Kamis, 01 November 2012

Belajar Berani dan Berserah Diri dari Donald Isaac Panjaitan


DI Panjaitan (Sumber: id.wikipedia.org)
Saya tak tahu persis kapan terakhir kali menonton film G 30S PKI. Yang jelas sewaktu saya masih SD rasanya tak pernah saya melewatkan film itu. Apalagi ketika adegan penculikan para Jenderal yang diiringi dengan musik yang cukup merindingkan bulu roma. Salah satu adegan dalam film tersebut yang tidak bisa saya lupakan adalah adegan putri Mayjen (Anumerta) Panjaitan yaitu Catherine yang membasuhkan darah sang ayah ke mukanya. Adegan itu sangat mengharukan sekali. Dalam hati saya berpikir, pastilah Pak Panjaitan ini sangat disayangi oleh anak dan keluarganya. Saya pun jadi tertarik untuk mencari informasi tentang pahlawan yang satu ini.

Siapa sebenarnya Donald Isaac Panjaitan? Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925 (gugur pada usia 40 tahun pada 1 Oktober 1965). Selepas pendidikan formalnya di Sekolah Menengah Atas - saat itu Indonesia masih dalam pendudukan Jepang, sehingga ketika Panjaitan masuk menjadi anggota militer dia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan,d ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, Panjaitan bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat. Di TKR ini dia ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/ Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T & T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/ Sriwijaya.

Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, Panjaitan ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, dia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu, yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah yang diembannya saat peristiwa G 30S PKI terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giat-giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.

Saat itu PKI sedang dekat-dekatnya dengan pucuk pimpinan tertinggi negeri ini. PKI digadang-gadang untuk bisa menyaingi kekuatan TNI (khususnya Angkatan Darat) yang dianggap terlalu kuat atau berpengaruh pada saat itu.  Dengan situasi ini, apa yang dilakukan Panjaitan dalam membongkar rahasia pengiriman senjata itu tentulah cukup beresiko. Tapi Panjaitan tak gentar. Hal itu tetap dia bongkar.  Di sini saya menarik pelajaran berharga dari beliau untuk tetap berani berbuat yang benar. Suatu hal yang jarang kita temui saat ini di negeri kita tercinta ini.

Hal lain yang menarik dari Panjaitan adalah kemampuannya untuk berserah diri pada Yang Maha Kuasa. Ketika sekelompok tentara menembak membabi-buta dan masuk ke dalam rumahnya, Panjaitan dipaksa untuk turun dari lantai 2. Panjaitan waktu itu tetap tenang. Tidak ada raut muka ketakutan di wajahnya. Hal ini dapat diketahui dari cerita salah satu putrinya yaitu Riri (Sumber: www.jawaban.com).

Monumen DI Panjaitan di Balige (Foto by Jarar Siahaan)
"Ayah saya keluar dari kamar, memakai baju lengkap, uniformnya sebagai angkatan darat, keluar dari kamarnya dan memandang kami semua. Tidak saya lihat itu wajahnya takut." kenang Riri ketika itu.
Sewaktu turun, Panjaitan dengan tenang mengatakan bahwa dia akan ikut tapi dia mau berdoa terlebih dahulu. Dalam posisi berdiri, berdoa melipat tangan, kepalanya dipukul dan akhirnya dia pun ditembak. Suatu pelajaran berserah diri yang luar biasa dari seorang Panjaitan. Dia sebenarnya tahu apa yang akan dia hadapi. Mungkin saja ini akibat dari keberaniannya membongkar kejadian penyelundupan senjata waktu lalu atau mungkin karena jabatan yang dia pangku saat itu. Tidak ada yang tahu pasti apa yang Panjaitan pikirkan saat itu. Yang jelas dia berserah pada Yang Maha Kuasa.
Saat ini negeri ini sedang “miskin” tokoh yang baik. Tokoh yang bisa dijadikan panutan. Yang tidak gembar-gembor di media menyampaikan perbuatan “baik” nya tapi yang langsung berbuat hal nyata untuk kebaikan masyarakatnya. Teladan Donald Isaac Panjaitan adalah salah satu yang patut dicontoh.
Bacaan:

Kamis, 04 Oktober 2012

Yuk, lihat kandungan nutrisi Rujak Cingur!


