Kamis, 04 Oktober 2012

Yuk, lihat kandungan nutrisi Rujak Cingur!


Rujak Cingur (Sumber: inforesep.com)
Bertempat tinggal di Surabaya rasanya aneh kalau belum pernah mencoba yang namanya rujak cingur. Rujak cingur adalah salah satu makanan tradisional yang sangat mudah ditemukan di daerah Jawa Timur, terutama di Surabaya. Dalam bahasa Jawa kata cingur berarti "mulut", hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan. Nah, ini yang membuat saya sempat ragu pada awalnya untuk mencoba hidangan ini. Masa makan moncong atau mulut sapi, kan jorok tuh! Tapi setelah mencoba ternyata saya salah. Rasanya mantap. Apalagi jika yang makan adalah orang yang suka petis dan pedas (kombinasi yang oke). Di dekat kompleks rumah saya biasanya rujak cingur dijual dengan harga Rp. 7.000,- per porsinya. Tapi biasanya kalau harganya murah, sudah tidak menggunakan cingur lagi tetapi diganti bahan cingurnya dengan kikil. Mungkin kalau kita pesan rujak cingur di restoran mahal baru menggunakan cingur asli. Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, kerahi (krai, yaitu sejenis timun khas Jawa Timur), bengkuang, mangga muda, nenas, kedondong, kemudian ditambah lontong, tahu, tempe, bendoyo, cingur, serta sayuran seperti kecambah/ taoge, kangkung, dan kacang panjang. Semua bahan tadi dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis udang, air matang untuk sedikit mengencerkan, gula/gula merah, cabai, kacang tanah yang digoreng, bawang goreng, garam, dan irisan tipis pisang biji hijau yang masih muda (pisang batu, pisang klutuk). Semua saus atau bumbu dicampur dengan cara diulek, itu sebabnya rujak cingur juga sering disebut rujak ulek (sumber: Wikipedia).
Ada dua cara penyajian rujak cingur ini. Ada yang bilang penyajian “biasa” yaitu semua bahan baik mentah (biasanya buah-buahan) maupun yang sudah dimasak (mateng) dicampur jadi satu. Penyajian yang lain adalah “matengan” yaitu bahan yang dicampur hanya bahan yang sudah dimasak saja. Misalnya tempe, tahu goreng, sayuran yang sudah direbus, dan lain-lain. Kalau untuk saus atau bumbunya tetap sama untuk kedua jenis penyajian tersebut. Biasanya sebagai pelengkap rujak cingur disajikan dengan tambahan kerupuk. Untuk wadah penyajiannya biasanya dengan daun pisang (pincuk) atau piring makan biasa.
Berikut ini beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat rujak cingur (untuk sekitar 8 porsi): 600 gram cingur atau bisa diganti dengan kikil sesuai selera, 100 gram sayur tauge, 200 gram kacang panjang, 1 ikat kangkung (ambil daunnya saja), 200 gram temped an 200 gram tahu (digoreng), 400 gram petis udang, cabe rawit sesuai selera, segenggaman tangan kacang goreng, 2 buah pisang batu/ klutuk (parut kasar), 2 sendok teh asam jawa, air matang secukupnya, dan garam secukupnya.

Cara Membuat Rujak Cingur
  1. Rebus cingur/ kikil hingga matang, kemudian potong potong berbentuk dadu. Rebus tauge, kacang panjang serta kangkung.
  2. Potong kecil kecil tempe goreng dan tahu goreng. Simpan dulu di wadah lain.
  3. Haluskan petis udang, cabai rawit, serta kacang tanah.
  4. Tambahkan parutan pisang batu, asam, serta air matang, kemudian haluskan kembali.
  5. Campur bumbu rujak petis dengan cingur, sayuran, tempe, dan tahu, aduk hingga rata.
  6. Rujak cingur siap di hidangkan dengan nasi atau lontong.
  7. Jangan lupa tambahkan kerupuk saat penyajian.
Nah, setelah puas menyantap rujak cingur, mari kita lihat kandungan nutrisinya!
Dengan bahan utama sayur-sayuran dan buah-buahan tentu banyak mineral yang bermanfaat bagi tubuh ikut masuk bersama manfaat yang lainnya. Kacang panjang sendiri dikenal sebagai sumber protein dan vitamin B kompleks selain sebagai sumber mineral. Daun kangkung dikenal mempunyai kandungan vitamin A yang sangat tinggi, mencapai 6.300 IU. Bersifat antioksidan sehingga dapat menangkal radikal bebas penyebab kanker dan penuaan dini. Selain itu, kangkung juga tinggi kadar seratnya dan mengandung fosfor, zat besi, dan sitosterol. Berkat kandungan yang dimilikinya, kangkung berpotensi juga sebagai antiracun, antiradang, penenang (sedatif) dan diuretik. Wuihhhh…mantap tenan rek..!

Selain kangkung dan kacang panjang ada tauge atau kecambah yang merupakan pangan yang rendah kadar lemak, kaya vitamin C, serta memiliki folat dan protein yang dapat memperkecil risiko timbulnya penyakit kardiovaskular dan merendahkan LDL (kolesterol jahat) dalam darah. Dalam kecambah, terkandung fitoestrogen yang dapat berfungsi seperti estrogen bagi wanita. Estrogen tersebut dapat meningkatkan kepadatan dan susunan tulang, serta mencegah kerapuhan tulang (osteoporosis) khususnya bagi wanita yang berada pada masa menopause. Konsumsi kecambah juga dapat membantu wanita terhindar dari kanker payudara, gangguan menjelang mensturasi, keluhan semburat panas pada pra-menopause, dan gangguan akibat menopause. Tidak hanya itu, kecambah juga memiliki kemampuan mengurangi risiko terkena artritis, memperlancar pencernaan, baik untuk sistim reproduksi, dan saluran kelenjar (glandular). Selain itu, di dalam kecambah juga terkandung saponin yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dengan menstimulasi interferon dan sel limfosit T (Sumber: Wikipedia dengan editing seperlunya).
Selain sayuran, isian lain dalam rujak cingur adalah tahu dan tempe yang tentu tidak diragukan lagi kandungan gizinya. Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah hipertensi, dan lain-lain.
Komposisi gizi tahu dan tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan zat terlarut, misalnya: nitrogen terlarut, asam amino bebas, dan asam lemak bebas.
Puas dengan kandungan nutrisi isiannya, mari kita lihat kandungan nutrisi pada saus yang berbahan dasar kacang tanah dan petis ini. Kacang tanah kaya dengan lemak, mengandungi protein yang tinggi, zat besi, vitamin E dan kalsium, vitamin B kompleks dan Fosforus, vitamin A dan K, lesitin, kolin dan kalsium. Kandungan protein dalam kacang tanah adalah jauh lebih tinggi dari daging, telur dan kacang soya.
Kacang tanah juga dikatakan mengandung bahan yang dapat membina ketahanan tubuh dalam mencegah beberapa penyakit. Kacang tanah bekerja meningkatkan kemampuan pompa jantung dan menurunkan resiko penyakit jantung koroner. Kacang tanah mengandung Omega 3 yang merupakan lemak tak jenuh ganda dan Omega 9 yang merupakan lemak tak jenuh tunggal. Dalam 1 ons kacang tanah terdapat 18 gram Omega 3 dan 17 gram Omega 9. Kacang tanah mengandung fitosterol yang justru dapat menurunkan kadar kolesterol dan level trigliserida dalam darah, dengan cara menahan penyerapan kolesterol dari makanan yang disirkulasikan dalam darah dan mengurangi penyerapan kembali kolesterol dari hati, serta tetap menjaga kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Kacang tanah juga mengandung arginin yang dapat merangsang tubuh untuk memproduksi nitrogen monoksida yang berfungsi untuk melawan bakteri tuberkulosis.
Terakhir, manfaat petis. Nah, ini yang agak sulit diceritakan. Kalau untuk saya pribadi, kegunaan petis hanya sebatas menambah aroma sajian rujak cingur sehingga lebih mantap dan lahap dalam menikmatinya. Tanpa petis rujak cingur pasti bukan rujak cingur lagi namanya.
Jelajah Gizi
Dengan kandungan nutrisi yang begitu banyak dalam rujak cingur, masih ada yang ragu melahapnya?

