Selasa, 14 Februari 2012

Happy Valentine Day My Beloved Wife!

Hari ini katanya hari kasih sayang yang diperingati di seluruh dunia. Oh ya? Ngga tau kenapa sepertinya ada perasaan khusus seperti harus mengucapkan sesuatu pada istri tersayang. He...he..he... mungkin karena makin hari makin cinta kali ya...

Sulit untuk menjabarkan kata per kata buatmu, yang ada hanya kutipan dari lagu SHE "Bukan Untuk Sembarang Hati" berikut ini:

SHE – Bukan Untuk Sembarang Hati

Intro:A

A
Aku cinta mati padamu
F#m
Takkan sanggup aku tanpamu
Bm
Bahagiamu itu bahagiaku
C#m
Dan setiap air matamu
D E
Itulah juga kesedihanku

A
Aku cinta mati padamu
F#m
Jangan pernah meragukanku
Bm
Terlalu dalam cintaku ini
C#m
Mungkin aku bisa mati
D E
Bila harus kehilangan dirimu

A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
aku katakan ini
F#m Bm E
Sungguh aku cinta kamu
A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
Hingga nafas berhenti
F#m Bm E A
Aku rela berlelah untukmu

Int: D C#m Bm E

A
Aku cinta mati padamu
F#m
Jangan pernah meragukanku
Bm
Terlalu dalam cintaku ini
C#m
Mungkin aku bisa mati
D E
Bila harus kehilangan dirimu

A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
aku katakan ini
F#m Bm E
Sungguh aku cinta kamu
A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
Hingga nafas berhenti
F#m Bm E
Aku rela berlelah untukmu

Solo: F#m E D
F#m E Bm C#m D E

A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
aku katakan ini
F#m Bm C#m D E
Sungguh aku cinta kamu
A D
Bukan untuk sembarang hati
C#m
Hingga nafas berhenti
F#m Bm E A D
Aku rela berlelah untukmu
A
untukmu


Selamat Hari Valentine istriku, cintaku.....
Tuhan memberkati kita selalu...

Rabu, 04 Januari 2012

Tuhan (juga) cinta orang mabuk!


Suatu hari ada seorang mabuk tidur di pelataran gereja. Berkali-kali pengurus gereja mencoba membangunkannya dan menyuruhnya untuk bangun namun tidak kunjung berhasil. Ketika akhirnya si pemabuk bangun dari tidurnya dia berkata kepada pengurus gereja “Tidak tahukah kamu kalau aku harus berada di rumah Bapaku?” (Mop, anonim)

Sore itu sebuah berita yang mengagetkan datang. “Jusni kecelakaan” kata istriku via handphone. Jusni adalah staf Puskesmas Assolokobal dimana istriku melayani sehari-hari sebagai dokter PTT. Aku sejenak terkaget. Karena hari itu hari libur di organisasi maka dari pagi aku sudah mengantar istriku dan ikut menemaninya memeriksa pasien sampai selesai. Pagi itu memang Jusni datang terlambat. Ketika datangpun ia tidak langsung masuk ke Puskesmas tapi sibuk bertelepon dengan seseorang. Setelah selesai dari pekerjaan di Puskesmas, istriku masih sempat bertemu dengan Jusni di rumah seorang dokter rekan kerja istriku. Di akhir tahun ini memang banyak pekerjaan administrasi yang harus diselesaikan terlebih untuk Jusni karena ia seorang bendahara Puskesmas.

