja Juariah mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya. Yang lebih baik atau yang lebih ganteng. Tapi Juariah memilih dirinya, Joko, seorang supir yang hampir berusia empat puluh, berambut tipis dan berbadan kurus. Entah apa yang menarik dari diriku? Itu pertanyaan Joko setiap kali melihat diri Juariah. Setiap kali melihat wajah Juariah yang sedang tidur lelap.
Sehabis menikah Joko dan Juariah pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil. Juariah tak lagi membakul jamu. Dia memilih jadi ibu rumah tangga. Menunggu Joko pulang ke rumah saja. Dari pagi hingga sore dan kadang malam juga. Dan semua baik-baik saja. Juariah berpikir, mungkin belum saatnya jadi kaya. Mungkin perlu waktu, pikirnya.
Tiga bulan pun berlalu, kekayaan tak juga tampak. Sementara kebutuhan mulai terasa banyak. Juariah mulai kesal. Pernah diajaknya Joko bicara, setelah sebelumnya mereka bercinta. Juariah mulai bertanya apakah Joko punya warisan tanah atau rumah. Apakah Joko punya harta lain yang dirinya tak tahu. Joko bingung. Joko menjawab apa adanya. Juariah berang. Kesal bercampur marah. Lekas-lekas berpakaian. Itu adalah kali terakhir mereka bercinta.
Sampai suatu hari Juariah mendapat ide. Mungkin saja nanti mereka akan kaya lewat jalan lain. Mungkin suatu saat suaminya akan kejatuhan rejeki. Dari lotre misalnya? Atau undian apalah. Yang penting bisa membuat mereka kaya. Juariah menyampaikan ide itu ke Joko. Joko menolak. Joko antri lotre. Sejak itu Juariah mulai sering bertanya ke Joko, “Nggak beli lotre Pa?”. Kali pertama Juariah bertanya, Joko masih menjawab, “Buat apa lotre ma?”
“Biar cepat kaya Pa”, jawab Juariah singkat. Mukanya cemberut. Joko berusaha membujuk. Dibelainya saja rambut Juariah yang hitam panjang. Sudah sebulan lebih mereka tak bercinta. Joko juga lelaki normal biasa. Butuh bercinta juga. Juariah menepis tangan Joko. Masuk ke kamar. Menangis. Joko menghela napas panjang. Gagal sudah niat bercinta hari itu.
Hari ke hari pertanyaan Juariah itu-itu saja. Tentang lotre dan lotre. Joko mulai tak menjawab. Juariah menangis. Sampai suatu ketika Juariah memutuskan untuk membeli lotre sendiri. Diberitahunya ke Joko kalau dia sudah beli lotre. Pengumuman pun tiba. Nomor lotre yang dibelinya tak keluar alias tak menang. Juariah kesal. Berarti memang harus Joko yang membeli. Harus!
“Nggak beli lotre Pa?” lagi-lagi pertanyaan itu. Begitu terus pertanyaan Juariah pada Joko. Sampai suatu hari ada kabar buruk untuk Juariah. Joko mengalami kecelakaan. Waktu membawa mobil dari Jogja ke Semarang rupanya kondisi mobil sedang tidak baik. Joko kehilangan kendali. Mobil kencang berlari masuk jurang, yang dipinggirnya dibatasi kawat duri. Joko tewas di depan kemudi. Juariah jatuh terduduk mendengar kabar itu. Tak sanggup dia menangis.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Rumah itu mulai ramai. Doa untuk Joko pun dipanjatkan. Namun itu hanya keramaian sesaat. Juariah pun kembali sendiri. Tinggal satu orang tamu yang belum pergi. Namanya Pak Kresna. Dia bos di yayasan tempat Joko bekerja. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya langsung ke Juariah. Dengan sabar ditunggunya hingga agak sepi. Supaya bisa langsung bicara dengan Juariah dan supaya hanya sedikit yang mendengar.
Rupanya Joko sudah lama bekerja di yayasan tempat Pak Kresna memimpin. Sudah dua puluh tahun sejak Joko tamat SMA. Joko selalu mengikuti saran-saran Pak Kresna termasuk saran menabung untuk hari tua. Joko rupanya ikut sebuah program investasi. Program investasi dengan proteksi. Proteksinya berupa asuransi jiwa. Pak Kresna menyampaikannya ke Juariah, Juariah terkejut tak menyangka. Dia pikir Joko seperti manusia lainnya. Apa yang ada hari ini ya untuk hari ini. Besok ya tinggal besok. Ternyata Joko tidak begitu. Joko peduli akan masa depan. Nilai investasi dan asuransi jiwa Joko ternyata banyak sekali. Samar-samar Juariah ingat mimpinya. Saat jadi kaya hanya tampak dirinya dan para pembantunya. Tak ada Joko di situ. Rupanya inilah arti mimpinya. Joko pergi meninggalkan warisan baginya.
Uang empat miliar itu tidak sedikit. Juariah menangis sejadi-jadinya. Pak Kresna menunggu sampai tangisan Juariah reda. Namun sepertinya tangis Juariah tak akan berhenti saat itu. Ada satu berita lagi yang harus Pak Kresna sampaikan pada Juariah, namun Juariah sudah berlalu. Masuk ke kamar dan menangis keras sesungukan. Akhirnya Pak Kresna memilih menunda berita itu. Berita tentang seseorang yang ikut tewas bersama Joko. Seorang perempuan biasa-biasa saja dengan senyum tulus yang terbentuk dari bibir tebal dan gigi yang tak rata…
 
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Kamis, 17 Januari 2013

Surprise!


