Rabu, 23 Mei 2012

Mimpi Jadi CEO Grup Bakrie


Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak, padahal malam sebelumnya aku dan istriku baru saja menginap di Bakrie Suite di Hotel Baliem Pilamo di Wamena. Sekedar pernah saja, kata istriku. Biar ada yang diceritakan ke anak cucu. Aku setuju dengannya. Yah..lumayanlah 1 malam merasakan tidur di kamar yang luas dan tempat tidur yang empuknya bukan main. Tapi akibatnya jadi terasa malam ini ketika kembali tidur di rumah. Nggak bisa tidur! Mungkin karena hujan lebat yang terus-menerus menghunjam Lembah Baliem ini yang menambah dinginnya suasana ataukah beban pekerjaan yang cukup banyak yang terus saja membebani pikiranku. Atau mungkinkah ada suatu peristiwa heboh esok hari yang akan terjadi? Hmm.. mungkin juga.

Ternyata benar! Esok harinya sewaktu aku masuk ke ruang kerjaku, salah seorang stafku mengantar sepucuk surat. Dari luar aku hanya melihat tulisan besar yang terpampang di situ. “Bakrie and Brothers Tbk.” Begitu tulisannya.  Dengan tak bersemangat aku membuka amplop coklat itu. Di dalamnya ada sepucuk surat. Dahiku mengernyit sedikit keheranan. Ternyata isi surat itu adalah tawaran untukku sebagai CEO di Grup Bakrie. Ahh? Serius nih? Pikirku. Akupun mencoba menghubungi nomor kontak yang ada di surat tersebut. Suara lembut seorang perempuan terdengar di seberang. “Benar Pak. Kami memang sedang mencari CEO baru dan berdasarkan survei yang kami lakukan, Bapak adalah orang yang kami pilih untuk posisi itu. Kami tunggu kehadiran Bapak besok di kantor kami. Jika Bapak ingin informasi lebih lanjut, saya bisa menghubungkan Bapak ke atasan saya” lanjutnya lagi. Tanpa sadar saya hanya diam mematung. Oh my God! Dari seberang hanya terdengar suara sayup-sayup, “Pak..Pak.. halo..halo..”.
***
Ruangan CEO itu begitu luas, letaknya di bagian penthouse suatu gedung tinggi. Dari situ sepertinya kita bisa memandang setiap sudut ibukota. Tidak ada orang lain di situ. Satu-satunya orang di ruangan itu hanya aku. Di ruangan lain yang jauh lebih kecil hanya ada seorang sekretaris dan sebuah sofa panjang untuk para tamu menunggu jika ingin bertemu denganku. Mantap! Pikirku. Puas dengan rasa senang, akupun melihat meja kerjaku. Sebuah meja tembus pandang bernuansa modern tampak di situ. Namun sekejap saja kekaguman akan meja itu sirna begitu melihat tumpukan berkas di sisi kanan meja itu. Hmm..ini dia bagian sulitnya.

Satu per satu aku membaca cover berkas-berkas itu. Bakrie Sumatra Plantations, Bumi Resources, Bakrieland Development, Bakrie Telecom, dan masih banyak berkas yang lain. Wah, tidak mungkin bisa membaca semua ini dalam waktu singkat pikirku. Akupun segera menghubungi sekretarisku. Aku perintahkan semua direktur perusahan yang ada di Grup Bakrie untuk mengikuti rapat singkat orientasi CEO baru. Beberapa direktur yang sedang dalam perjalanan baik di dalam maupun di luar negeri satu per satu kuhubungi dan kuminta mereka untuk segera bergabung dalam rapat. Memang agak riskan juga kalau dipikir-pikir. Bagaimana kalau mereka sedang dalam suatu rapat negosiasi yang juga sama pentingnya? Tapi biarlah, pikirku, lebih baik mengorbankan satu hal untuk kepentingan yang lebih besar yaitu penyamaan persepsi organisasi dan persamaan visi ke depan. Beberapa direktur menawarkan komunikasi via Skype yang langsung kutolak mentah-mentah. Bagiku interaksi langsung face to face jauh lebih bermakna ketimbang mendengar suara dan melihat gambar dari jarak jauh.

Sore itu rapatpun dimulai. Satu per satu direktur yang ada dalam Grup Bakrie maupun dari anak perusahaan bermunculan. Lama-kelamaan ruangan itu penuh juga. Masing-masing memperkenalkan diri dan mengambil tempat di meja bundar bergaya klasik yang penuh dengan ukiran Jepara itu.
Dari para direktur itu aku mencoba membuat gambaran ringkas tentang Grup Bakrie ini. Apa saja sih yang menjadi kekuatan Grup Bakrie? Apa kelemahannya? Bagaimana Grup Bakrie melihat peluang yang ada? Apa saja ancaman yang ada saat ini dan potensial ancaman di masa mendatang? Selain itu aku juga mencoba mendapatkan masukan dari mereka tidak hanya sebatas mendefinisikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman tapi juga menggabungkan masing-masing definisi tersebut menjadi beberapa pertanyaan:
  1. Bagaimana Grup Bakrie bisa menambah “kekuatan” untuk siap menggunakan setiap “peluang” yang ada?
  2. Bagaimana Grup Bakrie bisa mengurangi “kelemahan” untuk mengisi setiap “peluang” yang muncul?
  3. Apakah ada “kekuatan” yang bisa digunakan untuk mengatasi “ancaman” di masa ini maupun di masa depan?
  4. Bagaimana mengurangi “kelemahan” yang ada untuk mengatasi tiap ancaman yang datang saat ini maupun saat nanti?
Dengan banyaknya diversifikasi usaha pada Grup Bakrie tentunya membutuhkan tenaga ekstra untuk melihat porto folio dari masing-masing usaha tersebut. Dari pemaparan para direktur ternyata tidak semua perusahaan dalam Grup Bakrie berada pada posisi menguntungkan. Beberapa masih bergumul dengan penyelesaian hutang yang belum selesai. Banyaknya anak perusahaan menjadi kekuatan namun sekaligus kelemahan manakala ada perusahaan yang tak berbuah profit. Di sisi lain, diversifikasi usaha juga membuat manajemen pengelolaan staf tidak berjalan seragam di masing-masing perusahaan. Padahal perusahaan-perusahaan yang ada dalam Grup Bakrie banyak memilik karyawan yang handal. Para karyawan itu menjadi kekuatan tersendiri bagi Grup Bakrie jika dikelola oleh satu manajemen yang baik. Hmm..menarik juga pikirku. Sambil mendengarkan masing-masing direktur memaparkan kinerja perusahaannya aku pun membuat catatan-catatan kecil yang rencananya akan kupakai untuk presentasi pertamaku sebagai CEO baru. 

