Jumat, 18 Maret 2011

Usia 34 - Merenung .... lagi....


Tanggal 15 Maret lalu usiaku menjadi 34 tahun. Usia yang udah ngga muda lagi. Ingin rasanya termenung-menung memikirkan apa yang sudah dicapai saat itu. Sudah 34 tahun... apa yang sudah kau buat untuk AKU? Duhh..rasanya bingung menjawabnya, itu baru satu pertanyaan...berikutnya makin banyak pertanyaan yang timbul apalagi setelah membuka facebook dan melihat komentar ulang tahun yang disampaikan teman-teman. Saking ngga cukup waktu membalas semuanya yahh.. akhirnya tinggal mencentang tombol "like" saja. Mudah-mudahan teman-temanku itu ngga marah atau jengkel karena cuma dikasih komen "like" aja...
Waktu devosi teman-teman tanya gimana rasanya berusia 34? Aku cuma bisa menjawab bahagia karena umurku paling tidak melewati usia 33, suatu usia yang sangat krusial menurutku. Tiga puluh tiga tahun Yesus berkarya, 33 tahun masa hidupnya. Andar Ismail juga menulis buku yang selalu berisi 33 renungan dari mulai Selamat Pagi, Selamat Paskah dan lain-lain. Aku juga sempat berkata kalau teman-teman belum berusia 33 tahun yah bersyukurlah masih ada waktu untuk berkarya sehingga pas usia 33 udah banyak karyanya. Aku ngga sadar kalau ternyata di ruangan devosi waktu itu sudah banyak yang usianya lebih dari 33 bahkan 34 atau bahkan 40? Untuk menutupi kegusaran, yah kutegaskan bahwa berkarya itu bisa apa saja. Yang sudah punya anak bisa berkarya lewat anak-anak mereka. menjadi seperti apa anak-anak mereka nanti yah itulah karya mereka.
Selanjutnya hari itu berjalan biasa saja seperti hari-hari lainnya. Teman-teman ADP Kurima sibuk dengan kegiatan mereka. Stafku Elpinar yang sibuk mencari tahu apakah akan ada kue buat "boss" nya, staf ADP Eruwok yang menghilang satu-satu walau akhirnya aku tahu mereka membantu pembuatan kue. Sampai akhirnya ada perayaan kecil yang fotonya saya pampang di atas.
Akhirnya, Terimakasih Tuhanku Yesusku atas usia 34 ini. Tolongkah Tuhan cepat-cepat berikan Hazael Zefanya bagi aku dan istriku. Penting banget lho Tuhan untuk punya anak saat usiaku udah segini...:-) Terimakasih buat istriku yang udah berlapar ria bersama, meluangkan waktu sepulang Puskes dan yang pasti staf-staf Eruwok ku yang terkasih. Kalian semua staf terbaik yang bisa dipunyai seorang manager ADP.

Amin.

Jumat, 04 Juni 2010

Hari-Hari di Soba

Rencana ke Soba sudah seringkali dibicarakan, mulai dari assessment yang belum terselesaikan oleh HOPE Project sampai memberikan usulan ke CSMP ADP Kurima untuk mengunjungi Soba dalam rangka proses APR.

Kenapa Soba begitu menarik? Daerah ini adalah satu distrik (kecamatan) yang ada di bawah kabupaten Yahukimo. Untuk menuju ke sini dibutuhkan 2 hari perjalanan lewat jalan darat atau 15 menit penerbangan dengan menumpang pesawat AMA (Associated Mission Aviation) atau MAF (Mission Aviation Fellowship). Oh iya, untuk perjalanan darat jangan dibayangkan bahwa perjalanan itu ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sama sekali tidak! Jalan darat berarti jalan kaki. On foot! Kata teman-teman kulit putih yang masih sering kita temui di Wamena.
Keindahan alam justru menjadi factor yang paling menarik ketika berkunjung ke Soba. Tidak lengkap seseorang bekerja di ADP di Wamena kalau belum ke Soba. Apalagi yang bekerja di ADP Kurima belum lengkap lho kalau belum pernah ke Soba... Apa sih yang indah di Soba? Pertama, Soba adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh bukit-bukit terjal di semua sisinya. Pemandangan yang kita lihat adalah kehijauan di sekeliling desa ini, jalan-jalan setapak menuju bukit-bukit, landasan pesawat terbang karya para missionaris bersama masyarakat, dan langit biru nan cerah yang sebagian besar ditutupi kabut. Kedua, air terjun yang menghiasi sekeliling desa Soba merupakan pemandangan yang tak terkira. Wuih indahnya...! 3 air terjun tampak mengalir dengan deras. Mungkin ini yang menimbulkan ide bahwa di Soba harus harus ada pembangkit tenaga listrik tenaga air. Sejak May 2008, Soba sudah punya fasilitas listrik. Bersama masyarakat dan bantuan dari Kabupaten, proses pengerjaan dimulai sekitar awal February 2008 dan berhasil diselesaikan pada bulan May 2008. Kerja keras masyarakat dalam menyediakan bahan lokal dan tenaga merupakan salah satu faktor yang membuat penyelesaian mikro hidro tersebut berjalan dengan lancar. Kalau saya disuruh memperkirakan, prediksi saya kekuatan mikro hidro milik Soba ini adalah sekitar 25 kVA. Dengan power sebesar ini saya yakin sebenarnya masih dapat menarik kabel hingga paling tidak melayani 3 kampung di sekitar Soba (Soba, Liliba, Oakbisik). Tapi ini perhitungan kasar saja lho...dengan asumsi bahwa hanya digunakan untuk lampu saja dan tidak semua warga mempunyai perangkat audio seperti VCD atau DVD.

Pagi itu (17/03) kami datang ke bandara dengan disiplin dan tepat waktu. Sms dari Dave yang saya terima pada malam sebelumnya agak mengagetkan. “Informasi terbaru, kita diharuskan jam 5 pagi sudah ada di bandara” begitu kira-kira bunyinya. Sebenarnya sih saya ngga percaya karena selama ini belum pernah tuh AMA terbang gelap-gelap. Tapi siapa tahu ada perubahan, pilot-pilotnya makin handal sehingga sudah berani terbang pagi pagi sekali. Yang jelas saat itu semua masih mengantuk. Sekitar jam 4.30 pagi Isman dan Dave sudah ada di depan jalan di depan rumahku. “Pak, kami sudah di depan” begitu bunyi sms Dave. Dengan langkah gontai aku bergabung dengan mereka. Telur rebus 3 biji belum sempat kumakan (eh...satu lagi mana ya? Astaga kayaknya masih di ransel. Ups!) teh panas pun belum sempat kuhabiskan. Kamipun bergegas menuju rumah Solekman melewati penginapan Putri Dani untuk menjemput Vinna. Ternyata Vinna terkunci karena petugas hotel belum bangun dan mungkin tidur di tempat lain. Isman pun turun dan berusaha mengebel dan mengetok pintu depan. Lama menunggu, kesempatan ini tidak kusia-siakan. Dua butir telur rebus langsung kusantap dengan lahap. Lapar toh.. Akhirnya Vinna berhasi keluar dan kami langsung menuju rumah Solekman. Di perjalanan, ternyata kami mendapat kabar bahwa Pak Yusak dan Rida sudah ada di bandara. Kamipun langsung menuju bandara. Di jalan menuju bandara kami bertemu satu mobil kijang Innova dan ketika kaca dibuka tampaklah Rida di balik stir mobil. “Belum ada orang!” katanya. Kami pun merasa sebal, wah sialan nih orang-orang AMA. Dalam hati aku ingin sekali menemukan orang AMA yang mengsms si Dave, membejek atau paling enggak mencekik lehernya sedikitlah..jangan sampai mati..cukup sampai sesak napas saja he..3x. Rupanya kesempatan menunggu sampai orang-orang AMA datang dimanfaatkan Rida untuk belajar mobil.
Ketika kami ke bandara ternyata memang gerbang belum dibuka. Makin dongkol deh.. kamipun akhirnya memakai waktu sedikit untuk melanjutkan tidur dan memuaskan rasa kantuk agar bisa terselesaikan. Namun ternyata tidak bisa tidur nyenyak. Satu staf AMA datang dan membuka gerbang. Mobilpun masuk ke pelataran parkir AMA.