Rujak Cingur (Sumber: inforesep.com)
Bertempat tinggal di Surabaya rasanya aneh kalau belum pernah mencoba yang namanya rujak cingur. Rujak cingur adalah salah satu makanan tradisional yang sangat mudah ditemukan di daerah Jawa Timur, terutama di Surabaya. Dalam bahasa Jawa kata cingur berarti "mulut", hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan. Nah, ini yang membuat saya sempat ragu pada awalnya untuk mencoba hidangan ini. Masa makan moncong atau mulut sapi, kan jorok tuh! Tapi setelah mencoba ternyata saya salah. Rasanya mantap. Apalagi jika yang makan adalah orang yang suka petis dan pedas (kombinasi yang oke). Di dekat kompleks rumah saya biasanya rujak cingur dijual dengan harga Rp. 7.000,- per porsinya. Tapi biasanya kalau harganya murah, sudah tidak menggunakan cingur lagi tetapi diganti bahan cingurnya dengan kikil. Mungkin kalau kita pesan rujak cingur di restoran mahal baru menggunakan cingur asli. Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, kerahi (krai, yaitu sejenis timun khas Jawa Timur), bengkuang, mangga muda, nenas, kedondong, kemudian ditambah lontong, tahu, tempe, bendoyo, cingur, serta sayuran seperti kecambah/ taoge, kangkung, dan kacang panjang. Semua bahan tadi dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis udang, air matang untuk sedikit mengencerkan, gula/gula merah, cabai, kacang tanah yang digoreng, bawang goreng, garam, dan irisan tipis pisang biji hijau yang masih muda (pisang batu, pisang klutuk). Semua saus atau bumbu dicampur dengan cara diulek, itu sebabnya rujak cingur juga sering disebut rujak ulek (sumber: Wikipedia).
Ada dua cara penyajian rujak cingur ini. Ada yang bilang penyajian “biasa” yaitu semua bahan baik mentah (biasanya buah-buahan) maupun yang sudah dimasak (mateng) dicampur jadi satu. Penyajian yang lain adalah “matengan” yaitu bahan yang dicampur hanya bahan yang sudah dimasak saja. Misalnya tempe, tahu goreng, sayuran yang sudah direbus, dan lain-lain. Kalau untuk saus atau bumbunya tetap sama untuk kedua jenis penyajian tersebut. Biasanya sebagai pelengkap rujak cingur disajikan dengan tambahan kerupuk. Untuk wadah penyajiannya biasanya dengan daun pisang (pincuk) atau piring makan biasa.
Berikut ini beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat rujak cingur (untuk sekitar 8 porsi): 600 gram cingur atau bisa diganti dengan kikil sesuai selera, 100 gram sayur tauge, 200 gram kacang panjang, 1 ikat kangkung (ambil daunnya saja), 200 gram temped an 200 gram tahu (digoreng), 400 gram petis udang, cabe rawit sesuai selera, segenggaman tangan kacang goreng, 2 buah pisang batu/ klutuk (parut kasar), 2 sendok teh asam jawa, air matang secukupnya, dan garam secukupnya.