Dalam presentasi beberapa direktur, kutemukan juga beberapa kesempatan atau peluang yang bisa diraih oleh Grup Bakrie. Saat ini pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Ini dapat dilihat dari bertumbuhnya kelompok kaum menengah yang berpenghasilan di atas 2,5 juta perbulannya. Kelompok menengah ini bertumbuh seiring dengan perbaikan sistim remunerasi di negeri ini khususnya untuk posisi guru atau pengajar dan petugas kesehatan. Bertumbuhnya kelompok menengah menjadi peluang besar tatkala perbaikan penghasilan berbuah peningkatan kebutuhan. Kelompok ini bisa ditargetkan untuk menjadi konsumen beberapa produk Bakrie. Peluang lain yang juga ditekankan beberapa direktur adalah mengenai pergerakan pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai beranjak ke Asia. Melonjaknya pertumbuhan ekonomi Cina, Jepang, dan Korea Selatan tentu bisa menjadi peluang yang baik jika bisa dimanfaatkan. Presentasi dari grup media juga menunjukkan adanya peluang-peluang positif. Naiknya rating dalam sesi berita yang aktual dan kepercayaan publik yang mulai bertumbuh pada beberapa media dalam asuhan Grup Bakrie menjadi peluang tersendiri yang bisa dimanfaatkan.

Presentasi yang menarik datang dari beberapa direktur perusahaan yang tak berbuah profit. Persoalan pembayaran ganti rugi lumpur Lapindo dan ganti rugi nasabah Bakrie Life menjadi ancaman tersendiri bagi citra grup perusahaan ini. Sejenak aku mengernyitkan dahiku yang mulai berkerut. Ini dia ancaman yang harus segera ditangani. Akupun menuliskan beberapa hal sebagai catatan dalam laptopku.

Setelah selesai mendengarkan para direktur mempresentasikan perusahaan yang masing-masing mereka pimpin, akupun beranjak dari kursiku ke depan. Laptop kecil itu kubawa bersamaku. Banyak sudah catatan yang kubuat. Aku akan mencoba merumuskan pandanganku dari seluruh presentasi mereka.

Mengawali presentasiku sebagai CEO baru, aku memaparkan mengenai strategi “Samudra Biru” yang kubaca dari buku karangan Kim dan Mauborgne. Intinya adalah bagaimana menciptakan ruang tanpa pesaing dan membuat kompetisi menjadi tidak lagi relevan. Aku membuka presentasiku dengan memaparkan beberapa contoh. Contoh pertama adalah bagaimana Callaway Golf membuat permainan golf lebih menyenangkan dengan mengeluarkan produk bernama “Big Bertha”, sebuah tongkat golf dengan kepala besar yang membuat bola golf menjadi lebih mudah untuk dipukul. Permainan golf yang tadinya dinilai sulit oleh kalangan awam menjadi permainan yang menyenangkan yang bisa dimainkan banyak orang. Di kemudian bisnis golf ini bertumbuh lebioh pesat dengan memainkan permainan golf yang tidak harus dimainkan di lapangan golf. Contoh lain adalah bagaimana Apple melihat “peluang” di tahun 2003 dimana saat itu lebih dari 2 juta file musik ilegal ditransaksikan setiap bulannya. Namun Apple melihat kelemahan file musik ilegal tersebut. Kualitas suara yang jelek dan kesulitan memperoleh satu album penuh. Apple kemudian menyediakan iTunes yang menawarkan pengunduhan lagu yang legal, mudah digunakan, dan fleksibel. Pembeli yang ingin membeli satu album bisa membayar $9,99 harga yang lebih murah daripada harus membeli satu keping CD seharga $19. Pembeli yang tidak ingin membeli satu album bisa membeli atau mengunduh sebuah lagu dengan hanya membayar 99 sen. Apple pun mereguk keuntungan besar lewat iTunes.

Ada beberapa poin yang harus dipegang bersama dalam menerapkan strategi ini:
  1. Tidak ada industri atau perusahaan yang terus-menerus unggul. Daya tarik semua industri naik dan turun sepanjang masa.
  2. Grup Bakrie harus bisa menciptakan pasar baru dalam samudra biru tanpa persaingan dan membuat kompetisi menjadi tidak relevan dengan mengumpulkan ide-ide dari para karyawannya.
Akupun memaparkan bahwa akan ada 4 rintangan yang akan selalu ada dalam implementasi suatu strategi baru. Rintangan pertama adalah rintangan kognitif, dimana citra organisasi atau perusahaan yang cenderung melekat pada status quo. Rintangan kedua adalah rintangan politik dimana ada kepentingan-kepentingan yang kuat yang mendominasi. Rintangan ketiga adalah rintangan motivasional yaitu staf yang tidak mempunyai motivasi. Dan rintangan keempat adalah rintangan sumber daya, yaitu sumber daya yang terbatas. Bagaimana cara mengatasi rintangan-rintangan tersebut? Pertama adalah melakukan terobosan lewat dunia pendidikan. Universitas yang selama ini dikelola mau tidak mau harus berperan lebih aktif dalam mengadakan dialog-dialog terbuka yang kemudian diliput oleh media. Dalam dialog-dialog maupun acara-acara kampus dilakukan dengan mengundang berbagai tokoh dari bermacam kalangan sehingga kesan kedekatan pada status quo semakin lama akan semakin pudar dengan sendirinya. Kedua, melakukan penyamaan persepsi dan visi yang terus menerus di lingkup direksi maupun keluarga Bakrie sendiri. Harus ada kesepakatan yang dibangun mengenai siapa yang harus berbicara dan pada even apa sehingga publik semakin bisa mengenali grup ini bukan hanya dari satu atau dua tokoh saja. Keaktifan tokoh-tokoh direksi Bakrie dan keluarga Bakrie dalam diskusi publik perlu terus ditingkatkan. Perlu ada tim khusus yang secara terus-menerus melakukan survey pendapat publik akan grup Bakrie. Tim ini jugalah yang akan memberikan masukan bagi para direksi dan keluarga Bakrie akan apa yang perlu dan tidak perlu dibicarakan di muka publik. Ketiga, adalah peningkatan motivasi karyawan. Remunerasi karyawan yang lebih baik, adanya kepastian promosi, menerapkan sistim level karyawan yang sama di seluruh Grup Bakrie, adanya kemungkinan transfer karyawan antar perusahaan dan terakhir kesempatan bagi karyawan untuk mempunyai kepemilikan atas saham perusahaannya. Hal ini tentunya akan meningkatkan motivasi karyawan yang bekerja pada grup Bakrie terlebih lagi jika hal ini didengungkan hingga ke bursa kerja tentunya akan lebih banyak karyawan yang berkualitas yang bisa direkrut oleh grup Bakrie. Keempat, untuk mengatasi keterbatasan sumber daya perlu ada kemitraan yang dibangun. Kemitraan di sini bisa dilakukan dengan kekuatan level menengah tadi atau membangun kerjasama dengan perusahaan dari negara lain (Cina, Jepang, dan Korea Selatan) yang memiliki ketertarikan berinvestasi di Indonesia. Perusahaan dengan sistim joined venture bisa diterapkan untuk mengatasi kekurangan sumber daya.  