Rida rupanya sudah selesai belajar mobil. Dua mobil langsung berkumpul di pelataran parkir AMA. Waktu menunjukkan sekitar pukul 05.30 WIT. Kesempatan menunggu dimanfaatkan oleh Dave dan Rida untuk foto-foto walaupun masih gelap.

Duh...pikiran buntu nih..Rupanya sudah jam 13.50 WIT. Saat aku menulis ini adalah hari kedua kami di sini. Sudah jam makan siang ni...lauk yang tersedia baru kelinci masak rica-rica..sedap kayaknya. Tapi lauk lain belum matang, ayam dan telur goreng. Menunggu lebih baik demi kebersamaan. Apa daya otak sudah buntu...nanti lagilah kulanjutkan.
Ok udah makan siang. Habis makan siang trus jalan-jalan ke lokasi PLTA mikro hidro Soba. Tapi itu cerita di hari kedua. Kita lanjut dulu ya....
Ketika sudah agak terang, staf-staf AMA mulai bermunculan. Barang-barang kemudian di dorong dengan menggunakan gerobak ke arah pesawat. Tapi pilot belum tiba. Kamipun foto-foto. Karena udah agak terang aku ikut foto-foto juga. Hasilnya dapat dilihat diattachment foto-fotonya ya..

Akhirnya pilot datang, cek dan recek dilakukan. Dari mulai membilas kaca depan sampai memeriksa oli pesawat. Oli samping atau oli apa tuh ya.. Ngga ngerti lah yang penting sepertinya semuanya oke. Sebelumnya aku sempat menemani Vinna dan Solekman yang memproses pembayaran ongkos pulang pergi carteran ke Soba, sebanyak Rp. 18 juta diserahkan dan dibayar tunai ke pak Yanto kepala AMA di Wamena. Sambil aku meminta sekali lagi kesediaan pak Yanto untuk menanyakan atau mengusahakan agar paling tidak kami bisa dijemput hari Sabtu.

“Oke penumpang silahkan naik” seru salah seorang staf AMA menyuruh kami semua naik. Dave dan Rida duduk di kursi depan, Vinna di belakang Rida dan Solekman di belakang Vinna. Lajur kiri di belakang Dave hanya diisi barang-barang. Aku sendiri duduk paling belakang pas di dekat pintu masuk penumpang. Pak Yusak mengambil tempat di sisi kanan pilot. Wah pak Yusak terpilih untuk jadi co-pilot nih..
Pukul 06.30 kami berangkat (kira-kira) udara kelihatan cerah. Pesawatpun berjalan menuju landasan pacu terus hingga sampai di batas garis hitam putih yang mirip zebra cross. Setelah itu pesawatpun berputar dan akhirnya kami terbang... Sebelum menuju landasan pacu tak lupa Rida berdoa untuk kami semua agar perjalanan berjalan dengan lancar. Di udara kami terpana melihat pemandangan di sisi kiri maupun kanan kami. Kami seperti melintas di celah-celah bukit. Awan-awan ada di sekeliling kami. Keindahan demi keindahan yang kami saksikan tak luput dari jepretan kamera yang dibawa oleh Dave. Bergantian Dave dan Rida mengambil gambar pemandangan yang ada di sekeliling kami.

Sekitar 10 menit di udara, Soba sudah mulai terlihat. Landasan pacunya dan rumah-rumah yang masih tampak kecil terlihat dari pesawat terlihat jelas ada di bawah kami. Pilot sekilas berkata kepada pak Yusak menunjukkan beberapa bagian landasan pacu yang belum dikupas. Itu sebabnya kata pilot MAF tidak mau untuk sementara waktu mendarat di Soba. Mereka baru mau mendarat kalau landas pacu sudah bersih dari rumput-rumput. Pesawatpun berputar satu kali dan akhirnya kami mendarat di Soba. Masyarakat sekitar tampak ramai menyambut kedatangan kami (atau kedatangan pesawat he..3x). Memang menurut masyarakat sudah lama tidak ada pesawat yang masuk ke Soba. Kami pun bertemu tukang-tukang Toraja yang sedang ada pekerjaan di Soba. Merekapun menunggu pesawat namun tetap tidak bisa karena pesawat yang mengantar kami harus segera ke Dekai kata pilotnya. Kamipun masuk ke dalam rumah klasis tempat dimana staf WVI menginap. Padahal menurut penuturan masyarakat di Soba ini ada rumah tamu tapi kalau staf WVI tetap menginapnya di rumah klasis Woso – Soba ini. Yang kami lakukan pertama kali adalah sarapan pagi. Lauk yang dibawa dari Wamena yaitu nasi kuning dan ayam segera kami santap dengan lahapnya. Itupun menurutku masih kurang. Tapi ya sudahlah nanti toh sebentar lagi teman-teman sudah bergerak untuk mempersiapkan menu santap siang. Begitu pikirku.

Sehabis sarapan kami langsung menuju ke sekolah yang ada di sebelah landas pacu. Pergi menuju sekolah ini memang enak karena jalannya menurun tapi nanti pulangnya aku sudah terbayang bakal ngos-ngosan apalagi dengan membawa beban sekian kilogram lemak ini..hiks. Tapi tetap kita melakukan proses APR dengan senang hati. Sebelumnya aku sudah meminta pak Yusak untuk mempersiapkan paling tidak 5 orang calon enumerator yang akan kami pakai untuk melakukan assessment terhadap 30 hamba Tuhan yang ada di seputaran Soba dan sekitarnya (Oakbisik dan Liliba). Kamipun tiba di sekolah. Anak-anak mulai berbaris diatur oleh seorang guru. Di sekolah ini ternyata hanya ada 3 orang guru yang namanya tercantum di papan daftar guru. Tiga guru itu sudah termasuk dengan kepala sekolahnya. Duh...kasihan sekali tapi apa mau dikata memang banyak penerimaan guru PNS namun ternyata penempatannya belum merata juga. Sampai kapan ya baru bisa merata. Kayaknya ngga bakalan merata tuh kalau masih ada oknum-oknum yang bisa disuap untuk mendapatkan penempatan yang lebih enak (huss...nanti Rida marah nih kalo baca ini. Dia kan minta penempatan di dinas he..3x). Proses APR berlangsung lumayan cepat. Sebanyak 44 anak diproses pada hari itu. Mereka harus mengisi secarik surat yang akan dikirimkan untuk sponsor mereka nanti. Buat yang bisa menulis dipersilahkan menulis sementara buat yang belum bisa menulis diperbolehkan untuk menggambar dengan spidol warna yang telah disediakan.

Sehabis proses APR kamipun kembali ke pos. Teman-teman mulai mengolah bahan-bahan makanan yang dibawa dari Wamena. Siang itu kami menyantap ayam goreng sebagai lauk kami. Sehabis makan satu-persatu dari kami mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tentu tidur siang adalah pilihan yang utama karena pagi tadi tidak seorangpun dari kami yang mengaku tidurnya cukup hari itu.