“Langsung ke rumah sakit saja, di UGD” sms istriku masuk ke handphoneku. Aku bergegas ke rumah sakit menaiki si hitam motor megapro yang setia menemaniku kemana saja. Di situ tampak kerumunan orang banyak. Aku menemui istriku. “Dua jari kakinya putus” kata istriku. Aku segera melongok ke arah kaki Jusni. Benar, dua jari kakinya putus. “Bagaimana peristiwanya?” tanyaku. “Ngga jelas” sahut istriku. “Ditabrak Strada, yang bawa sepertinya mabuk” lanjutnya. Tak berapa lama perhatian semua orang di ruangan pecah. Rupanya seorang yang sedang mabuk tak henti-hentinya berkata-kata. “Selamat Natal, saya mabuk jadi banyak bicara.. minta maaf.. Tuhan berkati bapak ibu sekalian” logat pegunungan yang kental disertai bau alkohol menyeruak di ruangan itu. Ada yang tertawa terkekeh, namun ada juga yang geram seraya berujar “Suntik mati saja..”. Aku sendiri sempat merasa miris dan jengkel melihatnya. Info yang kemudian aku dapat ternyata ada empat orang pemuda yang sedang mabuk mengendarai Strada. Mereka kemudian menabrak ojek yang ditumpangi Jusni. Supir ojeknya sendiri terlihat belum sadarkan diri.

Istriku terlihat sibuk dengan rekannya sesama dokter. Aku hanya menunggu sambil sesekali membantu mengambilkan beberapa keperluan yang dibutuhkan istriku. Sambil menunggu aku mulai berpikir tentang orang mabuk tadi. Apa yang akan terjadi saat dia sadar nanti? Apakah dia tahu bahwa perbuatannya telah membuat orang lain terluka? Pertanyaan yang muncul dalam benakku semakin banyak dan bahkan menjadi semakin sulit kujawab tatkala pertanyaan yang mulai muncul adalah: Bagaimana pandangan Tuhan tentang orang ini? Apakah Tuhan juga mencintai orang mabuk ini? Belum lagi bisa kujawab, pertanyaan lain muncul dalam benakku: Apakah aku masih bisa menghargai orang mabuk itu sebagaimana nilai dasar organisasi WVI “we value people”?

Dokter dan perawat UGD bertindak cepat. Luka-luka di tubuh orang mabuk itu dibalut di tengah-tengah ocehannya yang kunjung berhenti hingga ia dipindah ke ruang rawat. Ternyata orang mabuk pun mendapat perlakukan sama oleh tenaga kesehatan di UGD malam itu. Tidak peduli dengan kejengkelan yang ada dalam hati semua terapi yang dia butuhkan dikerjakan tanpa kecuali. Dalam hati aku memuji para dokter dan perawat ini. Mereka inilah yang patut diacungi jempol, pikirku karena mereka tetap menghargai si penabrak yang tengah mabuk tanpa perbedaan dengan pasien lainnya. Ini baru we value people!

Sekitar jam 11 malam akhirnya kami pulang. Perut ini terasa keroncongan. Pikiranku masih terus terbayang kejadian di UGD tadi. Sehabis menyantap nasi goreng, aku mencoba merenungkan kembali pertanyaanku tadi. Terlintas satu ayat di Korintus yang menyatakan bahwa pemabuk tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah (I Kor 6:10) namun bagaimana kalau si pemabuk kemudian sadar lalu bertobat dan mengaku dosanya? Ternyata Allah itu setia dan adil, Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (I Yoh 1:9). Yah, akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan. Jika si pemabuk tadi benar-benar mengakui dosanya dan memohon pengampunan maka ia pasti akan diampuni. Tuhan tetap cinta dia, sama seperti dia cinta aku dan semua orang di dunia ini. Tuhan tetap cinta orang mabuk!

Dasar Hidup Masyarakat Jayawijaya

Suatu kali saya sempat mengajukan pertanyaan kepada seorang ahli budaya yang tinggal di Wamena, kebetulan beliau juga adalah orang asli Wamena yang menekuni soal sejarah dan budaya. Beliau bernama Niko A. Lokobal. Waktu itu beliau menjawab dalam bentuk tulisan yang disampaikan ke saya pada tanggal 10 Juni 2011. Saya baru sempat menuliskannya kembali sekarang. Berikut ini saya paparkan kembali apa yang dituliskan beliau untuk saya (dr. Willy Sitompul) mengenai dasar hidup masyarakat Jayawijaya.