Cara Membuat Rujak Cingur
  1. Rebus cingur/ kikil hingga matang, kemudian potong potong berbentuk dadu. Rebus tauge, kacang panjang serta kangkung.
  2. Potong kecil kecil tempe goreng dan tahu goreng. Simpan dulu di wadah lain.
  3. Haluskan petis udang, cabai rawit, serta kacang tanah.
  4. Tambahkan parutan pisang batu, asam, serta air matang, kemudian haluskan kembali.
  5. Campur bumbu rujak petis dengan cingur, sayuran, tempe, dan tahu, aduk hingga rata.
  6. Rujak cingur siap di hidangkan dengan nasi atau lontong.
  7. Jangan lupa tambahkan kerupuk saat penyajian.
Nah, setelah puas menyantap rujak cingur, mari kita lihat kandungan nutrisinya!
Dengan bahan utama sayur-sayuran dan buah-buahan tentu banyak mineral yang bermanfaat bagi tubuh ikut masuk bersama manfaat yang lainnya. Kacang panjang sendiri dikenal sebagai sumber protein dan vitamin B kompleks selain sebagai sumber mineral. Daun kangkung dikenal mempunyai kandungan vitamin A yang sangat tinggi, mencapai 6.300 IU. Bersifat antioksidan sehingga dapat menangkal radikal bebas penyebab kanker dan penuaan dini. Selain itu, kangkung juga tinggi kadar seratnya dan mengandung fosfor, zat besi, dan sitosterol. Berkat kandungan yang dimilikinya, kangkung berpotensi juga sebagai antiracun, antiradang, penenang (sedatif) dan diuretik. Wuihhhh…mantap tenan rek..!

Selain kangkung dan kacang panjang ada tauge atau kecambah yang merupakan pangan yang rendah kadar lemak, kaya vitamin C, serta memiliki folat dan protein yang dapat memperkecil risiko timbulnya penyakit kardiovaskular dan merendahkan LDL (kolesterol jahat) dalam darah. Dalam kecambah, terkandung fitoestrogen yang dapat berfungsi seperti estrogen bagi wanita. Estrogen tersebut dapat meningkatkan kepadatan dan susunan tulang, serta mencegah kerapuhan tulang (osteoporosis) khususnya bagi wanita yang berada pada masa menopause. Konsumsi kecambah juga dapat membantu wanita terhindar dari kanker payudara, gangguan menjelang mensturasi, keluhan semburat panas pada pra-menopause, dan gangguan akibat menopause. Tidak hanya itu, kecambah juga memiliki kemampuan mengurangi risiko terkena artritis, memperlancar pencernaan, baik untuk sistim reproduksi, dan saluran kelenjar (glandular). Selain itu, di dalam kecambah juga terkandung saponin yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dengan menstimulasi interferon dan sel limfosit T (Sumber: Wikipedia dengan editing seperlunya).
Selain sayuran, isian lain dalam rujak cingur adalah tahu dan tempe yang tentu tidak diragukan lagi kandungan gizinya. Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah hipertensi, dan lain-lain.
Komposisi gizi tahu dan tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan zat terlarut, misalnya: nitrogen terlarut, asam amino bebas, dan asam lemak bebas.
Puas dengan kandungan nutrisi isiannya, mari kita lihat kandungan nutrisi pada saus yang berbahan dasar kacang tanah dan petis ini. Kacang tanah kaya dengan lemak, mengandungi protein yang tinggi, zat besi, vitamin E dan kalsium, vitamin B kompleks dan Fosforus, vitamin A dan K, lesitin, kolin dan kalsium. Kandungan protein dalam kacang tanah adalah jauh lebih tinggi dari daging, telur dan kacang soya.
Kacang tanah juga dikatakan mengandung bahan yang dapat membina ketahanan tubuh dalam mencegah beberapa penyakit. Kacang tanah bekerja meningkatkan kemampuan pompa jantung dan menurunkan resiko penyakit jantung koroner. Kacang tanah mengandung Omega 3 yang merupakan lemak tak jenuh ganda dan Omega 9 yang merupakan lemak tak jenuh tunggal. Dalam 1 ons kacang tanah terdapat 18 gram Omega 3 dan 17 gram Omega 9. Kacang tanah mengandung fitosterol yang justru dapat menurunkan kadar kolesterol dan level trigliserida dalam darah, dengan cara menahan penyerapan kolesterol dari makanan yang disirkulasikan dalam darah dan mengurangi penyerapan kembali kolesterol dari hati, serta tetap menjaga kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Kacang tanah juga mengandung arginin yang dapat merangsang tubuh untuk memproduksi nitrogen monoksida yang berfungsi untuk melawan bakteri tuberkulosis.
Terakhir, manfaat petis. Nah, ini yang agak sulit diceritakan. Kalau untuk saya pribadi, kegunaan petis hanya sebatas menambah aroma sajian rujak cingur sehingga lebih mantap dan lahap dalam menikmatinya. Tanpa petis rujak cingur pasti bukan rujak cingur lagi namanya.
Jelajah Gizi
Dengan kandungan nutrisi yang begitu banyak dalam rujak cingur, masih ada yang ragu melahapnya?