Sumber: www.getloans.com
Yun terlihat gelisah. Matanya melihat ke luar pintu ke sudut jalan yang tampak dari situ. Sejak semalam dia diberitahu mamanya kalau dia harus bersiap menyambut kedatangan seorang laki-laki yang mau dikenalkan dengannya. Yun agak sedikit kesal. Ngapain sih pake dikenal-kenalin. Nggak bisa ya percayakan hal ini ke diriku saja? Harus ya diintervensi orangtua untuk urusan beginian? Tapi Yun juga sadar. Tidak ada yang salah dengan itu. Beberapa waktu lalu juga sudah pernah beberapa kali dia diminta menjadi mantu oleh beberapa kerabatnya. Ada ibu-ibu di gereja yang satu pelayanan dengannya setiap bertemu Yun selalu bilang, “Kau lah Yun, jadi mantuku”, “Nanti kusuruhlah anakku main-main ke rumah dinasmu ya..” dan masih banyak lagi. Rumah dinas dokter Puskesmas itu kadang ramai hanya untuk menerima kunjungan beberapa “saudara jauh” yang ingin berkenalan. Ada yang lanjut dengan follow up yaitu telepon dan sms, ada juga yang tidak ada kelanjutannya. Sampai akhirnya Yun kadang bosan juga. Memang, ada juga satu dua lelaki yang berkeinginan keras untuk melanjutkan hubungan dengan Yun tak sekedar kenalan saja tapi langsung lanjut ke jenjang pernikahan. Tapi bukannya Yun tak mau diajak serius, namun memang tak ada satupun dari para lelaki yang mengajak hubungan serius itu yang sesuai dengan kriteria Yun.

Memang apa sih kriteria Yun untuk lelaki dambaannya? Tidak harus ganteng sebenarnya. Yang pasti cukup mapan. Paling tidak punya penghasilan lah… Masa calon suami harus bergantung ke istri nantinya? Kan repot! Selain itu, kriteria lainnya cukup klise walau sangat penting bagi Yun. Anak Tuhan, rajin memberi perpuluhan, mungkin berat badan agak ideal, wajah jangan terlalu Batak, dan segudang kriteria lainnya.

Yessi adik sepupu Yun sepertinya menangkap kegelisahan kakak sepupunya. Dia cuma senyum-senyum sambil mengganggu Yun dengan celetukan berandai-andai, “Gimana kalau yang datang itu ……. (badannya gemuk, muka Batak abis, pendek, dan lain-lain)”.
Yun makin gelisah, matanya tak lepas dari pintu yang terbuka satu sisinya. Di dapur tantenya sibuk. Instruksi dari mamanya Yun sangat jelas, beri kesan pertama yang terbaik!

***
Wil melihat struk pembayaran atm yang diberikan kakaknya. Itu tiketnya menuju Medan pulang pergi. Beberapa hari lalu Wil dihubungi oleh mamanya untuk bisa berkenalan dengan seorang gadis kenalan teman mamanya. Mungkin bukan kenalan tepatnya tapi saudara dari teman mamanya Wil, satu arisan di ibu-ibu komplek Palbatu dan sekitarnya.

Wil sebenarnya agak sungkan. Tapi mau bilang apa. Berkali-kali Wil bilang ke mamanya kalau dia masih bisa cari sendiri jodohnya tetap jodoh itu tak kunjung datang. Memang ada beberapa hubungan yang pernah dijalin Wil sebelumnya tapi kandas. Entah itu putus di tengah jalan, putus karena ada orang ketiga, atau putus karena kesibukan masing-masing sampai nggak sadar kalau sudah putus. Ada juga yang sempat ingin dibawa ke babak selanjutnya yaitu mengenalkan si jodoh dengan orang tua Wil, tapi belum diperkenalkan secara formal eh..sudah putus lagi.

Bukan kali ini saja Wil ingin dikenalkan ke kerabat dan sanak saudara. Pernah dulu dikenalkan juga ke seseorang. Hubungan terjalin juga antar orang tua lewat berbagai kesempatan. Bertemu dalam satu undangan pernikahan atau pertemuan lain yang disengaja. Sebenarnya Wil nggak terlalu suka dengan gadis yang satu ini. Dia terlalu glamour dan pergaulannya agak terlalu bebas. Tapi itu menurut penglihatan Wil.

Bandara Soekarno Hatta sudah terlihat dari jendela bis airport. Tadi Wil naik bis itu dari stasiun Gambir. Dia turun dari bis masuk dalam antrian orang-orang yang ingin terbang ke berbagai destinasi. Proses cek in tidak terlalu lama. Wil masuk ruang tunggu.
L** 2** please board to the aircraft…”. Boarding. Harap-harap cemas Wil menyusuri lorong menuju pesawat itu. Pesawat yang akan membawanya ke Medan dari Jakarta. Bertemu seseorang yang nantinya akan menjadi ibu dari anak-anaknya….

bersambung