Masyarakat Jayawijaya adalah masyarakat yang menghormati tanah. Dalam hal ini:
• Tanah sebagai dasar hidup mereka
• Tanah sebagai akar hidup mereka
• Tanah sebagai ibu yang memberdayakan hidup melimpah

Maka tanah adalah “kudus/ sakral” dalam pandangan mereka. Pada tanah dibuat batas (pagar) kepemilikan dalam bentuk tanaman atau batu sebagai batas penguasaan (kepemilikan). Sambil bekerja anak-anak generasi berikutnya diberi tahu cara membuat pagar dan memelihara batas-batas tersebut. Juga tentang kesakralan tanah.

Tanah Harus Beristirahat. Pada saat tanah beristirahat, manusia tidak boleh beraktifitas apapun yang berhubungan dengan tanah. Kesakralan tanah diumumkan oleh penguasa wilayah misalnya wilayah Mukoko atau Welisi dan Assolokobal.

Penguasaan wilayah direbut melalui perang suku yang disponsori oleh kepala suku dari konfederasi tertentu. Kemudian beberapa konfederasi itu membentuk aliansi jika menghadapi perlawanan dari aliansi lain. Jadi sistim aliansi dan konfederasi berlaku ketika menghadapi peperangan atau perlawanan. Ada pula perang antar konfederasi. Ketika menghadapi perlawanan dari luar konfederasi mereka bersatu sebagai aliansi untuk menghadapi musuh bersama.

Tokoh mitos yang disebut Naruekul adalah satu dan sama bagi masyarakat Jayawijaya. Setiap marga atau klan memiliki totem masing-masing dimana setiap totem mengarah pada Naruekul sebagai tokohnya. Jika ditelusuri terus maka tokoh mitos tersebut ternyata dibunuh dan kemudian dipotong-potong dan dibagikan ke kelompok-kelompok orang. Setiap kelompok orang yang memperoleh bagian tertentu kemudian menyebar sampai ke seluruh lembah Baliem hingga ke arah Barat.

Menurut Niko Lokobal, sampai saat ini pada setiap pertemuan atau konflik yang beliau saksikan selalu mengarah pada Naruekul sebagai dasar hidup masyarakat Jayawijaya. Sehingga kesimpulan beliau adalah: dasar segala aktifitas masyarakat Jayawijaya adalah tanah yang disirami darah Naruekul sebagai tokoh mitosnya.