Kamis, 27 September 2012

“Ayam (itik) Punya Telur, Sapi Punya Nama”


Ini telur mata sapi
Membaca judul di atas pasti sebagian besar pembaca agak bingung, sebenarnya arah artikel ini mau dibawa ke mana ya? Apakah ini artikel tentang masak-memasak atau tentang hal lain?

Nah, untuk memudahkan pembaca, sebelumnya saya ingin bertanya, “Pernahkah pembaca menikmati sepotong telur mata sapi?”. Telur mata sapi adalah telur ayam (itik) yang digoreng tanpa diaduk dahulu (kuning telurnya masih utuh) ini deskripsi yang saya dapatkan dari kamus besar bahasa Indonesia online. Kalau bicara bahasa Inggrisnya lebih seru lagi. Yang pasti bukan cow’s eye egg tapi bermacam-macam tergantung jenis yang kita mau. Secara umum bahasa Inggrisnya adalah 'fried egg' (makna harafiahnya adalah 'telur goreng'). Memang cara membuat telur mata sapi ini ada banyak ragamnya, misalnya yang digoreng pada satu sisi saja di mana kuning telurnya terletak di atas yang dinamakan 'sunny-side up'. Ada pula yang digoreng bolak balik setengah matang dinamakan 'over easy', yang sedikit lebih matang dinamakan 'over medium' dan yang matang dinamakan 'over well'. Dalam bahasa Belanda telur mata sapi disebut dengan ‘spiegelei’ (spiegel = cermin, ei = telur) (http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/12/apa-sih-bahasa-inggrisnya-telur-mata-sapi/)

Lha kok jadi belajar bahasa? Yuk, kembali ke laptop (Tukul mode: ON). Sebenarnya yang jadi masalah adalah ketika saya berulangkali mendengar judul di atas (ayam punya telur, sapi punya nama) diucapkan oleh salah satu teman saya. Kalau dipikir-pikir benar juga ya? Kenapa tidak pernah terpikir oleh saya untuk menanyakan hal tersebut pada ahlinya (ahlinya telur atau ahlinya sapi yang paling pas ya?). Kenapa tidak disebut telur mata ayam saja? Tapi nanti jadi salah juga karena ayam (itik) yang bertelur, bukan matanya. Sementara kita juga tahu kalau sapi itu beranak tidak bertelur. Sayangnya ayam tidak pernah protes kepada sapi mengenai hal ini. Tapi mungkin itu karena si sapi juga tidak tahu kalau namanya dipakai sebagai nama masakan berbahan dasar telur ayam (itik) itu. (http://kangpay.wordpress.com/2011/09/16/telor-mata-sapi/).

Tapi sebenarnya bukan masalah istilah itu benar atau tidak yang dipersoalkan oleh teman saya tadi. Yang menjadi persoalan baginya adalah ketika realita itu ditemukan dalam keseharian di lingkup kerjanya. Ada pekerjaan yang nyata-nyata teman saya tadi yang melakukan (si ayam atau si itik) namun dengan santai diklaim oleh seseorang (si sapi) sebagai pekerjaannya. Tentu saja pekerjaan yang bagus-bagus saja yang diklaim oleh orang tadi. Ketika teman saya jatuh dalam persoalan atau pekerjaan yang dilakukannya kurang baik maka itu tidak diklaim sebagai keberhasilan orang tadi. Saya agak kurang sependapat jika judul di atas dikaitkan dengan realita itu. Orang tadi jelas mengklaim pekerjaan teman saya, sementara sapi tidak jelas-jelas mengklaim pekerjaan ayam (itik) he..3x. Yang jelas dari realita di atas, terlepas dari istilah apa yang tepat digunakan, sering kita temui dalam dunia kerja kita. Kadang satu ide brilian datang dari kita tanpa kita sadari dicomot begitu saja oleh orang lain sebagai idenya dia. Kadang kita melakukan pekerjaan baik dalam satu tim, eh..salah satu anggota tim atau ketua tim dengan enteng mempublikasikan ke orang lain bahwa itu pekerjaannya.