Sore harinya Dave memutuskan untuk mandi di kali. Serombongan anak-anak penggemar Dave mengikutinya dengan setia dari belakang. Menurut penuturan Dave anak-anak ini sempat jadi asistennya di kali lho...kalau butuh sabun Dave tinggal bilang sabun dan salah satu anak langsung mengambilkan untuknya. Memang artis Wamena ini punya penggemar di mana-mana.


Hari II (18/3)

Pagi ini kami semua memutuskan untuk pergi ke kali. Hanya Rida dan Vinna yang memutuskan untuk tidak mandi tapi ikut juga pergi ke kali. Oh iya untuk foto-foto di kali ngga bisa ditayangkan di sini ya...takut nanti melanggar UU APP. Tunggu dulu, sarapan dulu. Hari ini kita sarapan apa yach? Ternyata pagi ini kita melahap ikan asin goreng bersama indomie rebus. Hmm..sedap juga dan lauknya cocok. Sehabis makan kamipun bersiap-siap ke kali.
Air di kali dingin sekali. Tapi lama kelamaan aku juga terbiasa. Airnya deras dan kalau ngga jaga keseimbangan bisa kebawa arus tuh.. Aku mengambil sisi aman di tempat orang sebelum kami mandi. Sambil menikmati segar dan dinginnya air di kali tersebut kamipun tak lupa ritual-ritual saat mandi yaitu bershampo dan memakai sabun mandi. Habis mandi dengan celana yang masih basah-basah kami kembali ke rumah klasis.

Habis mandi ternyata Dave sudah punya rencana untuk mengajar di sekolah. Sekalian untuk memproses APR yang mungkin belum terselesaikan kemarin karena ada anak yang tidak masuk sekolah atau memang baru datang pada hari itu. Vinna dan Rida ikut serta dengan Dave ke sekolah sementara aku dan Solekman memutuskan untuk bekerja dengan menggunakan laptop di ruang baca di rumah klasis. Memang Soba ini sangat menyenangkan, listrik 24 jam non stop sehingga memungkinkan untuk bekerja dengan laptop. “Tinggal pasang VSAT saja” kata Solekman “mau deh gue kerja di sini sebulan atau dua bulan” lanjutnya. Menurutku sih tidak Cuma VSAT (untuk koneksi internet) dong tapi juga harus ada sinyal HP he..3x maklumlah urusan kangen-kangen dengan istri penting juga toh..

Tak berapa lama kami bekerja ternyata di kejauhan sudah terdengar suara Dave dan kawan-kawan. Rupanya mereka sudah selesai mengajar dan proses APR. Seperti hari kemarin proses pembuatan makan siang dimulai nih.. kali ini ternyata ada 2 jenis lauk yaitu ayam kampung dan kelinci kampung (?). Rupanya penggemar kelinci hanya sedikit. Sebagian besar ternyata penggemar ayam. Kelinci dimasak rica-rica sementara ayam dimasak gulai. Ternyata daging ayam yang segar memang beda dengan ayam es yang biasa disantap di Wamena. Namun kali ini ternyata pengolahan makanan memakan waktu cukup lama. Kami baru mulai makan sekitar pukul dua siang kurang sepuluh menit. But it’s worthed man! Lauknya mantap sekali apalagi kelinci rica-ricanya. Kayaknya malam ini masih makan lauk itu lagi tuh. Ngga apalah yang penting wuenak...

Habis makan pak Yusak mengajak pergi ke PLTA mikrohidro Soba. Perjalanannya hampir sama dengan perjalanan menuju ke sekolah menurun-menurun pada awalnya dan yah pasti pulangnya ngos-ngosan lagi nih pikirku! Ternyata PLTA ini sangat menarik untuk dilihat dan dipelajari. Dari bincang-bincang dengan pak Yusak saat kami tiba kembali di rumah klasis ternyata baru sekitar 20 KK yang terlayani oleh PLTA ini. Sayang sekali, pikirku, padahal tenaga yang dihasilkan cukup besar. Prediksiku sendiri dari awal sepertinya tidak salah. Kekuatan PLTA Soba ini adalah sekitar 25 kVA. Artinya kalau hanya melayani 20 KK berarti tiap KK mendapat supply kira-kira 25.000 kVA dibagi 20 yaitu 1.250 kVA. Wow! Sementara di Wamena masih ditemukan meteran listrik PLN dengan power supply hanya 400 kVA. Soba memang mantap euy! Oh iya tiap-tiap keluarga yang dilayani kelistrikannya harus menyetor iuran sebesar Rp. 20.000 per KK artinya pendapatan sebulan dari PLTA ini hanya Rp. 400.000,- bayangkan dengan listrik di Wamena yang tiap bulannya minimal harus membayar Rp. 60.000,- itupun kalau sama sekali tidak pakai atau pemakaian minimal sekali. Berarti mikro hidro menurutku adalah jalan keluar yang menarik untuk masalah kelangkaan listrik di Papua apalagi jika daerah itu memiliki air terjun seperti Soba. Eh pembaca ternyata tidak harus ada air terjun juga. Kalau tidak ada ternyata bisa membuat air terjun buatan juga. Menurut literatur yang pernah saya baca paling tidak air harus diterjunkan dari ketinggian 3 meter namun debit air harus konstan. Jumlah yang bisa dilayani dengan ketinggian 3 meter ini kira-kira adalah sekitar 7 kVA. Kecil sih tapi kalau 1 KK diberi jatah 100 VA misalnya (untuk lampu saja) maka dengan 7 kVA sudah bisa melayani 70 KK. Wow! Kalau di Papua sudah 1 desa tuh!

Waduh pikiran beku lagi nih. Selain karena udah mulai dingin. Udah mulai lapar juga. Selain itu hari kedua sudah mau selesai nih. Jadi besok baru disambung lagi...(18.55 end)
Hari III (19/3)

“Pesawat....” teriak anak-anak kecil mengagetkan kami. Ternyata pagi ini ada pesawat masuk. Rupanya pesawat tersebut hendak menjemput tukang-tukang yang sudah lama menunggu-nunggu datangnya pesawat. Tapi apa mau dikata, tukang-tukang tersebut ternyata sudah memilih untuk berjalan kaki.

Pagi ini aku bangun tidur dengan perut lapar. Aku lihat tidak ada yang bisa dimakan nih sementara teman-teman sepertinya belum ada rencana mau masak apa. Akhirnya ku masak nasi goreng dengan bumbu instan yang ada. Setelah itu kugoreng telur dadar. Lumayan... Ternyata teman-teman pun memasak nasi goreng juga. Mungkin terinspirasi karena aku masak nasi goreng. Cuma mereka lebih kreatif lah.. ada tambahan lauknya yaitu sambal goreng telur bulat.

Sehabis makan, berjalan-jalan di pasar jadi kegiatan kami. Beberapa orang enumerator yang kami kontrak untuk assessment sudah mulai berdatangan membawa kuesioner yang telah terisi. Sebagian sudah lengkap, sebagian lagi belum. Yang belum selesai terpaksa harus mengulang atau melengkapi pekerjaannya. Oh iya hari ini menyenangkan karena ternyata cuaca cerah sehingga telepon satelit yang kami bawa bisa dipakai menelepon. Istriku kaget pas aku telepon. Yah...lumayanlah paling enggak mengurangi rasa rindu dan bisa memberi kabar kalau aku di Soba baik-baik saja.