Senin, 15 Agustus 2011

Be a Motivational Leader – Lasting Leadership Principles

Be a Motivational Leader – Lasting Leadership Principles
LeRoy Eims
Mengenai buku ini Charles R. Swindoll mengatakan “You’re in for a treat!” artinya lebih banyak menyiratkan bahwa setelah membaca buku ini kita seolah-olah seperti ditraktir makan gratis. Isi bukunya enak dan menarik dibaca. Tidak seperti buku-buku dengan latar belakang Kristiani lainnya, buku ini tidak mau memusingkan pembaca dengan banyak sekali ayat-ayat Alkitab. Beberapa kutipan ayat Alkitab disampaikan secara gamblang, seperlunya dan tepat sasaran.
Bagaimana menjadi pemimpin yang memotivasi? LeRoy menuturkan 12 hal yang mutlak harus dilakukan agar bisa menjadi pemimpin yang memotivasi. Dua belas hal tersebut adalah:
  1. Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab (responsible)
  2. Jadilah pemimpin yang bertumbuh (growing)
  3. Jadilah pemimpin yang memberi contoh (exemplary)
  4. Jadilah pemimpin yang menginspirasi (inspiring)
  5. Jadilah pemimpin yang efisien (efficient)
  6. Jadilah pemimpin yang peduli (caring)
  7. Jadilah pemimpin yang komunikatif (communicating)
  8. Jadilah pemimpin yang berorientasi tujuan (goal-oriented)
  9. Jadilah pemimpin yang bisa memutuskan (decisive)
  10. Jadilah pemimpin yang kompeten (competent)
  11. Jadilah pemimpin yang mempersatukan (unifying)
  12. Jadilah pemimpin yang bekerja (working)
Ke-duabelas hal tersebut akan dibahas satu persatu di bawah ini. Dengan menguraikan dua belas langkah tersebut kiranya memampukan kita untuk dapat menjadi pemimpin yang mampu memberikan motivasi.
I. Pemimpin yang Bertanggung Jawab
Ketika tentara Amerika gagal menyelamatkan 50 warga Amerika yang disandera di Teheran pada 25 April 1980 presiden Carter tampil di televisi dan mengatakan bahwa semua itu adalah tanggung jawabnya. Ketika presiden tampil di televisi maka redalah pembicaraan dan rumor yang saat itu terjadi di Amerika. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan NASA. Ketika ada rumor tentang akan jatuhnya Skylab seberat 77.5 ton, NASA tidak mengambil tindakan bahwa seharusnya merekalah yang bertanggung jawab atas kejatuhan tersebut. NASA bertanggung jawab menempatkan Skylab di orbit namun tidak menerima tanggung jawab mengenai dimana Skylab akan jatuh.
Ketika Tuhan mengkonfrontasi Adam akan dosanya, Adam bisa saja langsung mengatakan bahwa Tuhan benar. Itu memang dosanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Adam menyalahkan istrinya dan istrinya pun menyalahkan ular.
Raja Salomo menekankan 5 hal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Kelima hal tersebut ialah:
1. Mampu menegur atau memperbaiki kesalahan orang lain.
2. Mampu menerima tanggung jawab utnuk memutuskan sesuatu.
3. Mampu mendengar kritik yang diberikan orang lain.
4. Mampu berlaku jujur.
5. Mampu berlaku adil.
II. Pemimpin yang Bertumbuh
Seorang pemimpin harus selalu bertumbuh. Ada beberapa musuh yang bisa menghalangi seorang pemimpin untuk bertumbuh yaitu:
1. Rasa bangga.
2. Rasa malas/ kemalasan.
Sedangkan teman atau yang mendukung pertumbuhan seorang pemimpin adalah:
1. Humility/ kerendahan hati.
2. Godliness/ kesalehan.
3. Prudence/ kebijaksanaan.
III. Pemimpin yang Memberi Contoh
Ketika penulis buku ini dahulu pernah membeli sebuah mesin sensor kayu dengan tujuan untuk membuat kayu bakar untuk perapian rumahnya, penulis buku ini memperoleh sensor kayu tersebut dalam bentuk yang belum dirakit. Yang dia punyai saat itu adalah sebuah manual atau petunjuk untuk merakit mesin sensor tersebut. Saat ia mencoba memasangnya, ia kemudian disulitkan dengan beberapa istilah teknis yang ia tak mengerti. Akhirnya hingga saat ini mesin tersebut tak pernah dirakit dan tahun-tahun berlalu tanpa ada kayu di perapian hasil dari mesin sensor tersebut. Hal yang berbeda terjadi ketika penulis buku ini mengikuti wajib militer dimana salah satu aktifitasnya adalah merakit senjata sebuah MI rifle. Dengan dipandu seorang instruktur penulis buku ini kemudian berhasil merakitnya bahkan dalam sebuah kesempatan ada satu kompetisi dimana merakit MI rifle dilakukan dalam kondisi mata tertutup. Saat itu meskipun bukan yang terbaik, penulis buku ini mampu menyelesaikan tantangan tersebut. Apa bedanya dua situasi ini? Ternyata bukanlah soal kompleksitasnya masalah karena kompleksitas keduanya masih sama (sama-sama kompleks) namun bedanya lebih kepada sentuhan personal dimana dibutuhkan seseorang yang mampu mendampingi hingga bisa. Seseorang yang ada untuk mendemonstrasikan dan selalu siap membantu.