Bagaimana menambah “kekuatan” sambil mengurangi “kelemahan” untuk menangkap setiap “peluang”? Caranya adalah dengan meningkatkan citra atau branding perusahaan. Akupun memaparkan rencanaku untuk membuat suatu perusahaan iklan sendiri bertajuk Bakrie Advertising. Perusahaan ini tidak hanya bertugas dalam membuat iklan masing-masing perusahaan dalam grup Bakrie namun juga aktif berperan dalam kancah dunia periklanan nasional. Sebagai model dalam iklan tersebut bukan hanya artis yang sudah dikenal publik namun juga memanfaatkan karyawan-karyawan yang memiliki dedikasi tinggi. Unit periklanan ini juga akan linked dengan salah satu divisi di Universitas Bakrie. Sebagai salah satu kekuatan perusahaan, staffing juga akan diperhatikan. Selain beberapa usulan yang sudah aku paparkan sebelumnya,  aku juga bermaksud meningkatkan image publik terhadap staf grup Bakrie. Ketika publik melihat ada yang mengenakan batik hijau paduan biru dengan lambang KORPRI, publik akan tahu kalau orang itu adalah PNS. Staf grup Bakrie akan menggunakan seragam khusus sehingga publik akan mudah mengenalinya. Staf grup Bakrie harus bangga jika dikenal publik lewat seragam yang dipakainya. Karena diversifikasi adalah kekuatan sekaligus kelemahan grup Bakrie maka tanpa segan aku akan menutup beberapa anak perusahaan yang tidak bisa memberikan profit dalam 3 tahun ke depan.

Bagaimana menggunakan “kekuatan” sambil mengurangi “kelemahan” yang ada untuk mengatasi “ancaman” yang datang di masa kini dan masa mendatang? Jawabannya adalah penguatan Corporate Social Responsibility dengan menggandeng beberapa NGO lokal maupun internasional. Hal ini mutlak dilakukan agar bisa grup Bakrie bisa bersuara lebih baik. Akupun memaparkan bagaimana logo UNICEF yang selalu bertengger di kaos para pemain Barca. Setiap Barca tampil orang dengan mudah melihat logo itu dan ketika melihat logo orang akan berasosiasi mengenai apa itu UNICEF dan apa yang dikerjakannya. Ke depannya grup Bakrie harus membuat logo yang lebih baik, menarik, dan mudah dikenal. Satu logo untuk semua anak perusahaan. Akupun mengambil contoh bagaimana kisah salah satu grup perusahaan makanan yang ikut membantu perbaikan gizi lewat program Posyandu di Papua dan NTT. Contoh lain yang kupaparkan adalah cerita tentang sebuah grup media yang bisa membantu anak-anak asli Papua untuk mengembangkan radio komunitas di wilayahnya. Dengan meningkatkan kemampuan divisi CSR perusahaan diharapkan persepsi masyarakat yang tadinya menjadi ancaman bisa berubah menjadi kesempatan. Bakrie Advertising akan membuat setiap cerita sukses divisi CSR menjadi cerita yang menarik, mengharukan, dan ditayangkan dalam setiap media yang dimiliki grup Bakrie.

Selain itu akupun memaparkan beberapa bidang bisnis yang layak untuk coba ditelusuri kemungkinan-kemungkinannya. Dengan masalah kemacetan dan keruwetan sistim transportasi di beberapa kota mungkin bisnis transportasi murah layak dipertimbangkan. Grup Bakrie akan ikut serta dalam pembangunan Mass Rapit Transit yang sudah dibatalkan oleh Pemda DKI Jaya. Di beberapa kota lain, grup Bakrie akan terlebih dahulu melakukan studi kelayakan sebelum memulai investasi di bidang transportasi di kota itu.

Bisnis makanan dengan menggandeng beberapa UKM yang telah ada, juga layak untuk ditelusuri. Misalnya dengan menyatukan beberapa rumah makan kecil dengan branding Bakrie Grup. Penempatan UKM juga ada yang dilokalisir di beberapa kantor wilayah grup Bakrie. Nantinya tidak ada lagi kantor PT A atau kantor PT B. Yang ada adalah kantor wilayah Bakrie di beberapa kota di Indonesia. Dengan sistim ini karyawan juga terbantu karena dapat membeli makanan murah berkualitas sehingga apa yang dibayarkan perusahaan ke karyawan dikembalikan lagi ke perusahaan sebagai laba atas hasil penjualan makanan via UKM.