Kamis, 27 September 2012

“Ayam (itik) Punya Telur, Sapi Punya Nama”


Ini telur mata sapi
Membaca judul di atas pasti sebagian besar pembaca agak bingung, sebenarnya arah artikel ini mau dibawa ke mana ya? Apakah ini artikel tentang masak-memasak atau tentang hal lain?

Nah, untuk memudahkan pembaca, sebelumnya saya ingin bertanya, “Pernahkah pembaca menikmati sepotong telur mata sapi?”. Telur mata sapi adalah telur ayam (itik) yang digoreng tanpa diaduk dahulu (kuning telurnya masih utuh) ini deskripsi yang saya dapatkan dari kamus besar bahasa Indonesia online. Kalau bicara bahasa Inggrisnya lebih seru lagi. Yang pasti bukan cow’s eye egg tapi bermacam-macam tergantung jenis yang kita mau. Secara umum bahasa Inggrisnya adalah 'fried egg' (makna harafiahnya adalah 'telur goreng'). Memang cara membuat telur mata sapi ini ada banyak ragamnya, misalnya yang digoreng pada satu sisi saja di mana kuning telurnya terletak di atas yang dinamakan 'sunny-side up'. Ada pula yang digoreng bolak balik setengah matang dinamakan 'over easy', yang sedikit lebih matang dinamakan 'over medium' dan yang matang dinamakan 'over well'. Dalam bahasa Belanda telur mata sapi disebut dengan ‘spiegelei’ (spiegel = cermin, ei = telur) (http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/12/apa-sih-bahasa-inggrisnya-telur-mata-sapi/)

Lha kok jadi belajar bahasa? Yuk, kembali ke laptop (Tukul mode: ON). Sebenarnya yang jadi masalah adalah ketika saya berulangkali mendengar judul di atas (ayam punya telur, sapi punya nama) diucapkan oleh salah satu teman saya. Kalau dipikir-pikir benar juga ya? Kenapa tidak pernah terpikir oleh saya untuk menanyakan hal tersebut pada ahlinya (ahlinya telur atau ahlinya sapi yang paling pas ya?). Kenapa tidak disebut telur mata ayam saja? Tapi nanti jadi salah juga karena ayam (itik) yang bertelur, bukan matanya. Sementara kita juga tahu kalau sapi itu beranak tidak bertelur. Sayangnya ayam tidak pernah protes kepada sapi mengenai hal ini. Tapi mungkin itu karena si sapi juga tidak tahu kalau namanya dipakai sebagai nama masakan berbahan dasar telur ayam (itik) itu. (http://kangpay.wordpress.com/2011/09/16/telor-mata-sapi/).

Tapi sebenarnya bukan masalah istilah itu benar atau tidak yang dipersoalkan oleh teman saya tadi. Yang menjadi persoalan baginya adalah ketika realita itu ditemukan dalam keseharian di lingkup kerjanya. Ada pekerjaan yang nyata-nyata teman saya tadi yang melakukan (si ayam atau si itik) namun dengan santai diklaim oleh seseorang (si sapi) sebagai pekerjaannya. Tentu saja pekerjaan yang bagus-bagus saja yang diklaim oleh orang tadi. Ketika teman saya jatuh dalam persoalan atau pekerjaan yang dilakukannya kurang baik maka itu tidak diklaim sebagai keberhasilan orang tadi. Saya agak kurang sependapat jika judul di atas dikaitkan dengan realita itu. Orang tadi jelas mengklaim pekerjaan teman saya, sementara sapi tidak jelas-jelas mengklaim pekerjaan ayam (itik) he..3x. Yang jelas dari realita di atas, terlepas dari istilah apa yang tepat digunakan, sering kita temui dalam dunia kerja kita. Kadang satu ide brilian datang dari kita tanpa kita sadari dicomot begitu saja oleh orang lain sebagai idenya dia. Kadang kita melakukan pekerjaan baik dalam satu tim, eh..salah satu anggota tim atau ketua tim dengan enteng mempublikasikan ke orang lain bahwa itu pekerjaannya.

Kalau dalam satu level yang sama atau sejajar di dunia kerja, mungkin masih dapat dibicarakan dengan baik sesama rekan kerja. Yang sulit adalah ketika atasan memerintahkan bawahan melakukan suatu pekerjaan (yang mungkin seharusnya pekerjaan si atasan) dan berhasil baik, lalu diklaim sebagai pekerjaan si atasan tanpa menyebutkan peran dari bawahannya. Kalau sudah begini, si bawahan paling-paling hanya bisa legowo. Hanya bisa ngedumel di belakang. Habis mau bagaimana? Nanti repot urusannya ke depan. Karir bisa jadi pendek. Rejeki bisa mampet. Yang pasti harus ada rasa saling menghargai di antara sesama rekan kerja maupun antara atasan dan bawahan. Pengakuan (reward) atas pekerjaan atau keberhasilan seseorang itu penting.

