Selasa, 03 Oktober 2017

PERCAKAPAN MALAM ITU


Celengan Doraemon (paling kiri) dan Hello Kitty (paling kanan) yang tersalahgunakan. Sumber gambar: Tokopedia


Tadi malam terjadi sebuah percakapan penting di keluarga kami. Semua bermula dari kejadian yang berlangsung kemarin malamnya lagi yang dilakukan oleh anak kami Gwen dan sepupunya Gabriel. Waktu itu karena kelelahan, opung boru mereka berdua yang harusnya mengawasi ternyata ketiduran. Maklum opung boru ini kerjanya sangat keras karena ketiadaan tukang cuci gosok di rumahnya di Palembang.

Ketika opung borunya tertidur, mulailah Gwen dan Gabriel beraksi. Mereka berdua mengeluarkan uang logam dari celengan plastik dan dituangkan ke dalam mangkok. Setelah semua uang dari dua celengan Hello Kitty dan Doraemon itu tertuang seluruhnya ke dalam mangkok, maka kemudian susu cair pun dituangkan. Ampun deh! Setelah itu bertumpahanlah susu yang dituang itu ke atas seprei dan membasahi seluruh tempat tidur. Opung borupun terbangun dan marah besar.

Keesokannya mama Gwen pulang dari tugas jaganya dan oleh opung boru diceritakanlah semua peristiwa itu. Maka seperti kebiasaan di keluarga kami, Gwen pun mendapat “ceramah” dan untuk itu papanya pun harus dihubungi.

Awalnya Gwen tidak mau terima dan tidak mengganggap itu sebuah kesalahan. Kebetulan Gabriel mungkin baru belajar tentang “good” dan “bad” di sekolahnya dan menurut Gabriel apa yang mereka lakukan berdua masuk dalam kategori “good”. Alasannya mereka hanya minum susunya saja dan tidak menelan uang logamnya. Ampun deh! Bayangkan susu bercampur uang logam yang beralih dari tangan ke tangan itu. Belum lagi zat kimia pembuatan uang yang masih menempel di uang logam tersebut. Opung borunya pun semakin marah karena tidak ada yang tahu apakah benar mereka berdua tidak ada yang menelan uang logam dari celengan tersebut.

Sebelum saya melanjutkan cerita ini, ada baiknya kita kenali dulu tokoh-tokoh utamanya. Gwen adalah putri kami yang November nanti genap berusia 4 tahun dan Gabriel adalah keponakan kami yaitu anak dari adik ipar saya yang November nanti genap berusia 4,5 tahun. Mereka berdua selisih usia 6 bulan. Saat ini ibunya Gwen sedang bersekolah lagi di FK Unsri dan saya sendiri, ayahnya Gwen bekerja di sebuah yayasan sosial di Surabaya. Sudah, segitu saja pengantarnya. Yuk, kita lanjut ceritanya…

Gwen mengamini perkataan Gabriel kalau mereka berdua tidak bersalah. Ketika mamanya Gwen pulang, maka mereka berdua pun masuk ke dalam kamar dan membahas masalah ini. Saya pun dihubungi via telepon genggam. Ketika saya berhasil dihubungi maka Gwen pun dengan gayanya mulai pura-pura tidur sambil mengeluarkan suara ngorok. Ampun deh anak kami ini gayanya…

“Pa.. ini Gwen nih Pa.. melakukan kesalahan dia ini… “ suara mamanya di seberang telepon terdengar. Sayup-sayup kudengar suara ngorok.

“Lho.. siapa yang ngorok?” tanyaku.

“Ya Gwen lah Pa.. biasa.. pura-pura orok dia.. “ jawab mamanya. Suara ngorok terdengar semakin dikeraskan.

Akhirnya kami membahas peristiwa itu dengan Gwen. Bertanya kepadanya kenapa hal itu dilakukan dan apa dampak buruknya. Kami infokan bahwa uang itu tidak bersih. Uang itu berpindah dari tangan ke tangan dan mengandung banyak sekali kuman. Lalu kami pun bertanya apakah Gwen sudah menyadari kesalahannya. Tapi Gwen tetap berkeras bahwa semua itu bukan kesalahannya. Mamanya pun kembali bertanya.

“Terus salah siapa dong kalau Gwen nggak merasa bersalah” tanya mamanya. Dan coba tebak apa jawaban Gwen yang mengagetkan kami berdua.