Tidak hanya itu yang kupaparkan. Akupun memaparkan mengenai pengembangan jaringan telekomunikasi Bakrie ke depan. Bagaimana perusahan telekomunikasi itu bisa berkembang tidak hanya sebatas mengurusi selular dan modem namun menjadi layanan pusat data. Grup Bakrie pun sudah harus mempertimbangkan membuat site seperti facebook dengan tajuk Bakrie Community. Bakrie Community akan menjadi wadah aspirasi grup Bakrie di dunia maya yang juga linked dengan Bakrie Advertising dan anak perusahaan lainnya. Bakrie Community juga merupakan wadah interaksi grup Bakrie dengan masyarakat. Di bidang energi, sudah saatnya grup Bakrie memasuki wilayah baru di Indonesia Timur. Di wilayah ini Bakrie Energy (perusahaan dalam bentuk joined venture dengan negara lain) akan merambah bisnis penyediaan tenaga listrik dengan membangun PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro). Modal yang besar pada awalnya akan terbayarkan di tahun-tahun berikutnya karena sistim energi yang terus terbarukan. Akupun terus memaparkan banyak hal yang ingin kucapai 1 tahun, 3 tahun, bahkan hingga 5 tahun ke depan.

Tak terasa satu jam pun berlalu. Presentasiku pun selesai. Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan pertemuan itu. Semua direktur tampak manggut-manggut entah mengerti atau tidak aku sendiri tidak tahu. Mungkin sebagian direktur ada yang khawatir karena perencanaan penghapusan divisi yang kutawarkan. Sebagian lagi mungkin senang akan usul perubahan remunerasi yang kusampaikan. Yah.. paling tidak ini suatu awal yang baik bagi grup perusahaan ini.
***
“Pak..Pak..”, suara itu terdengar sayup-sayup. “Ketiduran kah Pak?” lanjutnya. Rupanya Mak Isah tukang bersih-bersih di kantor sudah ada di depanku. Aku membuka mataku dan langsung terbelalak. Di hadapanku bukan meja kerja transparan dengan gaya modern tadi yang tampak melainkan sebuah meja kayu usang dengan laci yang sudah tak bisa dikunci. Oalahh.. rupanya aku sejenak tertidur di ruanganku akibat kurang tidur semalam. He..he..he.. nikmatnya mimpi jadi CEO Grup Bakrie.. :-)

Jumat, 16 Maret 2012

Usia 35: Ulang Tahun Terakhir di Wamena?






Terimakasih rekan-rekan, mungkin hanya itu yang ada di pikiranku ketika rekan-rekan kerja ADP Eruwok dan Kurima membuat perayaan kecil ulang tahunku. Yang menjadi bahan perenunganku adalah: apakah ini ulang tahun terakhirku di Wamena? Apakah aku dan istriku memang jadi pindah ke Surabaya (saat ini, hanya Tuhan dan Kak Grace yang tahu..he..3x). Tapi dibalik itu semua, ada beberapa pekerjaan yang mutlak harus diselesaikan untuk ADP Eruwok, ADP dimana aku bekerja dengan rekan-rekanku. Saking sibuknya dari kemarin (tanggal 14 Maret) aku sudah bilang sama istriku kalau memang ngga ada yang menyinggung soal ulang tahun yah..diam-diam sajalah, tapi maitua (istri) sepertinya agak keberatan. Mungkin memang harus dirayakan walau hanya perayaan kecil dan sederhana.
Tuhan pasti punya rencana yang indah bagi kami sekeluarga. Bukan karena itu yang kami rasa pas tapi lebih kepada bagaimana kami bisa merancang masa depan dengan baik. Ada rencana untuk sekolah lagi namun sepertinya waktu belum menghendaki. Ada rencana bagi istriku untuk dapat pindah PTT namun sepertinya itupun kalau ke Surabaya harus kami pikirkan lagi. Surabaya adalah kota besar yang kemungkinan besar tidak lagi menerima dokter PTT. Pergumulan kami sebagai keluarga masih panjang. Pekerjaan istriku, keturunan kami, harapan orang tua, dan banyak lagi hal yang lain. Memang kadang aku bingung bagaimana harus mendengar jawaban Tuhan. Coba kalau Tuhan itu bisa ditelepon atau di sms kan pastinya lebih gampang komunikasinya. Tapi sejenak kubayangkan lagi, kalau tiba-tiba tidak ada sinyal, ngga bisa dong teleponan dan smsan sama Tuhan? Memang doa adalah alat komunikasi terbaik dengan Tuhan.
Akhirnya, kembali merenung namun tidak meratap. Tetap pada rencanaNya (apapun itu..) dan tetap saling menguatkan antara kami (aku dan istriku) sebagai suatu keluarga. Amin.

