Jumat, 04 Juli 2014

Bersama Figo: Stop Stigma dan Diskriminasi TB Sekarang Juga!


Salah satu poster Luis Figo di www.stoptb.org

Membolak-balik laman di web tentang masalah kesehatan khususnya tentang TB, ternyata memberi saya banyak informasi yang baru saya ketahui. Salah satunya adalah mengenai keterlibatan Luis Figo dalam kampanye Stop TB. Terus terang saya agak kaget bercampur bangga dengan tampilnya Luis Figo sebagai salah satu ambassador untuk kampanye Stop TB. Kaget, karena setahu saya tak semua pemain bola bahkan artis sekalipun yang mau susah-susah ikut dalam kegiatan sosial seperti ini. Apalagi ini adalah kampanye tentang penyakit TB. Suatu penyakit yang sering mengundang stigma dan diskriminasi dari banyak orang di sekeliling penderitanya. Bangga, karena jujur, saya adalah salah seorang penggemar Figo. Kelihaiannya dalam bermain bola menurut saya mungkin masih kalah dengan sosok Lionel Messy atau Christiano Ronaldo, namun ketika Figo menjadi kapten maka sebagian strategi di lapangan adalah hasil dari buah pikirnya. Kemampuan Figo dalam mengatur orang dan berinteraksi dengan sesama pemain di lapangan menurut saya hingga kini tak ada yang bisa mengalahkan. Itu jelas saya lihat ketika Figo masih bergabung dengan FC Barcelona maupun Real Madrid.

Kita semua bisa menghentikan Tuberculosis, ambil bolanya dan bergerak bersama Figo! Sumber: www.stoptb.org


Kalau Figo saja mau ambil bagian dalam penanggulangan TB secara global, masa kita tidak mau ambil bagian juga? Paling tidak ya, secara lokal. Seperti slogan-slogan yang sering kita dengar: Think Globally, Act Locally!

Bagaimana caranya? Yang paling sederhana sebenarnya adalah menghilangkan stigma dan diskriminasi diri kita terhadap penderita TB. Setelah itu, membantu pengurangan stigma dan diskriminasi di wilayah dimana kita tinggal atau di tempat dimana kita bekerja.

Untuk mulai mengambil peran, tentu penting buat kita untuk mengetahui sekilas tentang tuberculosis atau TB. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang setiap orang bisa saja mendapatkannya. Penyakit ini bukan penyakit keturunan atau kutukan Tuhan. Penyakit ini dapat sepenuhnya disembuhkan dengan menjalani perawatan rutin dan lengkap. Gejala utama penyakit ini adalah batuk terus menerus, berdahak, dan terjadi selama 3 minggu atau lebih dengan gejala tambahan seperti berkeringat di malam hari walau tanpa berkegiatan dan beberapa gejala tambahan lainnya. Walau saat ini TB sudah bisa disembuhkan, yang justru memperparah penyakit TB adalah stigma dan diskriminasi yang masih saja terus terjadi.

Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan TB dapat terjadi dalam berbagai pengaturan di tempat kerja, fasilitas perawatan kesehatan, atau dalam masyarakat. Manifestasinya bisa sedramatis kekerasan fisik atau sehalus menghindar saja. Namun, sebenarnya semua hal berbau stigma dan diskriminasi itu sama sekali tidak perlu karena hal tersebut hanya didasarkan pada mitos dan bukan fakta. Umur stigma memang sudah sama tuanya dengan sejarah. Dari masa lampau orang sepertinya sudah banyak melakukan stigma. Coba tengok sebentar sejarah penyakit kusta misalnya. Ketika dulu belum jelas pengobatannya, stigma dan diskriminasi sudah terjadi. Penderitanya diasingkan bahkan diisolir hanya boleh tinggal di wilayah tertentu saja. Kondisi ini terus berlangsung hingga setelah obat untuk penyakit kusta ditemukan. Stigma dan diskriminasi masih saja terjadi. Hal tersebut ternyata juga terjadi pada orang dengan HIV maupun pada para penderita tuberculosisi atau TB. Mereka cenderung diasingkan dan tidak dilibatkan dalam banyak hal. Akibatnya mereka tersingkir dari panggung ekonomi dengan pendapatan yang semakin menurun. 