“Semua itu salah mama dan papa… “ jawab Gwen sambil memasang wajah ekspresif dan jarinya menunjuk-nunjuk yang membuat kami berdua terkejut. Duh! Rasanya seperti tertikam bercampur kaget karena anak kami bisa mengucapkan hal itu. Istri saya yang terkejut dengan pernyataan Gwen mencoba melakukan klarifikasi atas jawaban yang mengejutkan itu.

“Kenapa kok salah mama dan papa?” selidik mamanya Gwen. Kami berdua sedikit berharap mungkin ini karena pengaruh tayangan sinetron yang secara tak sengaja sering tertonton olehnya.

“Mama sekolah…” kata Gwen. Mamanya terkejut.

“Terus salah papa?” tanya mamanya.

“Papa di Surabaya..” jawab Gwen. Kali ini saya yang terkejut.

Kami berdua kemudian sibuk mencari pembenaran atas situasi yang terpaksa Gwen alami. Terlepas dari itu pengaruh sinetron atau bukan, jelas sekali kemampuan analisisnya berkembang dengan sempurna. Kami orangtuanya yang semakin merasa bersalah atas kondisi yang dialaminya. Walau akhirnya Gwen minta maaf karena telah meminum susu kotor itu, dalam hati kami berdua sadar bahwa kami berdualah sebenarnya yang perlu banyak-banyak minta maaf padanya.

Keesokan harinya hal ini masih jadi perbincangan saya dan istri. Kamipun sepakat sehabis istriku menyelesaikan pendidikannya, tak boleh ada ambisi lainnya. Tak boleh lagi tinggal berjauh-jauhan. Ambisi yang ada hanya untuk Gwen (dan adiknya jika nanti Tuhan berikan) agar bertumbuh dan berkembang dengan baik dalam kasih sayang kami sebagai orangtuanya.

Love u boruku... 

Jumat, 17 Maret 2017

Usia 40: Fourty years and counting!



Biasanya saya menulis artikel untuk diposting di blog tepat pada saat hari ulang tahun saya yaitu di tanggal 15 Maret. Kali ini berbeda. Bukan karena malas atau tidak sempat, tapi karena bingung harus mulai dari mana. 

Kemudian, tiba-tiba saja terpikir harus ada tulisan untuk bisa di-track di kemudian hari. Sayang sekali, kalau selama ini sudah menulis saat ulang tahun dan tiba-tiba missed di 1 tahun. Tahun yang cukup penting malah.. karena angka depannya sudah berubah dan angka di belakangnya juga. 
Bapak ini ulang tahun...

Di depan, angka empat sudah bertengger dan di belakangnya adalah angka nol. Tidak salah kalau orang bilang “Life begin at fourty”. Pendapat itu betul.. Angka 4 adalah angka yang kurang baik menurut teman-teman dari Tiongkok. Itu angka mati katanya. Tapi, coba lihat dan perhatikan baik-baik, di belakangnya ada angka nol yang artinya angka awal. Jadi kalau digabung maknanya menjadi mati dan kemudian kembali lagi dari awal. Meminjam kalimatnya orang-orang rohani yang ahli kitab suci, maknanya bisa menjadi mati dan bangkit kembali.

Tapi apa sejatinya yang harus dirubah saat usia memasuki kepala 4 selain mengganti pasta gigi? Mungkin sudah harus mulai melihat kembali kondisi kesehatan. Mungkin sudah harus melihat apa-apa yang perlu dilakukan untuk stay fit and stay sharp. Usia sudah kepala empat tapi anak masih kecil. Usianya belum ada sepersepuluh usia bapaknya 😄

Sudahlah.. tidak usah banyak-banyak yang perlu ditulis kali ini. Intinya, ya.. berubah.. harus lebih sehat. Jaga makan, jaga kebiasaan, jaga pikiran, perkataan dan perbuatan. Semakin sayang istri.. semakin sayang anak.. semakin sayang adiknya Gwen (kalau jadi 😅 )

Tiba-tiba teringat kisah rajawali tua yang harus rela menderita. Supaya cakarnya tumbuh menjadi baru. Supaya paruhnya kembali tajam dan siap menerkam mangsa. Mangsa itu bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarganya. Keluarga selalu nomor satu.. harus. Pekerjaan? Kalau bisa nomor sepuluh saja 😂