Teman-teman memutuskan untuk mandi di kali lagi tapi waktu sudah menunjukkan jam 11 ketika mereka mau ke kali. Aku sendiri sudah mandi di kamar mandi jam 10 pagi. Habisnya dah ngga tahan pengen mandi lagipula di Wamena belum pernah mandi pagi lewat jam 10 (he..3x). Merekapun pulang dengan membawa foto-foto di kali. Aku pun kemudian memindahkannya ke laptop Zyrex mini yang sengaja kubawa menggantikan sementara laptop kantor yang kusimpan di rumah.

Apa lagi ya? Makan siang kami hari ini kurang variatif. Sayur yang dibeli ternyata kurang menarik untuk dimasak. Sarden kaleng akhirnya menjadi lauk kami siang ini ditemani dengan gorengan ayam dan kelinci sisa lauk kemarin.

Sore harinya saat sedang bersantai di ruang baca kami dikejutkan oleh suara napas berat seperti orang tidur mengorok. Ternyata pak Yuben penjaga rumah ini (sebenarnya menurut pak Yusak bukan penjaga, hanya datang bantu-bantu saja) sudah terkapar di kamar mandi. Rupanya dia punya penyakit epilepsi atau orang sini biasa bilang mati-mati ayam. Menurut pak Yusak penyakit ini sudah lama diderita pak Yuben. Bisanya kambuh tiap-tiap tahun. Setelah terkapar barang satu dua hari biasanya pak Yuben kembali normal seperti sedia kala. Pak Yusak sebenarnya sudah melarang pak Yuben datang ke rumah klasis namun mungkin pak Yuben yang memang sudah akrab dengan staf ADP Kurima terutama Rida mungkin terbeban untuk bantu-bantu dan memang menurut aku sih lumayanlah peran pak Yuben selama kami ada di sini sampai hari ini. Sisa sepanjang hari ini tidak terlalu menarik, sebagian waktu diisi oleh teman-teman dengan main game di laptop.

Malam ini teman-teman tidak masak. Aku sedikit lapar namun hipere goreng cukup membantu menghilangkan lapar. Tandas lah hipere goreng yang masih sisa di piring itu...

Hmm...waktu menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit nih...aku baru bangun dari tidur sore tadi dan belum berasa mengantuk. Ngapain lagi ya? (end 07.55pm)

Ternyata setelahnya pak Yusak datang membawa kelinci goreng. Jadilah kita makan malam walau peserta makannya makin sedikit.

Tidur ah....
Hari IV (20/3)

Hari ini kami isi dengan perasaan was-was apakah pesawat akan menjemput kami. Ternyata hingga jam 11 lewat tidak ada tanda-tanda pesawat masuk. Kabut dan hujan gerimis mengisi sepanjang pagi ini. Tidak ada sinyal untuk telepon satelit.

Hari ini diisi teman-teman dengan bermain game yang ada di laptop. Masing-masing sibuk dengan game sendiri-sendiri. Aku sendiri lebih memilih untuk membaca. Hari ini kutamatkan buku Pendidikan Alternatif Qaryah Tayyibah. Isinya sangat menarik. Aku sendiri berpikir kenapa ya WVI tidak membuat metode seperti ini. Biayanya murah dan yang penting ternyata untuk mewujudkan pendidikan yang baik harus ada hubungan dengan dunia luar dalam hal ini penyediaan akses internet selama 24 jam. Aku jadi membayangkan kalau seandainya bisa membuat sekolah yang serupa di wilayah layanan WV yang ada di Papua. Tapi lagi-lagi pikiran negatif tentang partisipasi masyarakat menghantuiku. Kalau mereka menganggap itu tidak penting itu bagaimana? Selama ini masalahnya selalu begitu tidak ada hal yang kita lakukan yang dianggap penting oleh masyarakat. Yang dianggap sebagai kebutuhannya. Contoh nyata saja kutemukan di Soba ini. Air banyak sekali, jernih sekali tapi berapa banyak anak-anak sekolah yang mandi sebelum berangkat sekolah? WV sudah membagikan begitu banyak handuk dan sabun mandi. Sikat gigi dan lain-lain. Tapi yah itu tidak dianggap sebagai kebutuhan penting oleh mereka.

Aku lupa sepanjang sisa hari ini ngapain aja. Yang jelas sorenya aku tidur pulas sekali mungkin karena kepala mulai pusing dan persendian rasa tidak enak.
Hari V (21/3)

Hari ini hari Minggu. Aku mulai terserang gejala-gejala flu dan awalnya memutuskan tidak ikut ke gereja karena jalannya yang mendaki. Dave sudah memutuskan tidak ikut. Takut pingsan di jalan kalee...
Aku, Solekman, dan Rida bersama pak Yusak dan anaknya Kia berjalan pelan-pelan menyusuri jalan setapak menuju gereja GIDI jemaat Imanuel Soba. Kadang kami harus beristirahat untuk mengambil napas. Apalagi aku yang gampang sekali sesak, wah kayaknya sudah tua sekali padahal tanggal 15 Maret lalu baru ultah ke 33. Saat-saat seperti ini selalu ada tekad harus lari pagi...harus lari pagi tapi begitu sampai di Wamena paling lupa lagi dengan tekadnya..:-)
Akhirnya kami sampai di gereja, belum ada tanda-tanda mau mulai. Jam tanganku menunjukkan pukul 10.20 WIT. Wah kira-kira selesai jam berapa yah nanti? Di depan gereja ibu-ibu bersama anak balitanya terlihat duduk berkeliling. Satu orang ibu tampak berbicara ke ibu lainnya. Semua ibu dengan serius melihat ke Alkitab masing-masing seraya satu dua ibu tampak mengangguk-angguk setiap ibu tadi berbicara. Ibu itu suaranya tegas. Tampaknya mereka sedang membahas beberapa ayat di dalam Alkitab. Aku tidak tahu ayatnya karena aku, Solekman, dan Rida sudah sibuk foto-foto he..3x
Akhirnya gereja dimulai. Bacaan hari ini adalah Ibrani 12: 22 isinya tentang apa ya? Isinya tentang bukit Sion sebagai tempat terakhir tujuan orang-orang yang mengikut Yesus. Bukit Sion di sini bukanlah bukit Sion secara fisik tapi sebuah tempat yang digambarkan seperti Kanaan di perjanjian lama. Oh iya hari ini kami mendapat hadiah sebuah lagu dari kaum perempuan. Hadiah itu diberikan kepada kami sebagai orang-orang baru yang baru saat itu beribadah di sana.
Sekitar pukul 12.15 ibadah selesai. Kami kembali berjalan menuruni bukit setelah sebelumnya menyalami beberapa orang penatua di sana.

Teman-teman sedang menyiapkan makan siang. Lauk semakin menipis nih..tapi yang penting makan toh...semangat! (di luar rintik-rintik hujan turun lagi, mudah-mudahan besok ngga hujan..)

Siang ini.....

(wah..baru lihat lagi file ini setelah 3 bulan dan dah lupa semuanya (04/06) wkwkw....intinya akhirnya kami semua kembali ke Soba tanggal 22nya eh ato tanggal 23nya ya? Yang jelas kami bertiga aku, Solekman, dan Dave terlambat 1 hari di Regio Meeting dan ketika kami masuk ke ruang meeting di hotel Yasmin langsung disambut ucapan selamat datang dari mas Wangsit yang waktu itu ternyata ketua kelas. Tapi sambutan ngga lama, ROM langsung menyambar “sudah..suruh mereka bikin kesimpulan saja...” he...he..he... demikianlah rekan-rekan semua pengalaman kami di Soba yang berakhir dengan keceriaan di regio meeting. God bless us all..!)