Selain konsekuensi ekonomi, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan TB juga memiliki dampak sosial dan psikologis yang menghancurkan. Sikap seperti menghalangi penyedia layanan kesehatan dalam memberikan pengobatan yang efektif adalah salah satunya. Ketika seorang penderita TB datang ke suatu fasilitas kesehatan misalnya, orang cenderung menjauhkan diri dengan banyak alasan. Salah satu alasan yang paling sering dipakai adalah agar tidak terinfeksi.

Gambaran seorang anak di Kamyala tentang stigma terhadap TB di lingkungannya. Sumber: www.gov.uk


Karena itu banyak yang akhirnya memilih tidak berobat. Atau kalaupun dia berobat, itu biasanya hanya minta diambilkan obat oleh keluarga atau tetangga. Bahkan ketika seorang pasien sudah berobat pun pengobatan, kurangnya dukungan sosial keluarga mereka atau anggota masyarakat akhirnya menurunkan kepatuhan mereka pada pengobatan. Kepatuhan yang tepat, padahal sangat dibutuhkan untuk menghindari perkembangan TB resisten multi-obat (MDR-TB). Isolasi sosial, pengalaman ditolak, rasa malu dan menyalahkan diri karena diagnosis TB akhirnya dapat menyebabkan stres psikosomatik, kesepian dan perasaan putus asa tanpa harapan.

Beberapa mitos dan fakta terkait TB. Sumber: dok. pribadi.


Beberapa penyebab stigma dan diskriminasi termasuk: 

  1. Kurangnya pengetahuan tentang penularan TB, diagnosis dan pengobatan. 
  2. Asosiasi atau dihubung-hubungkan dengan kondisi sudah terstigma khususnya HIV/ AIDS, kemiskinan, kekurangan gizi, dan kondisi hidup dengan higienitas kurang.
  3. Pengidap TB sering dipandang sebagai orang yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menjadi terinfeksi. Artinya, dia dianggap tidak mampu melindungi dirinya sendiri hingga akhirnya terinfeksi.
  4. Orang yang hidup dengan TB dipandang bersalah karena menginfeksi orang lain. 
  5. Kurangnya alat pelindung bagi pekerja perawatan kesehatan. 
  6. Kurangnya akses terhadap pengobatan.


Salah satu poster tentang TB yang menjadi sebab utama kematian pada orang terinfeksi HIV. Sumber:www.euco-net.eu

Adalah penting bahwa karyawan dan profesional kesehatan memahami faktor-faktor penentu dan dinamika stigma untuk memastikan bahwa mereka ikut ambil bagian dalam mencegah pelanggaran hak asasi manusia, bahwa pasien mencari nasihat yang tepat pada waktunya dan bahwa mereka pada akhirnya akan mencapai suatu kepatuhan pengobatan yang baik. Disarankan bahwa manajemen perusahaan menerapkan strategi berikut untuk meminimalkan stigma terkait TB dan diskriminasi di tempat kerja: 


  1. Menyediakan lingkungan kerja yang mendukung, di mana orang dapat mengungkapkan status TB mereka tanpa ancaman yang ternoda dan khawatir kehilangan pekerjaan mereka. 
  2. Pengaruhi sikap masyarakat sekitar tentang TB melalui pemberian informasi terkini tentang epidemiologi TB, diagnosis, transmisi, pengobatan dan juga tentang stigma dan diskriminasi terkait TB. 
  3. Libatkan mereka yang memiliki pengalaman pribadi dengan TB dan dirikan "Kelompok Dukungan". Kelompok semacam ini dapat mendorong pertukaran pengalaman yang berhubungan dengan TB dan isu-isu tentang dukungan sosial dan tempat kerja. 
  4. Memulai kampanye di tempat kerja untuk mengubah sikap. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk memberikan informasi yang akurat dan up-to date tentang TB. Misalnya: TB dapat disembuhkan. 
  5. Mengembangkan keberlanjutan kampanye TB anti-stigma melalui kemitraan dengan berbagai perusahaan, yayasan dan publik. 
  6. Menghormati kerahasiaan. Risiko pengungkapan mungkin memberikan tanggapan negatif, seperti penolakan, isolasi dan berdampak kehilangan pekerjaan. Hal ini dapat mengakibatkan kepatuhan pengobatan menjadi buruk. Pengungkapan yang tidak tepat dapat juga berakibat penyebaran TB kepada karyawan lainnya. 
  7. Link dengan inisiatif anti-stigma tempat kerja yang ada. 
  8. Memastikan keselamatan kerja untuk staf kesehatan dan kondisi kerja yang layak bagi semua, misalnya memastikan ventilasi yang baik di klinik perusahaan dan/ atau menerapkan sistem penyaring udara yang baik.