Dawson Trotman menjelaskan 5 langkah yang dapat dilakukan untuk membantu seseorah mempelajari sesuatu hal (dalam buku dijelaskan untuk seorang yang baru saja menjadi Kristen) yaitu:
Katakan padanya apa (what)
Katakan padanya kenapa (why)
Perlihatkan padanya caranya (how), untuk poin ini secara khusus Daws mengatakan “pegang tangannya dan pimpin ia melaluinya”
Bantulah ia untuk memulai (get started); dan
Bantulah ia untuk tetap melanjutkannya (keep going)
Hal penting lain yang diungkapkan dalam sesi ini adalah ketika seorang pemimpin mengatakan sesuatu maka pemimpin tersebut juga harus melakukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Ada suatu contoh tentang hal ini ketika penulis buku memberikan instruksi memasang dasi pada seorang gadis (yang belum pernah tahu cara memasang dasi sebelumnnya) dengan hanya berkata-kata tanpa menunjukkan caranya. Hasilnya si gadis sama sekali tidak bisa melakukannya dengan baik. Ketika instruksi diulang sambil penulis buku ini mempraktekkannya dengan mudah si gadis bisa meniru dan memasang sebuah dasi.
IV. Pemimpin yang Menginspirasi
Ketika penulis buku ini mengajukan sebuah pertanyaan di suatu forum yang berisikan 200 pemimpin muda “Kenapa anda mengikuti pimpinan departemen anda?”, ada 3 jawaban yang mengemuka:
1. Ada visi si pemimpin tersebut dimana kalau visi itu dilakukan, hidup mereka akan lebih baik.
2. Ada ketersediaan (availabilty) si pemimpin. Ketika mereka butuh konseling si pemimpin selalu ada untuk mereka.
3. Ada komitmen dari si pemimpin. Alasan mereka mengikuti si pemimpin adalah adanya komitmen si pemimpin untuk membantu mereka bertumbuh dan mengembangkan kemampuan (spiritual) mereka.
Dalam bab ini juga dijelaskan satu persatu mengenai kualitas apa yang dibutuhkan seorang pemimpin, yaitu:
1. Kejujuran (honesty)
2. Kesetiaan (loyalty)
3. Kemurah-hatian (generosity). Dalam bab ini penulis menjelaskan bagaimana cara seorang pemimpin mengelola pujian. Dalam mengelola pujian ada beberapa prinsip yang harus dijalankan:
a. Harus berhati-hatilah dalam memberikan pujian. Pujian yang berlebihan dapat menghancurkan seseorang.
b. Jelaskan pada orang lain bagaimana menerima sebuah pujian sebagaimana adanya yaitu untuk menjadi usaha yang jujur dalam memberikan semangat.
c. Jelaskan pada orang lain bahwa kita ini tak lebih dari sebuah saluran.
4. Kerendah-hatian (humility)
Ada 2 prioritas yang harus dilakukan seorang pemimpin yaitu:
1. Memilih dengan bijaksana
2. Menginvestasikan waktu
V. Pemimpin yang Efisien
Ada beberapa prinsip dalam menjadi seorang pemimpin yang efisien, yaitu:
1. Menerima arahan
2. Berkomunikasi dengan staf
3. Mendelegasikan tanggung jawab
4. Selalu ada
5. Mengevaluasi secara teratur
Seorang pemimpin harus secara rutin bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya sudah punya arahan yang jelas dari Tuhan? (kehendak Tuhan bagi saya)
Apakah saya selalu mengatakan dengan benar pada bawahan saya apa hal-hal yang harus mereka lakukan/
Apakah saya membiarkan bawahan saya melakukan hal-hal tersebut?
Apakah saya membantu mereka saat diperlukan?
Apakah saya memberikan umpan balik ke mereka mengenai bagaimana mereka melakukannya?
VI. Pemimpin yang Peduli
Berbicara soal pemimpin yang peduli diibaratkan seperti seorang gembala. Ada berbagai jenis gembala. Ada gembala yang peduli dengan domba-dombanya dan ada yang tidak terlalu peduli dengan urusan “kebutuhan” domba-dombanya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi gembala yang peduli. Pertama, pemahaman yang jelas tentang kebutuhan dasar dari seekor domba. Kedua, kerajinan dan keinginan yang kuat untuk memberikan kebutuhan dasar tersebut (dengan kata lain: mampu mencari tahu apa yang harus dilakukan dan melakukannya!). Ada beberapa hal yang bisa menghalangi seorang gembala untuk mempunyai kerajinan (sifat rajin) yaitu:
1. Fokus hanya pada diri sendiri (self-centeredness)
2. Kebodohan (tidak mau belajar) (ignorance)
3. Kemalasan (sloth)
4. Pengalih perhatian (diversions)
Seorang pemimpin yang peduli juga harus bisa melihat kesempatan dalam memenuhi kebutuhan orang yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin yang peduli berarti menjadi seorang gembala yang baik (lihat Amsal 27:23 “Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu”). Menjadi pemimpin yang peduli juga menjawab tantangan dari Tuhan sama seperti pertanyaan yang diajukan Tuhan pada Petrus, “Apakah kamu benar-benar mencintaiku? ... gembalakanlah domba-dombaku” (Yohanes 21:16)
VII. Pemimpin yang Komunikatif
Seorang pemimpin harus bisa memberikan informasi. Penulis buku ini mencontohkan pada pembaca tentang surat-surat yang Paulus tulis. Ada beberapa contoh bagaimana Paulus dengan jelas menginformasikan apa yang harus dikerjakan rekan sepelayanannya. Contohnya dapat dilihat di Kolose 4: 7-9 dimana Paulus memberitahukan perihal tugas Tikhikus kepada jemaat di Kolose yaitu untuk menghibur mereka dan memberitakan tentang apa yang Paulus kerjakan.
Pemimpin yang komunikatif selalu menyampaikan informasi bagi yang memerlukannya. Dia juga harus terus-menerus memberikan informasi yang dibutuhkan bawahannya. Sebagai contoh setiap fase awal dalam mengerjakan suatu proyek seorang pemimpin harus memberikan informasi yang jelas tentang bagaimana proyek itu harus dikerjakan. Informasi yang diberikan seorang pemimpin tidaklah seperti informasi yang kita terima semasa kita kanak-kanak dulu, “jangan makan itu, itu akan membuatmu gemuk. Jangan makan ini, itu akan membuat gigimu busuk..” dan lain sebagainya. Informasi yang baik menurut Salomo adalah:
1. Informasi yang waktunya pas (timely information)
2. Informasi yang akurat (accurate information)
3. Informasi yang sewajarnya (appropriate information)
4. Informasi yang memberikan motivasi (motivating information)
VIII. Pemimpin yang Berorientasi Tujuan
Setiap orang butuh tujuan. Mereka juga membutuhkan bantuan untuk mencapai tujuan tersebut. Kepemimpinan yang baik mampu menolong seseorang untuk menetapkan tujuannya, membantu mereka dalam menilai kemajuan pencapaian tujuan mereka, dan tetap mendampingi mereka maju sesuai waktu yang ditetapkan, di jalur yang sama dan target yang sama.
Saat kita bertanya mengapa seseorang itu membutuhkan tujuan maka ada 3 hal yang menjadi jawabannya:
1. Arah (direction)
2. Kemajuan (progress)
3. Pencapaian (accomplishment)
Salah satu tujuan Nehemia dalam membangun tembok adalah “..supaya kita tidak lagi dicela”. Demikian juga seorang pemimpin harus bisa membantu dalam menetapkan tujuan seseorang. Tujuan tersebut bisa dalam jangka panjang yang kemudian harus dibuatkan tujuan jangka pendeknya. Kenapa tujuan jangka panjang harus juga dibuatkan tujuan jangka pendeknya? Karena tujuan jangka pendek terbagi-bagi dalam beberapa tahap yang kalau dilihat memungkinkan untuk dicapai dan membuat orang tersebut ingin maju dan maju lagi untuk mencapai beberapa tujuan jangka pendek yang akhirnya mencapai tujuan jangka panjangnya.
Seorang pemimpin juga harus bisa menjelaskan ke pengikutnya bahwa untuk mencapai tujuan dibutuhkan keteguhan hati dan aksi. Dalam beraksi untuk mencapai tujuan seorang pemimpin harus memperhatikan 2 hal yaitu:
1. Waktu yang tepat untuk beraksi (timing)
2. Implementasi dari tujuan (implementation)
IX. Pemimpin yang Bisa Memutuskan
Membuat keputusan itu adalah hal yang sulit. Penulis buku ini mencoba mensarikan kenapa membuat keputusan itu adalah hal yang sulit, antara lain karena:
1. Kebingungan akan kehendak Tuhan bagi kita (Confusion about the will of God)
2. Keinginan untuk tidak menyakiti seorangpun (the desire to hurt no one)
3. Tidak mau merasa tidak populer (a distaste for unpopularity)
4. Terlalu sibuk (too busy)
5. Rasa takut (cowardice)
6. Kebodohan (ignorance): karena tidak punya fakta yang cukup untuk membuat suatu keputusan.