Kasihan juga teman saya. Tiap kali bekerja baik, atasannya yang dapat nama. Padahal ia yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan atasannya saat atasannya itu sering tidak berada di tempat. Kalau sudah begitu, ia hanya bisa ngedumel sambil menggumam, “ayam punya telur, sapi punya nama..”. Seenak-enaknya telur mata sapi, biarlah kita tetap mengingat kalau itu tetaplah telur ayam (itik).

Senin, 10 September 2012

Urusan Pekerjaan vs Urusan Pertemanan



Suatu kali saya terlibat diskusi panjang lebar dengan seorang teman dalam satu pertemuan rutin bulanan. Diskusi ini adalah diskusi masalah program atau pekerjaan. Dalam diskusi tersebut banyak pendapat teman tersebut yang saya sanggah dengan menggunakan fakta-fakta dan data-data yang ada. Saya juga mencoba memberikan beberapa solusi yang masih berhubungan dengan data dan fakta yang cukup aktual. Teman saya tersebut sepertinya tidak bisa menerima sanggahan yang saya berikan. Demikian pula dengan solusi yang saya ajukan. Pada prinsipnya dia ingin idenya diterima dan ide itulah yang diterapkan.

Diskusi pun berakhir. Karena itu adalah proyeknya teman saya tersebut maka saya tidak lagi ikut mencampuri hal-hal teknis yang berkaitan dengan hasil diskusi tadi. Intinya, dia ingin idenya yang dijalankan dan itu akhirnya diterima sebagai hasil diskusi bersama.

Keesokan harinya saya bertemu lagi dengan teman saya tersebut. Kebetulan kami sudah berteman cukup lama. Kira-kira sudah lebih dari lima tahun. Ketika bertemu, si teman itu langsung membuang muka dan saya pun tidak ditegur. Dalam kesempatan lain saya bertemu dengannya -kebetulan saat itu juga ada teman yang lain- teman saya tadi tidak mau langsung berbicara dengan saya. Dia hanya mengajak teman saya yang satunya saja berbicara. Beberapa pertanyaan atau lontaran pernyataan yang saya ajukan tidak dijawab, bahkan diabaikan sama sekali.

Apa yang sebenarnya terjadi? Usut punya usut rupanya itu adalah buntut dari alotnya diskusi yang pernah terjadi dulu. Menurut teman saya tadi (ini berdasarkan informasi dari teman yang lain), dia sedang jengkel dengan saya karena tidak mau serta merta menerima pendapatnya waktu diskusi lalu. Nah lu…

Masalah seperti ini sering kita temui dalam lingkup pekerjaan kita entah dimanapun itu. Lebih-lebih untuk saya yang bekerja di bidang sosial, sering masalah pribadi sepertinya dicampur aduk dengan masalah pekerjaan. Contoh: Jika ada rekan kerja yang tidak suka secara personal dengan saya, maka semua yang saya katakan pasti selalu salah. Baik itu dalam diskusi atau dalam kesempatan apapun. Jika saya menyampaikan suatu pernyataan pasti langsung disanggah dengan semangat. Jangan-jangan saya masih bilang, “aa…” sudah langsung disanggah. Contoh lainnya adalah kebalikannya seperti kisah teman saya tadi. Ketika diskusi sangat alot dalam lingkup pekerjaan akhirnya malah terbawa-bawa dalam lingkup pertemanan. Yang tadinya teman bisa tidak teman lagi. Yang tadinya konco dan sering ngumpul bareng bisa ngga konco lagi dan akhirnya ngga ngumpul bareng lagi.

Lalu bagaimana mengatasinya? Mau tidak mau harus diomongin. Tidak bisa didiamkan saja dan berharap suatu saat akan adem-ayem alias damai kembali. Akhirnya saya mengambil waktu untuk bicara dengan teman saya tadi. Saya jelaskan bahwa kita harus bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pertemanan. Kita boleh gontok-gontokan atau kalau perlu sampai pukul meja (kasihan juga tuh meja..) kalau bicara soal program atau pekerjaan. Tapi di luar, sebagai teman ya kita tetap sebagai teman. Masih bisa jalan sama-sama. Masih bisa tertawa-tawa sama-sama. Nonton bareng, ngumpul bareng dan lain-lain. Memang sih sulit.. tapi di sinilah perlunya EQ itu. Teman saya manggut-manggut. Kami pun bersalaman dan tersenyum-senyum sendiri.

Selasa, 21 Agustus 2012

Hati-hati, si opurtunis yang berpotensi merusak organisasi!

Selamat siang semuanya!

Akhirnya saya memperoleh kesempatan untuk menulis lagi dengan laptop pinjaman di tempat kerja saya yang baru. Sebenarnya ada hal yang men trigger saya untuk segera kembali menulis. Kemarin lagi-lagi saya mendengar kabar dari seorang teman tentang perilaku ex pimpinan saya di tempat tugas saya yang lalu. Mantan pimpinan saya tersebut menurut saya adalah orang yang opurtunis. Memang ada juga makna yang baik dalam kata opurtunis yaitu orang yang selalu menggunakan setiap kesempatan yang datang (dalam arti positif dam membangun). Tetapi dalam diri beliau saya melihat makna opurtunis dalam arti sebaliknya (negatif). Namun supaya saya tidak asal sebut maka saya berusaha mencari makna atau arti kata itu dalam kamus online. Ini dia maknanya:
conqueryourbeing.com

Opurtunis (opportunist) adalah seseorang yang mempraktekkan opportunism (dictionary.reference.com).  Apa itu opportunism? Opportunism is the conscious policy and practice of taking selfish advantage of circumstances – with little regard for principles, or with what the consequences are for others. Opportunist actions are expedient actions guided primarily by self-interested motives. The term can be applied to individual humans and living organisms, groups, organizations, styles, behaviours, and trends. (Wikipedia)

