Rabu, 04 Januari 2012

Tuhan (juga) cinta orang mabuk!


Suatu hari ada seorang mabuk tidur di pelataran gereja. Berkali-kali pengurus gereja mencoba membangunkannya dan menyuruhnya untuk bangun namun tidak kunjung berhasil. Ketika akhirnya si pemabuk bangun dari tidurnya dia berkata kepada pengurus gereja “Tidak tahukah kamu kalau aku harus berada di rumah Bapaku?” (Mop, anonim)

Sore itu sebuah berita yang mengagetkan datang. “Jusni kecelakaan” kata istriku via handphone. Jusni adalah staf Puskesmas Assolokobal dimana istriku melayani sehari-hari sebagai dokter PTT. Aku sejenak terkaget. Karena hari itu hari libur di organisasi maka dari pagi aku sudah mengantar istriku dan ikut menemaninya memeriksa pasien sampai selesai. Pagi itu memang Jusni datang terlambat. Ketika datangpun ia tidak langsung masuk ke Puskesmas tapi sibuk bertelepon dengan seseorang. Setelah selesai dari pekerjaan di Puskesmas, istriku masih sempat bertemu dengan Jusni di rumah seorang dokter rekan kerja istriku. Di akhir tahun ini memang banyak pekerjaan administrasi yang harus diselesaikan terlebih untuk Jusni karena ia seorang bendahara Puskesmas.

“Langsung ke rumah sakit saja, di UGD” sms istriku masuk ke handphoneku. Aku bergegas ke rumah sakit menaiki si hitam motor megapro yang setia menemaniku kemana saja. Di situ tampak kerumunan orang banyak. Aku menemui istriku. “Dua jari kakinya putus” kata istriku. Aku segera melongok ke arah kaki Jusni. Benar, dua jari kakinya putus. “Bagaimana peristiwanya?” tanyaku. “Ngga jelas” sahut istriku. “Ditabrak Strada, yang bawa sepertinya mabuk” lanjutnya. Tak berapa lama perhatian semua orang di ruangan pecah. Rupanya seorang yang sedang mabuk tak henti-hentinya berkata-kata. “Selamat Natal, saya mabuk jadi banyak bicara.. minta maaf.. Tuhan berkati bapak ibu sekalian” logat pegunungan yang kental disertai bau alkohol menyeruak di ruangan itu. Ada yang tertawa terkekeh, namun ada juga yang geram seraya berujar “Suntik mati saja..”. Aku sendiri sempat merasa miris dan jengkel melihatnya. Info yang kemudian aku dapat ternyata ada empat orang pemuda yang sedang mabuk mengendarai Strada. Mereka kemudian menabrak ojek yang ditumpangi Jusni. Supir ojeknya sendiri terlihat belum sadarkan diri.

Istriku terlihat sibuk dengan rekannya sesama dokter. Aku hanya menunggu sambil sesekali membantu mengambilkan beberapa keperluan yang dibutuhkan istriku. Sambil menunggu aku mulai berpikir tentang orang mabuk tadi. Apa yang akan terjadi saat dia sadar nanti? Apakah dia tahu bahwa perbuatannya telah membuat orang lain terluka? Pertanyaan yang muncul dalam benakku semakin banyak dan bahkan menjadi semakin sulit kujawab tatkala pertanyaan yang mulai muncul adalah: Bagaimana pandangan Tuhan tentang orang ini? Apakah Tuhan juga mencintai orang mabuk ini? Belum lagi bisa kujawab, pertanyaan lain muncul dalam benakku: Apakah aku masih bisa menghargai orang mabuk itu sebagaimana nilai dasar organisasi WVI “we value people”?

Dokter dan perawat UGD bertindak cepat. Luka-luka di tubuh orang mabuk itu dibalut di tengah-tengah ocehannya yang kunjung berhenti hingga ia dipindah ke ruang rawat. Ternyata orang mabuk pun mendapat perlakukan sama oleh tenaga kesehatan di UGD malam itu. Tidak peduli dengan kejengkelan yang ada dalam hati semua terapi yang dia butuhkan dikerjakan tanpa kecuali. Dalam hati aku memuji para dokter dan perawat ini. Mereka inilah yang patut diacungi jempol, pikirku karena mereka tetap menghargai si penabrak yang tengah mabuk tanpa perbedaan dengan pasien lainnya. Ini baru we value people!

Sekitar jam 11 malam akhirnya kami pulang. Perut ini terasa keroncongan. Pikiranku masih terus terbayang kejadian di UGD tadi. Sehabis menyantap nasi goreng, aku mencoba merenungkan kembali pertanyaanku tadi. Terlintas satu ayat di Korintus yang menyatakan bahwa pemabuk tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah (I Kor 6:10) namun bagaimana kalau si pemabuk kemudian sadar lalu bertobat dan mengaku dosanya? Ternyata Allah itu setia dan adil, Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (I Yoh 1:9). Yah, akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan. Jika si pemabuk tadi benar-benar mengakui dosanya dan memohon pengampunan maka ia pasti akan diampuni. Tuhan tetap cinta dia, sama seperti dia cinta aku dan semua orang di dunia ini. Tuhan tetap cinta orang mabuk!

Dasar Hidup Masyarakat Jayawijaya

Suatu kali saya sempat mengajukan pertanyaan kepada seorang ahli budaya yang tinggal di Wamena, kebetulan beliau juga adalah orang asli Wamena yang menekuni soal sejarah dan budaya. Beliau bernama Niko A. Lokobal. Waktu itu beliau menjawab dalam bentuk tulisan yang disampaikan ke saya pada tanggal 10 Juni 2011. Saya baru sempat menuliskannya kembali sekarang. Berikut ini saya paparkan kembali apa yang dituliskan beliau untuk saya (dr. Willy Sitompul) mengenai dasar hidup masyarakat Jayawijaya.

Masyarakat Jayawijaya adalah masyarakat yang menghormati tanah. Dalam hal ini:
• Tanah sebagai dasar hidup mereka
• Tanah sebagai akar hidup mereka
• Tanah sebagai ibu yang memberdayakan hidup melimpah

Maka tanah adalah “kudus/ sakral” dalam pandangan mereka. Pada tanah dibuat batas (pagar) kepemilikan dalam bentuk tanaman atau batu sebagai batas penguasaan (kepemilikan). Sambil bekerja anak-anak generasi berikutnya diberi tahu cara membuat pagar dan memelihara batas-batas tersebut. Juga tentang kesakralan tanah.

Tanah Harus Beristirahat. Pada saat tanah beristirahat, manusia tidak boleh beraktifitas apapun yang berhubungan dengan tanah. Kesakralan tanah diumumkan oleh penguasa wilayah misalnya wilayah Mukoko atau Welisi dan Assolokobal.

Penguasaan wilayah direbut melalui perang suku yang disponsori oleh kepala suku dari konfederasi tertentu. Kemudian beberapa konfederasi itu membentuk aliansi jika menghadapi perlawanan dari aliansi lain. Jadi sistim aliansi dan konfederasi berlaku ketika menghadapi peperangan atau perlawanan. Ada pula perang antar konfederasi. Ketika menghadapi perlawanan dari luar konfederasi mereka bersatu sebagai aliansi untuk menghadapi musuh bersama.