Akhirnya, terimakasih untuk istriku yang sidak (tapi diinfokan juga ke suaminya) ke Surabaya untuk menghadiri wisuda magisterku. Terimakasih untuk boruku yang rela ditinggal mamanya sebentar. Terimakasih untuk dukungan organisasi tempatku bekerja. Untuk orangtua dan saudara-saudaraku dimanapun mereka berada. Terimakasih juga untuk seluruh staf Wahana Visi Indonesia Urban Surabaya yang sudah repot-repot menyediakan kue, meluangkan waktu untuk bernyanyi sebentar, dan untuk mendengar segala keluh-kesah atasan mereka. Jadi teringat waktu di Wamena (Papua) dulu juga begitu. Tuhan itu memang baik. Dia selalu memberikan staf-staf terbaik. Semoga apa yang kita lakukan bersama adalah memang yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk anak-anak yang kita layani.

Akhirnya lagi, usia 40 bukan hal yang menakutkan (harusnya..), tapi sesuatu yang harus disyukuri. Puji Tuhan atas segala anugerahNya buatku dan keluargaku. Umur manusia itu 70 tahun dan kalau kuat 80 tahun, well then… just be brave and be bold (sama aja artinya) it’s still 40 and counting…  for 40 years more…

Amin.

Jumat, 05 Agustus 2016

Jalan-jalan ke Ketandan



Kemarin, atas usulan seorang kawan saya bersama beberapa teman mengunjungi suatu tempat di Surabaya yang disebut sebagai Kampung Ketandan. Jujur, lama bermukim di Surabaya tak serta merta membuat saya tahu persis dimana lokasi kampung ini. Begitu mendengar namanya maka otomatis yang terpikir adalah menanyakan perihal tentangnya kepada orang yang tepat. Orang itu adalah Mbah Google :-) 

Blognya Kampung Ketandan. Sumber: ketandansurabaya.blogspot.co.id

Dari si Mbah, saya mendapatkan petunjuk untuk mengunjungi blognya yaitu Ketandan Surabaya. Blog ini aktif sejak Maret 2016. Jadi, asumsi saya kemungkinan besar kampung ini baru direvitalisasi sekitar awal tahun 2016 ini. Tapi itu masih sebatas asumsi. Mungkin ada baiknya langsung mengunjungi lokasi dan bertanya pada informan yang tepat.

Ketika mengunjungi lokasi, jika tidak bertanya maka tidak akan dapat lokasinya. Karena kebetulan kami rajin bertanya maka lokasinya pun dapat dan nggak pakai nyasar….he..3x Ternyata lokasinya benar seperti apa yang ada di foto yang ditampilkan di blognya. Saya coba bandingkan foto lawas yang ada di blog dengan foto kemarin. Tampak sekali perbedaannya, perbedaan yang membuat saya sadar bahwa ternyata jalan itu sudah ada sejak jaman dahulu kala. Keren… 

Jalan di depan Kampung Ketandan dulu. Sumber: ketandansurabaya.blogspot.co.id


Jalan di depan Kampung Ketandan sekarang. Photo by Rudy Rapang.
Sayangnya Kampung Ketandan bukan terletak di jalan itu. Itu hanya jalan pembuka saja. Jalan masuk Kampung Ketandan persis ada di sebelah Bank of India Indonesia (mudah-mudahan saya menyebutnya dengan benar..). Jalannya kecil, hanya bisa dilalui oleh motor. Nah, ini bagian yang paling menarik: motor ternyata hanya boleh menyala di pintu masuk saja, selebihnya harus dituntun. Itu ternyata yang membuat kami tidak mendengar deru motor selama berjalan-jalan di kampung ini.

Mural langsung menyambut di pintu masuk kampung. Photo by Rudy Rapang.
Ketika memasuki kampung, hampir semua tembok dan jalan dipenuhi oleh mural. Desainnya oke dan sepertinya belum berumur lama. Saya mencoba menyentuh beberapa bagian mural dan ternyata sangat sedikit debu yang menempel. Kembali berasumsi, kemungkinan mural baru dibuat ketika ada perhelatan besar Prepcom HABITAT III yang diadakan Juli lalu. Ini adalah sebuah even berskala internasional dan Surabaya terpilih menjadi tuan rumahnya. Tak heran, jika Surabaya harus lekas-lekas bersolek dan menampilkan yang terbaik dari dirinya. Dan, ini yang paling penting, tak ada yang salah dengan hal itu. Toh hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh warganya. Dalam hati sempat terpikir juga, baik juga kalau sering-sering ada perhelatan besar berskala internasional dilakukan di Surabaya supaya kota ini makin terlihat oke.
Kampung Ketandan terlihat sepi siang itu. Salah kami sendiri mungkin, karena berkunjung pada jam kerja sehingga sulit menemukan orang yang bisa menjadi sumber informasi. Namun, dari penglihatan secara fisik dapat diketahui bahwa memang kampung ini sangat bersih. Public space? Ada dan cukup banyak, bahkan tersedia pula tempat pertemuan (balai) khusus perempuan. Ini menarik, karena di belakang gedung-gedung tinggi itu ternyata tersimpan suatu kampung yang tertata rapi seperti Kampung Ketandan.