Senin, 15 Maret 2010

Usia 33?

Hari ini genaplah (atau ganjillah?) usiaku 33 tahun. Tadi malam ngga bisa tidur. Seperti ada yang menjadi beban pikiran. Pagi ini aku terduduk, berpikir, kira-kira apa-apa saja yach yang menjadi beban pikiranku. Terduduk setelah saat teduh yang mengagetkan sekaligus menyadarkanku. Kaget? Karena judulnya, “Reaching Up to Heaven”. Oh no! Tiba-tiba terlintas bahwa Tuhan Yesus saja umurnya 33 tahun. Terlintas pikiran bahwa harus hati-hati di jalan. Jangan sampai kesenggol becak trus masuk parit dan tenggelam. Lebay? He..3x masak masuk parit tenggelam. After all, itu hanya salah satu pikiran saja yang sempat melintas. Yang pasti renungan hari ini sangat menyadarkanku tentang kehidupan doaku selama ini. Tentang kerinduan yang seharusnya sebagai pengikut Kristus yaitu lepas dari kehidupan badaniah. Lepas dari segala kesakitan. Kalau aku melihat ke tubuhku mungkin kerinduan untuk lepas dari tubuh yang berat penuh lemak karena kebanyakan makan B2 dan berubah menjadi tubuh yang ringan yang bisa melayang-layang.

Tapi tunggu dulu ah... Tadi pagi istriku telepon. Dia saja masih banyak harapan kepadaku. Agar cepat punya anak, cepat jadi bapak, cepat naik pangkat (he..3x), dan berbagai cepat yang lain. Yang pasti apa harapan istriku tentu juga menjadi harapanku. Harapan kami sebagai satu keluarga. Ini baru istriku lho...belum lagi kalau buka facebook entah berapa ucapan selamat yang ada di situ.

Yang pasti aku sadar kalau usia bukan penanda kedewasaan. Aku sadar walau usiaku sudah 33 tapi seperti merasa belum dewasa. Masih merasa muda (he..3x) dan kadang berpikir seperti kanak-kanak dan berkelakuan seperti kanak-kanak. Kadang malas bangun pagi, malas mandi, dan yang paling parah adalah malas berdoa. Aduh...Thanks Lord Jesus kalau pagi ini aku sudah diingatkan lagi.

Apa kira-kira ya yang menjadi beban pikiranku? Apakah interview yang hari ini rencananya akan berlangsung? Apakah pikiran harus traktir teman-teman dimanakah? Atau mungkin pikiran-pikiran dan keluh kesah lain yang mungkin tak terucapkan sebagaimana tertulis dalam renungan hari ini di Roma 8:26? Takjub juga aku mengetahui bahwa saat kita berdoa ternyata Roh Allah turut berdoa bersama-sama dengan kita. Bahkan doanya lebih panjang. Lebih lengkap. Mendoakan segala keluh-kesah dan kebutuhan kita (hiks....air mata jatuh). Artinya, sebenarnya kita ngga perlu khawatir bahwa doa kita ngga komplit. Ada Roh Allah lho yang ikut berdoa bersama kita....:-)

Ternyata aku masih ngga bisa mengidentifikasi beban pikiranku yang membuatku ngga bisa tidur nyeyak semalaman. Tidur..terbangun..tidur lagi..dan terbangun lagi... Aku hanya bisa teringat doa istriku pagi ini yang mendoakanku. Harapan-harapannya, cita-cita kami, dan berbagai hal lain. Ya Tuhan aku percaya lewat RohMu banyak hal yang ingin kami sampaikan walaupun kami tak mengerti kebutuhan dan kerinduan kami sendiri.

Hmm...akhirnya sudah jam tujuh lewat lima pagi nih. Saatnya bikin teh dan roti bakar untuk sarapan. Terus apa esensinya (teringat seorang teman yang biasa menggunakan istilah ini..)? Esensinya adalah, berapapun usiamu sekarang tetaplah berkarya. Hidup bisa naik dan turun. Kehidupan rohani bisa naik dan turun tapi jangan lupa berdoa. Dan kalau berdoa, berdoalah dengan hati bahkan ngga perlu berkata-kata. Karena saat berdoa Roh Allah juga turut berdoa. Better to have heart without words than to have words without heart.

Amin. Selamat Ultah ya Will… (lho?). Tuhan selalu memberkatimu dan keluargamu.

Selasa, 08 Desember 2009

Happy 6th month anniversary!



It is two day after December 6 after I realized that it has been six months of relationship built with my fiancée. Hell, it was awkward at first I decided to marry someone I just know for almost a year but finally decision should be made as some plans already run and done. I just wonder about it and took several time to reflect myself whether this is something that I really wanted. My first trip to Medan just to know her happened unpredictable and unplanned. I just followed my intuition and what my heart brought me to. No pain no gain, that word always echoed in my head during the time. A lot of relationship before that not gone well had made my heart as hard as steel. Not easy to enter it but anyway I took the trip!

It was June 6, 2009 that we decided to commemorate as our anniversary date. I did not want it as a rush thing to do. I also did not want it as a must to do. Better took it as Godly plan that bring kindness to my chaos life.

It is December 8, 2009 now. I just realized how important she is – someone that I will spend my entire life with. Someone that I hope with standby me, supporting my works, fills my thirst of love, and grows old with me :-)

Happy 6th month anniversary!

Just another day in Dekai!

I am in the middle of confused and a little bit distress while writing this article. It has been 2 days since I was arrived in Dekai for the purpose of giving HIV and AIDS illumination for government officials. I was incidentally invited by the local AIDS commission of Yahukimo region. Why confused and distress happened to me? It is only because the uncertain condition of my flight back to Wamena. It is 08.55 in the morning now and still no news from Reynold regarding my departure. After all, when there is a chance like this writing is the most common sense to do.

This is my second trip to Dekai the capital of Yahukimo region. My first trip was in 2007 (perhaps?). With a quick glance after my arrival two days ago there has been a lot of changing in this city. Roads are hardened with stone though not yet asphalt. But the concept is really amazing by putting the development of roads first before the building. Some building was built in a scattered location to make sure all areas will be growing at the same time.

Although worry ness might happened about the strength of building foundation, the head of region office already built in two floors! Even in Wamena I hardly found two floored building but here I saw a new building like in the middle of the forest. Then I was confirmed that the house of representative office also already built in two floored.


Some says Dekai is like Wamena in the old days. In the beginning Wamena was built it was look alike what Dekai did today. Land was dominated by government after several agreements with local tribal chiefs (off course with several payments too!). About 64 kilometers squares were paid in several stages for the capital city of Yahukimo. Well, it was worth looking at what happened now. The development city of Dekai is able to run without interruption and instability. It was predicted in next 5 years this city will grown up as one of major city in middle mountain of Papua Island.

Hmm… It is 9.15 now and still no news about my flight. Fonny just texting me about the auction of our old office property that will run today. Oh my God! And my attendance is expected in the meeting of all project staff today. Actually, the meeting already run from yesterday but since some decision has to come out from the mouth of manager my present is very important.

Hhh… no more ideas to write! It is 9.30 now, and still no news. December 4, 2009 today and it is just another day in Dekai!*





*Well guys, I finally departured from Dekai on the same day at 11.00 WIT. Guess what? I took the airplane without ticket! Amazing isn't it?

Senin, 20 Oktober 2008

Bukan Tuhan yang Salah….