Tokoh mitos yang disebut Naruekul adalah satu dan sama bagi masyarakat Jayawijaya. Setiap marga atau klan memiliki totem masing-masing dimana setiap totem mengarah pada Naruekul sebagai tokohnya. Jika ditelusuri terus maka tokoh mitos tersebut ternyata dibunuh dan kemudian dipotong-potong dan dibagikan ke kelompok-kelompok orang. Setiap kelompok orang yang memperoleh bagian tertentu kemudian menyebar sampai ke seluruh lembah Baliem hingga ke arah Barat.

Menurut Niko Lokobal, sampai saat ini pada setiap pertemuan atau konflik yang beliau saksikan selalu mengarah pada Naruekul sebagai dasar hidup masyarakat Jayawijaya. Sehingga kesimpulan beliau adalah: dasar segala aktifitas masyarakat Jayawijaya adalah tanah yang disirami darah Naruekul sebagai tokoh mitosnya.

Senin, 15 Agustus 2011

Be a Motivational Leader – Lasting Leadership Principles

Be a Motivational Leader – Lasting Leadership Principles
LeRoy Eims
Mengenai buku ini Charles R. Swindoll mengatakan “You’re in for a treat!” artinya lebih banyak menyiratkan bahwa setelah membaca buku ini kita seolah-olah seperti ditraktir makan gratis. Isi bukunya enak dan menarik dibaca. Tidak seperti buku-buku dengan latar belakang Kristiani lainnya, buku ini tidak mau memusingkan pembaca dengan banyak sekali ayat-ayat Alkitab. Beberapa kutipan ayat Alkitab disampaikan secara gamblang, seperlunya dan tepat sasaran.
Bagaimana menjadi pemimpin yang memotivasi? LeRoy menuturkan 12 hal yang mutlak harus dilakukan agar bisa menjadi pemimpin yang memotivasi. Dua belas hal tersebut adalah:
  1. Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab (responsible)
  2. Jadilah pemimpin yang bertumbuh (growing)
  3. Jadilah pemimpin yang memberi contoh (exemplary)
  4. Jadilah pemimpin yang menginspirasi (inspiring)
  5. Jadilah pemimpin yang efisien (efficient)
  6. Jadilah pemimpin yang peduli (caring)
  7. Jadilah pemimpin yang komunikatif (communicating)
  8. Jadilah pemimpin yang berorientasi tujuan (goal-oriented)
  9. Jadilah pemimpin yang bisa memutuskan (decisive)
  10. Jadilah pemimpin yang kompeten (competent)
  11. Jadilah pemimpin yang mempersatukan (unifying)
  12. Jadilah pemimpin yang bekerja (working)
Ke-duabelas hal tersebut akan dibahas satu persatu di bawah ini. Dengan menguraikan dua belas langkah tersebut kiranya memampukan kita untuk dapat menjadi pemimpin yang mampu memberikan motivasi.
I. Pemimpin yang Bertanggung Jawab
Ketika tentara Amerika gagal menyelamatkan 50 warga Amerika yang disandera di Teheran pada 25 April 1980 presiden Carter tampil di televisi dan mengatakan bahwa semua itu adalah tanggung jawabnya. Ketika presiden tampil di televisi maka redalah pembicaraan dan rumor yang saat itu terjadi di Amerika. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan NASA. Ketika ada rumor tentang akan jatuhnya Skylab seberat 77.5 ton, NASA tidak mengambil tindakan bahwa seharusnya merekalah yang bertanggung jawab atas kejatuhan tersebut. NASA bertanggung jawab menempatkan Skylab di orbit namun tidak menerima tanggung jawab mengenai dimana Skylab akan jatuh.
Ketika Tuhan mengkonfrontasi Adam akan dosanya, Adam bisa saja langsung mengatakan bahwa Tuhan benar. Itu memang dosanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Adam menyalahkan istrinya dan istrinya pun menyalahkan ular.
Raja Salomo menekankan 5 hal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Kelima hal tersebut ialah:
1. Mampu menegur atau memperbaiki kesalahan orang lain.
2. Mampu menerima tanggung jawab utnuk memutuskan sesuatu.
3. Mampu mendengar kritik yang diberikan orang lain.
4. Mampu berlaku jujur.
5. Mampu berlaku adil.
II. Pemimpin yang Bertumbuh
Seorang pemimpin harus selalu bertumbuh. Ada beberapa musuh yang bisa menghalangi seorang pemimpin untuk bertumbuh yaitu:
1. Rasa bangga.
2. Rasa malas/ kemalasan.
Sedangkan teman atau yang mendukung pertumbuhan seorang pemimpin adalah:
1. Humility/ kerendahan hati.
2. Godliness/ kesalehan.
3. Prudence/ kebijaksanaan.
III. Pemimpin yang Memberi Contoh
Ketika penulis buku ini dahulu pernah membeli sebuah mesin sensor kayu dengan tujuan untuk membuat kayu bakar untuk perapian rumahnya, penulis buku ini memperoleh sensor kayu tersebut dalam bentuk yang belum dirakit. Yang dia punyai saat itu adalah sebuah manual atau petunjuk untuk merakit mesin sensor tersebut. Saat ia mencoba memasangnya, ia kemudian disulitkan dengan beberapa istilah teknis yang ia tak mengerti. Akhirnya hingga saat ini mesin tersebut tak pernah dirakit dan tahun-tahun berlalu tanpa ada kayu di perapian hasil dari mesin sensor tersebut. Hal yang berbeda terjadi ketika penulis buku ini mengikuti wajib militer dimana salah satu aktifitasnya adalah merakit senjata sebuah MI rifle. Dengan dipandu seorang instruktur penulis buku ini kemudian berhasil merakitnya bahkan dalam sebuah kesempatan ada satu kompetisi dimana merakit MI rifle dilakukan dalam kondisi mata tertutup. Saat itu meskipun bukan yang terbaik, penulis buku ini mampu menyelesaikan tantangan tersebut. Apa bedanya dua situasi ini? Ternyata bukanlah soal kompleksitasnya masalah karena kompleksitas keduanya masih sama (sama-sama kompleks) namun bedanya lebih kepada sentuhan personal dimana dibutuhkan seseorang yang mampu mendampingi hingga bisa. Seseorang yang ada untuk mendemonstrasikan dan selalu siap membantu.
Dawson Trotman menjelaskan 5 langkah yang dapat dilakukan untuk membantu seseorah mempelajari sesuatu hal (dalam buku dijelaskan untuk seorang yang baru saja menjadi Kristen) yaitu:
Katakan padanya apa (what)
Katakan padanya kenapa (why)
Perlihatkan padanya caranya (how), untuk poin ini secara khusus Daws mengatakan “pegang tangannya dan pimpin ia melaluinya”
Bantulah ia untuk memulai (get started); dan