Kamis, 08 Maret 2012

Reframing Performance Identity – Tumbur Tobing, SE., MBA


Minggu lalu (tanggal 26 – 27 February 2012) dalam suatu sesi belajar rutin yang diwajibkan oleh organisasi saya mendapat kesempatan berada dalam gelombang 2 sesi belajar rutin yang disebut dengan ILEARN (Integrated Learning). Dalam sesi tersebut selama 2 (dua) hari saya mendapat pelajaran yang cukup berharga dari seorang fasilitator (atau lebih tepatnya motivator?) yang bernama Tumbur Tobing (fotonya ada saya tampilkan, mohon ijin Pak Tumbur). Tumbur Tobing adalah seorang praktisi bisnis di area Fast Moving Consumer Goods (FMCG) baik diperusahaan swasta nasional maupun perusuhaan mulitinasional dalam waktu lebih dari dua puluh tahun, beliau juga berpengalaman sebagai Dosen untuk mata kuliah Strategic Management dan Marketing lebih dari sepuluh tahun. Beliau terbeban untuk memberdayakan professional supaya dapat mengintegrasikan kebenaran dalam kehidupan karir. Dia melakukan hal ini melalui teaching, coaching, advocating, training dan publishing. Kalau kita masuk ke dalam webnya Pak Tumbur (www.tumburtobing.com) kita bisa menemukan core value Pak Tumbur yaitu: kritis – analitis – mutu – ajar – integritas – tangguh. Pak Tumbur juga telah menulis 2 (dua) buah buku yaitu “Being Different” dan “Success is not My Right” (“Manusia Sejati Manusia Sukses”).
Ketika berhadapan langsung dengan beliau di hari I saya dibuat bingung oleh beliau dengan teknik fasilitasinya yang menurut saya seperti tanpa teknik. Beberapa teman dipanggil maju ke depan dan diminta menceritakan apa yang sudah mereka lakukan di wilayah kerja mereka masing-masing. Beberapa teman dari Area Development Program dan kantor Regio dipanggil dan memaparkan apa yang sudah mereka lakukan. Terlepas dari kemampuan setiap teman melakukan presentasi, saya berusaha menangkap maksud Pak Tumbur memanggil mereka ke depan. Saya sendiri akhirnya agak menyesal juga kenapa tidak dipanggil. Ternyata maksudnya adalah untuk mendapatkan gambaran tentang apa yang WVI kerjakan dan apa pesan utama yang WVI ingin sampaikan ke masyarakat yang dilayani. Menurut Pak Tumbur ternyata pesan utama WVI yang disampaikan teman-teman menjadi kabur dan sudah tidak sesuai dengan pondasi mula-mula WVI yaitu: Christian, Child Focus, dan Community Based. WVI sudah menjadi semacam EOnya EO (EO: Event Organizer). Kalau saya pikir-pikir mungkin Pak Tumbur ada benarnya juga. Selepas itu Pak Tumbur kemudian memaparkan bagaimana beliau mempunyai kemampuan analisis dalam melihat sesuatu. Secara kelompok kamipun diberikan tugas menganalisis masalah yang kami temukan dalam secarik artikel dari koran (tugas ini kemudian dikumpulkan saja dan tidak dibahas).
Di hari kedua ternyata materinya sangat padat. Ada 7 (tujuh) pokok bahasan yang dibahas dalam suatu topik berjudul “Reframing Performance Identity”. Topik tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Who am I
  2. What the meaning of life
  3. Work in spirit
  4. How to read and analyze the culture
  5. Managing People
  6. Managing Area
  7. God's Blue Print
Menurut Pak Tumbur kita bisa menemukan materi 1 – 6 dari berbagai sumber namun untuk materi nomor 7 (God’s Blue Print) hanya dimiliki oleh beliau. Hari kedua ini diawali dengan devosi yang cukup menarik mengenai garam dan terang dunia. Beberapa hal yang disampaikan Pak Tumbur dikutip dari satu buku berjudul “Etika Kerajaan Allah” (buku ini sepertinya harus saya cari! Ada yang bisa bantu kirim gratis kah? Saya akan sangat berterima kasih sekali). Saya akan memaparkan satu per satu walau mungkin tidak terlalu lengkap karena prinsip saya menulis apa yang menarik dan apa yang ingin saya cari tahu kemudian.
Dalam materi “Who am I”, Pak Tumbur memaparkan mengenai perbedaan antara manusia dan binatang walau sebenarnya Tuhan membuat beberapa perilaku binatang yang cukup menarik yang bisa ditiru oleh manusia. Manusia digambarkan sebagai “Image of God” sehingga seorang manusia harus tahu bahwa nilainya sangatlah berharga sebenarnya namun kadang manusia tidak bisa menempatkan nilai tersebut dalam realita kehidupannya. Ada manusia yang menaruh nilainya begitu rendah sehingga tidak mampu mencapai apa-apa. Manusia juga adalah mahluk yang terbatas. Ada dua batasan yang akan selalu ada dalam kehidupan manusia yaitu “Space” (ruang) dan “Time” (waktu). Manusia bisa berpindah-pindah ruang namun waktu tetap berjalan terus. Umur manusia sebagaimana dalam Alkitab dikatakan 70 tahun dan kalau kuat 80 tahun. Dengan demikian kalau kita menghitung 70 tahun dikurangi umur kita sekarang maka itulah waktu yang tersisa bagi kita untuk berbuat (baik atau buruk? Berbuah atau tidak berbuah?). Dalam keterbatasannya manusia menghadapi 7 (tujuh) dilema antara lain:
  1. Kebutuhan-kebutuhan (Needs)
  2. Waktu (Times)
  3. Bobot Surgawi - apakah manusia akan berada di kekekalan (bersama Tuhan dalam "the Lord Supper") atau akan dibinasakan?
  4. Kesulitan Hidup
  5. Good and Evil (kejadian 2: 15-17)
  6. Firman dan Teori
  7. Allah dan Setan
Ketujuh dilema tersebut selalu ada mewarnai setiap kehidupan manusia. Kalau diperhatikan dalam penjelasan beliau selanjutnya, beliau memaparkan tentang suatu teori yang mengemuka di abad 21 (Times edisi April 2009, ini juga harus disearch nih..) yaitu tentang Neo-Calvinism. Neo-Calvinism berbicara mengenai dua hal yaitu: dehumanisasi dan desakralisasi. Contoh mudahnya adalah kita bisa melihat di film “Lion King” bagaimana singa yang adalah mahluk buas digambarkan mempunyai perasaan cinta dan kasih sayang. Beberapa tokoh (artis) juga menjadi sorotan Pak Tumbur yang digambarkan sebagai “perlawanan” terhadap nilai-nilai gerejawi antara lain: Black Eyed Peas yang selalu menyampaikan tema “Where is the Love”, Charlotte Church penyanyi gereja yang digambarkan sebagai “The Fallen Angel”, Britney Spears sebagai “titisan Madonna”, Jessica Simpson mantan penyanyi KKR, Avril Lavigne yang juga mantan anggota koor gereja, dan Katy Perry (ini saya ngga tahu kenapa, yang pasti namanya disebut).