Di referensi yang lain, opurtunis juga berarti "One who takes advantage of any opportunity to achieve an end, often with no regard for principles or consequences." (thefreedictionary.com). Nah, kalau memperhatikan dua definisi tersebut berarti benarlah apa yang saya rasakan terhadap mantan pimpinan saya tersebut. Lho kenapa begitu? Kenapa saya bisa dengan gamblang menyatakan kalau beliau adalah seorang opurtunis? Pertama, beliau jelas mempraktekkan prinsip opportunism. Yaitu mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri tanpa memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ada sebelumnya. Contoh: di organisasi dimana saya bekerja, cuti untuk kembali ke tempat asal itu telah diatur sedemikian rupa dan tercantum dengan jelas dalam buku pedoman kepegawaian. Jika si A yang daerah asalnya (daerah dimana ia direkrut) adalah Jakarta, kemudian bekerja di suatu daerah maka ia berhak untuk kembali ke Jakarta dengan dibiayai semua transportasi hingga biaya transit setiap sekian tahun sekali. Lain halnya dengan beliau ini. Sudah jelas tercantum di buku pedoman kepegawaian mengenai hak cuti tersebut, masih saja beliau meminta pengecualian khusus agar bisa cuti ke tempat asal dalam waktu yang lebih singkat dari seharusnya. Sayangnya, manajemen menyetujui hal ini dan beliau pun dengan bangga menyampaikan "keberhasilan" negosiasi dengan manajemen itu ke para staf lokal yang jelas-jelas tidak punya "jatah" cuti kembali ke tempat asal.  Praktek opportunism lain yang beliau terapkan adalah dalam menjalankan kewajiban atau tugas beliau sebagai pimpinan wilayah. Sebagai pimpinan di wilayah tersebut sebenarnya fungsi advokasi ke pemerintah adalah bagian dari kerja beliau. Juga fungsi lain terkait pengembangan wilayah di daerah tersebut. Namun apa yang terjadi? Semua fungsi tersebut tidak dijalankan oleh beliau tetapi dikerjakan oleh bawahan-bawahannya. Ketika tiba waktunya membuat laporan beliaupun dengan bangganya menyatakan bahwa semua itu beliau yang mengerjakan. Jadi nyata sekali prinsip opportunism yang dijalankan beliau. Yaitu mengambil keuntungan (dalam hal ini beliau mendapat nama) dari hasil kerja orang lain (bawahan beliau).
Kedua, tindakan-tindakan (actions) yang diambil beliau lebih banyak bermotif untuk keuntungan pribadi (taking selfish advantage). Contoh: beliau mengurusi perumahan staf untuk kepentingan beliau sendiri. Belum selesai kontrak rumah yang satu, beliau mencari rumah lain yang lebih nyaman untuk ditempati. Akhirnya ada rumah yang dikontrak organisasi menjadi terbengkalai karena tidak digunakan. Contoh lain dari upaya beliau memperoleh keuntungan pribadi juga terlihat dari aksi beliau mengambil alih capacity building yang seharusnya diikuti oleh salah satu staf yang adalah bawahan beliau. Ceritanya begini, ada satu pelatihan yang seharusnya diikuti oleh si B dan sudah didaftarkan atas nama si B, kemudian dibayarkan atas nama si B namun pada saat waktu pelatihan tiba malah digantikan oleh beliau. Apa tujuannya? Tujuannya jelas untuk menambah hari-hari di luar tempat tugas. Alasan beliau klise, yaitu supaya lebih banyak waktu berkumpul bersama keluarga di Jakarta. Kalau mau dikatakan alasannya adalah karena anak dan istri yang ada di Jakarta, menurut saya agak kurang tepat. Mengapa? Karena hidup ini penuh dengan pilihan. Manakala suatu keluarga memutuskan untuk tinggal berjauhan (suami jauh dari istri dan anak-anak) maka keluarga itu harus siap dengan konsekuensinya. Organisasi sudah menyediakan rumah yang layak untuk keluarga beliau namun yah.. itu tadi kalau itu dirasa tidak cukup dan akhirnya mereka (keluarga beliau) harus membuat pilihan sendiri, janganlah itu kemudian jadi alasan untuk menambah hari-hari cuti. Apalagi, dijadikan alasan untuk merengek-rengek minta pindah padahal beliau belum ada dua tahun bertugas di salah satu kota di Papua tersebut.

Belum lagi bicara soal manajemen dan program yang dikelola oleh beliau. Selama ini Job Description beliau tidak pernah dipaparkan ke para bawahan langsungnya. Ini membuat saya tidak tahu sebenarnya apa target kerja beliau? Komunikasi antar bawahanpun sepertinya tidak dibangun dengan baik. Beliau hanya berbicara ke salah satu (atau salah dua?) bawahan tertentu dan bawahan lain dipaksa harus tahu, itupun sering tahunya terlambat. Dari sisi efisiensi pemanfaatan ruang kantor, beliau jarang atau bisa dikatakan tidak pernah berkantor di ruangannya di kantor salah satu proyek. Inipun semakin diperparah dengan tuntutan beliau untuk memiliki satu ruangan khusus di kompleks kantor saya yang lalu. Setelah ruangan itu jadi, dilengkapi dengan meja dan kursi, justru beliau tidak pernah berkantor di situ. Ruangan beliau di kompleks kantor saya dulu hanya sering dipakai untuk rapat yang digelar hingga jam makan siang dan setelah makan siang, beliau pun pergi tak tahu kemana.Apalagi kalau bicara soal program, semua harus dipaksakan untuk mengikuti cara berpikir beliau yang saya sendiri tidak mengerti sampai sekarang. Banyak program yang dirancang beliau akhirnya menjadi mubazir alias useless. Contoh: pembelian server untuk bank data yang sudah setahun dibeli namun tidak digunakan, radio anak yang terbengkalai, dan rencana satu kantor atau istilah beliau one management yang analisisnya menurut saya tidak jelas.

Organisasi ini harus bisa mengambil tindakan tegas untuk hal-hal seperti ini atau orang-orang opurtunis seperti ini. Memang organisasi sudah punya beberapa tools untuk menilai kinerja stafnya. Diantaranya adalah survey 360 derajat yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Namun apakah hasilnya kemudian dianalisis? Jika hasilnya dianalisis kenapa sepertinya tidak ada perubahan yang terjadi?


http://skmrchy.blogspot.com/2011/08/do-you-know-any-opportunist-in-your.html
Di tengah-tengah kesulitan dalam program dan manajemen di wilayah tempat tugas saya dulu, di tengah-tengah kemampuan pengawasan yang sangat minim di level regio, maka seorang pimpinan di wilayah itu haruslah orang yang mampu menjadi jawaban atas hal-hal tersebut.

Saya pribadi sebenarnya ingin mendiskusikan hal ini secara panjang lebar dengan beliau, tapi berdasarkan pengalaman saya beliau ini tidak suka dikritik. Orangnya cenderung defense alias cepat membela diri. Beberapa waktu lalu sempat saya mengomentari email beliau yang dibuat dalam bahasa Inggris tak berstruktur, eh..malah saya dibilang merendahkan beliau. Belum lagi kegemaran beliau melibatkan banyak pihak jika dikritik. Email-email ditembuskan ke pimpinan yang lebih tinggi bahkan hingga ke level direktur. Ketika saya datangi sambil berharap beliau berani menyampaikan langsung ke saya, hal-hal tersebut malah tidak dibicarakan. Beliau lebih suka membicarakan tentang diri saya di belakang (beberapa teman menyampaikan ke saya tentang hal ini), tidak berani bicara langsung bertatap muka dengan saya. Ingin sekali saya sebenarnya membuat analisis mengenai hal ini, tapi yah.. sudahlah semua orang sudah tahu. Kalau seseorang itu tidak berani bertatap muka langsung atau hanya berani omong di belakang berarti ada yang salah dengan orang itu.