Bantulah ia untuk tetap melanjutkannya (keep going)
Hal penting lain yang diungkapkan dalam sesi ini adalah ketika seorang pemimpin mengatakan sesuatu maka pemimpin tersebut juga harus melakukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Ada suatu contoh tentang hal ini ketika penulis buku memberikan instruksi memasang dasi pada seorang gadis (yang belum pernah tahu cara memasang dasi sebelumnnya) dengan hanya berkata-kata tanpa menunjukkan caranya. Hasilnya si gadis sama sekali tidak bisa melakukannya dengan baik. Ketika instruksi diulang sambil penulis buku ini mempraktekkannya dengan mudah si gadis bisa meniru dan memasang sebuah dasi.
IV. Pemimpin yang Menginspirasi
Ketika penulis buku ini mengajukan sebuah pertanyaan di suatu forum yang berisikan 200 pemimpin muda “Kenapa anda mengikuti pimpinan departemen anda?”, ada 3 jawaban yang mengemuka:
1. Ada visi si pemimpin tersebut dimana kalau visi itu dilakukan, hidup mereka akan lebih baik.
2. Ada ketersediaan (availabilty) si pemimpin. Ketika mereka butuh konseling si pemimpin selalu ada untuk mereka.
3. Ada komitmen dari si pemimpin. Alasan mereka mengikuti si pemimpin adalah adanya komitmen si pemimpin untuk membantu mereka bertumbuh dan mengembangkan kemampuan (spiritual) mereka.
Dalam bab ini juga dijelaskan satu persatu mengenai kualitas apa yang dibutuhkan seorang pemimpin, yaitu:
1. Kejujuran (honesty)
2. Kesetiaan (loyalty)
3. Kemurah-hatian (generosity). Dalam bab ini penulis menjelaskan bagaimana cara seorang pemimpin mengelola pujian. Dalam mengelola pujian ada beberapa prinsip yang harus dijalankan:
a. Harus berhati-hatilah dalam memberikan pujian. Pujian yang berlebihan dapat menghancurkan seseorang.
b. Jelaskan pada orang lain bagaimana menerima sebuah pujian sebagaimana adanya yaitu untuk menjadi usaha yang jujur dalam memberikan semangat.
c. Jelaskan pada orang lain bahwa kita ini tak lebih dari sebuah saluran.
4. Kerendah-hatian (humility)
Ada 2 prioritas yang harus dilakukan seorang pemimpin yaitu:
1. Memilih dengan bijaksana
2. Menginvestasikan waktu
V. Pemimpin yang Efisien
Ada beberapa prinsip dalam menjadi seorang pemimpin yang efisien, yaitu:
1. Menerima arahan
2. Berkomunikasi dengan staf
3. Mendelegasikan tanggung jawab
4. Selalu ada
5. Mengevaluasi secara teratur
Seorang pemimpin harus secara rutin bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya sudah punya arahan yang jelas dari Tuhan? (kehendak Tuhan bagi saya)
Apakah saya selalu mengatakan dengan benar pada bawahan saya apa hal-hal yang harus mereka lakukan/
Apakah saya membiarkan bawahan saya melakukan hal-hal tersebut?
Apakah saya membantu mereka saat diperlukan?
Apakah saya memberikan umpan balik ke mereka mengenai bagaimana mereka melakukannya?
VI. Pemimpin yang Peduli
Berbicara soal pemimpin yang peduli diibaratkan seperti seorang gembala. Ada berbagai jenis gembala. Ada gembala yang peduli dengan domba-dombanya dan ada yang tidak terlalu peduli dengan urusan “kebutuhan” domba-dombanya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi gembala yang peduli. Pertama, pemahaman yang jelas tentang kebutuhan dasar dari seekor domba. Kedua, kerajinan dan keinginan yang kuat untuk memberikan kebutuhan dasar tersebut (dengan kata lain: mampu mencari tahu apa yang harus dilakukan dan melakukannya!). Ada beberapa hal yang bisa menghalangi seorang gembala untuk mempunyai kerajinan (sifat rajin) yaitu:
1. Fokus hanya pada diri sendiri (self-centeredness)
2. Kebodohan (tidak mau belajar) (ignorance)
3. Kemalasan (sloth)
4. Pengalih perhatian (diversions)
Seorang pemimpin yang peduli juga harus bisa melihat kesempatan dalam memenuhi kebutuhan orang yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin yang peduli berarti menjadi seorang gembala yang baik (lihat Amsal 27:23 “Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu”). Menjadi pemimpin yang peduli juga menjawab tantangan dari Tuhan sama seperti pertanyaan yang diajukan Tuhan pada Petrus, “Apakah kamu benar-benar mencintaiku? ... gembalakanlah domba-dombaku” (Yohanes 21:16)
VII. Pemimpin yang Komunikatif
Seorang pemimpin harus bisa memberikan informasi. Penulis buku ini mencontohkan pada pembaca tentang surat-surat yang Paulus tulis. Ada beberapa contoh bagaimana Paulus dengan jelas menginformasikan apa yang harus dikerjakan rekan sepelayanannya. Contohnya dapat dilihat di Kolose 4: 7-9 dimana Paulus memberitahukan perihal tugas Tikhikus kepada jemaat di Kolose yaitu untuk menghibur mereka dan memberitakan tentang apa yang Paulus kerjakan.
Pemimpin yang komunikatif selalu menyampaikan informasi bagi yang memerlukannya. Dia juga harus terus-menerus memberikan informasi yang dibutuhkan bawahannya. Sebagai contoh setiap fase awal dalam mengerjakan suatu proyek seorang pemimpin harus memberikan informasi yang jelas tentang bagaimana proyek itu harus dikerjakan. Informasi yang diberikan seorang pemimpin tidaklah seperti informasi yang kita terima semasa kita kanak-kanak dulu, “jangan makan itu, itu akan membuatmu gemuk. Jangan makan ini, itu akan membuat gigimu busuk..” dan lain sebagainya. Informasi yang baik menurut Salomo adalah:
1. Informasi yang waktunya pas (timely information)
2. Informasi yang akurat (accurate information)
3. Informasi yang sewajarnya (appropriate information)
4. Informasi yang memberikan motivasi (motivating information)
VIII. Pemimpin yang Berorientasi Tujuan
Setiap orang butuh tujuan. Mereka juga membutuhkan bantuan untuk mencapai tujuan tersebut. Kepemimpinan yang baik mampu menolong seseorang untuk menetapkan tujuannya, membantu mereka dalam menilai kemajuan pencapaian tujuan mereka, dan tetap mendampingi mereka maju sesuai waktu yang ditetapkan, di jalur yang sama dan target yang sama.