Akhirnya, inilah kata-kata Luis Figo yang tercantum dalam laman Stop TB mengenai kenapa dia gigih berjuang untuk menanggulangi TB. Supaya mudah dicerna, saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia:

“Sepakbola selalu menjadi passion saya, tapi saya juga punya passion lain yang tak kalah hebatnya. Saya memimpikan sebuah dunia di mana semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi sehat dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Saya bermimpi ada sebuah kesempatan yang sama untuk bermain bagi perempuan, laki-laki dan anak-anak di mana-mana. 

Tuberkulosis merupakan pelanggaran yang tidak adil dalam yang terjadi dalam pertandingan hidup ini. Ada sekitar 9 juta kasus baru TB setiap tahun, yang paling sering menyerang orang dalam tahun-tahun utama pada masa kerja mereka dan mengakibatkan pengeluaran yang akhirnya menekan pendapatan keluarga mereka. Anak-anak rentan terhadap TB juga, dan penyakit ini bisa memaksa mereka keluar dari sekolah, dan membatasi prospek pekerjaan mereka di masa depan. 

Tuberkulosis dapat disembuhkan, tapi tetap saja dia membunuh hampir 2 juta orang setiap tahun atau hampir 4500 orang setiap harinya. Kondisi ini tidak bisa diterima!
 
Itulah mengapa saya telah membuat komitmen untuk perang global melawan tuberkulosis. Mari bergabung dengan tim saya – ambil bolanya dan berlari bersama saya untuk menghentikan TB”.

-- Luís Figo
-- Goodwill Ambassador against Tuberculosis

Kalau Figo saja bisa dan mau, kenapa kita tidak?

Bacaan:

Jumat, 27 Juni 2014

Peran Komunitas Di Daerah Sulit Untuk Meningkatkan Penemuan Kasus TB



Saat membuka file foto-foto lama, saya melihat beberapa foto ketika saya masih bergabung di salah satu program penanggulangan TB bersama salah satu NGO di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Foto itu unik menurut saya, dan ketika melihatnya, sesaat terlintas pengalaman saya dan rekan-rekan waktu itu untuk berusaha menjangkau beberapa daerah yang sangat sulit hanya untuk melakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit TB. Jalan mendaki dan perjalanan menyeberang laut dari satu pulau ke pulau lain harus ditempuh. Di satu sisi ada susahnya dan di sisi lain lebih banyak kesenangannya. Susah ketika mendaki melewati jalan yang terjal biasanya terbayar dengan sambutan ramah-tamah dari penduduk lokal yang dengan rela memberikan tumpangan untuk tempat menginap dan jamuan ala kadarnya.
Jalan mendaki harus ditempuh untuk sosialisasi bahaya TB hingga ke desa-desa (Foto: dok. pribadi)

Oh iya, sekedar untuk mengetahui apa itu TB atau Tuberculosis maka berikut ini saya sampaikan gejala-gejala umum yang sering didapat. Pada umumnya gejalanya adalah sebagai berikut:

Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih berikut gejala lain yang sering dijumpai antara lain: dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan.

Sedangkan untuk terapi TB, karena yang menjadi sumber penyebaran TB adalah penderita TB itu sendiri, maka pengontrolan efektif TB adalah dengan cara mengurangi pasien TB tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TB saat ini, yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TB jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Sedangkan untuk imunisasi masih kontroversial di beberapa negara. Indonesia adalah salah satu negara yang mewajibkan imunisasi BCG sementara di Amerika imunisasi ini bukanlah keharusan namun Amerika sangat ketat dalam melakukan deteksi penderita sehingga mereka yakin penyebaran TB di komunitasnya bukanlah masalah yang serius.

Dalam strategi terapi DOTS ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung. Deteksi atau diagnosis pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TB berikutnya. 