Kalau dalam satu level yang sama atau sejajar di dunia kerja, mungkin masih dapat dibicarakan dengan baik sesama rekan kerja. Yang sulit adalah ketika atasan memerintahkan bawahan melakukan suatu pekerjaan (yang mungkin seharusnya pekerjaan si atasan) dan berhasil baik, lalu diklaim sebagai pekerjaan si atasan tanpa menyebutkan peran dari bawahannya. Kalau sudah begini, si bawahan paling-paling hanya bisa legowo. Hanya bisa ngedumel di belakang. Habis mau bagaimana? Nanti repot urusannya ke depan. Karir bisa jadi pendek. Rejeki bisa mampet. Yang pasti harus ada rasa saling menghargai di antara sesama rekan kerja maupun antara atasan dan bawahan. Pengakuan (reward) atas pekerjaan atau keberhasilan seseorang itu penting.

Kasihan juga teman saya. Tiap kali bekerja baik, atasannya yang dapat nama. Padahal ia yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan atasannya saat atasannya itu sering tidak berada di tempat. Kalau sudah begitu, ia hanya bisa ngedumel sambil menggumam, “ayam punya telur, sapi punya nama..”. Seenak-enaknya telur mata sapi, biarlah kita tetap mengingat kalau itu tetaplah telur ayam (itik).

Senin, 10 September 2012

Urusan Pekerjaan vs Urusan Pertemanan



Suatu kali saya terlibat diskusi panjang lebar dengan seorang teman dalam satu pertemuan rutin bulanan. Diskusi ini adalah diskusi masalah program atau pekerjaan. Dalam diskusi tersebut banyak pendapat teman tersebut yang saya sanggah dengan menggunakan fakta-fakta dan data-data yang ada. Saya juga mencoba memberikan beberapa solusi yang masih berhubungan dengan data dan fakta yang cukup aktual. Teman saya tersebut sepertinya tidak bisa menerima sanggahan yang saya berikan. Demikian pula dengan solusi yang saya ajukan. Pada prinsipnya dia ingin idenya diterima dan ide itulah yang diterapkan.

Diskusi pun berakhir. Karena itu adalah proyeknya teman saya tersebut maka saya tidak lagi ikut mencampuri hal-hal teknis yang berkaitan dengan hasil diskusi tadi. Intinya, dia ingin idenya yang dijalankan dan itu akhirnya diterima sebagai hasil diskusi bersama.

Keesokan harinya saya bertemu lagi dengan teman saya tersebut. Kebetulan kami sudah berteman cukup lama. Kira-kira sudah lebih dari lima tahun. Ketika bertemu, si teman itu langsung membuang muka dan saya pun tidak ditegur. Dalam kesempatan lain saya bertemu dengannya -kebetulan saat itu juga ada teman yang lain- teman saya tadi tidak mau langsung berbicara dengan saya. Dia hanya mengajak teman saya yang satunya saja berbicara. Beberapa pertanyaan atau lontaran pernyataan yang saya ajukan tidak dijawab, bahkan diabaikan sama sekali.