7. Sudah dipenuhi rasa bangga (pride)
Bagaimana seorang pemimpin bisa membuat keputusan yang bagus? Ada baiknya berpegang pada Amsal 16: 25 “Ada jalan yang disangka lurus tetapi ujungnya menuju maut”. Berikut ini hal-hal yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk membuat suatu keputusan yang bagus:
1. Kemampuan dalam mengenali keputusan yang buruk
2. Kemampuan dalam mendefinisikan masalah
3. Kemampuan mendengar sebelum menjawab
4. Kemampuan menawarkan saran melalui brainstroming
5. Kemampuan menyempitkan/ membatasi ruang
6. Kemampuan membuat keputusan itu sendiri
7. Kemampuan menjalankan keputusan yang telah dibuat dalam team work.
X. Pemimpin yang Kompeten
Ada 3 hal penting yang dibahas dalam bab ini yaitu:
1. Seorang pemimpin tidak pernah “tahu segalanya”. Seorang pemimpin yang efektif tidak boleh merasa cepat puas pada dirinya melainkan harus mencari berbagai cara untuk menjadi lebih ahli, lebih berpengetahuan, dan lebih baik dalam menjalankan pekerjaannya.
2. Seorang pemimpin “tahu apa yang harus dikerjakannya”. Seorang pemimpin harus memimpin dan untuk bisa memimpin dia harus tahu apa yang dikerjakannya. Ketika bawahan sadar bahwa pimpinannya adalah orang yang tidak kompeten rekasi yang terjadi adalah: mereka bisa meninggalkan si pemimpin, menggerutu dan mengeluh, dan bahkan memaksa si pemimpin untuk pergi. Kompetensi seorang pemimpin akan sangat membantunya dalam membantu motivasi dan menaikkan moral bawahannya.
3. Seorang pemimpin “menyelesaikan pekerjaannya”. Sering lebih mudah untuk memulai daripada menyelesaikan suatu pekerjaan. Selain seorang pemimpin harus menyelesaikan pekerjaanny, dia juga harus bisa membantu bawahannya menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan membawa bawahannya untuk mencapai kesuksesan.
XI. Pemimpin yang Mempersatukan
Ada 4 hal yang menghancurkan persatuan:
1. Fitnah (slander)
2. Kemarahan (anger)
3. Rasa bangga (pride)
4. Iri hati (jealousy)
Ada 3 hal yang membangun persatuan:
1. Kasih sayang (love)
2. Kontrol (control)
3. Kebaikan (kindness)
Dalam bab ini juga dibahas mengenai 4 tanggung jawab seorang pemimpin dalam memelihara hubungan dengan bawahannya menjadi suatu hubungan yang harmonis dan satu. Dengan demikian menjaga teamnya tetap “on target” dan terus termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka:
1. Menjaga integritas (integrity)
2. Mampu mengendalikan diri (restraint)
3. Memelihara selera humor (good humor)
4. Memelihara pertemanan (friendship)
XII. Pemimpin yang Bekerja
Dalam bab terakhir buku ini menerangkan apa yang disebut dengan pemimpin yang bekerja. Kenapa seorang pemimpin harus ikut ambil bagian dalam bekerja? Karena dalam bekerja seorang pemimpin menetapkan dirinya sebagai contoh bagi bawahannya untuk diikuti. Seorang pemimpin harus menjadi seorang pekerja sepanjang hidupnya. Tidak hanya menjadi seorang pekerja tetapi juga seorang pekerja plus yang tidak hanya bekerja tapi juga melatih orang lain untuk bekerja. Bagaimana melatih orang lain untuk bekerja? Yaitu dengan cara memperlengkapi mereka dengan keahlian yang mereka perlukan untuk bekerja.
Ada satu kata yang sangat bermakna yang diambil dari bahasa Yunani “katartizo” yang terus-menerus diulang dan dicari maknanya dalam bab ini. Makna yang lebih mengena adalah “memperlengkapi”. Jadi konteks bekerja yang diangkat di sini adalah bagaimana seorang pemimpin itu mampu memperlengkapi bawahannya dengan berbagai hal sehingga bawahannya bisa menjadi seperti pemimpin itu. Seorang guru tidak mengajari muridnya untuk menjadi lebih dari dia namun menjadi sama seperti dia.
Akhirnya, dengan menjalankan ke dua belas langkah tersebut Anda akan menjadi seorang pemimpin yang memberikan motivasi bagi orang-orang yang dipimpinnya dan memelihara motivasi dan moral bawahannya ke tingkat yang paling tinggi. Keputusan ada di tangan Anda. Anda bisa memilih hanya menjadi seorang penonton melihat orang lain bekerja atau memilih bergabung dalam “pasukan” pekerja.
“Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit ...” (Lukas 10: 2)
Book review by Willy Sitompul, August 2011