TB hingga sekarang masih menjadi masalah kesehatan besar termasuk untuk negara berkembangseperti Indonesia. Karena besarnya permasalahan yang diakibatkan TB, maka TB tercakup sebagai salah satu indikator keberhasilan program MDG’s. Indikator MDG’s untuk TB yang harus dicapai Indonesia yaitu menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat TB menjadi setengahnya pada tahun 2015, dibandingkan dengan kondisi tahun 1990.

Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS, hampir semua target MDG’S untuk TB di Indonesia sudah tercapai. Pencapaian target MDG’s untuk TB yaitu kejadian TB semua kasus per 100.000 penduduk yaitu 206 pada tahun 1990 menjadi 185 pada tahun 2012 (sudah tercapai); prevalensi TB semua kasus per 100.000 penduduk yaitu 443 pada tahun 1990 menjadi 297 pada tahun 2012 (belum tercapai); angka kematian TB per 100.000 penduduk yaitu 92 pada tahun 1990 menjadi 27 pada tahun 2012 (sudah tercapai); angka penemuan kasus TB (CDR) yaitu 19,7% pada tahun 2000 menjadi 83% pada tahun 2012 (sudah tercapai) dan angka keberhasilan pengobatan TB (SR) yaitu 87% pada tahun 2000 menjadi 90% pada tahun 2012 (sudah tercapai).

Walaupun sudah ada kemajuan, menurut beliau, namun beban permasalahan TB di Indonesia masih cukup besar, yaitu angka kematian sebesar 67.000 orang per tahun dan angka insidensi 460.000 per tahun.

Pada peringatan Hari TB Sedunia tahun ini, ditetapkan tema “Reach the 3 Million, find, treat and cure for all”. Sedangkan Indonesia menetapkan tema “ Temukan dan Sembuhkan Pasien TB ”, dengan tujuan untuk memberikan akses universal dalam pelayanan TB dengan melibatkan semua penyedia layanan kesehatan dalam pengendalian TB yang menerapkan strategi DOTS berkualitas, sehingga hak pasien terjamin dalam memperoleh diagnosis dan pengobatan TB yang standar. Dengan demikian pasien TB dapat terpantau kepatuhan dan ketuntasan berobatnya serta terlaporkan dalam sistem surveilans nasional pengendalian TB. 

Bagaimana cara menemukan dan menyembuhkan pasien TB itulah yang menjadi permasalahan di tempat-tempat terpencil, termasuk tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di tahun 2004 di wilayah kabupaten Alor itu. Keberadaan fasilitas kesehatan yang belum memadai waktu itu mengharuskan tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa-desa tersebut harus berjalan kaki jauh-jauh ke kota atau harus naik perahu untuk mengantarkan sediaan sputum yang telah difiksasi. Buat yang awam, sputum itu adalah dahak. Seseorang yang dicurigai menderita TB harus menjalani tiga kali pemeriksaan dahak yang dikenal dengan singkatan SPS yaitu: Sewaktu, Pagi, dan Sewaktu. Sewaktu adalah dahak dikumpulkan saat pasien datang ke petugas kesehatan, Pagi adalah keesokan paginya pasien mengeluarkan dahak pertama yang dikeluarkan hari itu dan Sewaktu yang kedua adalah dahak yang diambil bersamaan dengan pasien mengantar dahak paginya ke petugas kesehatan. Selanjutnya petugas kesehatan akan melakukan proses fiksasi dahak ke dalam slide yang kemudian akan diwarnai dan diperiksa di bawah mikroskop. Jika ditemukan kuman BTA (Bakteri Tahan Asam) pada dua dari tiga slide maka pasien yang dicurigai mengidap TB itu dikatakan positif menderita TB dan harus menjalani pengobatan.

Kembali saya teringat saat-saat melakukan sosialisasi tentang TB dulu, saya dan rekan-rekan mengadopsi cara yang mudah diingat oleh komunitas, yaitu dengan menggunakan gerakan tangan. Harusnya saya videokan biar bisa ditiru ya? Tapi saya akan coba menggambarkannya secara naratif sebagai berikut:

Gejala umum TB adalah batuk, terus menerus, berdahak selama 3 minggu atau lebih. Nah, inilah pesan utama yang kita inginkan disampaikan oleh anggota komunitas ke anggota komunitas yang lain. Caranya? Pertama, siapkan tangan kanan atau tangan kiri juga boleh. Biasanya kami menggunakan tangan kanan, karena kesannya lebih sopan. Kedua, acungkan jempol sambil mengatakan “batuk”, kemudian angkat telunjuk menyertai jempol dan katakana “terus-menerus”, ketiga, angkat jari tengah sambil mengatakan “berdahak”. Keempat, ketiga jari yang sudah teracung tersebut di dorong ke depan sambil mengatakan “selama tiga minggu” dan terakhir, putar ketiga jari tersebut ke bawah dan ke atas sambil mengatakan “atau lebih..”
Mendemonstrasikan gerakan tangan untuk gejala umum TB: batuk, terus-menerus, berdahak, selama 3 minggu atau lebih (Foto: dok. pribadi)
 
Nah, biasanya setelah saya dan beberapa rekan menyampaikan pesan dengan iringan gerakan tangan tersebut maka komunitas diminta untuk mengikutinya. Hasilnya? Sebagian besar menganggap itu mudah diingat dan jika mereka menemukan saudara, tetangga, atau orang satu kampung yang memilki gejala tersebut, mereka akan meminta orang tersebut untuk pergi ke petugas kesehatan untuk diperiksa dan diambil dahaknya secara SPS.
Masyarakat desa mencoba mempraktekkan gerakan tangan untuk gejala umum TB yang sudah diperagakan. (Foto: dok. pribadi)
 
Setelah kami meninggalkan suatu wilayah untuk sosialisasi, biasanya kami memantau apakah ada peningkatan dalam penemuan kasus oleh komunitas yang pernah kami kunjungi. Ternyata, peran komunitas atau komunitas itu memang sangat besar. Jumlah temuan kasus serta merta meningkat walau tak bisa dipungkiri dengan langkah 3 jari itu banyak pula yang menuai hasil pemeriksaan SPS yang negatif alias tidak ditemukan kuman BTA.

Ternyata peran komunitas tidak hanya di penemuan kasus saja. Mereka juga bisa berperan dalam sosialisasi tentang penyakit TB ke komunitas di sekitarnya sampai mengawasi proses pengobatan yang sedang berlangsung dengan memberikan dukungan moral pada pasien yang sedang menjalani proses terapi.

Coba kita lihat definisi WHO tentang komunitas sebagai berikut:
A community is “a group of people who have something in common and will act together in their common interest” (WHO 2003).

Artinya, sebuah komunitas adalah "sekelompok orang yang memiliki sesuatu yang sama dan akan bertindak bersama-sama dalam kepentingan bersama mereka". Masyarakat mungkin menemukan kesatuan mereka melalui latar belakang umum, geografi, etnis, pendidikan, pengalaman, bahasa, dan dengan tema-tema sosial lainnya. Pemrograman TB berbasis masyarakat dapat memberikan kontribusi yang unik untuk program TB nasional. 

Sudah terlalu lama, masyarakat, rumah tangga, dan individu telah diabaikan dalam peran mereka untuk program kesehatan, meskipun mereka jelas merupakan aktor sentral dalam mengupayakan kesehatan mereka sendiri. Secara historis, upaya kesehatan telah mengutamakan fokus hanya pada sistem kesehatan formal klinik dan rumah sakit, dan pendekatan biologis. Memang ini sangat penting tetapi hal-hal tersebut tidak mewakili seluruh gambar kesehatan disuatu wilayah. Upaya kesehatan khususnya untuk penanggulangan TB berbasis masyarakatlah yang akan memberikan gambaran utuh tentang berhasil tidaknya program itu dijalankan di suatu wilayah.

Saya kembali membayangkan di daerah-daerah sulit yang pernah saya kunjungi dulu. Seandainya di desa mereka sudah ada listrik mungkin mereka bisa mengakses iklan layanan masyarakat seperti yang ada di bawah ini.




Namun, belum tentu juga sinyal relay stasiun televisi yang sampai ke tempat mereka. Artinya, penyebaran informasi dari mulut ke mulut dengan mengikutsertakan komunitas untuk mengambil peran lebih, mutlak dilakukan. Dengan peran komunitas yang lebih berperan dalam penemuan kasus, pengontrolan terapi, dan penyebaran informasi niscaya TB tidak akan menjadi masalah lagi buat negara kita ke depannya. Semoga!