Apa yang sebenarnya terjadi? Usut punya usut rupanya itu adalah buntut dari alotnya diskusi yang pernah terjadi dulu. Menurut teman saya tadi (ini berdasarkan informasi dari teman yang lain), dia sedang jengkel dengan saya karena tidak mau serta merta menerima pendapatnya waktu diskusi lalu. Nah lu…

Masalah seperti ini sering kita temui dalam lingkup pekerjaan kita entah dimanapun itu. Lebih-lebih untuk saya yang bekerja di bidang sosial, sering masalah pribadi sepertinya dicampur aduk dengan masalah pekerjaan. Contoh: Jika ada rekan kerja yang tidak suka secara personal dengan saya, maka semua yang saya katakan pasti selalu salah. Baik itu dalam diskusi atau dalam kesempatan apapun. Jika saya menyampaikan suatu pernyataan pasti langsung disanggah dengan semangat. Jangan-jangan saya masih bilang, “aa…” sudah langsung disanggah. Contoh lainnya adalah kebalikannya seperti kisah teman saya tadi. Ketika diskusi sangat alot dalam lingkup pekerjaan akhirnya malah terbawa-bawa dalam lingkup pertemanan. Yang tadinya teman bisa tidak teman lagi. Yang tadinya konco dan sering ngumpul bareng bisa ngga konco lagi dan akhirnya ngga ngumpul bareng lagi.

Lalu bagaimana mengatasinya? Mau tidak mau harus diomongin. Tidak bisa didiamkan saja dan berharap suatu saat akan adem-ayem alias damai kembali. Akhirnya saya mengambil waktu untuk bicara dengan teman saya tadi. Saya jelaskan bahwa kita harus bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pertemanan. Kita boleh gontok-gontokan atau kalau perlu sampai pukul meja (kasihan juga tuh meja..) kalau bicara soal program atau pekerjaan. Tapi di luar, sebagai teman ya kita tetap sebagai teman. Masih bisa jalan sama-sama. Masih bisa tertawa-tawa sama-sama. Nonton bareng, ngumpul bareng dan lain-lain. Memang sih sulit.. tapi di sinilah perlunya EQ itu. Teman saya manggut-manggut. Kami pun bersalaman dan tersenyum-senyum sendiri.

Selasa, 21 Agustus 2012

Hati-hati, si opurtunis yang berpotensi merusak organisasi!

Selamat siang semuanya!

Akhirnya saya memperoleh kesempatan untuk menulis lagi dengan laptop pinjaman di tempat kerja saya yang baru. Sebenarnya ada hal yang men trigger saya untuk segera kembali menulis. Kemarin lagi-lagi saya mendengar kabar dari seorang teman tentang perilaku ex pimpinan saya di tempat tugas saya yang lalu. Mantan pimpinan saya tersebut menurut saya adalah orang yang opurtunis. Memang ada juga makna yang baik dalam kata opurtunis yaitu orang yang selalu menggunakan setiap kesempatan yang datang (dalam arti positif dam membangun). Tetapi dalam diri beliau saya melihat makna opurtunis dalam arti sebaliknya (negatif). Namun supaya saya tidak asal sebut maka saya berusaha mencari makna atau arti kata itu dalam kamus online. Ini dia maknanya:
conqueryourbeing.com

Opurtunis (opportunist) adalah seseorang yang mempraktekkan opportunism (dictionary.reference.com).  Apa itu opportunism? Opportunism is the conscious policy and practice of taking selfish advantage of circumstances – with little regard for principles, or with what the consequences are for others. Opportunist actions are expedient actions guided primarily by self-interested motives. The term can be applied to individual humans and living organisms, groups, organizations, styles, behaviours, and trends. (Wikipedia)