Dalam “What The Meaning of Life”, Pak Tumbur memaparkan tentang Protagoras dan teorinya tentang manusia yang mengukur (menjadi ukuran) segalanya (Man the measure of all thing). Juga dipaparkan tentang teori Anthony Robbins bahwa manusia mempunyai potensi diri tak terbatas, berkuasa atas diri sendiri, menentukan nasib sendiri, dan pemegang tunggal kekuasaan tanpa batas. Teori inilah yang menimbulkan anggapan yang salah tentang manusia sehingga muncul perilaku-perilaku yang negatif, tidak lagi menghargai hak-hak sesama manusia. Ada 3 (tiga) jenis investasi nilai hidup yang harus ditanam oleh manusia yaitu: Investasi rohani, investasi “brain value”, dan “work ethos”. Kalau semua manusia berinvestasi di 3 hal tersebut maka kehidupannya akan lebih baik. Kehidupan duniawi menempatkan 4 hal penting sesuai urutan yaitu: Strategy, System, People, dan Values namun dengan Kekristenan urutannya menjadi: People, Values, Strategy, dan System. Orang dan nilai-nilai yang dipunyainya haruslah berada di urutan tertinggi yang menjadi prioritas untuk dipikirkan dan dibenahi jika ada masalah.
Untuk “Work in spirit” seseorang harus tahu apa tujuan dari hidupnya. Apakah dia adalah orang dengan tipe Mediocre (Mediocre: sedang-sedang saja, tidak optimistis, single loyalty, tidak tertarik dengan tantangan) atau orang yang keras dengan prinsip: Success or out! Dalam “Global Competition” Charles Hendy (mudah-mudahan saya tidak salah tulis namanya) mengemukakan teori “1/2 x 2 x 3 = P” yang berarti “pecat setengah karyawan, naikkan gaji karyawan yang sisa sebesar dua kali lipat maka performance (P) mereka akan naik 3 kali lipat”. Teori ini menarik juga menurut saya namun apakah pasti kinerja akan meningkat drastis sampai 3 kali lipat tentu harus dianalisis juga.
Untuk bisa membaca dan mengalisis budaya (How to read and analyze the culture) kita harus membaca beberapa teori dari Miroslav Volv dan Douglas Mc Gregor (teori X dan Y tentang Brand Building Strategy). Dua pernyataan lain dari Rene Descartes “Cogito Ergo Sum” dan dari Santo Agustinus “Credo ut Inteligent” juga merupakan hal menarik untuk dikaji (makin banyak lagi hutang saya untuk menggoogling dua hal ini..). Walau sesi ini berlalu buru-buru dan saya kurang menangkap secara ringkas tentang membaca dan menganalisis budaya, ada satu kisah yang menarik tentang perjuangan burung rajawali untuk terus hidup. Ceritanya begini, Burung Rajawali sebenarnya bisa hidup sampai umur 70 tahun namun di usia 40 tahun dia harus mengambil keputusan yang berat. Apa itu? Waktu usia 40 tahun, rajawali paruhnya sudah tumpul, demikian juga cakarnya. Kemampuan terbangnya juga menurun karena bulu-bulu sayapnya yang tua dan tebal terasa memberatkan ketika harus terbang cepat menangkap mangsanya. Jika dia tidak mengambil keputusan berat itu maka usianya tidak akan sampai 70 tahun karena sulit baginya mencari makanan. Keputusan berat yang harus diambilnya adalah: menghancurkan paruhnya dengan membenturkannya ke batu yang keras, menghancurkan cakar tuanya yang tumpul, dan mencabut bulu-bulu tuanya yang tebal. Keseluruhan proses ini menyakitkan sekali dan harus dilalui selama 150 hari (5 bulan). Selama waktu itu rajawali hanya berdiam menunggu paruh baru, cakar baru, dan bulu-bula muda yang ringan tumbuh kembali. Setelah semua proses yang menyakitkan tersebut rajawali akan mampu bertahan hidup hingga 30 tahun lagi sampai usia 70 tahun. Proses menyakitkan apa yang harus kita lewati agar kita bisa terus "hidup"?
Secara alkitabiah bisa kita dapatkan tentang perjuangan kita yang bukan perjuangan duniawi (2 Kor 10: 3-5) dan “corrupting effect of sin” (Roma 1: 24-26-28) disini Francis Schaeffer menyampaikan tentang kebenaran yang menuntut konfrontasi dengan kasih (ini juga harus dicari detailnya nih..). Teori Abraham Kuyper tentang pemahaman budaya juga menarik untuk dipahami. Dikatakan bahwa orang Kristen mempunya peran sentral untuk membangun kemanusiaan (developing humanity) dalam suatu rencana Allah (divine plan).
Dalam “managing people” ada 9 core values yang harus kita perhatikan:
  1. Mengejar keunggulan dan mengutamakan integritas
  2. Menerima gagasan dari manapun dan sepenuh hati menjalankan “work out” à it’s a new idea.
  3. Kejar mutu, tekan cost à menggunakan waktu kerja sebagai keunggulan yang kompetitif.
  4. Percaya diri sehingga bisa melibatkan semua orang dan bekerjasama dengan siapapun tanpa batasan.
  5. Gariskan visi yang jelas, sederhana, realistis dan sampaikan ke semua pihak.
  6. Penuh energi dan mampu energize orang lain.
  7. Berani menentang jangkauan, tentukan tujuan agresif, menghargai kemajuan serta memahami tanggung jawab dan komitmen.
  8. Menganggap perubahan (change) sebagai peluang bukan ancaman.
  9. Mempunyai otak global, dan membangun team global yang beraneka ragam.
Yang paling penting dari semuanya adalah: Manage by Heart! Hidup di situ (live in) dan menunjukkan integritas terhadap 4 saksi yang akan selalu ada bersama-sama: Diri sendiri, Hati Nurani, Setan, dan Tuhan.
Dalam “managing area” ada rumus 3D = 1T yang harus diperhatikan yaitu Drive, Demanding, dan Dateline yang akan menghasilkan Tough (ketangguhan). Ada juga prinsip yang menarik yaitu: To think like Einstein, To Create like Darwin, dan To Invent like Edison. Apapun yang kita pelajari paling tinggi hanya akan terserap 90% jika kita mau terserap 100% maka harus diperkatakan dan dilakukan.
Apa yang menarik dari “God’s Blue Print”? Sesi ini agak cepat sekali karena saat itu waktu sudah mendekati setengah enam sore. Yang saya tangkap adalah 3 (tiga) hal yang harus diperhatikan yaitu: To honor God in all we do, To help people develop, dan To grow profitably. Rencana Tuhan (God’s plan) selalu berhubungan dengan panggilan. Kita harus berusaha mencapai lebih tinggi (reach higher) dan bersikap kompetitif (selalu membawa diri berada dalam suatu kompetisi). Kita harus berusaha mengerti dengan cepat apa God’s agenda untuk kita karena rencana Tuhan tidak pernah terbatas akan ruang dan waktu (space and time).
Semoga bermanfaat ya? Tinggalkan pesan (comments) jika perlu dan untuk komunikasi lebih lanjut terutama kalau ada yang punya buku-buku dari tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas ya. Tuhan memberkati.