Mural di kampung Ketandan. Photo by Rudy Rapang.


Balai tempat aktifitas warga di Ketandan. Photo by Rudy Rapang.

Balai tempat aktifitas warga di Ketandan. Photo by Rudy Rapang.

Tersedia juga tempat berkumpul untuk kaum perempuan. Photo by Rudy Rapang.

Akhirnya, terpikir juga untuk menyebarluaskan apa yang terjadi di kampung ini ke kampung-kampung lain. Bayangkan, kalau semua kampung di Surabaya seperti ini… wow keren! Maka tak salah memang kalau kampung ini sempat dikunjungi oleh delegasi berbagai negara saat perhelatan Prepcom HABITAT III lalu. Sukses terus untuk siapapun yang memulai kampung ini. Keberhasilannya bukan pada bentuk fisik kampung ini, namun pada unsur moralnya dimana semua warga benar-benar berpartisipasi untuk kemajuan kampungnya. Ini nih yang bisa dinamakan Kampung’e Arek Suroboyo… gimana? Setuju?

Selasa, 12 Juli 2016

Bola Merah di Sudut Kamar



Judul di atas adalah judul cerpen yang saya buat untuk mengikuti lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh Faber Castell di tahun 2015. Waktu itu adalah kali kedua saya mengikuti lomba menulis cerpen oleh penyelenggara yang sama. Di tahun sebelumnya saya tidak lolos, masuk finalis pun tidak. Namun, kali ini berbeda. Walau semua proses berlanjut hingga awal tahun 2016 namun ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Saya berhasil meraih juara III kategori umum (kategori B) dengan judul cerpen di atas. Gembira sekaligus terharu, karena ini adalah kedua kalinya saya memenangkan lomba menulis cerpen. Lomba pertama yang saya menangkan adalah untuk cerpen berjudul “Nggak Beli Lotre Pa?” yang juga dapat dibaca pada blog ini.

Yang menarik adalah proses penjurian dimana banyak orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang penulisan artikel, cerpen, dan media berkomentar memberikan penilaiannya. Saya cukup bangga menyimak komentar yang bisa saya dapatkan di laman web tulisen.com yang saya lampirkan gambarnya di bawah ini. Untuk link-nya dapat diklik di sini (mudah-mudahan link-nya masih aktif ya...).

Saya kutip komentarnya sebagai berikut:

Demikianlah, saya belum menemukan topik yang sesungguhnya cukup ‘nendang’ dalam lomba cerpen misteri ini. Dan ada yang menarik pada penjurian tahap dua. Saya dan Mbak Nina Moran Go Girl, nampaknya berselisih pendapat mengenai satu cerpen pada kategori B yang berjudul “Bola Merah di Sudut Kamar” saya memberikan nilai hampir sempurna, sementara Mbak Nina memberikan nilai separuh dari nilai yang saya berikan. Ini menarik! Karena menurut saya, walaupun cerpen yang menceritakan tentang orang yang sudah meninggal ini merupakan topik yang mainstream tetapi teknik bercerita yang sangat menarik dan ending yang mengejutkan! Teknik bercerita yang menarik itu karena Rachmat Willy Sitompul menggunakan dua sudut pandang sekaligus dalam satu cerpen, tanpa terasa memaksakan diri, mengalir dan menghasilkan ending yang mengejutkan. Semula saya mengira, tokoh yang meninggal adalah suaminya, tetapi ternyata justru istri dan anak perempuannya yang diceritakan pertama kali lah yang sudah meninggal. Awesome!

Sumber: tulisen.com

Wah senangnya manakala tulisan kita diberi komentar! Jikalau komentar itu seandainya bernada miring pun sebenarnya oke-oke saja. Itu akan membangun kita untuk menjadi lebih baik ke depannya. Apalagi jika komentar yang bernada positif tentunya harus semakin membuat kita bersemangat untuk karya-karya selanjutnya.