Saat kita bertanya mengapa seseorang itu membutuhkan tujuan maka ada 3 hal yang menjadi jawabannya:
1. Arah (direction)
2. Kemajuan (progress)
3. Pencapaian (accomplishment)
Salah satu tujuan Nehemia dalam membangun tembok adalah “..supaya kita tidak lagi dicela”. Demikian juga seorang pemimpin harus bisa membantu dalam menetapkan tujuan seseorang. Tujuan tersebut bisa dalam jangka panjang yang kemudian harus dibuatkan tujuan jangka pendeknya. Kenapa tujuan jangka panjang harus juga dibuatkan tujuan jangka pendeknya? Karena tujuan jangka pendek terbagi-bagi dalam beberapa tahap yang kalau dilihat memungkinkan untuk dicapai dan membuat orang tersebut ingin maju dan maju lagi untuk mencapai beberapa tujuan jangka pendek yang akhirnya mencapai tujuan jangka panjangnya.
Seorang pemimpin juga harus bisa menjelaskan ke pengikutnya bahwa untuk mencapai tujuan dibutuhkan keteguhan hati dan aksi. Dalam beraksi untuk mencapai tujuan seorang pemimpin harus memperhatikan 2 hal yaitu:
1. Waktu yang tepat untuk beraksi (timing)
2. Implementasi dari tujuan (implementation)
IX. Pemimpin yang Bisa Memutuskan
Membuat keputusan itu adalah hal yang sulit. Penulis buku ini mencoba mensarikan kenapa membuat keputusan itu adalah hal yang sulit, antara lain karena:
1. Kebingungan akan kehendak Tuhan bagi kita (Confusion about the will of God)
2. Keinginan untuk tidak menyakiti seorangpun (the desire to hurt no one)
3. Tidak mau merasa tidak populer (a distaste for unpopularity)
4. Terlalu sibuk (too busy)
5. Rasa takut (cowardice)
6. Kebodohan (ignorance): karena tidak punya fakta yang cukup untuk membuat suatu keputusan.
7. Sudah dipenuhi rasa bangga (pride)
Bagaimana seorang pemimpin bisa membuat keputusan yang bagus? Ada baiknya berpegang pada Amsal 16: 25 “Ada jalan yang disangka lurus tetapi ujungnya menuju maut”. Berikut ini hal-hal yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk membuat suatu keputusan yang bagus:
1. Kemampuan dalam mengenali keputusan yang buruk
2. Kemampuan dalam mendefinisikan masalah
3. Kemampuan mendengar sebelum menjawab
4. Kemampuan menawarkan saran melalui brainstroming
5. Kemampuan menyempitkan/ membatasi ruang
6. Kemampuan membuat keputusan itu sendiri
7. Kemampuan menjalankan keputusan yang telah dibuat dalam team work.
X. Pemimpin yang Kompeten
Ada 3 hal penting yang dibahas dalam bab ini yaitu:
1. Seorang pemimpin tidak pernah “tahu segalanya”. Seorang pemimpin yang efektif tidak boleh merasa cepat puas pada dirinya melainkan harus mencari berbagai cara untuk menjadi lebih ahli, lebih berpengetahuan, dan lebih baik dalam menjalankan pekerjaannya.
2. Seorang pemimpin “tahu apa yang harus dikerjakannya”. Seorang pemimpin harus memimpin dan untuk bisa memimpin dia harus tahu apa yang dikerjakannya. Ketika bawahan sadar bahwa pimpinannya adalah orang yang tidak kompeten rekasi yang terjadi adalah: mereka bisa meninggalkan si pemimpin, menggerutu dan mengeluh, dan bahkan memaksa si pemimpin untuk pergi. Kompetensi seorang pemimpin akan sangat membantunya dalam membantu motivasi dan menaikkan moral bawahannya.
3. Seorang pemimpin “menyelesaikan pekerjaannya”. Sering lebih mudah untuk memulai daripada menyelesaikan suatu pekerjaan. Selain seorang pemimpin harus menyelesaikan pekerjaanny, dia juga harus bisa membantu bawahannya menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan membawa bawahannya untuk mencapai kesuksesan.
XI. Pemimpin yang Mempersatukan
Ada 4 hal yang menghancurkan persatuan:
1. Fitnah (slander)
2. Kemarahan (anger)
3. Rasa bangga (pride)
4. Iri hati (jealousy)
Ada 3 hal yang membangun persatuan:
1. Kasih sayang (love)
2. Kontrol (control)
3. Kebaikan (kindness)
Dalam bab ini juga dibahas mengenai 4 tanggung jawab seorang pemimpin dalam memelihara hubungan dengan bawahannya menjadi suatu hubungan yang harmonis dan satu. Dengan demikian menjaga teamnya tetap “on target” dan terus termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka:
1. Menjaga integritas (integrity)
2. Mampu mengendalikan diri (restraint)
3. Memelihara selera humor (good humor)
4. Memelihara pertemanan (friendship)
XII. Pemimpin yang Bekerja
Dalam bab terakhir buku ini menerangkan apa yang disebut dengan pemimpin yang bekerja. Kenapa seorang pemimpin harus ikut ambil bagian dalam bekerja? Karena dalam bekerja seorang pemimpin menetapkan dirinya sebagai contoh bagi bawahannya untuk diikuti. Seorang pemimpin harus menjadi seorang pekerja sepanjang hidupnya. Tidak hanya menjadi seorang pekerja tetapi juga seorang pekerja plus yang tidak hanya bekerja tapi juga melatih orang lain untuk bekerja. Bagaimana melatih orang lain untuk bekerja? Yaitu dengan cara memperlengkapi mereka dengan keahlian yang mereka perlukan untuk bekerja.
Ada satu kata yang sangat bermakna yang diambil dari bahasa Yunani “katartizo” yang terus-menerus diulang dan dicari maknanya dalam bab ini. Makna yang lebih mengena adalah “memperlengkapi”. Jadi konteks bekerja yang diangkat di sini adalah bagaimana seorang pemimpin itu mampu memperlengkapi bawahannya dengan berbagai hal sehingga bawahannya bisa menjadi seperti pemimpin itu. Seorang guru tidak mengajari muridnya untuk menjadi lebih dari dia namun menjadi sama seperti dia.
Akhirnya, dengan menjalankan ke dua belas langkah tersebut Anda akan menjadi seorang pemimpin yang memberikan motivasi bagi orang-orang yang dipimpinnya dan memelihara motivasi dan moral bawahannya ke tingkat yang paling tinggi. Keputusan ada di tangan Anda. Anda bisa memilih hanya menjadi seorang penonton melihat orang lain bekerja atau memilih bergabung dalam “pasukan” pekerja.
“Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit ...” (Lukas 10: 2)
Book review by Willy Sitompul, August 2011