Rabu, 07 Maret 2012

Teori Makan Bubur Panas dan Ikan Laut

Selamat Sore!

Pada waktu saya membolak-balik catatan ILEARN minggu lalu, terlihat sekelumit catatan tentang Teori Makan Bubur Panas dan Teori tentang Ikan Laut. Apaan tuh?
Yang pasti tidak ada yang tahu kapan teori ini muncul, saya ketikkan kata "bubur panas" di Google dan keluarlah beberapa informasi tentang bubur termasuk teori tentang makan bubur panas. Ketika saya masuk ke salah satu situs berbau agama (Islam) ada pernyataan yang sedikit mengganggu hati saya. Pernyataan itu terkait isu Kristenisasi dengan menggunakan teori bubur panas. Yah... ada-ada saja. Seharusnya agama yang paling paling mayoritas di Indonesia ini tidak perlu takut dengan isu Kristenisasi. Lihat saja di media massa sepertinya umat Kristen yang jauh lebih menderita. Mendirikan gereja yang sudah jelas ada IMBnya saja sulit, boro-boro mau Kristenisasi.

Jadi ngelantur deh... Nah.. sekarang kita kembali ke topik Teori Makan Bubur Panas tadi. Teorinya begini: kalau kita mau makan bubur panas tentu kita tidak bisa langsung makan bubur dengan menyendok dari tengah. Yang ada mulut kita bisa terbakar karena kepanasan. Saat kita menikmati semangkuk bubur panas yang harus kita lakukan adalah dengan memakan sedikit demi sedikit dari pinggir mangkuk sampai akhirnya ke tengah dan habis. Teori ini adalah salah satu teori untuk memecahkan masalah. Saat kita mau memecahkan masalah kita tidak bisa langsung masuk ke tengah permasalahan tapi dipahami sedikit demi sedikit sampai akhirnya masalah tersebut bisa dipahami dan dipecahkan.

Lantas bagaimana dengan Teori Ikan Laut. Nah... ikan laut itu tinggal dalam lingkungan air asin namun kalau kita makan ikan laut ternyata rasanya tidak asin. Teori ini untuk mengingatkan kita agar menjadi diri kita yang sebenarnya entah di lingkungan manapun kita tinggal.

Kayaknya cukup segitu dulu sharing kali ini tentang Teori Makan Bubur Panas dan Teori Ikan Laut. Oh iya terimakasih untuk Pak Johny Sirait yang sempat memaparkan teori ini dalam satu sesi devosi di ILEARN.

Kiranya bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Selasa, 14 Februari 2012

Happy Valentine Day My Beloved Wife!

Hari ini katanya hari kasih sayang yang diperingati di seluruh dunia. Oh ya? Ngga tau kenapa sepertinya ada perasaan khusus seperti harus mengucapkan sesuatu pada istri tersayang. He...he..he... mungkin karena makin hari makin cinta kali ya...

Sulit untuk menjabarkan kata per kata buatmu, yang ada hanya kutipan dari lagu SHE "Bukan Untuk Sembarang Hati" berikut ini:

SHE – Bukan Untuk Sembarang Hati

Intro:A

A
Aku cinta mati padamu
F#m
Takkan sanggup aku tanpamu
Bm
Bahagiamu itu bahagiaku
C#m
Dan setiap air matamu
D E
Itulah juga kesedihanku

A
Aku cinta mati padamu
F#m
Jangan pernah meragukanku
Bm
Terlalu dalam cintaku ini
C#m
Mungkin aku bisa mati
D E
Bila harus kehilangan dirimu

A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
aku katakan ini
F#m Bm E
Sungguh aku cinta kamu
A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
Hingga nafas berhenti
F#m Bm E A
Aku rela berlelah untukmu

Int: D C#m Bm E

A
Aku cinta mati padamu
F#m
Jangan pernah meragukanku
Bm
Terlalu dalam cintaku ini
C#m
Mungkin aku bisa mati
D E
Bila harus kehilangan dirimu

A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
aku katakan ini
F#m Bm E
Sungguh aku cinta kamu
A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
Hingga nafas berhenti
F#m Bm E
Aku rela berlelah untukmu

Solo: F#m E D
F#m E Bm C#m D E

A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
aku katakan ini
F#m Bm C#m D E
Sungguh aku cinta kamu
A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
Hingga nafas berhenti
F#m Bm E A D
Aku rela berlelah untukmu
A
untukmu


Selamat Hari Valentine istriku, cintaku.....
Tuhan memberkati kita selalu...

Rabu, 04 Januari 2012

Tuhan (juga) cinta orang mabuk!


Suatu hari ada seorang mabuk tidur di pelataran gereja. Berkali-kali pengurus gereja mencoba membangunkannya dan menyuruhnya untuk bangun namun tidak kunjung berhasil. Ketika akhirnya si pemabuk bangun dari tidurnya dia berkata kepada pengurus gereja “Tidak tahukah kamu kalau aku harus berada di rumah Bapaku?” (Mop, anonim)

Sore itu sebuah berita yang mengagetkan datang. “Jusni kecelakaan” kata istriku via handphone. Jusni adalah staf Puskesmas Assolokobal dimana istriku melayani sehari-hari sebagai dokter PTT. Aku sejenak terkaget. Karena hari itu hari libur di organisasi maka dari pagi aku sudah mengantar istriku dan ikut menemaninya memeriksa pasien sampai selesai. Pagi itu memang Jusni datang terlambat. Ketika datangpun ia tidak langsung masuk ke Puskesmas tapi sibuk bertelepon dengan seseorang. Setelah selesai dari pekerjaan di Puskesmas, istriku masih sempat bertemu dengan Jusni di rumah seorang dokter rekan kerja istriku. Di akhir tahun ini memang banyak pekerjaan administrasi yang harus diselesaikan terlebih untuk Jusni karena ia seorang bendahara Puskesmas.