Di kemudian hari, organisasi juga harus berhati-hati dalam menempatkan seorang opurtunis di posisi yang strategis. Salah-salah nama baik organisasi bisa rusak atau hancur dalam sekejap. Nama baik yang sudah dikenal masyarakat selama 30 tahun bisa sirna dalam sekejap oleh perilaku si opurtunis.
Akhirnya, cuma tulisan ini yang bisa saya buat. Paling tidak setelah menulis ini kejengkelan saya agak reda. Saya teringat kata-kata mutiara dari beberapa tokoh, “There are no bad troops. There are only bad leaders” (Brigadier General S.L.A. Marshall) dan, “There are no bad soldiers, only bad officers” yang dikatakan oleh Napoleon Bonaparte (1769 – 1821).

Rabu, 20 Juni 2012

Layakkah Orang Wamena Marah?


Hari itu (tanggal 6 Juni 2012) saya sedang memimpin rapat bulanan di kantor kami di Asrama Mandiri. Kantor ini terletak di kawasan yang agak jauh dari pusat kota Wamena. Butuh waktu agak lama dari rumah menuju kantor ini. Saya sendiri, dan rekan-rekan kerja saya, baru sejak tanggal 2 Juni 2012 secara bertahap pindah ke kantor ini. Sebuah pengorbanan yang harus diambil untuk efisiensi biaya sewa kantor yang harus dikeluarkan setiap tahunnya.
Sumber: www.westpapuamedia.info
Namun bukan itu yang ingin saya ceritakan saat ini. Situasi hari itu sangat mencekam. Saya dan rekan-rekan termasuk pada grup orang-orang yang khawatir saat itu. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Berita datang simpang siur, silih berganti, baik via sms maupun via telepon (HP). Rapat bulanan pun terpaksa dipersingkat. Teman-teman lapangan yang menginap di hotel Wamena, dibonceng satu persatu dengan motor yang ada. Isu saat itu hanya satu, “Tentara ngamuk!”.
Menuju rumah, jalanan sudah dipenuhi oleh orang-orang asli Wamena. Asap hitam membumbung tinggi ke udara. Gila! Pikirku. Harus cepat sampai rumah. Apa daya motor pun tak bisa dikebut. Masyarakat terlalu banyak sehingga kalau motor berlari agak cepat bisa memancing masalah baru. Bisa jadi pusat perhatian dan kalau sudah demikian, bisa ditebak apa yang akan terjadi. Saya bisa diberhentikan di jalan. Motorpun ada kemungkinan diambil dan dibakar begitu saja di jalan.
Sampai di rumah istriku sudah khawatir. Tetangga sebelah tak bisa pulang, katanya. Dia terjebak di kantor. Sehabis memasukkan motor ke dalam rumah, suara tembakan terdengar berentetan. Tirai jendela kami tutup. Lampu dipadamkan. Suasana sangat mencekam. Hampir 1 jam suara tembakan membahana memecah kesunyian kota. Dalam bayanganku, para tentara bergerak maju dan menembaki siapa saja yang mereka temui. Kacau! Kalau aparat keamanan malah masuk kota dan mengamuk. Sehabis itu suasana sepi. Hujan rintik-rintik mulai turun. Lebih lengkap lagi, saat itupun listrik satu kota mati. Makin lengkaplah suasana mencekam itu. Untung sekitar jam 8 malam (kalau saya tak salah mengingat) lampu kembali menyala. Memang masih hujan deras, tapi paling tidak kalau lampu menyala masih agak meringankan situasi saat itu.
Salah satu sms pun saya terima, “Tentara sedang sisir jalanan dst...dst...”. Segera saya hubungi salah satu rekan lapangan. Jangan sampai ada yang berkeliaran diluar hotel dan menjadi korban sia-sia. Untung jalur komunikasi via HP masih baik. Pesan saya diterima dengan baik dan diteruskan ke semua rekan-rekan lapangan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata ceritanya bermula dari beberapa tentara yang mengendarai kendaraan bermotor kemudian menyenggol orang Wamena sehingga terluka (di kemudian hari ternyata diketahui bahwa orang yang disenggol tersebut adalah orang Lanny Jaya). Orang Wamena tersebut membalas tentara tadi hingga kabarnya tentara tersebut tewas. Akhirnya tentara satu batalyon mengamuk, turun ke kota dan marah membabi-buta. Sayang, yang jadi korban tak hanya orang Wamena. Satu toko milik pendatang (suku Batak) porak-poranda, barang-barang kiosnya habis dijarah massa, satu gudang becak dibakar, sekian honai dibakar di sekitar wilayah Gunung Susu, sekian orang terluka, sekian orang tewas. Suatu pengorbanan yang tidak perlu jika aparat bisa menahan diri. Suatu pengorbanan yang terlalu mahal yang berujung “terlihat arogan” di mata orang Wamena. Setelah peristiwa itu muncul pula kekhawatiran baru, dengan banyaknya korban orang Wamena akibat ngamuknya tentara, akankah orang Wamena membalas? Dengan peristiwa tersebut, layakkah orang Wamena marah? Terlepas adanya provokator yang mungkin juga orang Wamena (mungkin orang Wamena, tapi pasti orang Papua) yang meneriakkan, “bakar rumah pendatang!”. Terlepas adanya aksi di wilayah lain sesudahnya, layakkah mereka marah? Untuk peristiwa ngamuknya aparat ini, saya setuju, orang Wamena berhak marah! Sama sekali tidak ada alasan sekelompok aparat bisa berbuat seenaknya seperti itu. Dan sayangnya hal ini tidak tersebar di stasiun berita manapun. Saya mencoba melihat setiap running text di berbagai stasiun televisi namun tak ada berita lengkap tentang hal ini. Yang ada hanya satu link yang saya dapatkan yang bisa pembaca klik disini. Saya tidak tahu apakah berita yang ada di situ bisa dibilang objektif atau tidak. Saya juga tidak menyatakan bahwa saya mendukung sepenuhnya isi website itu. Yang jelas, pemberitaan itu harus berimbang. Jangan cuma penyerangan oleh kelompok tertentu diberitakan gencar namun tindakan aparat tidak diexpose secara terbuka.
Hari Kamis, tanggal 7 Juni 2012 instruksinya jelas. Semua staf diam di rumah masing-masing menunggu komando kordinator security yang ditugaskan untuk hal-hal seperti ini. Saya dan istri pun tinggal di rumah memanfaatkan waktu untuk mencuci baju dan bersih-bersih rumah sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri melihat situasi. Jalanan masih tampak lengang di pagi hari namun siang dan sore harinya situasi berangsur normal. Sempat ada peristiwa heboh di siang hari dimana salah satu jenazah korban tewas (orang Wamena) diarak oleh keluarganya di jalan-jalan kota. Bahkan melewati bandara Wamena. Seisi bandara heboh, mereka pikir orang Wamena akan membalas dendam. Namun ternyata tidak, orang Wamena hanya mengungkapkan kekecewaan mereka, atas perilaku aparat yang mereka alami.
Well, mereka (orang Wamena) berhak marah dan saya tahu itu. Tapi mereka tidak (marah). Atau mereka menunggu waktu yang tepat? Hanya Tuhan yang tahu.