Jumat, 18 Maret 2011

Usia 34 - Merenung .... lagi....


Tanggal 15 Maret lalu usiaku menjadi 34 tahun. Usia yang udah ngga muda lagi. Ingin rasanya termenung-menung memikirkan apa yang sudah dicapai saat itu. Sudah 34 tahun... apa yang sudah kau buat untuk AKU? Duhh..rasanya bingung menjawabnya, itu baru satu pertanyaan...berikutnya makin banyak pertanyaan yang timbul apalagi setelah membuka facebook dan melihat komentar ulang tahun yang disampaikan teman-teman. Saking ngga cukup waktu membalas semuanya yahh.. akhirnya tinggal mencentang tombol "like" saja. Mudah-mudahan teman-temanku itu ngga marah atau jengkel karena cuma dikasih komen "like" aja...
Waktu devosi teman-teman tanya gimana rasanya berusia 34? Aku cuma bisa menjawab bahagia karena umurku paling tidak melewati usia 33, suatu usia yang sangat krusial menurutku. Tiga puluh tiga tahun Yesus berkarya, 33 tahun masa hidupnya. Andar Ismail juga menulis buku yang selalu berisi 33 renungan dari mulai Selamat Pagi, Selamat Paskah dan lain-lain. Aku juga sempat berkata kalau teman-teman belum berusia 33 tahun yah bersyukurlah masih ada waktu untuk berkarya sehingga pas usia 33 udah banyak karyanya. Aku ngga sadar kalau ternyata di ruangan devosi waktu itu sudah banyak yang usianya lebih dari 33 bahkan 34 atau bahkan 40? Untuk menutupi kegusaran, yah kutegaskan bahwa berkarya itu bisa apa saja. Yang sudah punya anak bisa berkarya lewat anak-anak mereka. menjadi seperti apa anak-anak mereka nanti yah itulah karya mereka.
Selanjutnya hari itu berjalan biasa saja seperti hari-hari lainnya. Teman-teman ADP Kurima sibuk dengan kegiatan mereka. Stafku Elpinar yang sibuk mencari tahu apakah akan ada kue buat "boss" nya, staf ADP Eruwok yang menghilang satu-satu walau akhirnya aku tahu mereka membantu pembuatan kue. Sampai akhirnya ada perayaan kecil yang fotonya saya pampang di atas.
Akhirnya, Terimakasih Tuhanku Yesusku atas usia 34 ini. Tolongkah Tuhan cepat-cepat berikan Hazael Zefanya bagi aku dan istriku. Penting banget lho Tuhan untuk punya anak saat usiaku udah segini...:-) Terimakasih buat istriku yang udah berlapar ria bersama, meluangkan waktu sepulang Puskes dan yang pasti staf-staf Eruwok ku yang terkasih. Kalian semua staf terbaik yang bisa dipunyai seorang manager ADP.

Amin.

Jumat, 04 Juni 2010

Hari-Hari di Soba

Rencana ke Soba sudah seringkali dibicarakan, mulai dari assessment yang belum terselesaikan oleh HOPE Project sampai memberikan usulan ke CSMP ADP Kurima untuk mengunjungi Soba dalam rangka proses APR.

Kenapa Soba begitu menarik? Daerah ini adalah satu distrik (kecamatan) yang ada di bawah kabupaten Yahukimo. Untuk menuju ke sini dibutuhkan 2 hari perjalanan lewat jalan darat atau 15 menit penerbangan dengan menumpang pesawat AMA (Associated Mission Aviation) atau MAF (Mission Aviation Fellowship). Oh iya, untuk perjalanan darat jangan dibayangkan bahwa perjalanan itu ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sama sekali tidak! Jalan darat berarti jalan kaki. On foot! Kata teman-teman kulit putih yang masih sering kita temui di Wamena.
Keindahan alam justru menjadi factor yang paling menarik ketika berkunjung ke Soba. Tidak lengkap seseorang bekerja di ADP di Wamena kalau belum ke Soba. Apalagi yang bekerja di ADP Kurima belum lengkap lho kalau belum pernah ke Soba... Apa sih yang indah di Soba? Pertama, Soba adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh bukit-bukit terjal di semua sisinya. Pemandangan yang kita lihat adalah kehijauan di sekeliling desa ini, jalan-jalan setapak menuju bukit-bukit, landasan pesawat terbang karya para missionaris bersama masyarakat, dan langit biru nan cerah yang sebagian besar ditutupi kabut. Kedua, air terjun yang menghiasi sekeliling desa Soba merupakan pemandangan yang tak terkira. Wuih indahnya...! 3 air terjun tampak mengalir dengan deras. Mungkin ini yang menimbulkan ide bahwa di Soba harus harus ada pembangkit tenaga listrik tenaga air. Sejak May 2008, Soba sudah punya fasilitas listrik. Bersama masyarakat dan bantuan dari Kabupaten, proses pengerjaan dimulai sekitar awal February 2008 dan berhasil diselesaikan pada bulan May 2008. Kerja keras masyarakat dalam menyediakan bahan lokal dan tenaga merupakan salah satu faktor yang membuat penyelesaian mikro hidro tersebut berjalan dengan lancar. Kalau saya disuruh memperkirakan, prediksi saya kekuatan mikro hidro milik Soba ini adalah sekitar 25 kVA. Dengan power sebesar ini saya yakin sebenarnya masih dapat menarik kabel hingga paling tidak melayani 3 kampung di sekitar Soba (Soba, Liliba, Oakbisik). Tapi ini perhitungan kasar saja lho...dengan asumsi bahwa hanya digunakan untuk lampu saja dan tidak semua warga mempunyai perangkat audio seperti VCD atau DVD.

Pagi itu (17/03) kami datang ke bandara dengan disiplin dan tepat waktu. Sms dari Dave yang saya terima pada malam sebelumnya agak mengagetkan. “Informasi terbaru, kita diharuskan jam 5 pagi sudah ada di bandara” begitu kira-kira bunyinya. Sebenarnya sih saya ngga percaya karena selama ini belum pernah tuh AMA terbang gelap-gelap. Tapi siapa tahu ada perubahan, pilot-pilotnya makin handal sehingga sudah berani terbang pagi pagi sekali. Yang jelas saat itu semua masih mengantuk. Sekitar jam 4.30 pagi Isman dan Dave sudah ada di depan jalan di depan rumahku. “Pak, kami sudah di depan” begitu bunyi sms Dave. Dengan langkah gontai aku bergabung dengan mereka. Telur rebus 3 biji belum sempat kumakan (eh...satu lagi mana ya? Astaga kayaknya masih di ransel. Ups!) teh panas pun belum sempat kuhabiskan. Kamipun bergegas menuju rumah Solekman melewati penginapan Putri Dani untuk menjemput Vinna. Ternyata Vinna terkunci karena petugas hotel belum bangun dan mungkin tidur di tempat lain. Isman pun turun dan berusaha mengebel dan mengetok pintu depan. Lama menunggu, kesempatan ini tidak kusia-siakan. Dua butir telur rebus langsung kusantap dengan lahap. Lapar toh.. Akhirnya Vinna berhasi keluar dan kami langsung menuju rumah Solekman. Di perjalanan, ternyata kami mendapat kabar bahwa Pak Yusak dan Rida sudah ada di bandara. Kamipun langsung menuju bandara. Di jalan menuju bandara kami bertemu satu mobil kijang Innova dan ketika kaca dibuka tampaklah Rida di balik stir mobil. “Belum ada orang!” katanya. Kami pun merasa sebal, wah sialan nih orang-orang AMA. Dalam hati aku ingin sekali menemukan orang AMA yang mengsms si Dave, membejek atau paling enggak mencekik lehernya sedikitlah..jangan sampai mati..cukup sampai sesak napas saja he..3x. Rupanya kesempatan menunggu sampai orang-orang AMA datang dimanfaatkan Rida untuk belajar mobil.
Ketika kami ke bandara ternyata memang gerbang belum dibuka. Makin dongkol deh.. kamipun akhirnya memakai waktu sedikit untuk melanjutkan tidur dan memuaskan rasa kantuk agar bisa terselesaikan. Namun ternyata tidak bisa tidur nyenyak. Satu staf AMA datang dan membuka gerbang. Mobilpun masuk ke pelataran parkir AMA.

Rida rupanya sudah selesai belajar mobil. Dua mobil langsung berkumpul di pelataran parkir AMA. Waktu menunjukkan sekitar pukul 05.30 WIT. Kesempatan menunggu dimanfaatkan oleh Dave dan Rida untuk foto-foto walaupun masih gelap.