“Jadi gimana Nda, kamu mau ngga jadi pacarku?” Aku mendesak Enda untuk menjawab. Sekilas kulirik arloji di pergelangan tanganku. “Wuih sudah jam setengah dua belas malam, gawat nih…” pikirku.
Jayapura memang kota yang relatif aman, tapi di beberapa tempat masih saja banyak geng-geng berkelompok yang sedang mabar. Apa tuh? Mabuk bareng.

“Aku sudah punya pacar…” jawab Enda lirih setelah terpekur beberapa lama. Dia lalu menatapku. Kali ini aku benar-benar ngga tau lagi harus mengartikan apa lagi arti tatapannya.
“Yang aku mau kamu jawab iya apa ngga Nda, bagiku itu bukan jawaban” tukasku berusaha menegaskan. Sekilas kupikir aku ini keterlaluan juga, udah tau dia udah punya pacar eh..masih dideketin juga. He…3x namanya juga usaha.

Dua hari yang lalu

Hari itu hari Jumat malam, aku masih belum bisa tidur. Jam dinding di kontrakanku menunjukkan pukul setengah satu malam. Di meja kulihat tiket Avia Star maskapai penerbangan yang akan membawaku besok ke Jayapura. Perasaanku ngga tenang, bercampur aduk antara deg-degan campur was-was. Lho? Jadi apa tuh? Memang di Jayapura akan ada pertemuan mulai hari Senin. Namun aku sengaja berangkat hari Sabtu. Biar bisa malam mingguan! Pikirku. Sejenak terbayang wajah Enda, gadis yang kutaksir sejak dua bulan lalu. Duh cantiknya! Aku jadi deg-degan. Aku teringat waktu pertama menyatakan perasaanku ke dia. Jawabannya simple “Aku udah punya pacar…” katanya waktu itu. Sejak itu aku langsung mengubur perasaanku dalam-dalam dan berusaha bersikap biasa padanya. Aku masih ingat waktu workshop sebulan yang lalu di Jayapura beberapa teman dari Jakarta yang tahu statusku masih single berusaha menjodoh-jodohkanku. Ada yang mau menjodohkanku dengan temannya dan ada juga yang mau menjodohkanku dengan adiknya. Wah, ternyata aku masih laku juga yah..he..3x. Waktu itu aku ingat Enda ada juga dalam workshop itu, namun aku sudah bersikap biasa saja padanya waktu itu.
Sudah jam satu pagi! Aku masih saja belum bisa tidur. Masih terbayang berbagai peristiwa bersama Enda. Aku teringat waktu Enda memintaku untuk meng-edit film tentang kegiatan yang tempat kerjaku lakukan. Oh iya, aku bekerja di salah satu lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat. Lokasinya di sebuah kota kecil bernama Wamena. Wamena itu dimana? Di pulau Papua, tepatnya di tengah-tengah pulau itu. Udaranya sejuk karena dikelilingi banyak bukit dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Eh, malah cerita soal Wamena. Kembali ke ceritaku tadi, waktu itu kami melewatkan malam berdua di sebuah kamar hotel di Jayapura. Karena base-ku di Wamena jadi setiap ke Jayapura harus menginap di hotel. Tapi jangan berpikiran negatif lho.. Karena kita berdua adalah anak-anak Tuhan yang menjaga kekudusan masing-masing…he…3x
Aku teringat juga pada suatu pagi sehabis devosi aku ditelpon oleh bos-ku dari Jayapura. Oh iya, setiap pagi sebelum mulai bekerja kami melakukan devosi, yaitu ibadah singkat seluruh staf satu kantor. Waktu itu bos-ku bilang kalau dia sangat kecewa sekali padaku karena ada yang bilang pada beliau kalau aku sudah pindah ke lain hati. Waduh, pikirku. Apa maksudnya nih? Ternyata yang bos maksud adalah Enda. Lho? Waktu itu aku jadi bingung, khan dia sudah punya pacar? Jangan-jangan dia sudah putus. Berbagai pikiran muncul dalam benakku waktu itu. Bos-ku ini memang termasuk salah satu orang yang gigih menyuruhku untuk jadian dengan Enda. Yah…mungkin dia merasa terbeban kali ya? Selain bos-ku masih ada beberapa teman lain yang juga menyarankan hal yang serupa.
“Oke deh Pak.” Jawabku, “saya akan coba lagi..” sambil kupikir-pikir “bagaimana caranya ya?”
Akhirnya pada satu kesempatan ada seminar untuk para hamba Tuhan yang akan dihadiri oleh hamba Tuhan dari Jayapura, Wamena, dan Merauke. Bos-ku meminta aku bersama rekan managerku mengajak dua hamba Tuhan dari Wamena untuk ikut pertemuan itu.
Di bandara kusempatkan untuk membeli bunga Kurulu. Bunga khas dari Wamena. Bunga itu rencananya akan kuberikan pada Enda.
“Makasih ya…” kata Enda waktu menerima bunga dariku saat itu. Setelah itu sepanjang workshop dua hari itu kuhabiskan hanya untuk berusaha mendekatinya. Yah, nggak semua waktu habis untuk itu lah... Materi workshop masih masuk juga koq di benakku…. he..3x
Masih banyak lagi yang terlintas di benakku. Hari-hari yang kulewatkan bersamanya di Wamena, dan lain-lain. Tanpa sadar akhirnya aku tertidur.

Hari Sabtu

Pagi itu HPku berdering, aku mengangkatnya “Pak, Avia Star ngga ada penerbangan hari ini..” ternyata Ika salah satu stafku yang menelpon.
“Waduh, kalo gitu kamu ganti tiketnya kah?” jawabku. Yang terpikir saat itu hanya ngga jadi malam mingguan bareng Enda. Bisa gawat nih rencana! Pikirku.
“Oke Pak, saya coba urus di bandara” jawab Ika.
“Oke, saya juga langsung meluncur ke bandara deh..nanti ketemu di sana ya…” jawabku. Telepon kututup. Langsung kuhubungi Reynold yang berjanji akan mengantarku ke bandara hari itu dengan mobil kantor.
“Bos, nanti Isman yang antar, sekalian dia mau pinjam mobil katanya, ada urusan” jawab Reynold.
“Oke sudah. Saya tunggu ya…” HPku kututup mengakhiri pembicaraan dengan Reynold.

Di bandara ternyata Ika berhasil menukar tiketku dan tiket Willy teman seperjalananku dengan tiket maskapai Trigana. Syukurlah, pikirku. Jadi malam mingguan nih! Ujarku tanpa sadar. Willy hanya tersenyum melihat tingkahku.

Sampai di hotel langsung aku menghubungi Enda, dan ternyata aku harus kecewa karena Enda rupanya ada acara lain sampai malam lagi. Yah, salahku juga ngga bikin janji sebelumnya dengan dia. Aku langsung terbaring di tempat tidur. Sekilas kulihat barang-barang titipan Enda, satu botol sari buah merah dan satu kantong plastik bunga Kurulu. Yah sudahlah, pikirku. Aku tunggu saja kabar selanjutnya dari dia.

Sampai malam tidak ada kabar dari Enda, tidak ada sms, ataupun telepon. Alamat ngga baik nih! Pikirku. Ku sms dia, “Bunga Kuruluku layu…”. Ku tunggu beberapa saat ternyata tetap ngga ada jawaban.