Senin, 28 Mei 2012

Pesan Moral dari The Fast and Furious Five (Fast Five: Rio Heist)


Fast Five Movie Poster  (Source: www.imdb.com)
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton film The Fast and Furious 5. Mungkin judul yang saya tuliskan salah karena kalau kita klik Internet Movie Data Base, ada berbagai judul untuk film ini. Dari Fast Five hingga The Fast and Furious Five sampai yang ditambahkan embel-embel tulisan Rio Heist. Ya sudahlah, judul tidak terlalu masalah. Film ini intinya berkisah tentang kelanjutan petualangan Dominic Toretto (Vin Diesel) dan temannya Brian O’Conner (Paul Walker) yang mantan agen FBI yang akhirnya memutuskan untuk membelot dan bergabung dengan Dominic dan rekan-rekannya. Mungkin dia membelot karena kepincut dengan adik Dominic yaitu Mia Toretto (Jordana Brewster). Keseluruhan setting film ini mengambil tempat di Rio de Janeiro (ini juga mudah-mudahan tidak salah tulis..) ibukota Brazil. Oh iya, bagi yang awam dengan sekuel film ini tentunya tidak usah khawatir, di pendahuluan film sempat dibahas adegan terakhir dari sekuel yang ke empat dimana Dominic Toretto dibebaskan oleh rekan-rekannya sewaktu dalam perjalanan dengan bis menuju penjara Lompoc. Tapi tentu ada baiknya lebih dahulu menonton film-film sebelumnya agar akrab dengan para tokohnya. Saya sendiri missed satu episode yaitu Tokyo Drift. Sampai sekarang saya belum sempat mencari DVDnya dengan pinjam dari teman atau sewa di persewaan DVD.
Alkisah, kota Rio dikuasai oleh Hernan Reyes (Joaquim de Almeida) hampir di seluruh aspek kehidupan kota ini. Bahkan sampai polisi pun dikuasai olehnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh Dominic dan kawan-kawannya untuk mencuri mobil sitaan DEA (lembaga anti narkotika Amerika) dari sebuah kereta yang sedang berjalan ternyata tak semulus dugaan mereka. Mereka ternyata bekerja untuk Reyes. Bukan mobil yang dicari oleh antek-antek Reyes melainkan sebuah chip yang berisi data transaksi dan keuangan seluruh bisnis Reyes di Rio. Tak pelak lagi akibat perbuatannya, Dominic dan kawan-kawanpun harus berurusan dengan DSS karena mereka termasuk daftar orang paling dicari di seluruh dunia. Sebenarnya dari dulu Dominic sudah dicari-cari oleh FBI (sejak judul film ini yang pertama: The Fast and Furious) namun dengan kelihaiannya tak pernah sekalipun ia tertangkap. Kalaupun ia akhirnya nyaris tertangkap lagi-lagi agen FBI membebaskannya atau memberikan kesempatan lari padanya akibat perbuatan baik yang ia lakukan.
Lantas apa pesan moral yang didapat dari menonton film ini? Pertama, ada adegan ketika Reyes bertemu dengan kolega-koleganya (mungkin sesama penjahat kali ya..). Dalam adegan tersebut Reyes memaparkan apa bedanya penjajahan yang dilakukan Spanyol dan Portugis di masa lampau dan efeknya pada Brazil yang sekarang. Bangsa Spanyol datang dengan kekerasan. Mereka datang dengan angkatan perang dan menyerbu Brazil. Hasilnya? Bangsa Spanyol dikalahkan oleh rakyat Brazil masa itu dan semua orang Spanyol dibunuh. Apa yang bangsa Portugis lakukan? Bangsa Portugis datang dengan membawa barang-barang yang akhirnya dipandang menjadi suatu “kebutuhan”. Apa saja contohnya? Bangsa Portugis membawa kaca (mirror), dan barang-barang lain. Mereka kemudian menciptakan siklus “kebutuhan” sehingga ada ketergantungan rakyat Brazil akan mereka dan untuk memperoleh “kebutuhan” itu mau tak mau rakyat Brazil harus bekerja pada mereka. Apa efek jangka panjangnya? Lihatlah sekarang, hampir semua penduduk Brazil dengan fasihnya berbahasa Portugis. Oh iya ini kata Reyes lho.. bukan saya. Saya sendiri ingin juga membuktikan perkataan Reyes ini dengan pergi ke Rio, namun apa daya uang tak ada he..3x.
Pesan moral berikutnya adalah mengenai makna kebebasan. Ketika Dominic bercakap-cakap dengan Brian perihal kandungan Mia (Mia ternyata sedang mengandung anaknya Brian), mereka berbicara soal makna kebebasan. Apa itu kebebasan (freedom)? Yang jelas kebebasan tidak akan didapat dengan terus berlari. Seseorang harus mau menghadapi masalahnya secara terang-terangan. Dalam hal Dominic dan kawan-kawan masalahnya adalah Reyes. Reyes mau tidak mau harus dilawan untuk mendapatkan kebebasan itu (tentunya dengan menggunakan uang Reyes). Pesan berikutnya kita lihat dari bagaimana cara Dominic dan Brian mengumpulkan team mereka. Pengalaman masa lalu berinteraksi dengan seseorang akan mendasari orang tersebut mengambil keputusan di masa yang akan datang. Dominic dan Brian mengenal beberapa orang dengan keahlian “khusus” di masa lalu mereka masing-masing dan dengan dasar itulah mereka kemudian mengumpulkan team mereka. Dari si “mulut besar” Roman Pearce, si “bunglon” Han, si ahli teknologi Tej Parker, ahli senjata Gisele Yashar hingga dua orang tukang berkicau dalam bahasa Spanyol Leo dan Santos. The right man on the right place. Saya membayangkan kalau diminta membentuk sebuah dream team kira-kira siapa saja yang akan saya masukkan ya?
Pesan moral berikut adalah peran seorang pemimpin dan pendampingnya. Ketika akhirnya mereka harus berhadapan dengan unit DSS (US Diplomatic Security Service) dibawah pimpinan agen Luke Hobbs (Dwayne Jhonson alias pegulat The Rock), team ini akan kocar-kacir jika tidak ada keputusan yang diambil seorang pemimpin. Lanjutkan misi atau batalkan misi dan kabur dengan pesawat. Seorang pemimpin harus bisa bersikap tegas. Memang memberikan pilihan juga baik. Tapi bagaimana tetap tegas dengan pilihan yang sudah diambil di situlah gaya kepemimpinan tersebut diuji. Dominic memberikan pilihan bebas bagi teamnya namun pada akhirnya dengan keteguhannya semua anggota team terpengaruh dan tetap ikut ambil bagian sebab kalau tidak ikut ambil bagian nanti filmnya jadi nggak seru dong..he..3x
Oh iya, salah satu best scene dari film ini adalah perkelahian antara Dominic Toretto dan Luke Hobbs. Bayangkan dua orang berbadan besar ini akhirnya bertemu dalam satu duel tangan kosong. Seru sekali! Namun saya pikir karena ini filmnya Vin Diesel yah layaklah kalau Dominic Toretto yang akhirnya menang dalam perkelahian itu.
Kembali ke pesan moral, ada perkataan yang paling penting dari Dominic ke rekan-rekannya yaitu mengenai pentingnya makna perasaan sebagai satu keluarga. Keluarga itu saling menolong, menguatkan satu sama lain, bisa dipercaya dan tak akan menghianati. Dan salah satu perkataannya yang cukup mengharukan saya adalah, “There’s always room for family..” selalu ada tempat untuk keluarga.
Di akhir film ini, masing-masing anggota team akhirnya mendapatkan bagiannya dari uang Reyes. Masing-masing bisa mewujudkan mimpinya dengan uang itu. Ada yang membeli mobil mahal, ada yang pergi bertaruh di kasino, dan ada yang pergi menyendiri bersama keluarga ke pinggir pantai. Oh iya yang ini bukan bagian dari pesan moral ya.. jangan ditiru. Mencuri itu tetap dosa.
Last but not least, terlepas dari apa yang dilakukan Dominic dan kawan-kawan untuk mencuri uang Reyes, paling tidak ada beberapa pesan moral di atas (dari film ini) yang mungkin bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kamis, 24 Mei 2012