Jumat, 18 Maret 2011

Usia 34 - Merenung .... lagi....


Tanggal 15 Maret lalu usiaku menjadi 34 tahun. Usia yang udah ngga muda lagi. Ingin rasanya termenung-menung memikirkan apa yang sudah dicapai saat itu. Sudah 34 tahun... apa yang sudah kau buat untuk AKU? Duhh..rasanya bingung menjawabnya, itu baru satu pertanyaan...berikutnya makin banyak pertanyaan yang timbul apalagi setelah membuka facebook dan melihat komentar ulang tahun yang disampaikan teman-teman. Saking ngga cukup waktu membalas semuanya yahh.. akhirnya tinggal mencentang tombol "like" saja. Mudah-mudahan teman-temanku itu ngga marah atau jengkel karena cuma dikasih komen "like" aja...
Waktu devosi teman-teman tanya gimana rasanya berusia 34? Aku cuma bisa menjawab bahagia karena umurku paling tidak melewati usia 33, suatu usia yang sangat krusial menurutku. Tiga puluh tiga tahun Yesus berkarya, 33 tahun masa hidupnya. Andar Ismail juga menulis buku yang selalu berisi 33 renungan dari mulai Selamat Pagi, Selamat Paskah dan lain-lain. Aku juga sempat berkata kalau teman-teman belum berusia 33 tahun yah bersyukurlah masih ada waktu untuk berkarya sehingga pas usia 33 udah banyak karyanya. Aku ngga sadar kalau ternyata di ruangan devosi waktu itu sudah banyak yang usianya lebih dari 33 bahkan 34 atau bahkan 40? Untuk menutupi kegusaran, yah kutegaskan bahwa berkarya itu bisa apa saja. Yang sudah punya anak bisa berkarya lewat anak-anak mereka. menjadi seperti apa anak-anak mereka nanti yah itulah karya mereka.
Selanjutnya hari itu berjalan biasa saja seperti hari-hari lainnya. Teman-teman ADP Kurima sibuk dengan kegiatan mereka. Stafku Elpinar yang sibuk mencari tahu apakah akan ada kue buat "boss" nya, staf ADP Eruwok yang menghilang satu-satu walau akhirnya aku tahu mereka membantu pembuatan kue. Sampai akhirnya ada perayaan kecil yang fotonya saya pampang di atas.
Akhirnya, Terimakasih Tuhanku Yesusku atas usia 34 ini. Tolongkah Tuhan cepat-cepat berikan Hazael Zefanya bagi aku dan istriku. Penting banget lho Tuhan untuk punya anak saat usiaku udah segini...:-) Terimakasih buat istriku yang udah berlapar ria bersama, meluangkan waktu sepulang Puskes dan yang pasti staf-staf Eruwok ku yang terkasih. Kalian semua staf terbaik yang bisa dipunyai seorang manager ADP.

Amin.