Minggu

Paginya aku dibangunkan oleh suara sms dari HPku. Eh, ternyata sms dari Enda. He..3x Dalam hati aku bersorak kegirangan. Isinya dia minta maaf karena malam kemarin acaranya sampai malam sehingga nggak sempat ketemu aku. Kubiarkan beberapa lama baru kubalas smsnya. Intinya aku bilang ngga apa-apa. Hanya di smsku aku nggak bilang kapan dia harus ambil titipannya. Sampai agak sore baru ada balasan dari dia menanyakan kapan dia bisa mengambil titipannya. Langsung aku telepon dia.
“Hai, nanti aku antar aja titipannya ke tempatmu” usulku di telepon. Enda agak kaget karena langsung kutelepon sehabis menerima smsnya. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu malam itu. Yah, memang ngga jadi malam mingguan tapi malam senenan he…3x. Enda memintaku untuk membawa lauk dan sayur sementara dia akan memasak nasi untuk kami makan sama-sama. Duh, senangnya!

_______________

“Jadi gimana? Jawabkah…” kembali aku bertanya pada Enda. Enda menarik nafas panjang.
“Ya sudah jawabannya: ...…” jawabnya. Bibirnya terkulum. Dia melihat ke arah lain. Mungkin dia tak berani menatapku.
"Enggak?" kejarku agak ngga semangat. Enda mengangguk lemah. Masih terdiam. Akupun terdiam. Ikut-ikutan menarik nafas panjang. Tidak menyangka kalau jawabannya ternyata begitu. Walau sebelumnya aku juga ngga terlalu berharap banyak. Aku tahu dia sudah pacar, tapi perasaanku memang nggak boleh lama-lama disimpan. Tadinya aku berpikir, pokoknya malam ini harus tuntas, kalau ditolak paling patah hati, kalau diterima syukur Halleluya..!
“Kalau gitu aku tanya sekali lagi ya…” aku masih belum yakin. “Kamu mau nggak jadi istriku?” Weleh, kok malah pertanyaannya berubah. Duh, aku sempat kaget mendengar ucapanku sendiri. Tapi ya sudah, sudah terlanjur.
“Nggak” jawab Enda. Lagi-lagi tiap kali menjawab seakan butuh waktu lama untuk berpikir.
“Kenapa?” aku masih belum puas.
“Karena Passion kita beda…”katanya.
“Apanya yang beda?” aku masih mengejar terus, agak sedikit jengkel.
“Yah pokoknya beda lah..” matanya menatapku berharap aku tidak bertanya lagi.
“Ya sudahlah kalau gitu” aku berusaha menerima. “By the way kamu tahu nggak kalau aku pernah puasa untuk kamu?” aku melanjutkan. Enda tampak kaget.
“Aku pernah puasa hanya untuk minta tanda, waktu itu aku bilang ke Tuhan kalau kamu mau diajak ke gereja bareng berdua berarti kamu memang jodohku…”
“Dan ternyata kamu mau…” aku membuang nafas. Lega rasanya udah mengungkapkan hal itu. Enda hanya terdiam. Aku kemudian melanjutkan memberinya kuliah tentang masa-masa sewaktu dia ada di Wamena. Masa-masa di mana kita selalu keluar berdua, ngajarin dia naik motor malam-malam. Belajar motor kok malam-malam? He…3x aku jadi tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu. Makan malam bersama berdua. Makan malam di rumah kontrakanku. Dan lain-lain. Enda hanya diam.
“Aku minta maaf kalau selama ini memberikan sinyal-sinyal yang salah…” akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya.
“Yakin salah?” belum selesai dia bicara aku sudah memotong kata-katanya. “kamu tahu nggak kalau aku pernah meluangkan waktu hanya untuk mencari kejelekanmu?” lanjutku.
“Tapi makin dicari ternyata aku makin sayang sama kamu…” lanjutku lagi. Tampak senyum kecil di wajah Enda. Senyumnya makin besar saat aku membeberkan beberapa kejelekannya yang kutemukan. Suasana mulai cair, aku juga makin leluasa bercerita berbagai hal yang kupendam selama ini.
“Oke sudah, sudah malam nih..” akhirnya aku harus menyelesaikan percakapan dengannya. “So, kita berteman saja ya mulai sekarang?” ujarku sambil mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman. Dia menyambut tanganku. Kami bersalaman.
Aku kemudian berjalan ke luar. Dia menemaniku sampai di pintu kos-kosannya. Enda menempati kos-kosan dua lantai. Dia menempati salah satu petak di lantai dua diapit oleh dua petak lain masing-masing di kiri-kanannya.
Sepanjang jalan kembali ke hotel, pikiranku malah berkecamuk. Kesal memang, tapi ada sedikit lega. Akhirnya tuntas juga. Habis, gossip soal hubunganku dengan Enda sepertinya sudah menyebar kemana-mana. Tapi tetap saja ada perasaan kecewa. Yah, patah hati lagi deh… Bayangkan, dua kali patah hati untuk gadis yang sama. Oh my God!

Sampai di hotel, aku membuka pintu kamarku. Rupanya Willy teman sekamarku sudah tertidur. Dia agak membuka mata sedikit saat aku membuka pintu kamar. Aku langsung ke kamar mandi. Mencuci muka, melihat wajahku di cermin. Kuseka wajahku dengan sehelai handuk. Kemudian aku terduduk di tempat tidur. Merenung memikirkan setiap kata-kata Enda tadi. Passion? Passion nenek moyang, pikirku kesal. Yang terbayang saat itu malah Passion of Christ. Aku membayangkan jangan-jangan Tuhan lagi tersenyum saat ini. Atau Dia juga ikut sedih? Kalau Dia ikut sedih, kenapa Dia kasih tanda padaku? Aku nggak terima, pikirku. Kali ini Tuhan salah! Buktinya, aku nggak jadian dengan Enda. Lanjut pikiranku. Sekilas aku melihat ke Alkitabku yang terletak di meja lampu. Mau cari ayat? Ogah ah, pikirku. Pokoknya kali ini Tuhan salah. Aku tertidur.

Keesokan harinya workshop dimulai. Aku memasuki ruang workshop, kulihat sepintas Enda juga ada di ruangan itu, bangku sebelahnya kosong. Teman-teman masih saja menggodaku agar duduk di bangku kosong di sebelahnya itu. Aku melayangkan mataku ke tempat lain. Ternyata ada bangku kosong lain. Syukurlah! Pikirku. Hari itu seharian aku masih saja jengkel. Kelihatannya Enda juga merasa tidak nyaman. Aku nggak tahu kapan dia keluar dari ruangan. Yang jelas sampai akhir workshop hari itu dia tidak ada. Sepanjang hari itu setiap ada yang bertanya soal hubunganku dengan Enda kuceramahi dengan kisah malam itu.

Malamnya aku merasa tidak nyaman, saat teduh pagi tadi sudah kuabaikan. Sampai kapan aku harus begini? Pikirku. Begitu banyak kebaikan Tuhan dan baru dikecewakan begini saja aku sudah keok? Malam itu aku sadar, sebenarnya Tuhan tidak pernah salah. Aku yang salah mengartikan tanda dariNya. Aku kembali membaca Alkitabku, membuka renungan hari itu. Meminta maaf pada Tuhan. Aku teringat kisah Ayub yang pada akhirnya tidak menyalahkan Tuhan dan bahkan memohon ampun pada Tuhan. Aku juga teringat beberapa bacaan dari the Purpose Driven Life bahwa kita diciptakan untuk kesenangan Allah. Diciptakan untuk kesenangan Allah, eh kok malah marah-marah menyalahkan Tuhan? Aku jadi sedih sendiri. Aku kemudian berdoa minta maaf pada Tuhan. Dan selanjutnya aku malah tersenyum, melihat kilas balik waktu aku puasa, waktu aku secara teratur mengangkat puji-pujian di sela-sela puasa, waktu aku tekun berdoa hanya untuk hubunganku dengan Enda. Waktu itu rasanya dekat sekali dengan Tuhan. Lha kok waktu jawabannya datang aku malah menjauh? Pikirku. Seharusnya aku bersyukur karena toh sudah dijawab walau tidak sesuai dengan keinginanku.