Di referensi yang lain, opurtunis juga berarti "One who takes advantage of any opportunity to achieve an end, often with no regard for principles or consequences." (thefreedictionary.com). Nah, kalau memperhatikan dua definisi tersebut berarti benarlah apa yang saya rasakan terhadap mantan pimpinan saya tersebut. Lho kenapa begitu? Kenapa saya bisa dengan gamblang menyatakan kalau beliau adalah seorang opurtunis? Pertama, beliau jelas mempraktekkan prinsip opportunism. Yaitu mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri tanpa memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ada sebelumnya. Contoh: di organisasi dimana saya bekerja, cuti untuk kembali ke tempat asal itu telah diatur sedemikian rupa dan tercantum dengan jelas dalam buku pedoman kepegawaian. Jika si A yang daerah asalnya (daerah dimana ia direkrut) adalah Jakarta, kemudian bekerja di suatu daerah maka ia berhak untuk kembali ke Jakarta dengan dibiayai semua transportasi hingga biaya transit setiap sekian tahun sekali. Lain halnya dengan beliau ini. Sudah jelas tercantum di buku pedoman kepegawaian mengenai hak cuti tersebut, masih saja beliau meminta pengecualian khusus agar bisa cuti ke tempat asal dalam waktu yang lebih singkat dari seharusnya. Sayangnya, manajemen menyetujui hal ini dan beliau pun dengan bangga menyampaikan "keberhasilan" negosiasi dengan manajemen itu ke para staf lokal yang jelas-jelas tidak punya "jatah" cuti kembali ke tempat asal.  Praktek opportunism lain yang beliau terapkan adalah dalam menjalankan kewajiban atau tugas beliau sebagai pimpinan wilayah. Sebagai pimpinan di wilayah tersebut sebenarnya fungsi advokasi ke pemerintah adalah bagian dari kerja beliau. Juga fungsi lain terkait pengembangan wilayah di daerah tersebut. Namun apa yang terjadi? Semua fungsi tersebut tidak dijalankan oleh beliau tetapi dikerjakan oleh bawahan-bawahannya. Ketika tiba waktunya membuat laporan beliaupun dengan bangganya menyatakan bahwa semua itu beliau yang mengerjakan. Jadi nyata sekali prinsip opportunism yang dijalankan beliau. Yaitu mengambil keuntungan (dalam hal ini beliau mendapat nama) dari hasil kerja orang lain (bawahan beliau).
Kedua, tindakan-tindakan (actions) yang diambil beliau lebih banyak bermotif untuk keuntungan pribadi (taking selfish advantage). Contoh: beliau mengurusi perumahan staf untuk kepentingan beliau sendiri. Belum selesai kontrak rumah yang satu, beliau mencari rumah lain yang lebih nyaman untuk ditempati. Akhirnya ada rumah yang dikontrak organisasi menjadi terbengkalai karena tidak digunakan. Contoh lain dari upaya beliau memperoleh keuntungan pribadi juga terlihat dari aksi beliau mengambil alih capacity building yang seharusnya diikuti oleh salah satu staf yang adalah bawahan beliau. Ceritanya begini, ada satu pelatihan yang seharusnya diikuti oleh si B dan sudah didaftarkan atas nama si B, kemudian dibayarkan atas nama si B namun pada saat waktu pelatihan tiba malah digantikan oleh beliau. Apa tujuannya? Tujuannya jelas untuk menambah hari-hari di luar tempat tugas. Alasan beliau klise, yaitu supaya lebih banyak waktu berkumpul bersama keluarga di Jakarta. Kalau mau dikatakan alasannya adalah karena anak dan istri yang ada di Jakarta, menurut saya agak kurang tepat. Mengapa? Karena hidup ini penuh dengan pilihan. Manakala suatu keluarga memutuskan untuk tinggal berjauhan (suami jauh dari istri dan anak-anak) maka keluarga itu harus siap dengan konsekuensinya. Organisasi sudah menyediakan rumah yang layak untuk keluarga beliau namun yah.. itu tadi kalau itu dirasa tidak cukup dan akhirnya mereka (keluarga beliau) harus membuat pilihan sendiri, janganlah itu kemudian jadi alasan untuk menambah hari-hari cuti. Apalagi, dijadikan alasan untuk merengek-rengek minta pindah padahal beliau belum ada dua tahun bertugas di salah satu kota di Papua tersebut.