Duh...pikiran buntu nih..Rupanya sudah jam 13.50 WIT. Saat aku menulis ini adalah hari kedua kami di sini. Sudah jam makan siang ni...lauk yang tersedia baru kelinci masak rica-rica..sedap kayaknya. Tapi lauk lain belum matang, ayam dan telur goreng. Menunggu lebih baik demi kebersamaan. Apa daya otak sudah buntu...nanti lagilah kulanjutkan.
Ok udah makan siang. Habis makan siang trus jalan-jalan ke lokasi PLTA mikro hidro Soba. Tapi itu cerita di hari kedua. Kita lanjut dulu ya....
Ketika sudah agak terang, staf-staf AMA mulai bermunculan. Barang-barang kemudian di dorong dengan menggunakan gerobak ke arah pesawat. Tapi pilot belum tiba. Kamipun foto-foto. Karena udah agak terang aku ikut foto-foto juga. Hasilnya dapat dilihat diattachment foto-fotonya ya..

Akhirnya pilot datang, cek dan recek dilakukan. Dari mulai membilas kaca depan sampai memeriksa oli pesawat. Oli samping atau oli apa tuh ya.. Ngga ngerti lah yang penting sepertinya semuanya oke. Sebelumnya aku sempat menemani Vinna dan Solekman yang memproses pembayaran ongkos pulang pergi carteran ke Soba, sebanyak Rp. 18 juta diserahkan dan dibayar tunai ke pak Yanto kepala AMA di Wamena. Sambil aku meminta sekali lagi kesediaan pak Yanto untuk menanyakan atau mengusahakan agar paling tidak kami bisa dijemput hari Sabtu.

“Oke penumpang silahkan naik” seru salah seorang staf AMA menyuruh kami semua naik. Dave dan Rida duduk di kursi depan, Vinna di belakang Rida dan Solekman di belakang Vinna. Lajur kiri di belakang Dave hanya diisi barang-barang. Aku sendiri duduk paling belakang pas di dekat pintu masuk penumpang. Pak Yusak mengambil tempat di sisi kanan pilot. Wah pak Yusak terpilih untuk jadi co-pilot nih..
Pukul 06.30 kami berangkat (kira-kira) udara kelihatan cerah. Pesawatpun berjalan menuju landasan pacu terus hingga sampai di batas garis hitam putih yang mirip zebra cross. Setelah itu pesawatpun berputar dan akhirnya kami terbang... Sebelum menuju landasan pacu tak lupa Rida berdoa untuk kami semua agar perjalanan berjalan dengan lancar. Di udara kami terpana melihat pemandangan di sisi kiri maupun kanan kami. Kami seperti melintas di celah-celah bukit. Awan-awan ada di sekeliling kami. Keindahan demi keindahan yang kami saksikan tak luput dari jepretan kamera yang dibawa oleh Dave. Bergantian Dave dan Rida mengambil gambar pemandangan yang ada di sekeliling kami.

Sekitar 10 menit di udara, Soba sudah mulai terlihat. Landasan pacunya dan rumah-rumah yang masih tampak kecil terlihat dari pesawat terlihat jelas ada di bawah kami. Pilot sekilas berkata kepada pak Yusak menunjukkan beberapa bagian landasan pacu yang belum dikupas. Itu sebabnya kata pilot MAF tidak mau untuk sementara waktu mendarat di Soba. Mereka baru mau mendarat kalau landas pacu sudah bersih dari rumput-rumput. Pesawatpun berputar satu kali dan akhirnya kami mendarat di Soba. Masyarakat sekitar tampak ramai menyambut kedatangan kami (atau kedatangan pesawat he..3x). Memang menurut masyarakat sudah lama tidak ada pesawat yang masuk ke Soba. Kami pun bertemu tukang-tukang Toraja yang sedang ada pekerjaan di Soba. Merekapun menunggu pesawat namun tetap tidak bisa karena pesawat yang mengantar kami harus segera ke Dekai kata pilotnya. Kamipun masuk ke dalam rumah klasis tempat dimana staf WVI menginap. Padahal menurut penuturan masyarakat di Soba ini ada rumah tamu tapi kalau staf WVI tetap menginapnya di rumah klasis Woso – Soba ini. Yang kami lakukan pertama kali adalah sarapan pagi. Lauk yang dibawa dari Wamena yaitu nasi kuning dan ayam segera kami santap dengan lahapnya. Itupun menurutku masih kurang. Tapi ya sudahlah nanti toh sebentar lagi teman-teman sudah bergerak untuk mempersiapkan menu santap siang. Begitu pikirku.

Sehabis sarapan kami langsung menuju ke sekolah yang ada di sebelah landas pacu. Pergi menuju sekolah ini memang enak karena jalannya menurun tapi nanti pulangnya aku sudah terbayang bakal ngos-ngosan apalagi dengan membawa beban sekian kilogram lemak ini..hiks. Tapi tetap kita melakukan proses APR dengan senang hati. Sebelumnya aku sudah meminta pak Yusak untuk mempersiapkan paling tidak 5 orang calon enumerator yang akan kami pakai untuk melakukan assessment terhadap 30 hamba Tuhan yang ada di seputaran Soba dan sekitarnya (Oakbisik dan Liliba). Kamipun tiba di sekolah. Anak-anak mulai berbaris diatur oleh seorang guru. Di sekolah ini ternyata hanya ada 3 orang guru yang namanya tercantum di papan daftar guru. Tiga guru itu sudah termasuk dengan kepala sekolahnya. Duh...kasihan sekali tapi apa mau dikata memang banyak penerimaan guru PNS namun ternyata penempatannya belum merata juga. Sampai kapan ya baru bisa merata. Kayaknya ngga bakalan merata tuh kalau masih ada oknum-oknum yang bisa disuap untuk mendapatkan penempatan yang lebih enak (huss...nanti Rida marah nih kalo baca ini. Dia kan minta penempatan di dinas he..3x). Proses APR berlangsung lumayan cepat. Sebanyak 44 anak diproses pada hari itu. Mereka harus mengisi secarik surat yang akan dikirimkan untuk sponsor mereka nanti. Buat yang bisa menulis dipersilahkan menulis sementara buat yang belum bisa menulis diperbolehkan untuk menggambar dengan spidol warna yang telah disediakan.

Sehabis proses APR kamipun kembali ke pos. Teman-teman mulai mengolah bahan-bahan makanan yang dibawa dari Wamena. Siang itu kami menyantap ayam goreng sebagai lauk kami. Sehabis makan satu-persatu dari kami mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tentu tidur siang adalah pilihan yang utama karena pagi tadi tidak seorangpun dari kami yang mengaku tidurnya cukup hari itu.

Sore harinya Dave memutuskan untuk mandi di kali. Serombongan anak-anak penggemar Dave mengikutinya dengan setia dari belakang. Menurut penuturan Dave anak-anak ini sempat jadi asistennya di kali lho...kalau butuh sabun Dave tinggal bilang sabun dan salah satu anak langsung mengambilkan untuknya. Memang artis Wamena ini punya penggemar di mana-mana.