Satu Hari di Baliem Valley Resort









Hari Jumat lalu (tanggal 18 Mei 2012) saya dan istri berkesempatan menikmati reservasi kami di Baliem Valley Resort. Buat yang belum tahu, Baliem Valley Resort adalah suatu penginapan yang terletak di lembah Baliem tepatnya di sekitar daerah Siepkosi. Dulu penginapan ini dikenal dengan nama Hotel Jerman Bersatu namun saya tidak tahu pastinya kapan nama itu akhirnya berubah menjadi Baliem Valley Resort.  Dengan bantuan seorang teman bernama Mas Joko akhirnya pagi itu kami sampai di sana. Sekitar 1 jam perjalanan kami tempuh dari Wamena tempat tinggal kami. Memang selama hampir 6 tahun saya tinggal di Wamena baru sekarang saya merasakan menginap di tempat ini. Biasanya saya hanya berkunjung saja untuk sekedar foto-foto atau pas ada acara kantor yang bersifat kekeluargaan yang diadakan di tempat ini. Suasana pemandangan alamnya yang indah dan asri membuat tempat ini memang menarik untuk jadi ajang foto-foto.
Setelah selesai menikmati sarapan kamipun diberikan kunci kamar. Kamar yang kami dapatkan adalah kamar nomor 4. Seorang lokal menemani kami ke kamar membantu membawakan 2 ransel yang kami bawa dari Wamena. Satu ransel berisi pakaian dan satu ransel lagi full berisi makanan dan minuman ringan. Kamar nomor 4 ini sebenarnya sangat dekat ke lobby. Pandangan dari teras di depan kamar kami langsung menghadap ke bangunan lobby resort. Namun jalan setapak untuk menuju lobby ini berkelok-kelok dan menurun sehingga untuk menuju lobby butuh sekitar 3 – 5 menit berjalan santai.
Berikut ini adalah beberapa tips yang kami coba tuliskan sebagai panduan jika ada rekan-rekan, sanak saudara, handai tolan, dan lain-lain yang mungkin ingin mencoba menginap di tempat ini:
  1. Mintalah kamar yang lampunya terang, kalau bisa yang lampunya berwarna putih jangan yang warna kuning. Warna kuning akan membuat suasana menjadi remang-remang dan tidak cukup terang. Kebetulan kalau untuk kami suasana ini yang paling pas he..3x
  2. Bawalah jaket karena suasana yang dingin. Dinginnya melebihi dinginnya Wamena. Kalau kami berdua yang sudah lama tinggal di Wamena saja masih kedinginan tentu rekan-rekan dari daerah lain akan lebih merasa kedinginan lagi. Kebetulan kami berdua lupa bawa jaket sehingga sewaktu turun ingin makan malam menikmati dinner buffe kamipun terpaksa memakai baju berlapis-lapis agar bisa melawan dinginnya malam.
  3. Karena suasananya yang dingin, jangan lupa bawalah makanan-makanan yang bisa menghangatkan badan. Kami membawa 4 cup mie instan dan 2 bungkus kopi instan waktu itu. Selain itu kami juga membawa beberapa makanan ringan seperti kacang kulit dan roti (walau rotinya ngga sempat dimakan). Kami juga tak lupa membawa beberapa batang coklat. Katanya sih untuk menaikkan mood. Mood untuk apa sih? Nah itu jawabannya bisa pembaca pikirkan sendiri he..3x
  4. Karena suasana yang dingin harus makan banyak supaya tidak terlalu terasa dinginnya. Di kamar ini tempat tidurnya spring bed yang cukup baik kualitasnya. Selimutnya cukup tebal dan kalau kita meringkuk di dalamnya lumayan cukup hangat.
  5. Kalau rekan-rekan berniat mau bawa mie cup instant, pastikan ada air panas di kamar. Bawalah termos ke dapur minta ke pelayan “air yang sangat panas”. Kenapa harus air yang sangat panas? Supaya panasnya bertahan lama. Oh iya satu termos yang ada di kamar itu cukup untuk membuat 2 cup mie instan dan 2 gelas kopi instant. Kamipun sudah membuktikan jika termos diisi air yang sangat panas di malam hari, panasnya masih cukup bertahan hingga pagi harinya. Keesokan paginya kami masih sempat menikmati masing-masing 1 cup mie instan dengan air panas itu. Itupun masih harus ditiup dulu sebelum dimakan.
  6. Kamar mandi dan WC-nya cukup baik. Kombinasi lampu yang berwarna kuning cukup memberikan kesan mewah di kamar mandi ini. Air panas untuk mandi tersedia walau kami sudah membuktikan ternyata panasnya lama sekali. Mungkin ini dikarenakan listrik untuk tempat ini baru menyala jam 5 sore dan dimatikan kembali jam 10 malam. Keesokan paginya kami sempat menikmati air panas ini namun karena listriknya sudah tidak menyala jadinya hanya sebentar saja air panasnya mengalir. Selanjutnya dingin se dingin-dinginnya.
  7. Jangan lupa minta obat nyamuk dan lilin di Mbak Ika (pengurus resort ini) sehubungan dengan jadwal listrik tadi. Jangan lupa juga minta payung karena siapa tahu lagi musim hujan sehingga payung sangat dibutuhkan untuk sekedar jalan-jalan ke lobby atau jalan-jalan menyusuri jalan setapak yang mengitari kamar-kamar di resort ini.