Bacaan:

Senin, 10 Maret 2014

Takumi, karena hidup hanya sekali, jadilah berharga!


Baru kali ini saya tahu tentang sebuah filosofi yang menarik yaitu tentang Takumi. Kenapa menarik? Karena seharusnya filosofi inilah yang dipegang oleh setiap orang dalam menjalani kehidupan ini.

Takumi dalam bahasa Jepang berarti 'ahli'. Namun bukan hanya sekedar menjadi ahli atau pakar karena sebutan orang melainkan karena sudah terbukti dari produk-produk yang dihasilkannya. Seorang penulis misalnya, tidak mungkin disebut sebagai ahli menulis oleh dirinya sendiri. Orang lain yang membaca karya tulisannya lah yang menilai apakah memang dia ahli atau tidak di bidang menulis. Demikian pula untuk bidang-bidang lainnya. Di Jepang, Takumi selalu menjadi panutan dalam melakukan setiap pekerjaan. Mereka selalu ingin mempersembahkan karya terbaik dengan semangat Takumi . Suatu karya terbaik yang hanya dapat dikerjakan oleh manusia. Harapannya, tentu saja, manusia yang baik pula.
Suasana perakitan Lemari Es di pabrik SHARP Karawang

Ternyata negeri kita Indonesia juga sudah sering memaknai Takumi dalam kesehariannya. Coba kita lihat para seniman kelas atas di bidang batik, seni lukis atau seni pahat. Atau coba kita lihat para arsitek kita dalam merancang jembatan dan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang. Tak sedikit orang-orang yang ingin memberikan karya mereka yang terbaik. Karya yang sungguh-sungguh memperhatikan detail, menyatukan keindahan dan fungsi dengan cara yang inovatif. 

Nah, semangat Takumi yang ada di Indonesia pada orang-orangnya digabung dengan pemaknaan filosofi Takumi dari Jepang itulah yang mendasari SHARP untuk menyatukannya dalam bentuk-bentuk pelatihan yang berkelanjutan. Lewat pelatihan yang berkelanjutan ini para Takumi Sharp Corporation yang berdedikasi penuh melatih para karyawan di lebih dari 26 negara, termasuk Indonesia, melatih calon lokal sebagai kepanjangan tangan dari para Takumi Sharp Corporation, untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas tinggi. Bahkan, para calon Takumi itu juga mendapatkan kesempatan pelatihan di Jepang untuk meningkatkan kompetensi mereka di bidang produksi dan pengembangan mutu. Demikian seterusnya hingga distribusi karyawan berpotensi yang akan terus dilatih untuk melahirkan para Takumi baru terus bertambah yang pada akhirnya berdampak pada kualitas produk yang semakin baik dan semakin baik lagi.

Semangat Takumi dalam keseharian kerja, bisa langsung dibaca, dipahami, dan diterapkan
Sekarang, mari kita lihat salah satu pabrik terbaru SHARP seluas 31 hektar di Karawang International Industry City (KIC) ini. Pabrik ini terdiri atas dua fasilitas utama, yaitu pabrik mesin cuci seluas 11.627.888 M2 dan pabrik lemari es seluas 27.616.300 M2. Peletakan batu pertama telah dilakukan tanggal 7 Juni 2012 oleh President Director PT Sharp Electronic Indonesia, Fumihiro Irie. Produk yang dihasilkan oleh pabrik ini ditujukan untuk konsumen kelas bawah hingga menengah di Indonesia, selain itu juga akan diekspor ke negara-negara di Asia, Timur Tengah dan Afrika. Di pabrik baru ini SHARP memproduksi Mesin Cuci Dolphinwave 2 tabung dan Lemari Es King Samurai 2 pintu.

Selama lebih dari 40 tahun, Sharp Electronics Indonesia selalu hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia. Mendengarkan kebutuhan masyarakat Indonesia adalah langkah yang selalu dilakukan oleh SHARP. Untuk itulah dirancang produk mesin cuci 2 tabung dan lemari es untuk kalangan bawah hingga menengah di Indonesia. Keduanya adalah produk Mesin Cuci dan Lemari Es yang mampu menjawab kerinduan masyarakat akan produk terbaik untuk segmen bawah hingga menengah.