Tanpa berpanjang-panjang lagi. Silahkan disimak cerpen berjudul “Bola Merah di Sudut Kamar” berikut ini, mungkin dalam narasi ada perbedaan redaksional dengan yang di dalam buku kumpulan cerpen pemenang yang akan diterbitkan oleh Faber Castell karena tuntutan jumlah halaman, namun inti ceritanya sama, selamat membaca!

Bola Merah di Sudut Kamar – Juara III Kategori B Lomba Cerpen Faber Castell 2015

“Selamat pagi Ayah!” suara Nisa, bocah perempuan berusia tiga tahun itu memecah kesunyian pagi. Sambil menguap, Nisa berusaha membereskan sendiri tempat tidurnya yang berada dalam kamar ukuran tiga kali lima itu.
“Geser sedikit Ayah!” suara Nisa kembali terdengar. Yang dipanggil Ayah hanya tersenyum sambil sosoknya bergerak ke arah pinggir tempat tidur, turun sejenak dan kemudian kembali duduk di atasnya ketika Nisa merapikannya.
“Mandi dulu Ayah!” suara Nisa lagi-lagi memecah sunyi. Walau masih pukul enam pagi, gadis kecil itu bergegas mandi untuk mengikuti kelas PAUD hari itu.
“Nisa?” suara seorang perempuan terdengar mengiringi bunyi ketokan di pintu kamar. Itu Astuti, ibu Nisa. Dia berumur sekitar akhir dua puluhan. Cantik, dengan wajah khas keibuan.
“Sebentar Bu, sedikit lagi!” teriak Nisa kecil dari kamar mandi.
“Oke… cepat ya, jangan sampai kita terlambat!” suara sang ibu lagi menjawab Nisa sambil tersenyum dan berbalik pergi.

Nisa sudah selesai mandi. Masih berbalut handuk, Nisa mencari baju seragam sekolahnya. Lemari dibuka. Satu per satu baju yang tergantung disibakkan. Ketika menemukan seragamnya, Nisa tersadar sesuatu.
“Ayah, jangan ngintip ya.. Nisa malu!”
Sosok yang dipanggil sang Ayah itu lagi-lagi hanya tersenyum. Dia menaruh kedua tangan menutupi matanya sambil tetap tak bersuara.
“Nisa? Sudah” suara sang ibu kembali terdengar. “Kalau sudah lekas turun, sarapannya dibawa saja ya? Kita sudah hampir terlambat nih…”
“Oke Bu… sebentar..” jawab Nisa sambil menyisir rambutnya. Nisa selalu mengikat rambutnya menyerupai ekor kuda. Lebih cepat dan mudah pengaturannya, begitu pikir Nisa. Heran, walau masih berusia tiga tahun, anak itu sudah mengerti hal-hal yang praktis.
“Daaah.. Ayah…” Nisa melambaikan tangan ke arah sudut kamar. Sosok yang dipanggil Ayah lagi-lagi hanya tersenyum dan melambaikan tangan membalas salam Nisa.
Suara mobil terdengar meraung sebentar sebelum akhirnya menghilang. Kamar itu kembali sunyi. Rumah itu kembali sunyi.

Jam pelajaran kelas PAUD tidak terlalu lama. Kelas biasanya dibubarkan sekitar pukul  setengah sepuluh pagi. Karena waktu belajar yang singkat, hampir semua orang tua menunggui anak mereka.
Seperti biasa pelajaran di kelas PAUD selalu menyenangkan. Demikian pula hari itu. Nisa sangat senang dengan pelajaran yang didapatnya. Ibu guru Rani mengajar dengan baik. Senyumnya sangat ramah. Nisa sangat senang dengan ibu guru Rani. Disalam Nisa tangan ibu gurunya itu sebelum beranjak pulang.
Suara mobil kembali terdengar memasuki pekarangan rumah itu. Ketika mobil berhenti di depan garasi, Nisa bergegas turun. Dengan lincah Nisa membuka pintu depan dan bergegas menaiki anak tangga satu demi satu menuju ke kamarnya.