Malam itu aku tidur pulas. Dalam pikiranku hanya ada satu hal: No…no…no… Bukan Tuhan yang salah!

Sindrom Patah Hati !

Apakah Anda tahu bahwa orang yang barusan saja ditinggal oleh pasangan hidupnya, mengalami perasaaan gejala sakit seperti juga orang yang kena serangan jantung. Ini adalah hasil penelitian dari Kardiolog Ilan Wittstein dari John Hopkis University School of Medicine di Baltimore ­ Amerika yang diungkapkan pada bulan Feb 2005, sehingga ia menamakan gejala penyakit ini sebagai „Broken Heart Syndrom“. Rasa nyeri di dada, nafas pendek, bahkan otot jantung pun tidak bisa memompa darah secara normal lagi.
Pada saat kita sedang sedih, kita menutup diri, karena tidak ada gairah lagi untuk melakukan kegiatan apapun juga, selainnya ingin mengucilkan diri terus di dalam kamar. Satu-satunya impian dan harapan yang paling besar adalah dimana mereka mengharapkan agar pasangannya bisa dan mau balik kembali. Oleh sebab itulah hari-hari pertama setelah ditinggal oleh pasangannya, yang di pelototin dan di dengar hanya bunyi telpon dan HP nya saja dengan harapan mogah-mogahan ia mo nelpon lagi, walaupun hanya sekedar „Just to say hello“, tetapi kenyataannya boro-boro ia mo nelpon, no HP nya azah udah dirubah agar tidak bisa dihubungi lagi !
Dan yang lebih menyakitkan lagi, pada saat Anda sedang sedih dan berduka karena ditinggal oleh pasangan Anda, ia sendiri menari diatas mayat Anda, dimana ia pamer dengan WIL (Wanita idaman lainnya) kemana-mana yang konon lebih cantik dan lebih muda. Teman dekat yang seharusnya membantu pada saat kita sedang sedih & sewot, bukannya berusaha untuk menghibur, bahkan kebalikannya dimana mereka menyindir atau mengejek dengan secara tidak langsung; dimana menceritakan tetang kelebihan-kelebihan dari pacar barunya.
Kehilangan pasangan hidup itu seperti juga kehilangan tempat dimana kita bernaung, sebab disitulah kita merasa aman dan bisa mendapatkan kasih sayang, dan perasaan inilah yang dahulunya selalu diberikan oleh ibu kita.
Menurut pakar psikologi, pada saat kita kehilangan pasangan hidup, kita akan menjalani tiga phase perasaan yang harus kita lalui:
1. pada saat musibah itu terjadi kita akan marah dan protest, karena tidak mau menerima kenyataan dan berusaha untuk mencari tahu maupun menganalisa dimana letak kesalahannya: Kenapa hal ini bisa terjadi ? Tahapan ini pada umumnya tidak lama, akhirnya akan menjadi reda dengan sendirinya dan digantikan oleh perasaan lain.
2. Hal ini terjadi pada saat kita sadar, bahwa hubungan tsb telah menjadi retak batu alias tidak dapat di lem lagi; kalho dalam bhs Sundanya „It´s over!“. Dari sinilah mulai berubah sifat marah, emosi tsb digantikan oleh perasasaan down, dan sedih yang berkepanjangan. Dan sekaranglah baru terasakan juga, bagaimana nyeri dan parahnya luka batin, ditinggal oleh pasangan hidup itu. Tahapan yang kedua ini adalah tahapan yang paling lama bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
3. Tahapan yang terakhir adalah dimana akhirnya bisa menerima kenyataan pahit ini dan pikiranpun tidak terpusatkan lagi kepada masa lampau melainkan ke masa yang akan datang
Kenapa kebanyakan perempuan menderita begitu lama ? Karena mereka sendiri tidak mau lepas dari memory masa lampaunya, jadi secara tidak langsung luka batinnya itu dipelihara. Dengan membaca kembali berulang-ulang SMS yang pernah dikirimkan olehnya, ataupun surat-surat cinta dimasa lampau, begitu juga dengan foto kenang-kenangan, bahkan foto dia pun masih tetap dipajang disebelah tempat tidur ! Ini adalah satu kesalahan besar, Anda tidak akan bisa sembuh dari luka batin Anda selama Anda masih tetap ingin berpegang terus dan tidak mau melepaskan masa lampau Anda.
Anda harus menutup dan mengakhiri masa lampau tsb dengan mencantumkan kata „TAMAT“ segede mungkin, karena sudah tamat berarti tidak akan ada sambungannya lagi dan tidak perlu ada yang diharapkan lagi. Oleh sebab itulah juga sudah tiba saatnya dimana Anda harus, membersihkan hati, pikiran dari masa lampau tsb. Untuk ini Anda harus melakukan Action nyata, walaupun mungkin ini sukar dan berat, tapi kudu dilakukan.
Hapus no HP nya dia ! Bakar tuh, semua surat maupun foto-foto yang bisa dan dapat mengingatkan dia lagi. Ganti foto dia yang ada di sebelah tempat tidur dengan fotonya Ballack pemain sepak bola Jerman ato foto botaknya Mang Ucup. Semua hadiah-hadiah yang pernah diberikan olehnya di jual atau diberikan kepada orang lain. Pokoknya jangan sampai ada tertinggal satupun juga.
Disamping itu daripada menyiksa diri sendiri, mulai hari ini berusahalan untuk memanjakan diri sendiri, pergilah ke salon atau ketempat Spa. Shopping dan beli barang-barang yang sudah lama Anda dambakan. Gunting rambut Anda dan robah dengan cara style rambut baru, bukan untuk menyenangkan dia melainkan untuk menyenangkan diri sendiri.
Pergilah berlibur atau melakukan aktivitas baru, seperti les dansa ataupun les bahasa asing atau belajar main tenis ataupun ikut paduan suara. Usahakan minium seminggu tiga kali harus keluar rumah untuk bertemu dengan kawan-kawan ataupun makan diluar. Cobalah furniture dirumah Anda di tata ulang, bahkan kalau bisa di cat baru ataupun gati wall papernya. Apabila belum punya anak, carilah hewa peliharaan mulai dari kucing s/d anjing yang penting cocok dan bisa menyenangkan hati Anda. Rubah jenis perfume maupun lipstick dengan yang lebih greng dan hidup warna maupun wanginya.
Percayalah dengan melakukan berbagai macam aktivitas tsb, saya yakin Anda akan bisa lebih cepat keluar dari lingkaran setan tempat dimana Anda berpijak sekarang ini dan renungkanlah kenapa Anda dahulu bisa hidup bahagia tanpa dia sekarang tidak ? Orang lain mampu dan bisa hidup bahagia setelah kehilangan pasangan hidupnya, kenapa Anda tidak ? Dan janganlah berusaha untuk bertepuk sebelah tangan hingga mati pun ini tidak akan bisa terlaksana, begitu juga dengan cinta, cinta sepihak itu tidak ada dan hanya sekedar khayalan saja, maka dari itu lupakan untuk mencintai dia terus-menerus !
By: mang Ucup