“Langsung ke rumah sakit saja, di UGD” sms istriku masuk ke handphoneku. Aku bergegas ke rumah sakit menaiki si hitam motor megapro yang setia menemaniku kemana saja. Di situ tampak kerumunan orang banyak. Aku menemui istriku. “Dua jari kakinya putus” kata istriku. Aku segera melongok ke arah kaki Jusni. Benar, dua jari kakinya putus. “Bagaimana peristiwanya?” tanyaku. “Ngga jelas” sahut istriku. “Ditabrak Strada, yang bawa sepertinya mabuk” lanjutnya. Tak berapa lama perhatian semua orang di ruangan pecah. Rupanya seorang yang sedang mabuk tak henti-hentinya berkata-kata. “Selamat Natal, saya mabuk jadi banyak bicara.. minta maaf.. Tuhan berkati bapak ibu sekalian” logat pegunungan yang kental disertai bau alkohol menyeruak di ruangan itu. Ada yang tertawa terkekeh, namun ada juga yang geram seraya berujar “Suntik mati saja..”. Aku sendiri sempat merasa miris dan jengkel melihatnya. Info yang kemudian aku dapat ternyata ada empat orang pemuda yang sedang mabuk mengendarai Strada. Mereka kemudian menabrak ojek yang ditumpangi Jusni. Supir ojeknya sendiri terlihat belum sadarkan diri.

Istriku terlihat sibuk dengan rekannya sesama dokter. Aku hanya menunggu sambil sesekali membantu mengambilkan beberapa keperluan yang dibutuhkan istriku. Sambil menunggu aku mulai berpikir tentang orang mabuk tadi. Apa yang akan terjadi saat dia sadar nanti? Apakah dia tahu bahwa perbuatannya telah membuat orang lain terluka? Pertanyaan yang muncul dalam benakku semakin banyak dan bahkan menjadi semakin sulit kujawab tatkala pertanyaan yang mulai muncul adalah: Bagaimana pandangan Tuhan tentang orang ini? Apakah Tuhan juga mencintai orang mabuk ini? Belum lagi bisa kujawab, pertanyaan lain muncul dalam benakku: Apakah aku masih bisa menghargai orang mabuk itu sebagaimana nilai dasar organisasi WVI “we value people”?

Dokter dan perawat UGD bertindak cepat. Luka-luka di tubuh orang mabuk itu dibalut di tengah-tengah ocehannya yang kunjung berhenti hingga ia dipindah ke ruang rawat. Ternyata orang mabuk pun mendapat perlakukan sama oleh tenaga kesehatan di UGD malam itu. Tidak peduli dengan kejengkelan yang ada dalam hati semua terapi yang dia butuhkan dikerjakan tanpa kecuali. Dalam hati aku memuji para dokter dan perawat ini. Mereka inilah yang patut diacungi jempol, pikirku karena mereka tetap menghargai si penabrak yang tengah mabuk tanpa perbedaan dengan pasien lainnya. Ini baru we value people!

Sekitar jam 11 malam akhirnya kami pulang. Perut ini terasa keroncongan. Pikiranku masih terus terbayang kejadian di UGD tadi. Sehabis menyantap nasi goreng, aku mencoba merenungkan kembali pertanyaanku tadi. Terlintas satu ayat di Korintus yang menyatakan bahwa pemabuk tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah (I Kor 6:10) namun bagaimana kalau si pemabuk kemudian sadar lalu bertobat dan mengaku dosanya? Ternyata Allah itu setia dan adil, Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (I Yoh 1:9). Yah, akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan. Jika si pemabuk tadi benar-benar mengakui dosanya dan memohon pengampunan maka ia pasti akan diampuni. Tuhan tetap cinta dia, sama seperti dia cinta aku dan semua orang di dunia ini. Tuhan tetap cinta orang mabuk!

Dasar Hidup Masyarakat Jayawijaya

Suatu kali saya sempat mengajukan pertanyaan kepada seorang ahli budaya yang tinggal di Wamena, kebetulan beliau juga adalah orang asli Wamena yang menekuni soal sejarah dan budaya. Beliau bernama Niko A. Lokobal. Waktu itu beliau menjawab dalam bentuk tulisan yang disampaikan ke saya pada tanggal 10 Juni 2011. Saya baru sempat menuliskannya kembali sekarang. Berikut ini saya paparkan kembali apa yang dituliskan beliau untuk saya (dr. Willy Sitompul) mengenai dasar hidup masyarakat Jayawijaya.

Masyarakat Jayawijaya adalah masyarakat yang menghormati tanah. Dalam hal ini:
• Tanah sebagai dasar hidup mereka
• Tanah sebagai akar hidup mereka
• Tanah sebagai ibu yang memberdayakan hidup melimpah

Maka tanah adalah “kudus/ sakral” dalam pandangan mereka. Pada tanah dibuat batas (pagar) kepemilikan dalam bentuk tanaman atau batu sebagai batas penguasaan (kepemilikan). Sambil bekerja anak-anak generasi berikutnya diberi tahu cara membuat pagar dan memelihara batas-batas tersebut. Juga tentang kesakralan tanah.

Tanah Harus Beristirahat. Pada saat tanah beristirahat, manusia tidak boleh beraktifitas apapun yang berhubungan dengan tanah. Kesakralan tanah diumumkan oleh penguasa wilayah misalnya wilayah Mukoko atau Welisi dan Assolokobal.

Penguasaan wilayah direbut melalui perang suku yang disponsori oleh kepala suku dari konfederasi tertentu. Kemudian beberapa konfederasi itu membentuk aliansi jika menghadapi perlawanan dari aliansi lain. Jadi sistim aliansi dan konfederasi berlaku ketika menghadapi peperangan atau perlawanan. Ada pula perang antar konfederasi. Ketika menghadapi perlawanan dari luar konfederasi mereka bersatu sebagai aliansi untuk menghadapi musuh bersama.

Tokoh mitos yang disebut Naruekul adalah satu dan sama bagi masyarakat Jayawijaya. Setiap marga atau klan memiliki totem masing-masing dimana setiap totem mengarah pada Naruekul sebagai tokohnya. Jika ditelusuri terus maka tokoh mitos tersebut ternyata dibunuh dan kemudian dipotong-potong dan dibagikan ke kelompok-kelompok orang. Setiap kelompok orang yang memperoleh bagian tertentu kemudian menyebar sampai ke seluruh lembah Baliem hingga ke arah Barat.

Menurut Niko Lokobal, sampai saat ini pada setiap pertemuan atau konflik yang beliau saksikan selalu mengarah pada Naruekul sebagai dasar hidup masyarakat Jayawijaya. Sehingga kesimpulan beliau adalah: dasar segala aktifitas masyarakat Jayawijaya adalah tanah yang disirami darah Naruekul sebagai tokoh mitosnya.