“Ayah… Nisa pulang!” teriak Nisa senang. Nisa langsung melepas sepatunya dan langsung melompat ke atas tempat tidur untuk memeluk sosok yang dipanggil Ayah itu. Yang dipeluk hanya tersenyum. Sang Ayah sejenak beradu kening dengan putrinya. Keduanya bertatapan sejenak melepas rindu.
“Mana bolanya?” kata Nisa sambil melirik ke sudut kamar. Mata sang Ayah juga melirik ke sudut kamar. Di sudut kamar itu ada sebuah bola berwarna merah. Ukurannya tidak terlalu besar. Cukup ringan untuk diangkat oleh seorang anak kecil. Nisa turun dari tempat tidur dan bergegas mengambil bola itu.
“Tangkap Ayah…” Nisa berseru sambil melempar bola itu. Bola rupanya memantul ke dinding dan kembali pada Nisa.
“Nisa… ayo turun… makan siang dulu!” suara Astuti terdengar dari ruang tengah rumah itu. Wajah Nisa sedikit kecewa. Permainan bolanya terganggu karena harus makan siang. Sang Ayah hanya tersenyum seolah mengatakan agar Nisa makan siang dulu. Nisa balas tersenyum sambil memegang perutnya.
“Lapar…” kata Nisa. “Nisa makan dulu ya Ayah. Nanti kita main lagi… “ kata Nisa lagi sambil melambaikan tangannya sekilas dan langsung menuju ke pintu kamar.
Kamar itu kembali hening. Namun tak lama suara dua pasang tapak kaki menaiki satu demi satu anak tangga terdengar. 

“Ayo Bu sekali-sekali kita main sama Ayah..” suara Nisa terdengar. Sang ibu hanya tersenyum. Astuti bergerak buru-buru mengambil beberapa baju Nisa yang sudah kotor dan mengelompokkannya di sudut kamar.
“Ayolah Bu.. itu lihat Ayah sudah menunggu…” pinta Nisa lagi sambil menarik tangan ibunya.
“Nisa saja ya… Ibu masih harus menyetrika pakaian di bawah..” Astuti menjawab dengan lirih. Matanya tampak berkaca-kaca namun dia berusaha agar tak menumpahkan air mata di hadapan Nisa.
“Ah ibu… “ suara Nisa kecewa. Namun sepertinya rasa kecewa Nisa tidak lama. Nisa kembali mengambil bola merah di sudut kamar itu dan mulai memainkannya. Bola itu terpantul ke dinding dan ditangkap kembali oleh Nisa.
“Lempar Ayah…”
“Wah… bolanya lepas Ayah..”

Suara Nisa memenuhi seisi kamar itu. Astuti hanya memandang Nisa. Mengusap matanya sebentar agar tidak jadi menangis. Kemudian cepat-cepat dimasukkannya pakaian Nisa yang telah disetrika dengan rapi ke lemari pakaian.
“Nisa, ibu turun dulu ya…” suara Astuti terdengar memecah keramaian suara Nisa yang sedang bermain bola. Nisa hanya melirik sekilas ke ibunya sebagai jawaban. Nisa pun kembali bermain.
Siang itu berlalu begitu cepat. Lelah bermain bola, Nisa naik ke atas tempat tidur. Duduk di samping sang Ayah. Mereka berdua membolak-balik sebuah buku cerita hingga akhirnya Nisa lelah dan tertidur dipangkuan sang Ayah. Suasana berubah sunyi. Bola merah itu terdiam di tempatnya di sudut kamar.

***
Rangga tiba-tiba terbangun. Kesunyian itu tiba-tiba menyadarkan dirinya. Setiap kali bola merah disudut kamar itu bergerak, seketika itu juga suasana di kamar itu berubah. Ada sosok anak kecil dan kadang ada pula sosok seorang perempuan yang muncul. Tapi Rangga tak bisa berkata apapun kepada keduanya. Rangga hanya bisa berinteraksi dengan mimik wajah dan gerakan tubuh.  Tapi itu saja sudah cukup bagi Rangga. Sudah cukup untuk mengobati kerinduannya pada Nisa putrinya dan pada Astuti istrinya. Keduanya meninggal akibat kecelakaan tiga tahun yang lalu. 

Suasana kamar itu tak pernah berubah hingga kini. Bola merah itu masih tergeletak di sudut kamar dan sesekali bergerak dan mengubah sesaat suasana. Walau merasa heran, Rangga senang bisa kembali bertemu dengan Nisa dan Astuti. Tiba-tiba lamunan Rangga sejenak terputus oleh sebuah suara.

“Mas Rangga sayang.. sudah diminum obatnya?” suara itu suara Rani. Dia seorang ibu guru. Dia istri Rangga sekarang. Mobil Rani yang menabrak Astuti dan Nisa hingga tewas.