Target memang harus dikejar tapi kualitas tetap harus dijaga, tetap terbaik itulah semangat Takumi "selalu menghasilkan yang terbaik"
Lalu apa yang menarik dari pabrik ini? Dengan prinsip super green factory, seluruh bagian didesain untuk menghemat penggunaan energi, bahkan beberapa fasilitas pabrik juga dilengkapi dengan panel surya yang mampu menghasilkan energi pula. Dukungan teknologi yang makin canggih memungkinkan pabrik baru ini menciptakan lemari es berkualitas tinggi dengan kapasitas produksi lebih besar dari sebelumnya, yaitu sebesar 2.640.000 pertahun atau sekitar 2 kali kapasitas produksi di pabrik Pulogadung. Sementara untuk mesin cuci, kapasitas produksinya adalah sebesar 1.680.000 pertahun atau sekitar 2,5 kali kapasitas produksi di pabrik Pulogadung.

Tentunya dengan kapasitas produksi sebesar itu SHARP tidak asal produksi saja tetapi juga memastikan semua barang yang diproduksi tersebut memiliki kualitas terbaik. Hal ini sesuai dengan amanat dari pendiri SHARP yang juga Takumi SHARP pertama, Takuji Hayakawa di tahun 1912 untuk selalu menciptakan produk terbaik. Keahlian karyawan dan kemampuan bekerja secara akurat dan cepat merupakan modal utama untuk mencapai kualitas tinggi sesuai dengan standar Takumi. SHARP percaya bahwa bagian terpenting dari kualitas tinggi adalah para karyawan. Karena itu di pabrik ini SHARP mengajak seluruh karyawan untuk mendesain fasilitas pabrik sesuai dengan kebutuhan mereka. Fasilitas itu terdiri dari Mesjid, Klinik Kesehatan, Kantin, Koperasi, Showroom dan bahkan lapangan sepak bola. Menarik bukan?

Sayang saya bukan karyawan SHARP, hanya seorang pengguna plasmacluster dan lemari es-nya saja. Kalau iya, menarik juga untuk bisa bergabung di pabrik ini. Tapi yang pasti filosofi Takumi dapat kita lakukan juga dalam kehidupan sehari-hari kita. SHARP sudah membuktikannya dengan berinvestasi penuh pada karyawan untuk dapat menjadi Takumi-Takumi baru. Kini tinggallah bagaimana kita menyikapinya. Sungguh sayang hidup ini dilewatkan begitu saja tanpa menjadi berharga. Dilewatkan begitu saja, tanpa menjadi seorang Takumi. Yang memberi makna pada setiap karya. Ayo jadi lebih baik dan lebih baik lagi. Hidup ini hanya satu kali, jadilah berharga! 

Bacaan:

Selasa, 18 Juni 2013

AdRewa, bisa nggak ya?



Berulangkali mencoba mendaftarkan blog saya ke salah satu program pay per click (PPC) yang dilansir oleh perusahaan mesin pencari terbesar di dunia membuat saya stress karena gagal terus. Berkali-kali dicoba jawabannya tetap sama. Intinya, blog yang saya kelola belum memenuhi syarat untuk dipasang iklan baris. Memang sih, siapa juga yang mau pasang iklan di blog yang hanya dikunjungi segelintir orang setiap harinya? Yang jelas kalau mau blog kita dilirik oleh pemasang iklan terutama yang berbasis pay per click tentunya blog harus dikemas dengan baik. Sering diisi dengan postingan yang seru dan up to date. Ini yang kadang susah. Bukan karena sulit menulis tapi mencari waktu untuk menulis itu yang terkadang susah. Tapi ya, itu konsekuensi. Kalau anda punya blog, maka anda harus bertanggung jawab untuk sering-sering update postingan yang ada di dalamnya. Apalagi kalau blog anda sudah mempunyai beberapa pengikut (followers) maka tanggung jawab anda akan lebih besar lagi. Kenapa? Karena para followers adalah orang-orang yang kemungkinan senang dengan tulisan dalam blog anda dan ingin mendapatkan pemberitahuan jika ada tulisan baru yang ditampilkan. Bayangkan saja kalau berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tak ada postingan baru dari Anda, wah.. maka mereka akan kecewa dan ujung-ujungnya tidak meneruskan lagi menjadi pengikut di blog Anda.