Hari II (18/3)

Pagi ini kami semua memutuskan untuk pergi ke kali. Hanya Rida dan Vinna yang memutuskan untuk tidak mandi tapi ikut juga pergi ke kali. Oh iya untuk foto-foto di kali ngga bisa ditayangkan di sini ya...takut nanti melanggar UU APP. Tunggu dulu, sarapan dulu. Hari ini kita sarapan apa yach? Ternyata pagi ini kita melahap ikan asin goreng bersama indomie rebus. Hmm..sedap juga dan lauknya cocok. Sehabis makan kamipun bersiap-siap ke kali.
Air di kali dingin sekali. Tapi lama kelamaan aku juga terbiasa. Airnya deras dan kalau ngga jaga keseimbangan bisa kebawa arus tuh.. Aku mengambil sisi aman di tempat orang sebelum kami mandi. Sambil menikmati segar dan dinginnya air di kali tersebut kamipun tak lupa ritual-ritual saat mandi yaitu bershampo dan memakai sabun mandi. Habis mandi dengan celana yang masih basah-basah kami kembali ke rumah klasis.

Habis mandi ternyata Dave sudah punya rencana untuk mengajar di sekolah. Sekalian untuk memproses APR yang mungkin belum terselesaikan kemarin karena ada anak yang tidak masuk sekolah atau memang baru datang pada hari itu. Vinna dan Rida ikut serta dengan Dave ke sekolah sementara aku dan Solekman memutuskan untuk bekerja dengan menggunakan laptop di ruang baca di rumah klasis. Memang Soba ini sangat menyenangkan, listrik 24 jam non stop sehingga memungkinkan untuk bekerja dengan laptop. “Tinggal pasang VSAT saja” kata Solekman “mau deh gue kerja di sini sebulan atau dua bulan” lanjutnya. Menurutku sih tidak Cuma VSAT (untuk koneksi internet) dong tapi juga harus ada sinyal HP he..3x maklumlah urusan kangen-kangen dengan istri penting juga toh..

Tak berapa lama kami bekerja ternyata di kejauhan sudah terdengar suara Dave dan kawan-kawan. Rupanya mereka sudah selesai mengajar dan proses APR. Seperti hari kemarin proses pembuatan makan siang dimulai nih.. kali ini ternyata ada 2 jenis lauk yaitu ayam kampung dan kelinci kampung (?). Rupanya penggemar kelinci hanya sedikit. Sebagian besar ternyata penggemar ayam. Kelinci dimasak rica-rica sementara ayam dimasak gulai. Ternyata daging ayam yang segar memang beda dengan ayam es yang biasa disantap di Wamena. Namun kali ini ternyata pengolahan makanan memakan waktu cukup lama. Kami baru mulai makan sekitar pukul dua siang kurang sepuluh menit. But it’s worthed man! Lauknya mantap sekali apalagi kelinci rica-ricanya. Kayaknya malam ini masih makan lauk itu lagi tuh. Ngga apalah yang penting wuenak...

Habis makan pak Yusak mengajak pergi ke PLTA mikrohidro Soba. Perjalanannya hampir sama dengan perjalanan menuju ke sekolah menurun-menurun pada awalnya dan yah pasti pulangnya ngos-ngosan lagi nih pikirku! Ternyata PLTA ini sangat menarik untuk dilihat dan dipelajari. Dari bincang-bincang dengan pak Yusak saat kami tiba kembali di rumah klasis ternyata baru sekitar 20 KK yang terlayani oleh PLTA ini. Sayang sekali, pikirku, padahal tenaga yang dihasilkan cukup besar. Prediksiku sendiri dari awal sepertinya tidak salah. Kekuatan PLTA Soba ini adalah sekitar 25 kVA. Artinya kalau hanya melayani 20 KK berarti tiap KK mendapat supply kira-kira 25.000 kVA dibagi 20 yaitu 1.250 kVA. Wow! Sementara di Wamena masih ditemukan meteran listrik PLN dengan power supply hanya 400 kVA. Soba memang mantap euy! Oh iya tiap-tiap keluarga yang dilayani kelistrikannya harus menyetor iuran sebesar Rp. 20.000 per KK artinya pendapatan sebulan dari PLTA ini hanya Rp. 400.000,- bayangkan dengan listrik di Wamena yang tiap bulannya minimal harus membayar Rp. 60.000,- itupun kalau sama sekali tidak pakai atau pemakaian minimal sekali. Berarti mikro hidro menurutku adalah jalan keluar yang menarik untuk masalah kelangkaan listrik di Papua apalagi jika daerah itu memiliki air terjun seperti Soba. Eh pembaca ternyata tidak harus ada air terjun juga. Kalau tidak ada ternyata bisa membuat air terjun buatan juga. Menurut literatur yang pernah saya baca paling tidak air harus diterjunkan dari ketinggian 3 meter namun debit air harus konstan. Jumlah yang bisa dilayani dengan ketinggian 3 meter ini kira-kira adalah sekitar 7 kVA. Kecil sih tapi kalau 1 KK diberi jatah 100 VA misalnya (untuk lampu saja) maka dengan 7 kVA sudah bisa melayani 70 KK. Wow! Kalau di Papua sudah 1 desa tuh!

Waduh pikiran beku lagi nih. Selain karena udah mulai dingin. Udah mulai lapar juga. Selain itu hari kedua sudah mau selesai nih. Jadi besok baru disambung lagi...(18.55 end)
Hari III (19/3)

“Pesawat....” teriak anak-anak kecil mengagetkan kami. Ternyata pagi ini ada pesawat masuk. Rupanya pesawat tersebut hendak menjemput tukang-tukang yang sudah lama menunggu-nunggu datangnya pesawat. Tapi apa mau dikata, tukang-tukang tersebut ternyata sudah memilih untuk berjalan kaki.

Pagi ini aku bangun tidur dengan perut lapar. Aku lihat tidak ada yang bisa dimakan nih sementara teman-teman sepertinya belum ada rencana mau masak apa. Akhirnya ku masak nasi goreng dengan bumbu instan yang ada. Setelah itu kugoreng telur dadar. Lumayan... Ternyata teman-teman pun memasak nasi goreng juga. Mungkin terinspirasi karena aku masak nasi goreng. Cuma mereka lebih kreatif lah.. ada tambahan lauknya yaitu sambal goreng telur bulat.

Sehabis makan, berjalan-jalan di pasar jadi kegiatan kami. Beberapa orang enumerator yang kami kontrak untuk assessment sudah mulai berdatangan membawa kuesioner yang telah terisi. Sebagian sudah lengkap, sebagian lagi belum. Yang belum selesai terpaksa harus mengulang atau melengkapi pekerjaannya. Oh iya hari ini menyenangkan karena ternyata cuaca cerah sehingga telepon satelit yang kami bawa bisa dipakai menelepon. Istriku kaget pas aku telepon. Yah...lumayanlah paling enggak mengurangi rasa rindu dan bisa memberi kabar kalau aku di Soba baik-baik saja.

Teman-teman memutuskan untuk mandi di kali lagi tapi waktu sudah menunjukkan jam 11 ketika mereka mau ke kali. Aku sendiri sudah mandi di kamar mandi jam 10 pagi. Habisnya dah ngga tahan pengen mandi lagipula di Wamena belum pernah mandi pagi lewat jam 10 (he..3x). Merekapun pulang dengan membawa foto-foto di kali. Aku pun kemudian memindahkannya ke laptop Zyrex mini yang sengaja kubawa menggantikan sementara laptop kantor yang kusimpan di rumah.