  8. Oh iya, pastikan tujuan rekan-rekan ke resort ini hanya untuk beristirahat. Di kamar tidak ada TV sehingga jika rekan-rekan ingin hiburan lain bawalah laptop atau alat hiburan lain. 
  9. Di kamar ini tidak ada tisu. Odol dan sikat gigi juga tidak ada di kamar mandi. Yang ada hanya handuk dan sabun hotel. Untuk itu bawalah tisu jika anda adalah orang yang tidak bisa lepas dari tisu. Pastikan juga membawa odol dan sikat gigi sendiri.
  10. Jika anda adalah “tukang minum” pastikan membawa ekstra botol minuman (dengan air minum di dalamnya) kecuali jika anda mau sedikit rajin bolak-balik ke lobby atau ke dapur untuk sekedar mengisi termos.
    11. Jangan lupa bawa senter, takutnya lampu jalannya ada yang tidak menyala sehingga tangga-tangga kayunya tidak kelihatan.
    12. Ada total 14 kamar di resort ini. Pastikan sewaktu pesan mau pesan tipe ranjang yang bagaimana. Ada single bed, double bed, atau twin bed.
Malam itu kami menikmati dinner buffe. Menunya cukup lumayan. Cocok dengan selera orang Indonesia. Ada sup ayam. Ada nasi putih (sepertinya nasi uduk), ada kentang. Lauknya ada opor ayam, udang selingkuh (dinamakan udang selingkuh karena mempunyai capit seperti kepiting, mungkin karena selingkuh dengan kepiting kali ya..). Sebenarnya kami mau ambil banyak-banyak karena memikirkan harganya tapi karena jaim jadi kita mengambil secukupnya saja. Kenapa harus jaim? Karena kami menjaga nama baik bangsa dan negara kita di mata dunia. Lho? Kebetulan bersama kami ada 1 grup turis dari Jerman (sepertinya..) sehingga kami takut nanti diomongin sama mereka, “Tuh..liat tuh.. pasti orang Indonesia tuh..makannya banyak..”.
Untuk dapat menikmati dinner buffe ini dikenakan biaya per orang Rp. 180.000 , mungkin 18 sampai 20 dollar jika di kurs ke USD. Untuk ukuran turis mungkin harga yang biasa dibayarkan yah.. Tapi namanya juga berlibur jadi yah.. dinikmati saja. Padahal kalau dihitung-hitung untuk kami berdua berarti total biayanya Rp. 360.000, wah.. bisa buat belanja seminggu tuh..di Wamena atau biaya belanja sebulan di Jakarta he..3x
Malam itu sehabis menikmati dinner buffe, lampu luar di depan kamar kami akhirnya dipasang. Akhirnya....walau cuma sempat menikmati terang ini selama 2 jam namun cukup membantu kami menikmati suasana malam itu. Ketika saya cek ke kamar mandi, air panasnya sudah mulai berasa hangat. Tapi karena kami berdua sudah mandi tadi sore kami putuskan untuk tidak mandi lagi. Informasi yang kami terima dari Mbak Ika, besok sarapan dimulai jam 07.00 WIT sampai jam 09.00 WIT. Dalam hati kami sudah bisa menebak pasti sarapannya roti panggang, omelet (alias telur dadar), minuman jus, dan buah.
Pagi keesokan harinya kamipun turun ke lobby. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIT. Mas Joko dan Erik sudah menunggu di lobby sambil menikmati sarapan ala barat. Roti, jus terong belanda, buah pisang, dan lain-lain ditemani dengan secangkir kopi. Untuk kami ternyata ada pancake pisang dan jus buah. Seperti pagi kemarin, rotinya sudah dipanggang. Kita tinggal menambahkan selai yang kita inginkan. Ada selai coklat, nenas dan strawberry. Selesai sarapan kamipun kembali ke Wamena. Tak lupa sebelumnya kami foto-foto di lobby hotel. Oh iya ternyata resort ini tak hanya ada di Lembah Baliem saja lho.. Pemiliknya juga membuka cabang resort di tengah gurun pasir di Mongolia. Wah.. kapan ya sempat menginap di sana (mimpi ka?).

Untuk informasi rekan-rekan, total biaya yang kami keluarkan adalah Rp. 1.695.000,- terdiri dari Room Rp. 950.000,- (satu hari), sarapan Rp. 75.000,-/ orang untuk tiga orang sehingga totalnya Rp. 225.000,- makan siang @ Rp. 50.000,- sehingga untuk dua orang Rp. 100.000,- teh panas @Rp. 20.000,- sehingga total untuk 2 orang Rp. 40.000,- buah @Rp. 10.000,- dan dinner buffe @Rp. 180.000,-. Yah.. lumayanlah..walau agak bingung juga dengan harga teh panas itu he..3x
Oke deh rekan-rekan. Saya tampilkan juga beberapa foto di blog ini (lihat blog: www.willysitompul.blogspot.com) sebagai pelengkap cerita. Kalau berminat menginap jangan ragu. Gunakan tips yang sudah kami beberkan di atas. Oh iya mengenai transportasi tidak usah khawatir ternyata resort ini bisa menyediakan antar dan jemput, namun karena waktu itu kami menginap bersamaan dengan rombongan bule-bule itu jadinya mobil (lebih tepatnya bis kali ya..) resort ini tidak bisa kami pakai. Saya sendiri tidak sempat menanyakan apakah ada biaya khusus untuk antar jemput ini. Tapi dicari saja informasinya ya..

Sampai bertemu di rekaman perjalanan kami yang berikutnya ya...