Baru-baru ini saya menyasar untuk menjadi salah satu publishernya AdRewa. AdRewa adalah layanan periklanan online yang mempertemukan para pemasang iklan (advertiser) dengan para penerbit iklan (publisher). Layanan ini dikembangkan oleh AstaMedia Group, perusahaan internet marketing dan blog advertising yang terkemuka di Indonesia, AdRewa menyajikan iklan digital dengan sistem pay per click (PPC) berbasis keyword, baik berupa iklan text atau iklan banner dengan sejumlah ukuran. Melihat deskripsi di webnya langsung membuat saya tertarik untuk mendaftar pada layanan pay per click AdRewa ini. Tapi tunggu dulu, simak dulu informasi lengkapnya ya..

Akun publisher di AdRewa dibuat untuk para pemilik website atau blog yang mau mendapatkan penghasilan online dengan memasang iklan dari AdRewa. Publisher akan mendapatkan penghasilan dari setiap iklan yang diklik dengan sah pada situs atau blog mereka. Program di publisher AdRewa adalah program kerjasama periklanan yang memungkinkan para publisher (penerbit iklan) menampilkan iklan di web atau blog mereka dan akan mendapatkan bayaran untuk semua klik yang sah pada iklan yang tampil. Publisher bebas untuk bergabung ke dalam sistem periklanan AdRewa dan dapat mulai menampilkan iklan di situs mereka segera setelah menyelesaikan proses pendaftaran. Menjadi publisher di AdRewa cukup mudah tinggal klik di sini untuk mendaftar. Setelahnya anda harus menunggu akun anda disetujui terlebih dahulu. Jika disetujui, maka anda bisa mulai menayangkan sejumlah iklan AdRewa di website dan blog anda.

Terus bagaimana dengan iklan yang akan dipasang nanti? Bagaimana mengelolanya? Nah, format iklan AdRewa ini cukup sederhana untuk dikelola. Anda dapat membuat kode iklan Anda sendiri dengan pilihan ukuran, warna dan tipe iklan sesuai kebutuhan. Anda dapat memutuskan berapa banyak iklan teks atau iklan banner yang akan ditampilkan pada web dan blog Anda. Ada satu hal yang unik juga di AdRewa. Yaitu menyangkut kode iklan yang dihasilkan. Kode iklan yang dihasilkan untuk mesin pencari memang dibuat khusus untuk mesin pencari yang akan menampilkan iklan tergantung pada kecocokan kata kunci yang digunakan untuk pencarian. Kode iklan untuk halaman konten akan mengidentifikasi tema dan isi halaman web atau blog secara otomatis dan menampilkan iklan yang relevan. 

Kalau iklan sudah dipasang, terus bagaimana? Nah, pertanyaan ini saya tahu ujungnya kemana he..he.. pasti mengenai pendapatan yang dihasilkan, iya kan? Di AdRewa saldo minimal untuk pencairan adalah Rp. 50.000,- artinya jika earning publisher sudah mencapai sejumlah itu maka publisher bisa mengirimkan permintaan agar earning atau pendapatan tersebut bisa dicairkan. AdRewa akan mentransfer ke rekening publisher sesuai dengan nomor rekening yang terdaftar pada sistem. 

Saya pun sudah menayangkan iklan AdRewa di 2 blog yang saya kelola yaitu blog Apa Itu HIV dan AIDS serta blog ini. Lumayan juga, baru tayang beberapa waktu sudah dapat Rp. 500,- lumayan kan? Mudah-mudahan ke depan angka nol di belakangnya nambah ya...

Salah satu blog saya (Apa Itu HIV dan AIDS) yang menayangkan iklan AdRewa
Oh iya, kadangkala ada saja yang mencoba-coba curang dengan meng-klik sendiri iklan (fraud klik) yang ada di blog atau web yang telah dipasang iklan Adrewa. Nah, layanan iklan PPC AdRewa telah dilengkapi dengan sistem teknologi tinggi yang mampu mendeteksi setiap fraud klik. Oleh karenanya AdRewa 100% tidak akan memberikan toleransi untuk setiap kecurangan, terutama yang menyangkut klik fraud. 

Nah, kalau sudah membaca lengkap informasi di atas, yakin nggak ya kalau AdRewa bisa? Bisa apa? Ya, jelas lah, bisa memberikan penghasilan tambahan dari blog. Selamat mencoba!