Belum lagi bicara soal manajemen dan program yang dikelola oleh beliau. Selama ini Job Description beliau tidak pernah dipaparkan ke para bawahan langsungnya. Ini membuat saya tidak tahu sebenarnya apa target kerja beliau? Komunikasi antar bawahanpun sepertinya tidak dibangun dengan baik. Beliau hanya berbicara ke salah satu (atau salah dua?) bawahan tertentu dan bawahan lain dipaksa harus tahu, itupun sering tahunya terlambat. Dari sisi efisiensi pemanfaatan ruang kantor, beliau jarang atau bisa dikatakan tidak pernah berkantor di ruangannya di kantor salah satu proyek. Inipun semakin diperparah dengan tuntutan beliau untuk memiliki satu ruangan khusus di kompleks kantor saya yang lalu. Setelah ruangan itu jadi, dilengkapi dengan meja dan kursi, justru beliau tidak pernah berkantor di situ. Ruangan beliau di kompleks kantor saya dulu hanya sering dipakai untuk rapat yang digelar hingga jam makan siang dan setelah makan siang, beliau pun pergi tak tahu kemana.Apalagi kalau bicara soal program, semua harus dipaksakan untuk mengikuti cara berpikir beliau yang saya sendiri tidak mengerti sampai sekarang. Banyak program yang dirancang beliau akhirnya menjadi mubazir alias useless. Contoh: pembelian server untuk bank data yang sudah setahun dibeli namun tidak digunakan, radio anak yang terbengkalai, dan rencana satu kantor atau istilah beliau one management yang analisisnya menurut saya tidak jelas.

Organisasi ini harus bisa mengambil tindakan tegas untuk hal-hal seperti ini atau orang-orang opurtunis seperti ini. Memang organisasi sudah punya beberapa tools untuk menilai kinerja stafnya. Diantaranya adalah survey 360 derajat yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Namun apakah hasilnya kemudian dianalisis? Jika hasilnya dianalisis kenapa sepertinya tidak ada perubahan yang terjadi?


http://skmrchy.blogspot.com/2011/08/do-you-know-any-opportunist-in-your.html
Di tengah-tengah kesulitan dalam program dan manajemen di wilayah tempat tugas saya dulu, di tengah-tengah kemampuan pengawasan yang sangat minim di level regio, maka seorang pimpinan di wilayah itu haruslah orang yang mampu menjadi jawaban atas hal-hal tersebut.

Saya pribadi sebenarnya ingin mendiskusikan hal ini secara panjang lebar dengan beliau, tapi berdasarkan pengalaman saya beliau ini tidak suka dikritik. Orangnya cenderung defense alias cepat membela diri. Beberapa waktu lalu sempat saya mengomentari email beliau yang dibuat dalam bahasa Inggris tak berstruktur, eh..malah saya dibilang merendahkan beliau. Belum lagi kegemaran beliau melibatkan banyak pihak jika dikritik. Email-email ditembuskan ke pimpinan yang lebih tinggi bahkan hingga ke level direktur. Ketika saya datangi sambil berharap beliau berani menyampaikan langsung ke saya, hal-hal tersebut malah tidak dibicarakan. Beliau lebih suka membicarakan tentang diri saya di belakang (beberapa teman menyampaikan ke saya tentang hal ini), tidak berani bicara langsung bertatap muka dengan saya. Ingin sekali saya sebenarnya membuat analisis mengenai hal ini, tapi yah.. sudahlah semua orang sudah tahu. Kalau seseorang itu tidak berani bertatap muka langsung atau hanya berani omong di belakang berarti ada yang salah dengan orang itu.

Di kemudian hari, organisasi juga harus berhati-hati dalam menempatkan seorang opurtunis di posisi yang strategis. Salah-salah nama baik organisasi bisa rusak atau hancur dalam sekejap. Nama baik yang sudah dikenal masyarakat selama 30 tahun bisa sirna dalam sekejap oleh perilaku si opurtunis.
Akhirnya, cuma tulisan ini yang bisa saya buat. Paling tidak setelah menulis ini kejengkelan saya agak reda. Saya teringat kata-kata mutiara dari beberapa tokoh, “There are no bad troops. There are only bad leaders” (Brigadier General S.L.A. Marshall) dan, “There are no bad soldiers, only bad officers” yang dikatakan oleh Napoleon Bonaparte (1769 – 1821).