Apa lagi ya? Makan siang kami hari ini kurang variatif. Sayur yang dibeli ternyata kurang menarik untuk dimasak. Sarden kaleng akhirnya menjadi lauk kami siang ini ditemani dengan gorengan ayam dan kelinci sisa lauk kemarin.

Sore harinya saat sedang bersantai di ruang baca kami dikejutkan oleh suara napas berat seperti orang tidur mengorok. Ternyata pak Yuben penjaga rumah ini (sebenarnya menurut pak Yusak bukan penjaga, hanya datang bantu-bantu saja) sudah terkapar di kamar mandi. Rupanya dia punya penyakit epilepsi atau orang sini biasa bilang mati-mati ayam. Menurut pak Yusak penyakit ini sudah lama diderita pak Yuben. Bisanya kambuh tiap-tiap tahun. Setelah terkapar barang satu dua hari biasanya pak Yuben kembali normal seperti sedia kala. Pak Yusak sebenarnya sudah melarang pak Yuben datang ke rumah klasis namun mungkin pak Yuben yang memang sudah akrab dengan staf ADP Kurima terutama Rida mungkin terbeban untuk bantu-bantu dan memang menurut aku sih lumayanlah peran pak Yuben selama kami ada di sini sampai hari ini. Sisa sepanjang hari ini tidak terlalu menarik, sebagian waktu diisi oleh teman-teman dengan main game di laptop.

Malam ini teman-teman tidak masak. Aku sedikit lapar namun hipere goreng cukup membantu menghilangkan lapar. Tandas lah hipere goreng yang masih sisa di piring itu...

Hmm...waktu menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit nih...aku baru bangun dari tidur sore tadi dan belum berasa mengantuk. Ngapain lagi ya? (end 07.55pm)

Ternyata setelahnya pak Yusak datang membawa kelinci goreng. Jadilah kita makan malam walau peserta makannya makin sedikit.

Tidur ah....
Hari IV (20/3)

Hari ini kami isi dengan perasaan was-was apakah pesawat akan menjemput kami. Ternyata hingga jam 11 lewat tidak ada tanda-tanda pesawat masuk. Kabut dan hujan gerimis mengisi sepanjang pagi ini. Tidak ada sinyal untuk telepon satelit.

Hari ini diisi teman-teman dengan bermain game yang ada di laptop. Masing-masing sibuk dengan game sendiri-sendiri. Aku sendiri lebih memilih untuk membaca. Hari ini kutamatkan buku Pendidikan Alternatif Qaryah Tayyibah. Isinya sangat menarik. Aku sendiri berpikir kenapa ya WVI tidak membuat metode seperti ini. Biayanya murah dan yang penting ternyata untuk mewujudkan pendidikan yang baik harus ada hubungan dengan dunia luar dalam hal ini penyediaan akses internet selama 24 jam. Aku jadi membayangkan kalau seandainya bisa membuat sekolah yang serupa di wilayah layanan WV yang ada di Papua. Tapi lagi-lagi pikiran negatif tentang partisipasi masyarakat menghantuiku. Kalau mereka menganggap itu tidak penting itu bagaimana? Selama ini masalahnya selalu begitu tidak ada hal yang kita lakukan yang dianggap penting oleh masyarakat. Yang dianggap sebagai kebutuhannya. Contoh nyata saja kutemukan di Soba ini. Air banyak sekali, jernih sekali tapi berapa banyak anak-anak sekolah yang mandi sebelum berangkat sekolah? WV sudah membagikan begitu banyak handuk dan sabun mandi. Sikat gigi dan lain-lain. Tapi yah itu tidak dianggap sebagai kebutuhan penting oleh mereka.

Aku lupa sepanjang sisa hari ini ngapain aja. Yang jelas sorenya aku tidur pulas sekali mungkin karena kepala mulai pusing dan persendian rasa tidak enak.
Hari V (21/3)

Hari ini hari Minggu. Aku mulai terserang gejala-gejala flu dan awalnya memutuskan tidak ikut ke gereja karena jalannya yang mendaki. Dave sudah memutuskan tidak ikut. Takut pingsan di jalan kalee...
Aku, Solekman, dan Rida bersama pak Yusak dan anaknya Kia berjalan pelan-pelan menyusuri jalan setapak menuju gereja GIDI jemaat Imanuel Soba. Kadang kami harus beristirahat untuk mengambil napas. Apalagi aku yang gampang sekali sesak, wah kayaknya sudah tua sekali padahal tanggal 15 Maret lalu baru ultah ke 33. Saat-saat seperti ini selalu ada tekad harus lari pagi...harus lari pagi tapi begitu sampai di Wamena paling lupa lagi dengan tekadnya..:-)
Akhirnya kami sampai di gereja, belum ada tanda-tanda mau mulai. Jam tanganku menunjukkan pukul 10.20 WIT. Wah kira-kira selesai jam berapa yah nanti? Di depan gereja ibu-ibu bersama anak balitanya terlihat duduk berkeliling. Satu orang ibu tampak berbicara ke ibu lainnya. Semua ibu dengan serius melihat ke Alkitab masing-masing seraya satu dua ibu tampak mengangguk-angguk setiap ibu tadi berbicara. Ibu itu suaranya tegas. Tampaknya mereka sedang membahas beberapa ayat di dalam Alkitab. Aku tidak tahu ayatnya karena aku, Solekman, dan Rida sudah sibuk foto-foto he..3x
Akhirnya gereja dimulai. Bacaan hari ini adalah Ibrani 12: 22 isinya tentang apa ya? Isinya tentang bukit Sion sebagai tempat terakhir tujuan orang-orang yang mengikut Yesus. Bukit Sion di sini bukanlah bukit Sion secara fisik tapi sebuah tempat yang digambarkan seperti Kanaan di perjanjian lama. Oh iya hari ini kami mendapat hadiah sebuah lagu dari kaum perempuan. Hadiah itu diberikan kepada kami sebagai orang-orang baru yang baru saat itu beribadah di sana.
Sekitar pukul 12.15 ibadah selesai. Kami kembali berjalan menuruni bukit setelah sebelumnya menyalami beberapa orang penatua di sana.

Teman-teman sedang menyiapkan makan siang. Lauk semakin menipis nih..tapi yang penting makan toh...semangat! (di luar rintik-rintik hujan turun lagi, mudah-mudahan besok ngga hujan..)

Siang ini.....

(wah..baru lihat lagi file ini setelah 3 bulan dan dah lupa semuanya (04/06) wkwkw....intinya akhirnya kami semua kembali ke Soba tanggal 22nya eh ato tanggal 23nya ya? Yang jelas kami bertiga aku, Solekman, dan Dave terlambat 1 hari di Regio Meeting dan ketika kami masuk ke ruang meeting di hotel Yasmin langsung disambut ucapan selamat datang dari mas Wangsit yang waktu itu ternyata ketua kelas. Tapi sambutan ngga lama, ROM langsung menyambar “sudah..suruh mereka bikin kesimpulan saja...” he...he..he... demikianlah rekan-rekan semua pengalaman kami di Soba yang berakhir dengan keceriaan di regio meeting. God bless us all..!)